The Manifesto

I don’t do mush.
I don’t do Yang or the variants – kayang, loyang, peyang, beb, bebih, bebek, bebeb surebeb, hun, bihun, hunkwe, … Matur nuhun wae yak.
I don’t do needy and whiny just for the sake of pleasing the male ego.
I don’t do textbook romance. Soul-less poetry, overplayed top 40 evergreen love songs, expensive gifts, candlelight dinners.

I do me. I do late night conversations in a language only we know. I do silent stargazes, moon watches, and shooting star searches.
I do giggles, homemade gifts, spontaneous phrases and street-side stall dates.
I coexist, not co-depend.

I’m done with cookie cutters.

I’m going on a road trip.

And the ad does not read drivers wanted. Hitchhikers are welcome. I can drop you off along the way. For those with the same destination, you’re more than welcome.

Advertisements

Seksi

Bwahaahahahaha! *lhooo kok malah ketawa?*
Maaf maaf, tapi entah kenapa kata ‘seksi’ itu konotasinya kurang ciamik di mata saya. Tiba-tiba otomatis diasosiasikan otak saya dengan ‘inem pelayan seksi’.

Sexy, asal katanya, dideskripsikan wiktionary sebagai :

1. (of a person) Having sexual appeal; suggestive of sex.
2. (of a thing or concept) Very attractive or appealing.

Kenapa saya tiba-tiba membahas seksi sih? Hmm tadinya terinspirasi posting seorang teman tentang wujud laki-laki impian (balada gadis single deh), tapiiii baru-baru ini saya mengobrol dengan teman lain dan tersadarkan bahwa buat saya, sexiness itu lebih banyak ditemukan dalam sebuah ‘kesan’ daripada sebuah ‘penampakan’.
Teman saya pernah bilang, power is sexy. Saya kurang setuju, karena tergantung cara menggunakan kekuasaan itu.

Knowledge is sexy.
sense of humour is sexy.
Confidence, even more.
An air of mystery,
musical ability,
prevents you getting bored

Sebenernya kenapa juga ada sempalan pantun tak jelas di atas, saya kurang paham. Tapi memang kualitas-kualitas seperti di atas lah yang seringkali membuat saya meriang panas dingin napsir tingkat tinggi sama seseorang.

Knowledge : buat saya orang yang pintar itu sangat menarik. Bukan berarti harus bisa menyelesaikan perhitungan fisika di luar kepala, tapi pengetahuan yang luas. Dan paling penting, cara pandang yang tidak dogmatis.

Sense of humour : karena alangkah tidak menariknya menghabiskan waktu dengan seseorang tanpa sedikitpun tawa. Kebayang gak sih punya pacar yang kece sekece Gerard Butler tapi becandaannya norak atau setidaknya buat kita sama sekali nggak lucu? Lagi asik-asiknya membangun momentum, tiba-tiba kempesss aja gitu gara-gara dia membuat satu joke kecil atau komen yang bikin kita maless.

Confidence –> akan disimpan untuk dibahas belakangan.

Mistery : yah ini jelas lah ya, dimana-mana gak seru kalau semuanya diumbar di awal. Justru yang bikin penasaran itu yang mengundang kita untuk ingin tahu lebih dalam. Ibarat kata baju, kalau dibuka selapis-selapis, atau tersingkap-singkap sedikit, justru lebih seru daripada yang kebuka semuanya sekalian.

Musical ability : kalau ini sih subyektif banget. Karena saya memang sukaaaa banget musik, dan tidak punya kemampuan bermusik sam-sek, sehingga siapapun yang bisa bermusik (mau nyanyi kek, main gitar, main bass, main drum, main kecrekan, pokoknya A PA PUN), otomatis menjadi alangkah menariknya di mata saya.

Nahhhh sekarang baru bahas yang terakhir :
CONFIDENCE
Menurut saya, tidak ada yang lebih seksih daripada orang yang percaya diri. Yang tahu apa maunya, tahu bagaimana caranya mendapatkan apa yang dia mau, dan benar-benar melakukannya. Yang yakin akan jalan yang sedang ditempuhnya sekarang. Yang biarpun orang lain bilang norak, kampung, katro, cupu, atau apapun, tapi dia lempeng aja gitu karena menurut dia itu yang terbaik untuk dilakukan.

Dan semua kualitas lain di atas, akan berlipat ganda nilainya kalau dilakukan dengan penuh percaya diri. Bayangin orang yang suaranya bagus tapi kalau nyanyi cuma bisik-bisik lirih. Bayangin orang yang sebenernya kocak tapi karena ragu-ragu joke-nya jadi terlambat momennya. Bayangin orang yang cerdas tapi nggak pernah mau berbagi pendapat. Bayangin orang yang akhirnya membuka terlalu banyak rahasia diri cuma demi disukai.

Nah. Sekarang… Saatnya mencari. Hahaha.

perempuan yang tak layak dinikahi

Saya marah!
Hari ini melalui twitter, seorang ‘motivator’ yang cukup ternama di Indonesia menjabarkan kalimat berikut:
“Wanita yg pas u/ teman pesta, clubbing, brgadang sampe pagi, chitchat yg snob, mrokok, n kdang mabuk – tdk mungkin drencanakan jd istri”

Gila.
Sesempit itu ya orang Indonesia?

Berusaha memahami lebih dalam maksud dr kalimat ini, mungkin (mungkiiin lhooo, trying to think positive) sebenarnya bertujuan untuk menyampaikan bahwa perempuan tidak perlu merokok/minum/begadang sampe pagi/clubbing/chitchat yg snob (apa maksudnya yg terakhir ini saya juga gak ngerti) HANYA untuk mendapatkan laki-laki.
Karena memang terkadang saya temui juga orang yang merokok supaya terkesan keren, minum supaya terkesan cuek, atau apalah yang semacam itu.
MUNGKIN maksudnya itu. Atau MUNGKIN maksudnya bahwa perempuan yang melakukan hal2 diatas itu memiliki suatu trait tertentu yang membuatnya kurang layak sebagai istri/ibu.
Apapun maksudnya, tapi kalimatnya itu lhooo, bikin naik darah!

Kenapa?
Karena cuma memaparkan beberapa perilaku spesifik, tanpa disertai penjelasan yang jelas, maka akhirnya berujung pada stereotyping. Apa sebenarnya alasan seorang perempuan yang seru untuk diajak merokok/minum/clubbing/dll tetekbengek itu menjadi ‘tidak mungkin direncanakan sebagai istri’?
Kalau memang perilaku2 itu dianggap indikator adanya sebuah trait yang membuat seorang perempuan tidak mungkin direncanakan sebagai istri, bukankah lebih baik jika yang disampaikan adalah trait tersebut?

Lebih ringkas dan jelas, bukan, untuk menyatakan “dicari : kucing sehat”, daripada menyatakan “dicari : hewan piaraan rumah berkaki empat dari genus felidae dengan anggota tubuh lengkap, mampu berlari dengan kecepatan sekian kilometer per jam, suka memanjat pohon dan berburu tikus”? Karena kriteria kucing sehat untuk saya bisa jadi berbeda dengan anda.
Begitupun, kriteria ‘orang yang mungkin direncanakan menjadi istri’ akan berbeda.
Ah, maaf kalau terlalu berlarut2 dan menggunakan argumentasi serta analogi yang kurang jelas. Saya terlalu kesal. Mungkin karena saya terlalu sering chitchat snob (apapun maksudnya itu).

pupur dan gincu

matahari perlahan tampak dan embun menipis, lalu perempuan mengawali hari. ritual mini untuk bentuk persepsi, penataan citra diri.

diputihkan kulitnya (bahasa halusnya; pencerahan). agar ia terlihat bersih. dimerahkan pipi dan bibirnya. agar ia terkesan segar. dia lukis wajahnya, pasang topeng untuk peran hari ini. hari esok dan kemarin membawa topeng yang berbeda.

perempuan konsumsi massa, sesuaikan citranya bagi semua mata. pembodohan atas logika. pembodohan atas rasa. jalani hari dengan penipuan. karena manusia senang ditipu.

ketika matahari tak tampak lagi, maka tirai pentas hari diturunkan. pertunjukan berakhir dan saatnya tiba kembali jujur pada diri. lepas topeng perlahan sedikit demi sedikit, dan pertanyaan-pertanyaan membanjiri seketip sel abu-abu di balik paras. ketika pemirsa tiada, siapa saya?

………tulisan ini terpicu oleh banyak hal. yang pertama, kenapa ya perempuan suka sekali mempercantik diri? lebih besar alasan pribadi atau lebih karena tuntutan budaya dan masyarakat? yang kedua, kenapa ya, perempuan seringkali lebih suka menempelkan identitasnya pada entitas di luar dirinya? mungkin tulisannya jadi nggak fokus dan merembet kemana-mana, tapi mungkin memang gue belum menangkap esensinya keperempuanan? oh iya…terpicu juga oleh beberapa komentar yang mengatakan bahwa tingkah laku gue kurang perempuan. maka gue jadi bingung, apa yang disebut perempuan? ada yang bisa jawab?