All You Need is Love

Another quote from a Beatle. But it just rang true.

I spoke to a friend the other day and we were discussing how some of our smartest, brightest, most attractive friends are stuck in a relationship rut. They’re either longing for a relationship but haven’t been able to establish one, or in a relationship with unavailable men. By this I speak broadly and include those who are in an imaginary relationship —more popularly known as bertepuk sebelah tangan— , those who are in (constant painstaking attemp to establish) a relationship with unavailable men, and those who are in a relationship with emotionally unavailable men.

I’ve been there, I’ve done all that, and I know how painful it is. Believe me, I know.

I am ever so grateful and feel really lucky to meet someone that I’m constantly in love with, as much as he is with me, and that we find a way to nurture a healthy coexistence between the two of us.

And now I know this :

There are two basic motivating forces: fear and love. When we are afraid, we pull back from life. When we are in love, we open to all that life has to offer with passion, excitement, and acceptance.

We need to learn to love ourselves first, in all our glory and our imperfections. If we cannot love ourselves, we cannot fully open to our ability to love others or our potential to create. Evolution and all hopes for a better world rest in the fearlessness and open-hearted vision of people who embrace life.

— John Lennon

My dear friend says she hasn’t found a way to love and accept herself. She’s a very beautiful, nice and smart person. How could that be? So here’s to you, my friend. May you slowly find a way to love and cherish yourself as much as I love and cherish you.

Advertisements

secuplik surga

Surga itu pulang dari kerjaan hectic lalu disambut :
quality time leyeleye pelukpeluk cengar cengir
sesi belanja menggila bersama teman-teman terbaik
dijemput dua lakilaki terpenting dalam hidup – kitonk & sibabeh
ngobril ngalor ngidul jam satu pagi sekeluarga – lengkap sama satu ekor kucing tengil yang cari fokus terus

Thank you all, you beautiful, wonderful people ♥

tentang berlari

Hidup adalah lari marathon, katanya.

Hidup adalah ujian, kata mereka.

Tapi mungkin tidak ada yang lebih ciamik menggambarkan hidup dari celetukan teman saya yang (seringkali) mendadak cerdas ini. Katanya :

Hidup itu ibarat ujian praktek lari. Kita disuruh lari sekian putaran, trus pas di tengah jalan kita sering kecapekan gak kuat, treak-treak ke Pak Jemmy “Paaaaaak ga kuat paaaaaaak”. Pak Jemmy-nya diem aja sambil terus ngasih nilai dan nyatet waktu. Ada yang masih terus lari, ada yang akhirnya brenti sambil ngeluh bilang “Udahaaaaan paaaaaak”…. Jadi kayaknya kalo Tuhan diem aja pas kita minta tolong sesuatu, itu artinya kita masih ditengah-tengah masa ujian

TANG!!!!! Suka mendadak keren gini deh ah tu anak. Oiya, background information dikit. Jadi alkisah si temen yang saya kutip ini temen saya dari SMA. Dan Pak Jemmy yang disebut di atas itu guru olahraga SMA kita yang cukup fenomenal dengan kemampuannya melakukan kayang dari posisi berdiri. Sekian informasi gak penting sekilas lalu.

Ah tapi yang lebih penting sih moral of the story-nya ya kayaknyah. Kudu sabaaar kalo lagi ujian. Berusaha sebaik-baiknya sampe titik finish. *sokbijak* *betulinkacamata*

 

#Trip : Bandung Road Trippin’

Beberapa tahun lalu saya pernah menulis ini

Dan akhir minggu kemarin, saya kembali diingatkan betapa berharganya kesederhanaan interaksi tanpa pretensi.
Road trips, buat saya, selalu menjanjikan. Mungkin karena selama perjalanan kita terputus dari dunia luar, “terperangkap” dalam sebuah kotak kecil beroda. Mungkin karena dalam keterperangkapan itu, yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu hanyalah mendengarkan musik dan/atau mengakrabi teman seperjalanan. Apapun itu, saya selalu bersemangat menyambut setiap road trip.
Nah tapi kembali ke masalah ‘keterperangkapan’ dengan teman seperjalanan, maka sebuah road trip hanya akan menyenangkan apabila teman seperjalanan kita memang menyenangkan. Minimal : kooperatif, enak diajak ngobrol, selera musik yang sama, minat pit stop yang sama. A road trip is only as good as the people you take on it. And I couldn’t say it better than
this post by one of yesterday’s road trip buddies.

Buat saya highlightnya adalah, ketika tersadarkan bahwa liburan kemarin betul-betul menggambarkan post saya diatas.
Perjalanan diawali bersamaan dengan terbit matahari di sebuah sabtu pagi, dan diakhiri seiring terbenam matahari minggu. Saya berangkat dengan 7 orang teman dan 2 orang ‘temannya teman’, lalu pulang dengan 9 orang teman.

ternyata aku tidak merindu teknologi, remah-remah hidup yang berkedok modernisasi
Selama 2 hari, tidak sekalipun televisi dinyalakan. Hiburan kami sederhana : makan bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ada untungnya juga bahwa dalam rombongan kali ini terdapat 1 mantan MD radio kampus, 2 anak band, dan 2 anggota paduan suara. Dimanapun, kapanpun, setiap lagu familiar mendadak memicu singalong session yang terkadang bahkan dilengkapi dengan bagi suara.
Dan perjalanan ini sukses membuat kami tersenyum semanis Yamin dan tertawa selebar pangsit… Mohon maap kalo ga ngerti, memang SamPingPong dengan salah satu fotografer kami yang senantiasa memberikan aba-aba ajaib. *please pardon the inside jokes*

rupanya cukup kopi dan roti, tertawa sambil menghirup udara pagi
Meskipun tidak ada roti (dalam kasus kali ini boleh lah ya digantikan tahu goreng, kerupuk dan sambal kecap), namun momen terbaik untuk saya adalah melewati pagi dengan super duper long brunch, di teras yang dilengkapi dapur dengan pemandangan asri menghijau, diiringi lagu-lagu default generasi 90an. *maap kalo seperti lebay, tapi memang tempatnya sungguh cantik dan nyaman*

rupanya cuma butuh kalian, teman, cerminan serpih jiwa, untuk ajak aku tersenyum hari ini
Terima kasih teman-teman 🙂

seputar pasrah-pasrahan

“It might not be the right time, I might not be the right one.”
– Daft Punk : Something About Us

Baru-baru ini ada diskusi yang cukup intens di Paguyuban Perempuan Labil cabang Tangerang Depok dan sekitarnya, sehubungan dengan kata-kata “pasrah”. Diskusi panjang dan berlarut-larut yang nggak kunjung selesai, tepatnya. Karena ternyata pasrah itu kok ya susah bener. Sumpe, suse.
Badai otak antara beberapa orang perempuan ini sudah cukup hebat sebenernya, sampe basah kedinginan cari-cari trik apa lagi yang bisa dipakai untuk bisa mencapai si “pasrah” ini. Mulai dari saran umum yang masuk akal, saran berlandaskan teori dan UUD 45, saran yang dibungkus dengan berbagai analogi seru seram menegangkan, sampai saran yang tampaknya sudah terlalu absurd untuk kata-kata.
Masalahnya apa lagi kalau bukan Budi. Hahayyy… tahun sudah berlalu dan tetap si Budi datang mengganggu. Dan perempuan-perempuan ini tampaknya kurang dibekali dengan senjata yang cocok untuk membasmi Budi dari muka bumi…atau setidaknya menjinakkan para Budi-Budi ini agar menjadi Budi Baik dan Budi Pekerti.
Tapi yaaaah….hfffttttt ya sudahlahhh… memang pasrah itu adanya di hati, bukan di mulut. Mau sampe berbusa-busa kita bilang : “iya udah pasrah kok”, atau mau “bernafas dengan sadar” sampe nafasnya habis pun, kalau pada dasarnya emang masih ada yang mengganjal, ya itu maaaah bukan pasrah dooong yaaaaaa….
Jadi teringat juga tentang janji saya sama neng yang satu ini, untuk posting film-film romcom pilihan saya (haduh in, utang gw lama juga yak…maap)… dan ternyata eh ternyata, ada prevailing topic dalam shortlist saya. See if you can notice :

    When Harry Met Sally
    Definitely Maybe
    Addicted to Love
    New York I Love You
    A Lot Like Love

Yup, 4 dari 5 film di atas, ceritanya tentang orang-orang dengan chemistry bombastis yang entah kenapa nggak pernah aja ketemu di saat yang tepat. Mungkin yang satu lagi punya pacar, atau mungkin salah satunya lagi nggak pengen aja berhubungan serius (uhuk, uhuk), atau mungkin terhalangi berbagai benteng-benteng ajaib lainnya (beda agama, beda suku, beda ideologi politik, beda planet, beda ukuran sepatu atau apapunlah). Terus akhirnya si dua tokoh –yang sebenernya utama namun disamarkan- dalam film itu menjalani hidup masing-masing aja, bertemu macam-macam orang, sampe akhirnya…. JEGERRRRRRRR di penghujung film mereka bersatu kembali. Awwww so syiiiittt…
Mmm bukan bermaksud untuk bilang bahwa misalnya ada satu manusia di hati anda saat ini terus suatu hari nanti kalian PASTI BAKAL end up dengan satu sama lain sih. Karena meskipun initial chemistry adalah modal yang cukup berharga dalam sebuah hubungan, tapi itu BUKAN SEGALANYA, dan bisa menghilang kalau nggak dijaga. Lebih tepatnya mungkin suatu hubungan bisa berhasil ketika ada sinergi antara ORANG YANG TEPAT di WAKTU YANG TEPAT. Orang yang lo tapsir habis-habisan kemaren mungkin sudah bukan pribadi yang sama ketika ketemu lagi misalnya delapan tahun kemudian. Dan mungkin apa yang lo cari di sebuah pasangan juga udah bukan hal yang sama.
So my dear friend (yeah you know who you are), nothing more I can say than this : …just…let…it…flow…
Disclaimer : tulisan di atas adalah kompilasi dari berbagai sesi curhat dengan berbagai manusia di sekitar saya. Kemiripan peristiwa ataupun nama BISA JADI DISENGAJA. *kaburrrlangkahseribu*

Pada Sebuah Gedung

17 Desember. Sebuah pesan, muncul berkali-kali, bertubi-tubi dari berbagai jalur. Seperti tidak rela diabaikan.
“Alumni SMU TarQ 1! Besok 18 Des ke Puloraya jam 10 pagi, foto-foto sebelum direnovasi!”
Maka datanglah kami. Lima perempuan produk gedung itu.
Lalu mendadak diserang nostalgila. Gedung sialan yang sudah lapuk karena terlalu sering terendam banjir itu. Dari setiap sudutnya menelurkan butir-butir kenangan yang menyeret-nyeret kami dengan paksa ke satu dasawarsa yang lalu, dimana semuanya bermula.
Khusus untuk saya, aula besar di gedung ini adalah lemari besi kenangan saya. Ruangan yang tadinya saya akrabi hanya untuk formalitas latihan teater setiap hari Rabu, demi ada nilai ekstra kurikuler di raport. Rasanya dulu malaaassss setengah mati setiap kali mau latihan teater. Latihan mentalnya itu loooohhh…. Apakah ada maksud dan tujuan dari tugas-tugas absurd setiap minggunya? Apakah ada pentingnya mendengarkan suara orang berteriak-teriak dari penjuru kanan kiri depan dan belakang?
Tapi disini juga saya belajar berkomitmen terhadap sesuatu. Nggak cuma ambil enaknya aja, tapi paket keseluruhan. ….mmm tepatnya setelah ditegur oleh teman-teman satu angkatan, karena mereka bakal kena marah kalau anggota yang datang nggak lengkap… hehehehe… tapi ternyata teman-teman inilah yang selalu bersama saya hingga duabelas tahun ke depan.
Disini belajar resolusi konflik (etdziaaaaah) dengan adil dan beradab. Bahwa perbedaan bisa diselesaikan dengan baik, selama semua pihak mau membuka dialog dan menerima pendapat yang berbeda. Menekan ego dan kepentingan pribadi (terngiang kata-kata “pribadi lepas pribadi”) demi satu tujuan bersama.
Disini belajar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada teman yang mampu “mendengarkan” dan “menerima”.
Disini belajar menjadi perempuan yang menyetir nasib sendiri. Bukan semata puas disuapi mimpi orang lain.
Namanya sekolah perempuan semua, kayaknya nggak ada waktu dan tempatnya untuk bermanja-manja sama laki-laki untuk “eh tolong angkatin ini dooong”, “bantuin ini doooong”. Atau bergenit-genit berdandan supaya keliatan kece. Mau nampang sama sapaaaaa? Yang ada malah nggak mandi ke sekolah (contoh ekstrim, tapi sayangnya nyata terjadi), manjat-manjat stadion lebak bulus demi masang spanduk sponsor, demo berjemur berjam-jam di parkiran, dan entah apa lagi. Kelakuan macam begini buat saya masih suka kebawa-bawa sampai sekarang. Entahlah apa itu bagus atau nggak. Mungkin nggak sepenuhnya juga ya, mengingat sekarang di kantor banyak ibu-ibu yang suka gemes dan mengeluarkan pernyataan “dandan sedikit kenapa siiiiiih”. Kalau mau lebih dalam dari itu, beberapa hari lalu sempat ada diskusi mini dengan beberapa orang teman tentang perempuan yang terkadang ‘terlalu’ independen. Saya kasi tanda kutip disitu, karena sebenernya ‘terlalu’ itu tergantung dari perspektif mana memandangnya. Gimanapun juga kemandirian itu pastilah suatu hal yang positif. Self sufficient, self sustaining, berdiri di atas kaki sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain. Cumaaaaa, terkadang orang seringkali salah kaprah tertukar dengan “sok mandiri”. Secara otomatis menolak bantuan dari orang lain semata-mata demi menunjukkan kekuatan diri. Namun bukankah itu sama saja dengan jeritan yang terlalu kencang untuk minta diakui?
Disini belajar mempertanyakan. Bukan semata puas atas jawaban normatif dan nyaman dalam ketidaktahuan.
Mungkin saya sudah tidak terlalu ingat rumus-rumus integral, persamaan limit, berhitung 1-(cosin α), tabel senyawa kimia, ancang-ancang tiger sprong, perbedaan aktiva-pasiva, dan entah apa lagi yang diajarkan di kurikulum saat itu. Tapi untungnya kami selalu ingat bahwa kami bisa menjadi apapun yang kami mau. Bahwa di luar sana ada banyak pilihan, bukan terbatas pada apa yang telah dipilihkan. Bahwa cita-cita untuk menikah dan mengurus anak, sama mulianya dengan cita-cita menjadi CEO, selama dilakukan berdasarkan pilihan dan bukan keterpaksaan.
Dan untungnya, kami punya satu sama lain. Tempat kami belajar, bercermin diri dan bertukar pikiran. Semua karena gedung ini. Maka biarkanlah kami sejenak tenggelam dalam romantika.

Posted with WordPress for BlackBerry.

obrolan emak-emak

Belakangan ini lagi banyak banget teman-teman yang berstatus bumil maupun busu untuk pertama kalinya. Dan tampaknya salah satu keluhan yang paling sering saya dengar adalah -mengutip dari posting neng manis ini- semua orang merasa berhak beropini.
Semua orang merasa berhak memberikan segala macam komentar, saran, bahkan sampai instruksi, tentang cara mengurus kehamilan maupun bayi yang baik dan benar. OK mungkin ada beberapa nasihat yang cukup berdasar dan common sense aja, tapi yang saya tangkap dari teman-teman saya ini, yang nggak bisa diterima dan bikin pengen nabok adalah nada-nada menghakimi seolah-olah cara mereka mengurus anak itu salah.
Padahal ya, peran baru sebagai orang tua itu kan cukup menakutkan. Tiba-tiba dititipin makhluk mungil tak berdaya yang nggak bisa bicara bahasa manusia. Mana emaknya ngerti tu anak nangis gara-gara apa? Dan menurut saya tidak ada perasaan yang lebih menyiksa daripada melihat orang yang kita sayang (si anak) menderita, dan kita nggak tahu bagaimana cara membuat keadaan jadi lebih baik.
Di tengah keputusasaan seperti itu, saran bertubi-tubi dari orang lain yang seringkali kontradiktif, justru membuat newbie parents and parents to be ini ingin bakar diri saking bingungnya.
There is no foolproof way of parenting. There are only theories, and common sense. Because every child has different needs, different responses, different personalities.
Jadi teman-temanku wahai bumil dan mamah2 baru, SEMANGAT YAAA! Dan suatu hari nanti dikala saya berada di posisi kalian, janganlah membuatku bingung. Atau lebih parah, kalau suatu hari nanti saya sok-sok kasih nasihat tentang parenting, SILAKAN TAMPAR SAYA KERAS-KERAS!!!