Cuti Melahirkan – Episode 2

LHO????

Kok judulnya cuti melahirkan???

Huhuhu iya nih, setelah lamaaaaaa sekali nggak update, akhirnya baru sempet nengok-nengok blog lagi. Jadi, ada beberapa perkembangan sejak posting terakhir. Sejak November 2014, memang frekuensi main dan menulis di sini jadi lebih jarang karena kesibukan dan tanggung jawab di kantor bertambah.

Tapi ternyata ada satu hal lagi yang nggak gw pertimbangkan sebelumnya. Gw. Hamil.

LAGI.

Kombinasi antara kesibukan di kantor + punya toddler + hamil itu ternyata sangat menguras energi lho. Jadi ya akhirnya baru bisa buka-buka blog lagi ya sekarang, ketika sudah mulai cuti melahirkan di minggu ke-37.

So, mungkin untuk beberapa hari ke depan akan mulai posting-posting lagi (kalau nggak keburu nongol si bayi, which means akan mulai jarang lagi bisa buka blog hahahaha)

Bear with me, people.

Colongan Start

Tanpa bermaksud untuk tidak turut berbahagia, tapi saya baru saja menyadari adanya perbedaan reaksi atas berita kehamilan pertama dibandingkan dengan kesekian…

Dulu, ketika banyak teman yang baru saja menikah (sedangkan saya belum), setiap kali mereka mengumumkan bahwa sudah mengandung, reaksinya hanya 1 :
“Waaaaaa selamaaaaaaat!!! Udah berapa bulan?” dst dst

Reaksi ini ternyata berubah ketika mendengar pengumuman berita kehamilan kesekian :
“Hah, hamil lagi?!?”

Sekali lagi ditekankan, ini bukan cerminan tidak ikut berbahagia. Saya rasa justru lebih dekat ke arah panik, apalagi ketika kehamilan kesekian teman ini terjadi ketika saya -masih saja- belum menikah. Apalagi, ketika dalam 1 hari saya menerima kabar bahwa bukan cuma satu, tapi DUA orang teman yang sedang mengandung. Gile, pada colongan start bener orang-orang.

Ini pemikiran konyol-konyolan aja sih, karena toh hidup bukan pertandingan balap lari, melainkan marathon untuk diri sendiri.

Selamat ya teman-teman, semoga persiapannya semakin matang dan anak-anaknya sudah siap untuk jadi kakak. Abistu jangan pada buru-buru hamil lagi ngapah -teteeep- …