Married Life

The first few minutes of Pixar’s “UP” says it all : married life is hardly all smiles and flowers. Tapi ya, buat saya perjalanan apapun nggak akan berkesan kalau nggak ada tantangannya. Yang penting, sekarang menghadang tantangan nggak sendiri, melainkan berdua. Tentunya (emh… semoga ya) kemampuan problem solving lebih mumpuni dibandingkan sendiri-sendiri. Semoga ini nggak jumawa semata yah ahaha.

Dua minggu menjalani kehidupan pernikahan, kayaknya kami masih afterglow, sisa euphoria rangkaian acara selama beberapa hari dan bulan madu yang beruntut-runtut. Papa masih girang menghimpun komentar tetamu tentang hadiah video & lagu dari beliau yang super mengharu-biru. Mama masih terhura mendengar pujian tentang dekor dan makanan yang (alhamdulillah, banyak yang bilang) sakseus. Saya dan suami masih terbawa hawa-hawa bulan madu hohoho…

Yang pasti, banyak hal baru. Seiring dengan status baru berjudul istri, ada peran baru yang harus dijalani. Dan buat saya setiap peran baru selalu menjadi waktu untuk mendefinisikan ulang diri sendiri. Tentu banyak perempuan multifungsi (eh?) multitasking di dunia ini, namun jelas saya bukan salah satunya. Sebelum menikah, saya punya peran sebagai anak, cucu, kakak, teman dan karyawan. Setelah menikah? Sudah terbayang yang namanya istri itu kombinasi pacar, sahabat, partner diskusi, perencana keuangan, dan rekan bercinta (sounds wrong ya hahaha). Untuk menjalankan masing-masing peran pun banyak kontradiksi — kadang perlu galak, ngemong, manja, mandiri, proaktif, pasrah — dan tentu masing-masing sifat perlu dimunculkan di situasi dan kondisi yang tepat, dalam kadar yang tepat pula.

Gampang? Pasti nggak doooong. Apalagi saya ini EHOIS sampai ke akar. It’s my way or the highway. Lo nggak suka cara gue ya gapapa, tapi gue juga nggak merasa perlu repot-repot berurusan sama lo. Oleh karena itulah orang tua saya nampak takjub bisa-bisanya ada lelaki yang melamar saya tanpa ada unsur paksaan dari berbagai pihak. Saya juga takjub kok sebenernya mah :p … Tapi laki-laki hebat ini meyakinkan saya pasti bisa. Dan terkadang untuk maju yang kita butuhkan hanya adanya orang yang percaya bahwa kita mampu untuk maju. Jadi ya saya bertekad tidak meluruhkan kepercayaannya itu. Harus bisa 🙂

It’s been a fun two weeks, can’t wait for more. Doakan aku ya wahai pembaca…ca…ca… *bergema karena ternyata gak ada yang baca :p

All You Need is Love

Another quote from a Beatle. But it just rang true.

I spoke to a friend the other day and we were discussing how some of our smartest, brightest, most attractive friends are stuck in a relationship rut. They’re either longing for a relationship but haven’t been able to establish one, or in a relationship with unavailable men. By this I speak broadly and include those who are in an imaginary relationship —more popularly known as bertepuk sebelah tangan— , those who are in (constant painstaking attemp to establish) a relationship with unavailable men, and those who are in a relationship with emotionally unavailable men.

I’ve been there, I’ve done all that, and I know how painful it is. Believe me, I know.

I am ever so grateful and feel really lucky to meet someone that I’m constantly in love with, as much as he is with me, and that we find a way to nurture a healthy coexistence between the two of us.

And now I know this :

There are two basic motivating forces: fear and love. When we are afraid, we pull back from life. When we are in love, we open to all that life has to offer with passion, excitement, and acceptance.

We need to learn to love ourselves first, in all our glory and our imperfections. If we cannot love ourselves, we cannot fully open to our ability to love others or our potential to create. Evolution and all hopes for a better world rest in the fearlessness and open-hearted vision of people who embrace life.

— John Lennon

My dear friend says she hasn’t found a way to love and accept herself. She’s a very beautiful, nice and smart person. How could that be? So here’s to you, my friend. May you slowly find a way to love and cherish yourself as much as I love and cherish you.

Pada Sebuah Gedung

17 Desember. Sebuah pesan, muncul berkali-kali, bertubi-tubi dari berbagai jalur. Seperti tidak rela diabaikan.
“Alumni SMU TarQ 1! Besok 18 Des ke Puloraya jam 10 pagi, foto-foto sebelum direnovasi!”
Maka datanglah kami. Lima perempuan produk gedung itu.
Lalu mendadak diserang nostalgila. Gedung sialan yang sudah lapuk karena terlalu sering terendam banjir itu. Dari setiap sudutnya menelurkan butir-butir kenangan yang menyeret-nyeret kami dengan paksa ke satu dasawarsa yang lalu, dimana semuanya bermula.
Khusus untuk saya, aula besar di gedung ini adalah lemari besi kenangan saya. Ruangan yang tadinya saya akrabi hanya untuk formalitas latihan teater setiap hari Rabu, demi ada nilai ekstra kurikuler di raport. Rasanya dulu malaaassss setengah mati setiap kali mau latihan teater. Latihan mentalnya itu loooohhh…. Apakah ada maksud dan tujuan dari tugas-tugas absurd setiap minggunya? Apakah ada pentingnya mendengarkan suara orang berteriak-teriak dari penjuru kanan kiri depan dan belakang?
Tapi disini juga saya belajar berkomitmen terhadap sesuatu. Nggak cuma ambil enaknya aja, tapi paket keseluruhan. ….mmm tepatnya setelah ditegur oleh teman-teman satu angkatan, karena mereka bakal kena marah kalau anggota yang datang nggak lengkap… hehehehe… tapi ternyata teman-teman inilah yang selalu bersama saya hingga duabelas tahun ke depan.
Disini belajar resolusi konflik (etdziaaaaah) dengan adil dan beradab. Bahwa perbedaan bisa diselesaikan dengan baik, selama semua pihak mau membuka dialog dan menerima pendapat yang berbeda. Menekan ego dan kepentingan pribadi (terngiang kata-kata “pribadi lepas pribadi”) demi satu tujuan bersama.
Disini belajar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada teman yang mampu “mendengarkan” dan “menerima”.
Disini belajar menjadi perempuan yang menyetir nasib sendiri. Bukan semata puas disuapi mimpi orang lain.
Namanya sekolah perempuan semua, kayaknya nggak ada waktu dan tempatnya untuk bermanja-manja sama laki-laki untuk “eh tolong angkatin ini dooong”, “bantuin ini doooong”. Atau bergenit-genit berdandan supaya keliatan kece. Mau nampang sama sapaaaaa? Yang ada malah nggak mandi ke sekolah (contoh ekstrim, tapi sayangnya nyata terjadi), manjat-manjat stadion lebak bulus demi masang spanduk sponsor, demo berjemur berjam-jam di parkiran, dan entah apa lagi. Kelakuan macam begini buat saya masih suka kebawa-bawa sampai sekarang. Entahlah apa itu bagus atau nggak. Mungkin nggak sepenuhnya juga ya, mengingat sekarang di kantor banyak ibu-ibu yang suka gemes dan mengeluarkan pernyataan “dandan sedikit kenapa siiiiiih”. Kalau mau lebih dalam dari itu, beberapa hari lalu sempat ada diskusi mini dengan beberapa orang teman tentang perempuan yang terkadang ‘terlalu’ independen. Saya kasi tanda kutip disitu, karena sebenernya ‘terlalu’ itu tergantung dari perspektif mana memandangnya. Gimanapun juga kemandirian itu pastilah suatu hal yang positif. Self sufficient, self sustaining, berdiri di atas kaki sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain. Cumaaaaa, terkadang orang seringkali salah kaprah tertukar dengan “sok mandiri”. Secara otomatis menolak bantuan dari orang lain semata-mata demi menunjukkan kekuatan diri. Namun bukankah itu sama saja dengan jeritan yang terlalu kencang untuk minta diakui?
Disini belajar mempertanyakan. Bukan semata puas atas jawaban normatif dan nyaman dalam ketidaktahuan.
Mungkin saya sudah tidak terlalu ingat rumus-rumus integral, persamaan limit, berhitung 1-(cosin α), tabel senyawa kimia, ancang-ancang tiger sprong, perbedaan aktiva-pasiva, dan entah apa lagi yang diajarkan di kurikulum saat itu. Tapi untungnya kami selalu ingat bahwa kami bisa menjadi apapun yang kami mau. Bahwa di luar sana ada banyak pilihan, bukan terbatas pada apa yang telah dipilihkan. Bahwa cita-cita untuk menikah dan mengurus anak, sama mulianya dengan cita-cita menjadi CEO, selama dilakukan berdasarkan pilihan dan bukan keterpaksaan.
Dan untungnya, kami punya satu sama lain. Tempat kami belajar, bercermin diri dan bertukar pikiran. Semua karena gedung ini. Maka biarkanlah kami sejenak tenggelam dalam romantika.

Posted with WordPress for BlackBerry.

obrolan emak-emak

Belakangan ini lagi banyak banget teman-teman yang berstatus bumil maupun busu untuk pertama kalinya. Dan tampaknya salah satu keluhan yang paling sering saya dengar adalah -mengutip dari posting neng manis ini- semua orang merasa berhak beropini.
Semua orang merasa berhak memberikan segala macam komentar, saran, bahkan sampai instruksi, tentang cara mengurus kehamilan maupun bayi yang baik dan benar. OK mungkin ada beberapa nasihat yang cukup berdasar dan common sense aja, tapi yang saya tangkap dari teman-teman saya ini, yang nggak bisa diterima dan bikin pengen nabok adalah nada-nada menghakimi seolah-olah cara mereka mengurus anak itu salah.
Padahal ya, peran baru sebagai orang tua itu kan cukup menakutkan. Tiba-tiba dititipin makhluk mungil tak berdaya yang nggak bisa bicara bahasa manusia. Mana emaknya ngerti tu anak nangis gara-gara apa? Dan menurut saya tidak ada perasaan yang lebih menyiksa daripada melihat orang yang kita sayang (si anak) menderita, dan kita nggak tahu bagaimana cara membuat keadaan jadi lebih baik.
Di tengah keputusasaan seperti itu, saran bertubi-tubi dari orang lain yang seringkali kontradiktif, justru membuat newbie parents and parents to be ini ingin bakar diri saking bingungnya.
There is no foolproof way of parenting. There are only theories, and common sense. Because every child has different needs, different responses, different personalities.
Jadi teman-temanku wahai bumil dan mamah2 baru, SEMANGAT YAAA! Dan suatu hari nanti dikala saya berada di posisi kalian, janganlah membuatku bingung. Atau lebih parah, kalau suatu hari nanti saya sok-sok kasih nasihat tentang parenting, SILAKAN TAMPAR SAYA KERAS-KERAS!!!

sesat bertanya, malu di jalan

Pertanyaan-pertanyaan dan komentar basabasi yang entah kenapa selalu muncul di acara kumpulkumpul keluarga meskipun sangat mengganggu dan kurang penting :

Tanya : “Mana pacarnya, kok gak diajak?”
Jawab : *senyum aje*
T : “Kapan nyusul?” (Biasanya diucapkan oleh yg baru nikah/punya anak)
J : *menjaga senyum*
T : “Ga pingin ngasi cucu buat mama papa?”
J : *mulai nyengir asem* (lo kate kadoooo?)
T : “Ditunggu yaaa undangannya…”
J : *mulai nyengir ala kuda keringetan*
T : “Tapi kamu suka laki-laki kan?”
J : *mlipir ke meja makan dan membumihanguskan dua piring ketupat, rendang, opor ayam, sayur buncis*

superwoman beraksi

Macam kurang aja drama dalam hidup saya. Pake ditambah masuk rumah sakit segala. Padahal dulu saya bercita-cita, sekali-kalinya masuk rumah sakit di usia dewasa, cukup pada saat melahirkan saja.
Tapi apa mau dikata. Nyamuk-nyamuk sialan itu menentukan lain. Tadinya saya sudah yakin betul saya cuma demam karena radang tenggorokan. Bahkan sudah yakin sembuh. Sampai-sampai berani berangkat ke Bandung pake kebaya brokat doang sore-sore, malemnya langsung balik lagi ke Jakarta. Demi menghadiri pernikahan sahabat.
Keesokan harinya masih menyiapkan segudang rencana : beli tiket konser, nengok teman yang sakit, nengok teman yang melahirkan, balik ke kost, besoknya miting pagi-pagi. Tadinya tes darah cuma buat iseng memuaskan rasa penasaran, sekedar memastikan : tu kan saya ga sakit apa-apa.
Ternyata….. Sial.
Bangun kesiangan dan serasa ketabrak truk. Memutuskan ga ngantor dan ambil hasil tes darah. Taksi yang gak kunjung datang sampai dua jam kemudian. Demam. Lemes tingkat tinggi. Antrian rumah sakit. Ngurus administrasi bolakbalik sanasini sendiri. Harus dirawat. Jdaaarrrrrrrr!!!
Seketika merasa super kesepian dan super sendirian. Ketika sedang di titik nadir dan tak ada tempat bersandar. Sempat terjebak dalam beberapa menit mellow bermuram durja, dan nyaris terduduk murung di pinggir jendela sambil memandangi hujan turun *biardramatis*.
Tapi…
Dulu-dulu pun saya ga pernah tuuuuh mendadak dijemput buat dianterin ke dokter, atau apapun semacam itu. Dulu-dulu pun ngurus apa-apa sendiri tuuuuh.
Jadi kenapa harus mendadak dangdut?
Maka Andied beraksi kembali. Telpon rumah sakit di Jakarta, pesen kamar, packing baju dari Karawaci, telpon taksi, telpon adik tercinta suruh ngabarin nyokap, meluncur..

Supir taksi : “mau jenguk siapa mbak, bawaannya banyak amat?”
Saya : “mau dirawat pak, bukan jenguk.”
Supir taksi :”dirawat kok ga ada yg nemenin?”
Saya nyengir.

Sampe UGD yang dimaksud…
Petugas: “pasiennya yang mana mbak?”
Saya: “saya.”
Petugas: “sendiri?”
Saya nyengir. Menyerahkan segepok berkas hasil tes darah dan menjabarkan kondisi terakhir.
Petugas: “langsung diinfus ya mbak sambil kamarnya disiapin”
Saya: “mmm…tunggu ibu saya dateng aja ya mas”

….So much for being a superwoman. Tetep aje manja sama emak ini sih judulnya. Mau diinfus aja ga berani. Ya maaf deeeh, pertama kali masuk rumah sakit nih, terakhir kali waktu masih umur 4 taun.