H-17 : Should’ve Would’ve Could’ve

Tidak terasa sudah tinggal 18 hari lagi…

Pada titik ini saya sungguh menyesal kenapa dulu tidak mendengarkan suara hati untuk menggunakan jasa Wedding Planner. Dear para capeng, tolong dicatat : kalau kamu & pasangan sama-sama budak korporasi 9 to 5, kalau kalian bukan datang dari keluarga besar yang siap repot, dan kalau sekiranya teman-teman kalian tipe yang acuh tak acuh pada pernikahan : do yourself a favor and use a wedding planner. Serius deh ya, kayaknya daripada budgetnya buat foto pre wed lebih baik dialokasikan ke wedding planner.

Di bulan-bulan awal memang tidak terlalu terasa, apalagi kalau acara kita tergolong “standard” seperti pernikahan pada umumnya. Tapiiiii, lihat nanti 2 bulan menjelang hari H. Dijamin jungkir balik.

Dulu saya juga berpikir “apa susahnya sih, kan vendor bisa komunikasi lewat telpon email atau bbm?”. Ternyata ya susah. Susah karena menyita konsentrasi, menyita waktu, terkadang ada hal urgent yang perlu di tindak lanjuti tapi di saat yang bersamaan mungkin kita sedang meeting sehingga tidak bisa tertangani. Susah.

2 minggu sebelum hari H, rencananya akan diadakan Technical Meeting dengan seluruh pihak yang terkait pada saat resepsi. Saya sudah berencana untuk cuti. Coba tebak apa yang terjadi? Saya ditugaskan ke luar kota pada H-1 dan H-2 Technical Meeting tersebut, dan tidak diizinkan cuti pada hari H technical meeting.

Homaygat.

Bismillah ya Allah, berikan kesehatan dan kekuatan…

Advertisements

Samar-Samar Menari Saman

Salah satu penyesalan terbesar masa kecil saya adalah bahwa saya nggak pernah belajar tari daerah khas Indonesia. Ya abis gimana, dari jaman hamil saya si mama aja hobinya nonton film Flashdance, dan dari kecil pun dijejelin segala macam VHS BETAMAX & LaserDisc tari-tarian ballet, jazz, modern dance endebray. Ditambah lagi waktu itu nggak trendy kalo nggak  les ballet di sebuah sekolah ballet ternama.

Waktu berlalu, dan tentunya saya TIDAK menjadi seorang penari. Ballet yang butuh teknik tinggi dan latihan disiplin terasa kurang menarik pada akhirnya.

Dan sekarang, di masa dimana tari India sudah masuk salah satu kategori yang dinanti-nanti dalam So You Think You Can Dance, serta ketika berbagai aspek budaya Indonesia terbengkalai di negeri sendiri dan rawan dicaplok negara lain *uhuk* … rasanya menyesal setengah mati nggak pernah sedikit pun mengakrabkan diri pada budaya Indonesia selain sebatas sebagai penikmat.

Jadi ketika ada kesempatan berkontribusi menari Saman di acara ulangtahun ke 99 induk perusahaan, tentu saya sambut baik dongs. Saya tahu ini sih nggak ada apa-apanya dibanding para penari Saman beneran yang super kompak dan kayaknya punya built in metronome didalam jam tubuhnya, tapi ya saya anggap saja ini upaya kami mengapresiasi budaya sendiri.

 

fatigue

At an era where everything is built to be mobile and instant – we can multitask anything, anytime, anywhere – there comes a point when we stop being able to listen to our body. Instead, we rely on apps, on charts and graphs, to tell us whether or not we have had a healthy meal. We input all kinds of data, take pictures of our food, and “log in” to places we’ve been during the day. We no longer rely on memories of the gorgeous day we had, because we didn’t savor it enough to form such memory.

We ignore our senses.

It tells us to rest, and we don’t listen.

It asks us to sleep, and we don’t listen.

It warns us to take a moment, and we don’t listen.

and so there comes a point when the body screams for attention any way it can.

Have you listened to what your body is telling you today?

Or did you rely on an app reminder instead?

 

Dinas vs Tamasya

Di kantor yang lama, perjalanan dinas selalu saya sambut dengan riang gembira. Kenapa? Karena eh karena, biasanya perjalanan dinas itu berupa sosialisasi kebijakan sehingga tidak makan banyak waktu. Pun umumnya dilakukan menjelang weekend.

Alhasil, biasanya saya request penerbangan kepulangannya diundur ke hari minggu, supaya bisa puas sightseeing dan jalan-jalan. I consider it trip HRATIS melihat-lihat tempat baru. Can’t complain, right?

‘Utilisasi’ perjalanan dinas yang paling menyenangkan buat saya adalah :

  1. Melanjutkan perjalanan ke Toraja (extend dari Makassar)
  2. Naik bis ke Singapura sepulang training di Malaka
  3. Keliling kota Surabaya, yang sebelumnya belum pernah saya explore

Memang belum banyak sih, tapi ya saya bersyukur banget, karena kesemua kota itu baru untuk saya, dan mungkin belum tentu saya akan pergi kesana kalau bukan untuk urusan kerjaan.

Semenjak negara tetangga pemilik kantor lama semakin menancapkan kuku dan taring berjudul “COST EFFI” maka akhirnya perjalanan yang nyaman dengan naik maskapai nomor 1 di Indonesia, terpaksa digantikan bersempit-sempit di maskapai budget asal si negeri tetangga ituh. Plussss pekerjaan saya lama-lama semakin sedikit menuntut saya jalan-jalan untuk sosialisasi.

Setelah resign dan pindah ke kantor yang baru ini, saya bahagia setelah diiming-imiingi kata-kata “akan sering dinas ke luar kota”, “banyak remote area” dan “GA***A”. Otomatis terpikirkan banyak pelosok Indonesia yang bisa saya jelajahi. Pulau Sikuai, Pulau Menjangan, Derawan, kyaaaaa….

Ternyata…

Di kantor ini, perjalanan dinas dilakukan relatif dadakan. Wakwaow moment buat saya adalah ketika ternyata mayoritas perjalanan dinas dilakukan DI PERTENGAHAN MINGGU. *byebye exteeeend* Cuti? Nyaris tidak mungkin karena saya kan anak baru, belum setahun kerja, dan lagi nabung-nabung cuti untuk honeymoon.

So this is what my business trips so far looked like :

  1. JKT-PKU-JKT berangkat Selasa subuh pulang Rabu sore. Jadwal full, nggak liat apa-apa selain hotel, bandara, kantor. Makan aja nasi box.
  2. JKT-PLM-JKT berangkat (lupa hari apa) subuh, pulang di hari yang sama sore.
  3. JKT-CGK-JKT berangkat Selasa siang pulang Kamis malam. jadwal full tapi masih lumayan makan malam bisa di luar.

Ihiks….

Moral of the story : you win some, you lose some. In my case I win a little (upgraded airline class & new local destinations), but lost what really mattered to me : schedule flexibility.

Be careful what you wish for.

Cukup

Pagi di tepi jalan utama Jakarta, seorang laki-laki terduduk di trotoar. Dikelilingi dagangannya, entah apa, yang terlihat cuma warna-warni dan kilau plastik. Robot-robot kota Jakarta lalu lalang tanpa sedikitpun menoleh. Laki-laki itu sendiri, sebuah eksistensi sepi di sela padat ibukota.

Benarkah?

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, meskipun sumbang. Tentu senandungnya bukan untuk uang, karena ia pedagang. Tak nampak wadah receh yang biasa disediakan pengamen. Pun ia tak tampakkan wajah memelas meminta iba.

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, namun riang. Untuk dirinya sendiri. Untuknya temani hari.

Di dalam sedan istimewa tempat saya tak perlu duduk di muka, saya sedang sibuk merutuk rutinitas budak korporasi yang terasa membebani. Tamparan hari ini datang halus-halus dari nyanyian seorang laki-laki. Lantang, sumbang, namun riang.

Bahagia adalah abstraksi tanpa standardisasi ukuran.

Dan nyanyian laki-laki itu mengingatkan saya, bahwa bahagia adalah cukup. Dan berkecukupan bukan semata ‘berkata’ cukup. Semoga saya sampai pada titik dimana lebih besar rasa syukur daripada rakus. Titik dimana apa pun yang ada saat itu bisa saya maknai dan syukuri sebagai sesuatu yang cukup.

 

R.I.P. : i n s p i r a s i

aduhaduhaduhaduh

lihat kanan lihat kiri sampai tak tau mau lihat kemana lagi

putar otak sana sini sampai tak tau dimana ini

di ujung sana ada orang, mungkin bisa bantu aku?

ragu datang, tapi kukibas, beranikan diri….

"…permisi, anda tau kemana inspirasi pergi?"

pandangan kosong, alis tertaut, lalu hening

ia terbahak, berdecak, lalu beranjak pergi

katanya, buat apa cari sesuatu yang tak pasti?

inspirasi tak janjikan kamu makan hari ini

…dan kerja rodi tak butuh inspirasi