tentang sepi

Tahukah, bahwa sendiri tidak selalu sepi, dan sepi tidak selalu sendiri.
Beberapa waktu lalu sempat sharing dengan seorang teman yang kisahnya kurang lebih mirip dengan saya. Mendadak sendiri setelah bertahun-tahun terlibat dalam sebuah relationship.
Bahwa kami limbung, itu pasti. Sedikit merasa hilang diri, karena bagaimanapun telah banyak proses yang dilalui bersama, sehingga ke’kami’an itu seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan ke’aku’an.
Bahwa sepi mulai hadir, juga pasti. Ketika selama ini ada tempat berbagi, mengupas dan memaknai fragmen-fragmen hari. Wajar sekali, bukan?
Saya bertanya pada teman saya ini (sudah lebih setahun sejak perpisahannya), berapa lama sampai dia akhirnya bisa mulai membuka diri kembali untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya. Sekedar ingin tahu berapa lama hati bisa menyembuhkan sendiri lukanya, lalu siap menurunkan benteng berlapis-lapis untuk lagi-lagi menghadapi kemungkinan luka baru.
Teman saya tidak menjawab. Dia hanya bercerita, bahwa dia sudah memiliki tempat berbagi kesehariannya.
“Kamu sudah yakin akan orang ini?”, tanya saya.
Jawabnya, “Cukuplah, sekedar agar tidak sepi”.
Percakapan berlalu, kami berpisah jalan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan saya tak bisa berhenti berpikir : cukupkah?

Cukupkah sekedar tidak sepi?

Advertisements

pagi. hujan.

Pagi ini terbangun untuk bertemu hujan. Dan cuaca mendung-mendung dingin di pagi hari rasanya selalu mengajak saya kembali berselimut, lalu bergulung ke posisi fetus.
Tapi tentu saja realita berbicara lain. Jadi terpaksalah saya mandi, mengenakan baju kurungan (bukan baju kurung loh, tp baju kurungan karena entah kenapa pakaian kantor terasa sangat menghambat kebebasan gerak), dan berpacu dengan macet untuk mengejar bis kantor. Di perjalanan, ngobok-ngobok hp cari lagu yang pas dengan suasana pagi ini, tapi playlist saya kurang pas aja ternyata.
Setelah berbengong-bengong, tiba-tiba terngiang-ngiang beberapa lagu yang sepertinya cocok nih.

1. Come around – Rhett Miller. Terutama kata-kata ‘am I gonna be lonely for the rest of my life’… Huehehehe. Karena entah kenapa ketika dingin, mendung, rasanya selalu ingin mencari kehangatan. Dan ketika nggak ada orang lain di dekat kita, otomatis berasa sepiiiiii banget. Dan sepi itu gak enak banget, rasanya seolah-olah akan kesepian seumur hidup. Drama queen? Memang. :p

2. Inside of love – Nada Surf. Kalo ini sih lebih karena memori aja. Alkisah beberapa tahun lalu ketika gue mengalami masa kerontang dalam hal per-pria-an (kalo kata teman saya, itu masa-masa saya nggak memproduksi feromon setetes pun) seorang teman yang lain pernah bilang : ini lagu kayak kisah hidup loe ya ndied. Ehhhh kurang ajar, saya juga nggak se-desperate itu tauk! Tapi yah, itu kan memang masa-masa gloomy-gloomy galau kurang jelas gitu, memang identik dengan mood-mood mendung lah.

Lagu lainnya? Belum kepikiran :p

Telur Setengah Matang

Hari ini saya rindu sekali sarapan telur setengah matang
Aroma telur setengah matang selalu mengingatkan saya akan pagi hari di rumah nenek dan kakek saya : Uti dan Aung.
Sarapan sederhana di sebuah ruang makan mungil, mengitari meja bundar bermandi sinar matahari mengintip dari balik jendela.
Penuh cinta. Sederhana.

…Keluarga.

Mungkin rindu ini muncul karena untuk kesekian kalinya Aung harus dirawat inap di rumah sakit. Usianya 84, sudah tidak muda. Meski begitu sampai 1 tahun lalu dia selalu berusaha mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah. Memperbaiki pipa kamar mandi, mengganti lampu yang mati, membuat kap lampu, dan entah apa lagi. Terkadang malah lebih merepotkan bagi kami, karena fisiknya yang renta sudah terlalu rapuh.

Namun bagaimana kita meredupkan jiwa yang masih membara? Ketika raga sudah menyerah namun jiwa belum mau kalah?

Aung senantiasa menjadi sosok yang menginspirasi, dan berjasa besar. Untuk saya, adik saya, dan mama. Dari beliau saya belajar pentingnya kerja keras, pantang menyerah, disiplin, integritas, serta semangat untuk selalu belajar dan berkarya. Bahwa hidup adalah perjalanan yang tak kenal akhir, dan setiap hari adalah perjuangan mencapai makna diri. Dari beliau saya memperoleh hasrat yang selalu haus akan pengetahuan, dan beliau pula yang mengenalkan saya pada benda ajaib bernama ensiklopedia. Beliau membuka dunia bagi saya, dan membiarkan saya bermain sepuasnya.

Maka untuk pejuang yang tak kenal lelah, saya menitipkan doa kepada semesta…