Losing A Friend

I couldn’t think of better words to describe how I felt watching the Cardigans’ concert in Jakarta last night. It really did feel much like losing a friend. I have to say, that compared to the concerts I’ve previously been to, this is the one I went to with least preparation on my behalf. I didn’t replay the albums cover to cover and I didn’t memorize the lyrics. Maybe I’ve gotten less excited because the show was clearly titled “Gran Turismo Tour”, and I wasn’t too crazy over GT.

Musically, I guess it did show more maturity from their previous work. But personally, I identified more with their earlier work such as Emmerdale. I went so far as to posting comments on their website asking them to play their earlier albums and not make the show too GT, although I don’t know whether or not they read it.

Anyways, during the concert I thought there must be a reason why they dubbed this the Gran Turismo tour, even though it was not their last album. I guess the band evolved, and their preferences changed as they matured. Which I suppose is a good thing actually, compared to packaging the same old riffs with different lyrics instead like the common mistake done by so many other bands who hit big early.

This is why I said it’s like losing a friend. You know how after 10 years you often don’t relate to your high school best friends anymore? The ones you were inseparable from, the ones you talk on the phone to every night, and whose shoulders you cried on? You’ve grown, and they’ve grown, and most often not in the same direction. It’s good for them, but you just don’t relate in the same way you used to. And as a friend, you applaud them for having grown that much. It would be selfish if you ask them to return to the way they used to hang out with at the time. Well, this is the same thing.

The concert itself was brilliant, featuring amazing lightworks, prime vocals from Nina and nice interaction from the band. They couldn’t stop taking pictures of the crowd, and expressing their joy that we knew the songs.

Another highlight : this is the first ever concert me & Abang went to together as a couple. Huhuhu… and although he’s not so much into live music as I am, I’m touched that he gave a lot of effort to enjoy it as much as I do.  :’)

Lovefools!
Thank You for the Music 🙂

Advertisements

(your) Most Valuable Possession

SAYA SUKA BEN FOLDS.

Koreksi : SAYA CINTE MATI SAMA MAMANG BEN.

Dan oleh karena itu, entah dari mana harus mulai berkisah tentang “most valuable possession” saya saat inih : euphoria nongton konser mamang ben. LIVE. BUKAN di DVD. *aaaaak mau mati sesak nafas*

Lebay? Belum cencyuuuh. Begini, bayangkan seorang remaja perempuan tanggung yang sangat biasa-biasa saja. Tidak terlalu khusus dalam hal apapun. Bayangkan betapa di usia itu dia sedang mulai membentuk jati dirinya, dan hal-hal yang diakrabinya di usia itu akan sangat berperan besar dalam proses pembentukan itu.

Yak, di usia itu, saya akrab betul sama Ben Folds Five. Band ajaib yang isinya cuma piano, bass dan drum. Permainan piano yang terkadang trining-trining manis menenangkan dan skillful, tapi juga mendadak suka jembrang jembreng rusuh. Ditemani distorsi bass. Cuma main bertiga tapi ramenya minta ampun. Lalu, yang utama : lirik-lirik sarkastis mentertawakan diri sendiri, cerita-cerita random yang dikisahkan dengan lucu. Nyam nyam nyaaammm… ah aku sukaaa.

Menonton Ben Folds LIVE, sebenernya masuk salah satu bucket list saya. Soalnya dulu itu, sama sekali nggak berani berharap Ben Folds (baik dengan embel-embel Five maupun sendiri) akan pernah datang ke Indonesia, jadi kayaknya kalaupun mau nonton harus pergi ke luar negeri (dan itu pan mahaaaaal).

Meskipun beberapa lagu lumayan terkenal di Indonesia (apalagi Brick yang dulu jadi backsound Dear Diary-nya Prambors), tapi Ben Folds nggak punya banyak hits yang masuk top 40 dan dikenal banyak orang. Jadi kayaknya (saya kira) massanya nggak akan terlalu banyak disini. Dan oleh karena itu juga, saya seneng setengah mati kalau ketemu sesama pecinta Ben Folds.

Tapi ternyataaa semesta yang baik ini berkata lain. Dari awal 2011 sempat rame isu-isu pergosipan di twitter yang bilang Ben Folds mau dateng. Tapi daripada berharap ketinggian terus akhirnya kecewa, jadi sok-sok cuek. Sampai akhirnyaaaaah si Ben Folds sendiri yang nulis di twitternya bahwa dia mau datang ke Jakarta. Masaoloh maesaroooh!!!! *melongo* *sibuk itung duit*

20111129-233725.jpg

Setelah semuanya semakin jelas dan pasti, akhirnya diperoleh sebuah tanggal baik yaitu 26 Mei 2011. Dan tanggal itu sungguhlah baik karena keesokan harinya si babeh ulangtaun. Dan berhubung dahulu babeh sayalah yang pertama memperkenalkan saya pada album “Whatever & Ever Amen” nya Ben Folds Five, maka sepertinya pas sekali kalau saya berikan karcis menonton Ben Folds sebagai hadiah ulangtaun babeh kan? (padahal cari temen)

Demi mengantisipasi Jakarta macet dan kerjaan dadakan yang suka datang di penghujung hari kerja, maka saya pun sengaja CUTI di hari itu. Lalu sengaja berangkat 1,5 jam lebih awal karena acaranya di Kuningan dan takutnya macet. Dan entah mengapa, hari itu sama sekali nggak macet. Yang artinya kami datang di venue 1,5 jam lebih awal. Terus bingung mau ngapain. *jedaaaang* Untungnya di sana malah jadi semacam reuni mini dengan banyak teman yang sesama pecinta Ben Folds, jadi tidaklah terlalu mati gaya.

Dan akhirnya konser dimulai. Di panggung cuma ada 1 piano. Beberapa highlight yang masih bikin saya euphoria sampai saat ini :

  1. Ben Folds masuk, langsung main tanpa basa-basi : “If there’s a God, He’s laughing at us” – EFFINGTON! Dilanjutkan dengan Annie Waits + Sentimental Guy. Trus mulailah dia ngobril-ngobril sama penonton, bahas smoke machine yang entah kenapa ditaro di sblah pianonya. Sampai akhirnya gw jejeritan “Play Smoooke!” …and he played it. Dan ternyata lagu Smoke nggak ada di original set listnya. Meskipun saya yakin bukan cuma saya sendiri yang tiba-tiba teriak “smoke”, tapi rasanya seolah-olah saya punya andil gituh. Dan takjub aja lihat si Ben Folds mendadak impulsif nurut sama penonton-penonton yang banyak maunya ini.
  2. Di lagu “You Don’t Know Me” yang aslinya dia nyanyikan duet sama Regina Spektor, dia ngajak penonton sing along. Tapi memang dasar para penonton ini suka terlalu berinisiatif (sebagaimana dicontohkan pada poin pertama), jadi bahkan di bagian-bagian yang nggak disuruh nyanyi kita tetep nyanyi. Bahkan sampe ada yang bagi suara segala. Mimik kagetnya si Ben Folds di lagu itu priceless banget, dan bisa dilihat di video berikuts.
  3. Dahuluuu kala sekitar tahun 2002, saya bersama seorang teman sesama pecinta Ben Folds sedang gandrung-gandrungnya *saelaaah GANDRUNG* dengerin album “Ben Folds Live”. Terutama track “Army”, dimana dia membagi penonton jadi 2 untuk gantian menyanyikan bagian horn section di track aslinya. Dan bahkan buat kami berdua yang saat itu cuma bisa dengerin dari kasetnya (iya waktu itu belinya masih bentuk kaset), part itu terdengar sangat menyenangkan. Nah kita berdua waktu itu suka berkhayal-khayal, kayak apa yah rasanya kalau kita jadi bagian dari penonton yang disuruh ikut nyanyi juga. … Lalu… Lalu… Guess what, setelah 9 tahun, akhirnya khayalan itu beneran kejadian. For the both of us. Maaaaakkkkkk, Andied ikutan nyanyi lagu Army sambil nonton mamang Ben maaaakkkk… *nangiskejer*
  4. Si mamang Ben mendadak jamming sendiri sambil bikin lagu impromptu tentang Indonesia… He’s a real entertainer indeed.

Mmh…mmh… Trus apa lagi yaaah. Aaah terlalu banyaaaak. Terlalu banyak hal menyenangkan di malam itu. Rasanya nggak pengen pulang. Pengen terus-terusan menonton sang idola nyanyi sambil main piano. Pengen terus menikmati interaksi mamang Ben yang sangat down to earth & hangat dengan para penonton. POKOKNYA GAK MAU PULAAAANG!!! *melotot* …hosh hosh hosh…
But yeah, all good things must come to an end. So does this night. Malam ini akan tetap menjadi salah satu malam terbaik dalam hidup saya. *masihgakrelaharuspulang*
Terima kasih semuanyaaah.
Terima kasih papah yang sudah memperkenalkan saya sama Ben Folds Five.
Terima kasih teman-teman yang selalu menginformasikan update-update terbaru soal mamang Ben Folds.
Terima kasih ismaya yang mendatangkan Ben Folds.
Dan pastinyah… Terima kasih semesta yang membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin.
🙂

… Nah… Berikutnya…
Mari menabung untuk beli box set anthology-nya mamang Ben Folds!!!

————-19/11/11————–

Baru nemu setlist ciamiknyah di sini dan setlist dibawah ini diambil dari siniiii

20111129-234542.jpg

#Trip : Singapore – Coldplay’s Viva La Vida World Tour

Satu hal yang cukup signifikan di dekade 2000-2009 kemarin (maaf ya kalo belakangan ini saya sering banget ngebahas masalah dekade-dekade ini :p), adalah hubungan saya dengan musik. Saya berasal dari keluarga dengan tingkat musikalitas yang cukup tinggi, dan sebagian besar keluarga saya adalah musisi. Tapi awal pertama kali saya benar-benar jatuh cinta dengan musik adalah mulai tahun 2000 (see, tepat di awal dekade ini kannnn. Spektakulerrr ☺).

Dan yang berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati adalah abang-abang bernama Guy Berryman, Johnny Buckland, Will Champion dan Chris Martin. Yap. Coldplay.

Awalnya sederhana. Saya suka sekali warna kuning. Dan ketika itu radio-radio ibukota sedang kecanduan memutar Yellow dimana-mana. Lagu Yellow sendiri, sebetulnya, tidak terlalu spesial untuk saya. Hanya lagu pop pada umumnya. Tapi ketika saya meminjam album Parachutes pada seorang teman dan mendengarkan semua lagu di album itu, saya jatuh cinta.

Bayangkan kelabilan seorang remaja kurang populer berusia 16 tahun. Anehkah jika sound yang gloomy, vokal yang lirih dan lirik yang ‘gelap’ menjadi demikian menarik untuk saya? :p

Setelah Parachutes, muncul A Rush of Blood to the Head, X&Y dan Viva La Vida yang sudah bergeser dari apa yang membuat saya pertama kali jatuh cinta sama mereka. Tapi toh, selalu ada warna baru yang membuat saya tetap setia meski untuk hal yang berbeda…

Dan maka alangkah bahagianya, ketika di penghujung akhir dekade ini saya berkesempatan menyaksikan mereka secara LIVE.

Menghirup udara yang sama dengan mereka dalam satu ruangan. Melihat sendiri bagaimana abang Chris jejingkrakan berkeliling panggung seperti kesetanan. Bagaimana dia berdansa diluar irama ketika tiga temannya justru menjaga irama. Menyanyikan lagu favorit saya bersama mereka.

Salah satu momen paling signifikan di tahun 2009 🙂

And here are the pretty people I spent it with

this picture courtesy of my lovely cousin. thankyou spups!

————– 19/11/11 ————–

Baru nemu setlistnyaaa di sini dan di sini

20111119-015030.jpg