The Manifesto

I don’t do mush.
I don’t do Yang or the variants – kayang, loyang, peyang, beb, bebih, bebek, bebeb surebeb, hun, bihun, hunkwe, … Matur nuhun wae yak.
I don’t do needy and whiny just for the sake of pleasing the male ego.
I don’t do textbook romance. Soul-less poetry, overplayed top 40 evergreen love songs, expensive gifts, candlelight dinners.

I do me. I do late night conversations in a language only we know. I do silent stargazes, moon watches, and shooting star searches.
I do giggles, homemade gifts, spontaneous phrases and street-side stall dates.
I coexist, not co-depend.

I’m done with cookie cutters.

I’m going on a road trip.

And the ad does not read drivers wanted. Hitchhikers are welcome. I can drop you off along the way. For those with the same destination, you’re more than welcome.

Life is a Journey

Life is a journey.
So I’m thinking, when it comes to who you want to spend the rest of your life with, it’s best to be looking for a road trip buddy, instead of a child to be babysat.
Just a thought.
Because there may come the occassion when :
1. You need to take turns ‘driving’ and ‘navigating’ your life.
2. At some point there may be too many spots to stop by, so you may need to go divide and conquer, then meet up to swap stories and experiences.
3. Most likely, you will be HAVING babies later on, so you don’t need another ‘baby’ to coddle beforehand.
So… Road trip,anyone?

tentang sepi

Tahukah, bahwa sendiri tidak selalu sepi, dan sepi tidak selalu sendiri.
Beberapa waktu lalu sempat sharing dengan seorang teman yang kisahnya kurang lebih mirip dengan saya. Mendadak sendiri setelah bertahun-tahun terlibat dalam sebuah relationship.
Bahwa kami limbung, itu pasti. Sedikit merasa hilang diri, karena bagaimanapun telah banyak proses yang dilalui bersama, sehingga ke’kami’an itu seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan ke’aku’an.
Bahwa sepi mulai hadir, juga pasti. Ketika selama ini ada tempat berbagi, mengupas dan memaknai fragmen-fragmen hari. Wajar sekali, bukan?
Saya bertanya pada teman saya ini (sudah lebih setahun sejak perpisahannya), berapa lama sampai dia akhirnya bisa mulai membuka diri kembali untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya. Sekedar ingin tahu berapa lama hati bisa menyembuhkan sendiri lukanya, lalu siap menurunkan benteng berlapis-lapis untuk lagi-lagi menghadapi kemungkinan luka baru.
Teman saya tidak menjawab. Dia hanya bercerita, bahwa dia sudah memiliki tempat berbagi kesehariannya.
“Kamu sudah yakin akan orang ini?”, tanya saya.
Jawabnya, “Cukuplah, sekedar agar tidak sepi”.
Percakapan berlalu, kami berpisah jalan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan saya tak bisa berhenti berpikir : cukupkah?

Cukupkah sekedar tidak sepi?

Loving vs Being In Love

A friend once asked me the difference between loving someone and being in love with someone.
It’s simple.
Loving is a choice.
Loving is a decision.
You nurture it, you guard it, you respect it.

Whereas being in love…is just something you stumble upon.
As they say, you FALL in love.

You can fall anywhere.
But the decision whether you get the hell up and go somewhere else, or explore the world you fell into, is yours.
It’s ours. Take full responsibility and know what we’re getting into.
Or deny it all we want.
But I believe denial won’t take you far, it has a nasty habit of coming back full circle.
And there will be moments of truth when the three evil guys -should’ve, would’ve, and could’ve- just stares you in the face.
And there will be second chances where you can decide to go for it this time, or let it go and accept that it wasn’t meant to be.

So tell me, what do you choose?

Best Friends Listen to What You DON’T Say

Mengutip tweet salah satu teman saya :

anyone can listen to what you say. best friends listen to what you DON’T say

Salah satu hal yang paling tidak mengenakkan dari beranjak dewasa adalah ketika hidup membawa teman-teman terbaik kita ke berbagai penjuru dunia. Salah satunya, teman terbaik saya, dibawa garis hidupnya ke Amerika sejak tiga tahun lalu. Kami bukan tipe sahabat yang selalu menghabiskan waktu bersama setiap saat. Tapi masing-masing selalu menjadi orang pertama yang dicari ketika ada peristiwa-peristiwa signifikan dalam hidup.

Di masa kuliah, ketika emosi saya masih (sangat) meledak-ledak, teman saya ini yang paling paham bagaimana caranya mendinginkan kepala saya. Di samping kantin padang tongkrongan wajib ada sebuah gang kecil yang jadi jalan pintas menuju Gua Maria dan kampus teknik. Nggak banyak manusia lewat di gang itu, dan biasa dipakai anak-anak psikologi untuk curhat lebih seru dikala kantin padang terlalu hingar-bingar. Di gang itu pula biasanya kepala saya di’kulkas’in… dan entah kenapa suatu ketika kami berdua malah nimpuk-nimpuk tembok pake sepatu sambil ketawa-ketawa SEKALIGUS nangis. Aneh. Tapi nyata. Dan itulah momen-momen milik kami berdua yang nggak akan terlupakan sampai sekarang.

Dan ketika baru-baru ini ada suatu momen yang cukup signifikan terjadi dalam hidup saya, dia jugalah orang pertama yang saya cari. Tapi jarak beribu-ribu kilometer dan perbedaan waktu 11 jam sungguh menyulitkan saya bercerita. Patut dicatat, saya ini jenis manusia yang detil dalam berkisah. Superdetil. Bahkan kalau perlu sampai deskripsi mimik muka, blocking sampai sound effect juga ikut terselip dalam cerita… Apalagi, beberapa peristiwa kecil-kecil yang menjadi build-up untuk peristiwa besar ini belum diketahui oleh si teman. Jadi susah betul bukan, memberikan gambaran lengkap dari situasi yang ada?

AKhirnya saya memendam dalam-dalam kisah itu, hanya berbagi ke beberapa orang yang saya rasa cukup netral dan memahami kondisi saya beberapa saat terakhir.

Lalu tiba-tiba, ketika rasa sudah kian membuncah di dada menolak redam, sebuah notification di facebook :

how r u doin? miss you, gurl… 🙂

…dan semudah itu mengalir kisah saya.

Hari ini saya kembali diingatkan untuk senantiasa bersyukur, atas teman-teman dalam hidup. Yang datang, yang pergi, dan yang tak lekang oleh jarak.
Terima kasih, teman 🙂

papercut

Each and every day in life, we meet the chance of getting hurt. It’s something not to be avoided. It can’t be avoided, as it is an essential process in life itself. I believe that when something doesn’t kill us, it makes us stronger. Adversity is the thing that allows us -or rather, force us- to grow as a person.

However, I tend to look at pain differently when it happens to someone else. And when I am the source of that pain.

Being a very outspoken person, I always speak my mind. That is what you call assertive. On the flip side, I also always speak my heart out. THAT, may often prove to be abrasive, especially when done at the height of emotional turmoil and not granted with the privilege of self constraint.

Although I may not have any intention to hurt, but there is no denying the fact that someone got hurt. Just like a papercut. As small or minuscule it may seem to me, but the pain is real to that person.

As my lecturer in college once said,

when it comes to feelings, there are no rights or wrongs

So I’d have to say, the only thing wrong in this situation …… is me.
I don’t think a band aid’s going to do the trick 😦

Syukur(in)

Bulan puasa katanya momentum kita untuk berempati sama sesama, terutama mereka yang kurang beruntung.

Setiap hari laper-laperan, haus-hausan, lemes tapi tetap harus beraktivitas, tetap harus sabar. Padahal jelas-jelas yang namanya manusia kalau kebutuhan pokok gak terpenuhi jadi ekstra uring-uringan. Kesentil dikit mau ngamuk, kesenggol dikit mau bacok.

Ideal banget dunia kaya gitu, yang semua orang bisa menahan nafsu, lempeeeng aja. Sabaaaar aja. Padahal gw aja lagi gak puasa, dari tadi disentil dikit langsung keluar cakarnya. Graaaooowww!!! Susye bener ya jadi orang baik.

Belum lagi godaan-godaan abu-abu macam iri hati, mau menang sendiri, ngomongin orang, yang tipis batasnya. Kita gak sadar tiba2 udah bikin dosa aja. Mulainya ngobrolin film lama2 ngomongin artisnya, pertamanya ngebahas si x udah sukses lama2 mulai ngomongin si x nya. Sullllliiiitttt.

Masalah si dosa bernama iri ini gw belakangan sering banget tuh. Gara-gara baca blognya satu eneng manis dengan kisah manisnya bersama pacar (sekarang suami) yang juga alamakjan manisnya, suka iri hati. Karena mereka sangat manis. Sangat. Terlalu manis, kalo kata Slank.

Terus gw jadi suka pengen yang aneh-aneh. Kalau ada yang ngasih kejutan merahjambu kayak gini lucu kali ya. Nanti kejutannya beginibegitu, terus nanti ekspresi gw akan beginibegitu. Najis bener yak gue :p

Tapi kemudian suatu hari gw menemukan blog yang berkebalikan 180derajat sama blog manis teman saya. Disitu si empunya blog menceritakan dengan gamblang (bahkan menyebut nama asli) kisah percintaan dia dan pasangannya. Dan astaganagaaaaaa, bukan manis-manisnya. Bahkan sampai ke hal yang terlalu pribadi untuk dikonsumsi publik. Sampai pada titik dimana gw males bacanya karena gak tega. (Dan karena itu pula, blog itu gak akan gw link di sini).

Tapi gue pikir, mungkin aja pasangannya oke-oke aja dengan publikasi semacam itu. Mungkin aja itu masalah mereka yang sudah lewat dan sekarang mereka baik-baik saja. Mungkin aja mereka jadi sama manisnya dengan teman saya tadi.

Toh, saya (seharusnya) sadar, setiap pasangan memiliki dinamikanya sendiri-sendiri.

Gampang sekali memang lupa sama yang namanya syukur (Pak Syukur?). Gampang sekali take things for granted. Gampang sekali merasa bahwa semesta ada untuk memenuhi kebutuhan kita.

Ego manusia ya, memang paling keterlaluan. Ketika kita sebenarnya cuma satu dari sekian trilyun bentuk kehidupan di planet bumi. Satu dari entah berapa penghuni semesta. Kita pikir kita penting.

Okelah. Bulan puasa masih ada beberapa minggu. Yuk ah andied, jangan lupa bersyukur setiap harinya. Untuk setiap hirup nafas. Untuk setiap matahari terbit dan terbenam. Untuk setiap orang yang melengkapi jiwa tak sempurna ini.

Bersyukur : mulai!