mimpi mimpiĀ absurd

Semalam, di antara sesi career coach legendaris, jendral pilik yang berlari girang, ibuku, upaya menyetir mobil yang gagal, dan bocah-bocah yang asyik berenang; terselip dirimu.
Menyeruak tiba-tiba, mengakhiri lelapku menuju awal hari.
Mengapa demikian?

Bunga Tidur

Selama ini saya menempatkan mimpi sebagai bunga tidur yang terkadang muncul tanpa sebab. Saya tidak pernah menganalisa mimpi sebagai suatu ‘pertanda’ karena menurut saya itu cuma sebuah skenario alternatif di dunia paralel yang hanya ada di alam bawah sadar.
Apalagi tidak semua mimpi saya melibatkan karakter-karakter yang memang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terkadang penuh dengan sosok yang bahkan belum pernah saya jumpai/ketahui sebelumnya.
Tapi belakangan ini, sepertinya mimpi saya benar-benar menggambarkan keinginan terdalam diri. Dan karena namanya juga mimpi, yang hidup liar tanpa terbatasi dinding realita, terkadang skenario dalam mimpi itu minta ampun absurdnya.
Contoh paling nyata, saat ini saya sedang punya pengharapan tinggi untuk sebuah pengembangan karier. Sejak lulus dari program pengembangan di kantor, saya terjerat klausul ‘bersedia ditempatkan di mana saja’. Memang saya cukup beruntung ditempatkan di bagian HR sesuai dengan minat, namun sejak dulu saya mengincar Organization Development. Instead, saya dicemplungin di Rewards. Sungguh, sebenarnya angka bukanlah kawan baik saya. Tapi ya sudahlah, saya terima dulu sambil menyusun strategi dan membangun reputasi untuk terjun ke OD nantinya.
Belakangan ini kesempatan itu mulai ngintip-ngintip dari balik tembok. Dan saya memutuskan mengejarnya. Tapi memang masih samar dan belum ada kepastian apa-apa.
Mungkin karena terbayang-bayang dan berharap-harap, akhirnya saya ‘diserang’ oleh mimpi-mimpi absurd berikut :

1. Setting : kantor di hari minggu, persiapan pindahan ke gedung kantor baru.
Di tengah ribetnya beres-beres, lalu saya beristirahat sambil ngobrol dengan seorang teman. Entah kenapa pake acara ngumpet-ngumpetan segala, kucing-kucingan dengan sosok entah siapa. Anehnya, akhirnya ngumpet di LIFT! Nggak efektif banget deh ngumpetnya. Tiba-tiba lift berhenti di satu lantai, pintu terbuka dan masuklah sang boss besar. Dia berkata : “andied, sini yuk, saya mau ngobrol-ngobrol tentang masa depan karier kamu”… Jengjengjenggg… Ikutlah saya ke ruangan beliau, melewati lautan kardus dan tumpukan kertas sampai akhirnya saya terjebak di tengahnya, tidak bisa melangkah lebih jauh, dan tertimpa timbunan kertas setinggi dua meter. Begitu akhirnya berhasil muncul ke permukaan, si boss besar sudah raib…

2. Setting : di kantor jam makan siang, tapi saya memutuskan nggak makan di luar untuk ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman
Tiba-tiba division head di bagian yang saya harap-harapkan itu datang, memberikan jam tangan yang alamak noraknya (ilustrasi: tali kecil, dengan muka jam penuh kristal warna-warni super blingbling).
Tapi ketika saya balik jam tangan itu, terukir sebuah pesan :
“Udah tuh, masuk sini. Selamat ya, pake tuh ilmu psikologi sepuasnya. Hehehe”

…Sungguh a ja ib…