Long Before I Knew

For once I can touch what my heart used to dream of
Long before I knew
Someone warm like you
Would make my dreams come true

2 November 2009

Di kantor yang lama ada annual HR meeting di Hotel Dharmawangsa. Waktu itu takjub pisan dong ya lihat area ballroomnya yang nyambung dengan sebuah area semi outdoor, jadi otomatis langsung membuat pernyataan dengan lantang :

pokoknya kalau nikah, akad nikahnya mau disini!

Di sudut ruangan seorang teman berkomentar :

nikah kok di hotel? akad nikah tuh di masjid tauk.

I was annoyed and thought to myself 

Kenapa komen-komen atur-atur gitu sih lo? Kan sini yang mau nikah, nikahnya juga bukan sama situ. Ganggu impian orang deh.

2 November 2012

Saya melangsungkan akad nikah. Di masjid. Dengan teman saya yang komen-komen ganggu di atas tadi.

Ain’t life funny?

*Penggalan lirik di atas adalah dari lagu Stevie Wonder yang judulnya For Once in My Life, yang kebetulan di-release di tanggal yang sama : 2 November 1968. Sok di pas-pas in aja sih :p

Advertisements

Wedding Wishlist

Di dunia jaringan yang luas (maksudnya world wide web) bertebaran teramat banyak inspirasi pernikahan. Di negeri sendiri tampaknya belum sah jadi penganten rempong kalau belum pernah buka weddingku. Saya sendiri lebih suka buka thread Wedding Bells di femaledaily, karena sepertinya lebih organized dan nggak seramai di weddingku. There is such a thing as information overload, dan saya sendiri bukan tipe yang cukup rajin buka satu-satu thread, apalagi yang isinya disorganized. Ngeri malah bikin pusing, banyak maunya dan nggak fokus.

Saya sendiri, dari duluuuuuuu sebelum tahu akan menikah, sudah sangat sering main dan mampir-mampir ke Offbeat Bride. I don’t really like elaborate ceremonies, so the featured weddings really “spoke” to me.

Pada akhirnya saya merutuk pada diri sendiri  karena semua hal yang saya tapsiiiir KENAPA SIH SUSAH BENER CARINYA DI INDONESIA?!?!

sudah ditapsir sejak 3 tahun lalu….

Cincin kawin di atas ituh, terbuat dari perak dan digrafir bentuk sidik jari kita dan pasangan. Di negara asalnya cincin ini sih masih dibilang terjangkau harganya. Sayangnya setelah cari info kesana kemari, ternyata di Indonesia belum ada pengrajin yang bisa bikin semacam ini deh. Kalau mau nekat pesan di tempatnya langsung, harga cincinnya sepasang aja di sini bisa udah dapet cincin emas sepasang pake berlian. Belum lagi ongkos kirim, dan bagaimanapun ngeri juga ya benda berharga semacam itu dikirim-kirim lewat pos. Gimana kalau nyelip, jangan-jangan mendadak di Laos sana ada orang lagi pakai cincin kawin motif sidik jari gue dan (calon) laki yang salah terkirim.

Saya sempat mutung-mutung sendiri karena nggak nemu di Jakarta yang bisa bikin semacam itu. Penasaran aja sih, masa iya satupun pembuat cincin di sini nggak ada yang bisa adaptasi teknologinya toh? Sampai akhirnya si abang nan bijak dan baik hati berkata “Ya udah kita bikin yang biasa dulu ya, nanti someday untuk anniversary kita bikin yang seperti itu.”

Masnya…

aku…

CINTA!

*kecup juga nih

Dear Brent & Jess, please do open up a South East Asia branch. I’m sure a lot of Indonesian brides would love to purchase those rings without having to cry over logistic costs.

Another eye candy is the brilliant invitations from Bella Figura … I especially love this design since it closely resembles Indonesian songket motives.

ih langsung terbayang songket kan? cantiks!

Sejak awal, meskipun resepsi diputuskan akan menggunakan nuansa Padang, tapi saya rencananya memang nggak mau full Padang tradisional. Maunya sih modern aja, with clean crisp simple lines, dengan sedikit aksen Minang di sana dan sini. Namun sulit yaaa mak kalau budget terbatas tapi segala-galanya mau di custom… ihiks.

Ditambah lagi, undangan di atas sepertinya kelihatan super manis karena letterpress, ada kesan timbul nya sehingga memang secara tekstur menyerupai songket beneran. Nah dengan budget terbatas nggak mungkin dong ya saya bikin undangan letterpress, tapi saya ragu kalau flat aja efeknya akan sama dengan contoh di atas.

Oh well, we’ll see… Semoga semesta mendukung dan mendadak terbuka jalan menuju wedding impian. AMIIIN.

Nirmana Mega

Sekitar maret-april 2010 lalu, langit senja sedang di puncak keindahannya.
Sebagai budak korporasi, tentunya saya terpaksa puas menikmati dari balik jendela gedung kantor, meski sesungguhnya tak ada yang lebih saya inginkan selain mengkombinasikan pemandangan senja dengan secangkir teh hangat, pisang goreng dan mungkin teman bicara sembari duduk di beranda.
Pesta sensori yang sempurna.
Namun sudah #nasibbudakkorporasi untuk sebatas mendamba.
Maka saya ciptakan pemanjaan sensori alternatif.
Soundtrack terbaik, selain “Hmmm… Jelang Benam Matahari” oleh Cozy Street Corner, adalah “Strawberry Swing” oleh Coldplay.
Katanya :

The sky could be blue, I don’t mind, without you it’s a waste of time…

Sadessssss. Nggaklahhh…
Senja ini cukup indah untuk dinikmati, beramai-ramai maupun sendiri. Lebih enak disajikan dingin.

Selamat menikmati.

February 20th
February 20th 2010, Cipanas
April 6th
April 6th 2010, Karawaci
April 7th
April 7th 2010, Karawaci
April 8th
April 8th 2010, Karawaci
April 8th - 5 minutes later
April 8th 2010, Karawaci – 5 minutes later
April 12th
April 12th, 2010 – Karawaci

nyak babe paling pintar sedunia

Lebaran ini, nyak babe lagi mood nostalgia. Sudah dua hari mereka terus menerus berbagi kisah-kisah masa muda. Dipicu juga dengan tamu-tamu teman masa lalu yang datang bersilaturahmi, yang berbagi versi mereka tentang nyak babe saya.
Hari ini adalah salah satu hari langka dimana kami berempat punya waktu banyak untuk bercengkerama dengan akur dan hangat. Biasanya selalu terhalang oleh remeh-temeh keseharian yang menuntut perhatian lebih.
Dan meskipun kami sering tak sepaham, beradu argumen, kesal atau bahkan kecewa akan satu sama lain, tapi hari ini saya disadarkan satu hal yang cukup penting.
Saya bersyukur memiliki orang tua yang (cukup) demokratis mendidik anaknya. Yang tidak (terlalu) dogmatis. Yang selalu berbagi kisah masa muda mereka, dari yang paling membanggakan sampai yang paling konyol memalukan. Yang jarang melarang-larang dengan alasan ‘pokoknya gak boleh’. Yang tidak berpura-pura sempurna.
Saya bersyukur memiliki orangtua dari dua ekstrim yang berbeda: si romantis pecinta seni dan si pragmatis pekerja keras. Si jago argumentasi yang mengutamakan logika, dan si hati tulus yang memenangkan rasa.
Maka jadilah saya : sebuah paradoks mini, cuma ada satu di sekujur semesta. Begitupun adik saya, tidak ada duanya.
Yang namanya anak kecil dimana-mana pasti akan belajar pertama kali dari bapak ibunya. Dua orang yang menurut dia paling pintar di dunia. Setidaknya akan begitu sampai saatnya dia melangkah di dunia dan terbuka matanya. Akan tiba waktunya ketika dia belajar dari realita, kejedug kanan kiri, nabrak depan belakang, koprol kayang goyang-goyang (ini sebenernya lagi ngapain sih?) sampai akhirnya dia bisa memaknai hidupnya sendiri.
Buat saya tugas orangtua bukan terus menerus mengawal si anak sampai ujung. Ibarat naik sepeda, mereka mengajarkan trik-trik dasarnya dulu, sambil menuntun dan memegangi si anak dan sepedanya sampai merasa cukup aman. Akan ada satu titik dimana mereka tahu, sudah saatnya melepas si anak berjuang sendiri dengan sepedanya. Meskipun mungkin nanti si anak tak tahu cara berbelok, atau lupa nge-rem, atau hilang keseimbangan sampai terjatuh, berguling, luka-luka di sana sini. Tapi mereka akan mencoba lagi, sampai kelak si anak menengok ke belakang dan melihat dari kejauhan ayah ibunya melambaikan tangan. Nothing better than that feeling, that sense of accomplishment.
I will do the same when I have children, will let them learn from our successes AND our mistakes. Let them know nobody’s perfect.
Karena yg penting bukan cuma pilihan2 yang kita buat, tp juga KENAPA waktu itu kita memilih itu, dan APA YG BISA DIPELAJARI dr pilihan itu.
Thanks, mama papa :’) for the great lesson.

rumits!

Quote of the day :

Life is really simple, but we insist on making it complicated
-confucius

…Agak menampar, sebenarnya.
Bersama beberapa orang perempuan sok rumit, belakangan ini sedang sering membahas seputar pernikahan dan hidup. Dikupas-kupas tapi tidak kunjung tuntas, tentang konsep pernikahan ideal (bukan seremoninya ya, tapi sinergi, kemitraan dan pembagian peran dalam pernikahan), tentang kriteria calon suami ideal, tentang tujuan seseorang menikah, en de bla en de bleh.
Sedangkan sebagian lain orang, memilih pendekatan yang lebih sederhana : ketika sudah ingin dan siap menikah, lalu bertemu seseorang dengan keinginan dan kesiapan yang sama, maka tunggu apa lagi?
Dan mereka pun (bahkan mungkin lebih) bahagia. Dengan atau tanpa “sparks”, “trining-trining”, “setrum”, “magic” atau apapun namanya itu.
Mungkin ini cuma masalah manajemen ekspektasi.

bungkus!

Abis baca-baca lagi tulisan neng petitepoppies yang ini, dan jadi terpikirkan beberapa hal.
Saya termasuk kategori manusia hopeless romantics akut, yang setiap pasca nonton film-film rom-com bisa mendadak dangdut terjebak dalam mood melankolis keparat.
Meskipun suka sok preman dan sok superwoman, diam-diam berharap ada manusia yang menyadari bahwa saya cuma butuh dimaklumi. Dan percaya, bahwa di bumi yang sudah kelebihan populasi ini, masa siiiih ga ada satu aja manusia yang sebenernya adalah belahan jiwa saya?
Eh tapi kok jadi ngelantur…
Anyway, beberapa waktu lalu pernah membahas dengan seorang teman tentang skenario “ntar gw sama lo aja ya kalo udah umur sekian”. Menurut gue, ya sama dengan yang dibahas neng poppies ya, jadinya kayak “ya udah deh daripada ga ada, elo aja deh”. Dan kata temen gue itu, “ya ngebungkusnya gak gitu dong”…
Namanya juga bungkus. Mau pake kertas kado atau kantong kresek, tapi isinya sama aja kannn?
Jaman sekarang, kita lebih sering terpaku (dan tertipu) sama bungkusnya, sampai lupa bahwa yang penting isinya dulu. Sangat mudah membalutkan kisah dalam romantisme, menempelkan label ini dan itu dengan harapan kondisi menjadi lebih mudah dimaklumi, berharap kenyataan menjadi sedikit lebih ‘bersahabat’.
Bisa aja bilang “it’s just harmless flirting”, atau “ini kisah cinta yang ditentang semesta”, atau “the timing was never right” atau apapunlahya. Semua sah-sah aja. Tapi mau mengingatkan sedikit aja. Ok, mungkin lagi dimabuk asmara, dimaklumi. Ok, mungkin lagi asyik terbang, lupa menjejak bumi. Ok, mungkin rasanya dunia cuma isinya berdua dan yang lain ngontrak. Tapi gini… Biar kata mereka cuma ngontrak, inget-inget lagi deh, apakah ada pihak-pihak yang jadi tersakiti, terugikan, terkhianati? Soalnya, ngontrak juga bayar kan, bukan gratisan.
Carrie di Sex & the City 2 bilang, setiap hubungan akan mendefinisikan aturan-aturannya sendiri. Ada orang yang nggak perlu status, tapi bisa commit sepenuhnya dalam hubungannya. Ada juga orang yang statusnya jelas udah bertahun-tahun, tapi nggak jelas arah dan komitmennya.
Apapun pilihan kita, yang penting sih jujur sama diri sendiri kayaknya. Soalnya teman saya yang lain bilang, there’s no such thing as right or wrong; only choices and its’ consequences.

tentang sepi

Tahukah, bahwa sendiri tidak selalu sepi, dan sepi tidak selalu sendiri.
Beberapa waktu lalu sempat sharing dengan seorang teman yang kisahnya kurang lebih mirip dengan saya. Mendadak sendiri setelah bertahun-tahun terlibat dalam sebuah relationship.
Bahwa kami limbung, itu pasti. Sedikit merasa hilang diri, karena bagaimanapun telah banyak proses yang dilalui bersama, sehingga ke’kami’an itu seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan ke’aku’an.
Bahwa sepi mulai hadir, juga pasti. Ketika selama ini ada tempat berbagi, mengupas dan memaknai fragmen-fragmen hari. Wajar sekali, bukan?
Saya bertanya pada teman saya ini (sudah lebih setahun sejak perpisahannya), berapa lama sampai dia akhirnya bisa mulai membuka diri kembali untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya. Sekedar ingin tahu berapa lama hati bisa menyembuhkan sendiri lukanya, lalu siap menurunkan benteng berlapis-lapis untuk lagi-lagi menghadapi kemungkinan luka baru.
Teman saya tidak menjawab. Dia hanya bercerita, bahwa dia sudah memiliki tempat berbagi kesehariannya.
“Kamu sudah yakin akan orang ini?”, tanya saya.
Jawabnya, “Cukuplah, sekedar agar tidak sepi”.
Percakapan berlalu, kami berpisah jalan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan saya tak bisa berhenti berpikir : cukupkah?

Cukupkah sekedar tidak sepi?