Nesting

Belum pula kelar segala kerempongan pernikahan, si Mamak sekarang memburu-buru anak perempuan semata wayanganya untuk mulai ….
menghias…
kamar..
penganten.

JDANG.

Sebagaimana berkali-kali sudah terjadi dalam Andied’s Universe, selalu terjadi pertempuran kolosal antara budget vs selera.

Ngok.

Setelah banyak banyak banyak berdiskusi dengan si sepupu yang arsitek, maka akhirnya si kamar ini akan dibuat full warna putih. Mulai dari tembok, jendela, pintu, sampai furniture.

Pertimbangannya :

  1. Ukuran super mini dan minim natural lighting
  2. Kamar pengantin bersifat sementara (insyaallah) dengan harapan dalam waktu maksimal 6 bulan penghuninya akan capcus ke sarang cinta yang lebih permanen
  3. Sesudah pengantennya pindah, peruntukan kamar ini belum jelas mau dijadiin apa, jadi supaya bisa mengakomodasi seandainya ada perubahan dekor, lebih baik dibuat senetral mungkin

Demikianlah pada akhirnya saya sibuk bernyanyi-nyanyi

Katakan padakuuuu hai tukang kayuuuu, bagaimana caranya memesan furniture padamu??

Yang urgent-urgent dibikin sih kayaknya headboard tempat tidur, media cabinet dan meja rias. Harapannya bisa sebagaimana yang aku tapsirun di sini :

Ciamik apalagi jika dilapis warna putih

Tapi dipikir-pikir lagi, dengan kecenderungan gw yang sangat accident prone, bisa-bisa jadi belakang kepala gw banyak codet-codet motif ukiran gituh. Alhasil pada kenyataannya nanti mungkin harus cukup puas dengan yang modelnya semacam ini ajah

Supaya gak kejedug marilah kita lapisi busa dan kain

Sebagaimana perempuan pada umumnya yang mencintai hal-hal cantik maka aku pun menaksir yang semacam ini

CANTEK sodara sodariiih

Cantik? Itu pasti. Feasible, belum tentyuh. Wong kamar cuma sa’uprit kok ya mau diisi beginian ditaro sebelah mana cobaaaa.

Sebenernya lumayan terlihat kan kontrasnya perbedaan antara versi dambaan hati dengan versi “kompromi”nya? Hiks memang bagaimanapun money talks ternyata.

Akhirnya sisi pragmatis otak saya memutuskan untuk nyicil-nyicil bikin/beli/refurbish furniture yang sifatnya modular dan simple, supaya lebih mudah di mix & match dan digeser-geser maupun diangkut-angkut ke rumah baru nantinya. Pun  si furniture sebaiknya agak multi fungsi, misalnya meja rias yang bisa sekaligus jadi meja kerja, kalo perlu merangkap meja makan sama meja setrikaan. Meja catur sekalian. *kok emosi mbaknya?

Yah okelah nggak perlu seekstrim itu, tapi semoga bisa mendekati inspirasi di bawah ini :

Meja nan (insyaallah) serbaguna, soalnya bisa dibuka tutup tu atasnya
See? Instead of lemari 2 pintu, bikin aja 2 buah lemari 1 pintu
Rak buku super kece yang bisa digeser untuk menambah storage space

Nah secara paralel marilah kita sibuk cari pernak pernik. Untuk hal ini baru deh warna-warni beraksi, biar ruangan nggak putih semua semacam rumah sakit jiwa.

*brb browsing lagi*

rumits!

Quote of the day :

Life is really simple, but we insist on making it complicated
-confucius

…Agak menampar, sebenarnya.
Bersama beberapa orang perempuan sok rumit, belakangan ini sedang sering membahas seputar pernikahan dan hidup. Dikupas-kupas tapi tidak kunjung tuntas, tentang konsep pernikahan ideal (bukan seremoninya ya, tapi sinergi, kemitraan dan pembagian peran dalam pernikahan), tentang kriteria calon suami ideal, tentang tujuan seseorang menikah, en de bla en de bleh.
Sedangkan sebagian lain orang, memilih pendekatan yang lebih sederhana : ketika sudah ingin dan siap menikah, lalu bertemu seseorang dengan keinginan dan kesiapan yang sama, maka tunggu apa lagi?
Dan mereka pun (bahkan mungkin lebih) bahagia. Dengan atau tanpa “sparks”, “trining-trining”, “setrum”, “magic” atau apapun namanya itu.
Mungkin ini cuma masalah manajemen ekspektasi.

Seksi

Bwahaahahahaha! *lhooo kok malah ketawa?*
Maaf maaf, tapi entah kenapa kata ‘seksi’ itu konotasinya kurang ciamik di mata saya. Tiba-tiba otomatis diasosiasikan otak saya dengan ‘inem pelayan seksi’.

Sexy, asal katanya, dideskripsikan wiktionary sebagai :

1. (of a person) Having sexual appeal; suggestive of sex.
2. (of a thing or concept) Very attractive or appealing.

Kenapa saya tiba-tiba membahas seksi sih? Hmm tadinya terinspirasi posting seorang teman tentang wujud laki-laki impian (balada gadis single deh), tapiiii baru-baru ini saya mengobrol dengan teman lain dan tersadarkan bahwa buat saya, sexiness itu lebih banyak ditemukan dalam sebuah ‘kesan’ daripada sebuah ‘penampakan’.
Teman saya pernah bilang, power is sexy. Saya kurang setuju, karena tergantung cara menggunakan kekuasaan itu.

Knowledge is sexy.
sense of humour is sexy.
Confidence, even more.
An air of mystery,
musical ability,
prevents you getting bored

Sebenernya kenapa juga ada sempalan pantun tak jelas di atas, saya kurang paham. Tapi memang kualitas-kualitas seperti di atas lah yang seringkali membuat saya meriang panas dingin napsir tingkat tinggi sama seseorang.

Knowledge : buat saya orang yang pintar itu sangat menarik. Bukan berarti harus bisa menyelesaikan perhitungan fisika di luar kepala, tapi pengetahuan yang luas. Dan paling penting, cara pandang yang tidak dogmatis.

Sense of humour : karena alangkah tidak menariknya menghabiskan waktu dengan seseorang tanpa sedikitpun tawa. Kebayang gak sih punya pacar yang kece sekece Gerard Butler tapi becandaannya norak atau setidaknya buat kita sama sekali nggak lucu? Lagi asik-asiknya membangun momentum, tiba-tiba kempesss aja gitu gara-gara dia membuat satu joke kecil atau komen yang bikin kita maless.

Confidence –> akan disimpan untuk dibahas belakangan.

Mistery : yah ini jelas lah ya, dimana-mana gak seru kalau semuanya diumbar di awal. Justru yang bikin penasaran itu yang mengundang kita untuk ingin tahu lebih dalam. Ibarat kata baju, kalau dibuka selapis-selapis, atau tersingkap-singkap sedikit, justru lebih seru daripada yang kebuka semuanya sekalian.

Musical ability : kalau ini sih subyektif banget. Karena saya memang sukaaaa banget musik, dan tidak punya kemampuan bermusik sam-sek, sehingga siapapun yang bisa bermusik (mau nyanyi kek, main gitar, main bass, main drum, main kecrekan, pokoknya A PA PUN), otomatis menjadi alangkah menariknya di mata saya.

Nahhhh sekarang baru bahas yang terakhir :
CONFIDENCE
Menurut saya, tidak ada yang lebih seksih daripada orang yang percaya diri. Yang tahu apa maunya, tahu bagaimana caranya mendapatkan apa yang dia mau, dan benar-benar melakukannya. Yang yakin akan jalan yang sedang ditempuhnya sekarang. Yang biarpun orang lain bilang norak, kampung, katro, cupu, atau apapun, tapi dia lempeng aja gitu karena menurut dia itu yang terbaik untuk dilakukan.

Dan semua kualitas lain di atas, akan berlipat ganda nilainya kalau dilakukan dengan penuh percaya diri. Bayangin orang yang suaranya bagus tapi kalau nyanyi cuma bisik-bisik lirih. Bayangin orang yang sebenernya kocak tapi karena ragu-ragu joke-nya jadi terlambat momennya. Bayangin orang yang cerdas tapi nggak pernah mau berbagi pendapat. Bayangin orang yang akhirnya membuka terlalu banyak rahasia diri cuma demi disukai.

Nah. Sekarang… Saatnya mencari. Hahaha.

Limbung

Kemarin saya kembali diingatkan untuk bersyukur…

Untuk teman-teman lama yang mampu ‘menampar’ saya dengan kata-katanya,
yang setelah lama berselang ternyata masih ‘mengenal’ saya dibalik fasade.
Untuk teman-teman yang senantiasa ada dan bersedia mendengar, tanpa menilai atau menggurui.
Untuk teman di pucuk hari yang telah bersedia sedikit berbagi…

Untuk diri yang perlahan mulai akrab dengan sendiri.

Terima kasih, Tuhan.

…PussyCAT doll

Tampaknya emak bapak saya udah nggak sabar ingin punya cucu. Beberapa kali hal ini disinggung dan sekian kali pula saya menanggapinya dengan cengar-cengir ala kura-kura dalam perahu (pura-pura tidak tahu).

Hasrat mereka semakin kentara ketika keluarga kami memutuskan mengadopsi seekor kucing kampung (sebenarnya si kucing itu yang secara sepihak dan semena-mena mendeklarasikan bahwa rumah kami = rumah dia).
Kucing ini secara khusus memang bukan orang kucing asing bagi kami. Kalau masih ingat cerita di posting sebelumnya tentang tem, bubu, kunkun + mamahnya, kucing sok asik ini adalah si kunkun dalam cerita tersebut. Jadi memang dia cukup sering main ke rumah, dan disambut dengan cukup ramah oleh segenap anggota keluarga.
Lama kelamaan dia keenakan. Setiap jam makan entah mengapa dia selalu sukses nongol di bawah meja makan (cerdasnyaaa kucing ini). Ikut nonton tv sama prt di rumah saya. Bahkan dia suka iseng nyelisip2 masuk lemari.
Kucing ini tidak sepenuhnya nggak tau diri sih. Sesekali dia ‘membalas budi’ dengan caranya sendiri : menangkap tikus. Diletakkannya tikus yang sudah almarhum itu, terkapar di luar rumah, seperti mau bilang “ini upah kalian untuk ngasih makan saya 2 minggu ke depan”.
Oke, mulai ngelantur. Apa hubungannya pengen punya cucu sama kucing ajaib? Karenaaaa sejak jaman dahulu kala ibu saya itu paling anti sama makhluk bernama kucing. Tapi kucing ini direlakannya tidur di kamar bapak ibu saya, seperti anak bayi.
Dan secinta2nya bapak saya sama kucing, nggak pernah sampai dia rela MENCUCIKAN PIRING MAKANAN SI KUCING. Bahkan piring makanan miliknya sendiri nggak pernah dicuci sama bapak saya.

Tau kan bagaimana kakek nenek itu selalu bangga sama hal2 paling kecil yang dilakukan cucunya? Bahkan ketika cucunya pup di atas baju kakek neneknya yang paling mahal pun bagi mereka adalah sesuatu yang sangat menggemaskan. “Ih opa opa liat deh si schaatje pup di atas baju oma yang Prada. Pinter banget sih maunya pup di atas barang mahal. Cucu siapa dulu dooong”. Gitu kali kira2 pembicaraannya ya.
Bapak ibu saya punya reaksi yang sama pada si kunkun. Setiap kali temperamen bapak saya agak kumat, atau ibu saya lagi bete di kantor, cerita2 kecil mengenai kenakalan si kunkun di hari itu selalu sukses membuat mereka tersenyum kembali.
Teman saya bilang “wah, ndied, beneran pengen cucu itu artinya”. Astaganaga. Matilah saya.
Selain saya sering mati gaya di depan anak kecil, rasanya lahir bathin kok ya belum siap untuk memunculkan andied-andied kecil di dunia ini.
Saya masih terlalu egois dan terlalu apatis. Gimana mau ngajarin anaknya kalau ibunya juga belum (sepenuhnya) matang?

Jadi ma, pa, berapa ekor kucing yang kalian mau (sambil menunggu)? 😀