Unconditional Love

Banyak orang bilang yang namanya “unconditional love” itu hanya satu : cinta seorang ibu untuk anaknya. Tapi sekarang setelah punya anak, kayaknya gw merasa ungkapan itu kurang tepat.

In my case, gw masih seseorang yang sangat egois dan punya batas sabar/capek. Jadi ya meskipun gw sayang setengah mati sama Aksara, kayaknya gw belum berani bilang itu unconditional. Pembuktiannya adalah suatu hari nanti, ketika dia mulai beranjak untuk menggapai mimpi dan cita-citanya – yang bisa jadi tidak sama dengan apa yang pernah gw angan-angankan untuk dia. Kenyataannya, setiap orang tua pasti punya harapan tinggi untuk anaknya. Dan nggak sedikit juga orang tua yang kalah oleh rasa kecewa atau malu ketika anaknya ternyata tidak bisa atau tidak mau memenuhi harapan itu. Makanya gw belum berani bilang rasa sayang gw unconditional, meskipun gw sangat sangat berharap gw bisa mencintai dan membebaskan dia bertumbuh kembang di jalur yang dia mau.

Gw rasa, lebih tepat kalau dibilang bahwa anak (setidaknya, bayi) yang punya kapasitas mencintai tanpa syarat. They love totally, unconditionally, without judgments, or any terms and conditions. And they ask for nothing in return.

These mini humans carry inside them a universe of wisdom, and it is our duty to preserve it. Yet they are our teachers. Sungguh, menjadi orang tua adalah salah satu hal yang paling menggentarkan buat gw. Tapi gw percaya, anak-anak kuat dan tegar, bahkan melebihi orang tuanya.

Semakin besar Aksara, gw semakin berterima kasih bahwa dia begitu pengertian dan bisa memaklumi ibunya yang abal-abal ini. Emaknya pulang malem karena lembur, disambut pake senyum dan minta gendong. Emaknya nyusuin sambil bersungut-sungut karena kebangun tengah malem, dia tetap senyum dan elus-elus muka gw. Kenapa makhluk mungil ini punya hati yang begitu besar?

I have a lot to learn, but I have the best possible teacher in the world : my daughter.

Dear Aksara,

suatu hari nanti kalau kamu membaca ini : Terima Kasih ya hurufkecilku, semoga kamu sudah jadi Huruf Besar 🙂

Advertisements

obrolan emak-emak

Belakangan ini lagi banyak banget teman-teman yang berstatus bumil maupun busu untuk pertama kalinya. Dan tampaknya salah satu keluhan yang paling sering saya dengar adalah -mengutip dari posting neng manis ini- semua orang merasa berhak beropini.
Semua orang merasa berhak memberikan segala macam komentar, saran, bahkan sampai instruksi, tentang cara mengurus kehamilan maupun bayi yang baik dan benar. OK mungkin ada beberapa nasihat yang cukup berdasar dan common sense aja, tapi yang saya tangkap dari teman-teman saya ini, yang nggak bisa diterima dan bikin pengen nabok adalah nada-nada menghakimi seolah-olah cara mereka mengurus anak itu salah.
Padahal ya, peran baru sebagai orang tua itu kan cukup menakutkan. Tiba-tiba dititipin makhluk mungil tak berdaya yang nggak bisa bicara bahasa manusia. Mana emaknya ngerti tu anak nangis gara-gara apa? Dan menurut saya tidak ada perasaan yang lebih menyiksa daripada melihat orang yang kita sayang (si anak) menderita, dan kita nggak tahu bagaimana cara membuat keadaan jadi lebih baik.
Di tengah keputusasaan seperti itu, saran bertubi-tubi dari orang lain yang seringkali kontradiktif, justru membuat newbie parents and parents to be ini ingin bakar diri saking bingungnya.
There is no foolproof way of parenting. There are only theories, and common sense. Because every child has different needs, different responses, different personalities.
Jadi teman-temanku wahai bumil dan mamah2 baru, SEMANGAT YAAA! Dan suatu hari nanti dikala saya berada di posisi kalian, janganlah membuatku bingung. Atau lebih parah, kalau suatu hari nanti saya sok-sok kasih nasihat tentang parenting, SILAKAN TAMPAR SAYA KERAS-KERAS!!!