Hello, 2015!!!

Hari pertama bekerja di 2015 (karena tanggal 2 cuti), mau bikin resolusi ah :

  1. COMMIT to a beauty routine. Karena eh karena, sabun mahal maupun alat canggih pasti tetap nggak ngefek kalau tidak digunakan secara konsisten dan disiplin.
  2. PLAN a working schedule. Supaya waktu di kantor jadi efektif dan efisien — *uhuk jangan dipake blogging uhuk* — targetnya bisa pulang tenggo tanpa ada pending items untuk hari itu
  3. BE PRESENT – for le husband, for le daughter, for le parents. Kurangi kondisi ada dan tiada alias duduk di deketnya sambil pura-pura dengerin padahal main hp *dadah instagram*
  4. FIX financial planning — ayoo semangat menuju CASA YUDHANEGARA di 2016 yaaaaa
  5. READ 1 book a month. Biar makin pinter dan otak nggak buntu

BISMILLAH.

Advertisements

Cukup

Pagi di tepi jalan utama Jakarta, seorang laki-laki terduduk di trotoar. Dikelilingi dagangannya, entah apa, yang terlihat cuma warna-warni dan kilau plastik. Robot-robot kota Jakarta lalu lalang tanpa sedikitpun menoleh. Laki-laki itu sendiri, sebuah eksistensi sepi di sela padat ibukota.

Benarkah?

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, meskipun sumbang. Tentu senandungnya bukan untuk uang, karena ia pedagang. Tak nampak wadah receh yang biasa disediakan pengamen. Pun ia tak tampakkan wajah memelas meminta iba.

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, namun riang. Untuk dirinya sendiri. Untuknya temani hari.

Di dalam sedan istimewa tempat saya tak perlu duduk di muka, saya sedang sibuk merutuk rutinitas budak korporasi yang terasa membebani. Tamparan hari ini datang halus-halus dari nyanyian seorang laki-laki. Lantang, sumbang, namun riang.

Bahagia adalah abstraksi tanpa standardisasi ukuran.

Dan nyanyian laki-laki itu mengingatkan saya, bahwa bahagia adalah cukup. Dan berkecukupan bukan semata ‘berkata’ cukup. Semoga saya sampai pada titik dimana lebih besar rasa syukur daripada rakus. Titik dimana apa pun yang ada saat itu bisa saya maknai dan syukuri sebagai sesuatu yang cukup.

 

Nilai raport 2009

Sekitar setahun yang lalu, gue membuat daftar resolusi 2009.

Sekarang tahun 2010 sudah joget-joget gembira di hadapan gue, dan tampaknya sudah saatnya gue mengevaluasi tahun 2009 sekaligus coba-coba bikin resolusi 2010. Ok, satu satu ya kita bahas resolusi sok optimis gue tahun lalu.

1. Belajar nyetir » ini sudah jelas gagal total. TOTAL. Bahkan gue menyentuh setir mobil pun nggak. Dan oleh karena itu, tahun ini akan dimasukkan kembali ke dalam daftar resolusi. Semoga kali ini terlaksana. Amin.

2. Belajar bahasa Jerman atau bahasa asing apapun » ini pun. Gagal. Pekerjaan gue sama sekali nggak memberikan waktu luang secuil pun untuk gue mengembangkan diri dalam aspek lainnya 😦 Dan tahun ini, resolusi ini kembali masuk dalam daftar.

3. Baca satu buku setiap minggu » hmmm… Gagal juga. Alasannya sama, waktu. Beberapa buku yang masih sempat gue baca di tahun 2009 adalah perahu kertas-nya Dewi Lestari (yang bagusss banget), dan 2 buku Sophie Kinsella : Shopaholic & Sister, Un-domestic Goddess. Lihat kan, semuanya buku2 ringan yang mudah dicerna sepulang kantor. Otak gue susah banget soalnya memproses yang rumit-rumit kalau udah di luar jam kantor. Lebih tertarik beristirahat.

4. Dengerin satu album baru setiap minggu » juga. Gagal. Hedeuuh. Sejauh ini tahun 2009 penuh kegagalan yah. Jadi malassss melanjutkan.

5. Lombok/Makassar/Belitung trip » *what’s that folks? Yesss let’s say it together* GA…GALL..!!! But anyway, kegagalan ini nggak terlalu mengecewakan, karena toh pada tahun ini gue berkesempatan menonton COLDPLAY live in concert di singaparna… Ups, maksudnya Singapura. Dannnn tahun ini gue dua kali aja gitu ke sana, 1x utk coldplay, 1x lagi liburan bersama orang-orang spesyell dalam hidup X). Selain itu ada juga liburan ke anyer bersama rekan-rekan kerja, yang ternyata cukup menyenangkan. Karena gue anak pantai sejati, jadi mau kemana aja asal pantai, ya saya senaaang 🙂

6. Menabung rp xxx setiap bulan… Pun gagal. Penyebabnya? The singapore trips :p Tapi, ya sudahlah, at least it was worth it. Semoga tahun 2010 lebih baik lagi yaaa.

7. Katalog digital baju/sepatu » bwaaah apa pula iniii. Gue pun nggak tahu kesambet setan apa yang membuat gue terinspirasi untuk bikin resolusi edan semacam ini. Tentunya gagal. Mepet-mepet juga paling nyokap nandain kotak sepatu pake tulisan spidol besar-besar. Hueee :p

8. Coba resep baru setiap bulan » Lagi-lagi gagal. Satu-satunya resep baru yang gue coba adalah aglio olio yg kemudian gue modifikasi sendiri menjadi meatballo olio (apa sehh)

9. Menulis sesuatu setiap hari » hanya bertahan sampai bulan Maret. Kembali salahkan benda bernama kesibukan. Ya maap deh.

10. Cuma belanja sesuai jadwal, nggak boleh tergiur kata diskon » frase terakhir berhasil lho. Gue nggak kalap lagi kalo ada kata-kata diskon. Masalahnya kadang-kadang nggak diskon pun gue sekarang belanja, gara-gara lagi keasyikan berusaha menjadi perempuan. Sejak ikutan forum ini, gue malah asyik blanjablanji online berbagai produk kosmetik :p sama aja yak parahnya.

Secara keseluruhan 2009 menjadi tahun yang cukup datar buat gue. Putusnyambungputusnyambung ala lagu BBB, pekerjaan yang selalu menyita waktu dan energi, kondisi kesehatan anggota keluarga yang memburuk, suasana kerja yang nggak kondusif, semuanya sakseus seliweran di tahun lalu sehingga resolusi gue terbengkalai ajah semuanya.

Anyway untuk tahun 2010 ini, gue memberanikan diri kembali bermimpi menyusun resolusi.
Sederhana saja, lebih berani menentukan kebahagiaan untuk diri sendiri. kalau memang kondisi saat ini nggak memungkinkan untuk mencapai resolusi-resolusi mini di atas, maka tahun ini gue harus mengubah kondisi itu.
So, here goes.

Beberes Rumah

Hari ini menjadi hari kedua sebuah tahun yang baru, sekaligus dekade yang baru lhooo 🙂
Dan sepertinya alangkah baiknya periode baru ini kita mulai dengan beres-beres! Tapi untuk mulai bergerak membereskan kamar saya yang lebih serupa gudang itu, tampaknya saya terlalu em a el a es. Bisa habis satu tahun sendiri untuk itu, jadi mungkin nanti saja saya lakukan kalau saya sudah akan meninggalkan kamar itu. Pikiran dan hati saya, ternyata sama saja kondisinya dengan kamar ‘gudang’ saya itu.
Setelah saya sadari saya memang ternyata suka menggenggam erat remah-remah kenangan sekecil apapun: baik, buruk, maupun yang tidak penting sama sekali. Dan hal-hal kecil itu tak jarang bertumpuk menjadi sampah yang menghambat saya meletakkan hal-hal baru untuk menghias hidup. Perseteruan-perseteruan kecil di masa lalu terkadang membuat saya sulit maju dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang tertentu. Atau kenangan indah di masa lalu membuat saya sulit menerima bahwa beberapa orang di sekitar saya telah berubah menjadi racun, dan malah terus berharap hal itu hanya sementara.
Jadi, saya akan mulai tahun -dan dekade- ini dengan beres-beres kehidupan saya dari sampah-sampah ajaib semacam itu.

Tahap pertama beres-beres tentunya adalah menyortir. Mana saja peristiwa-peristiwa yang memang signifikan dan menjadi media pembelajaran untuk pengembangan diri seorang Andied, dan mana yang cuma selewat lalu. Peristiwa signifikan ini akan menjadi ‘piala-piala’ saya, untuk terus dipajang di rak kehormatan memori. Akan sangat berguna nanti, ketika kita sedang terpuruk dan butuh diingatkan akan potensi diri. Tahap berikutnya, buang jauh-jauh sampah dan hal-hal remeh-temeh. Dendam masa lalu dan sakit hati yang sudah basi tidak lagi perlu disimpan-simpan. Analisa kondisinya, tarik kesimpulan, simpan lessons learned -nya. Lukanya tidak perlu dibawa-bawa, apalagi dikorek-korek.

Nah, sekarang lihat, lapang bukan sisa ruang di hati? Saatnya kembali menimba ilmu di sekolah bernama hidup 🙂