Great Expectations

Expectations are a very scary thing for me.

OK, wait, tunggu dulu, jangan mulai mengucapkan kalimat2 macam “hidup itu tidak bermakna tanpa harapan”, “manusia tidak boleh kehilangan kemampuannya untuk bermimpi”, dan bla bla bla lainnya… gue bukan membicarakan tentang harapan yang ITU. not hope. but expectations.

mimpi-mimpi gue (sampai saat ini) masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak di belakang otak gue, menunggu suatu saat dilepaskan dan mengkristal jadi kenyataan. tapi yang gue bicarakan adalah ekspektasi gue atas berbagai hal kecil, setiap belokan tanjakan dan turunan mungil dalam keseharian gue.

hal2 semacam ketika gue ada janji kencan sama teman2 kuliah tercinta di sudirman, sedangkan gue mengkalkulasi bahwa perjalanan karawaci-sudirman memakan waktu sekitar 1 jam sehingga gue bisa bertemu mereka jam 7. tapi ternyata jakarta menginjak2 ekspektasi itu dengan memunculkan kawan lamanya bernama KEMACETAN di saat yang sangaaaatttttt tidak tepat dan membuat gue ingin berubah jadi KINGKONG supaya bisa mengangkangi kemacetan itu dan tiba di tempat tepat waktu. ekspektasi2 kurang penting semacam itulah pokoknya yang gue bicarakan.

So that’s why I say that expectations are a very scary thing for me. Because when they start to fly, they go all the way. UP. (which, of course, makes the fall down reaaaalllllyyy painful).

I have ‘learned’ along the years to stop expecting certain things from certain people or situations. To no avail. When it all comes down to it, I’m such an emotional masochist.

I see the sprout of an expectation, and quick as a flash I start to give it wings. Not just regular flying wings, but super big angel wings, along with a turbo jet booster with NOS so it can fly fast-and-furiously up up and away. Launch ’em up into space, just to go careening all the way down in smithereens.

People just never learn. Me in particular.

Let’s hope I change….oh, the irony…

ANGKATbanting

sodarasodari yang berbahagia sekalian, sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa hari ini adalah salah satu hari angkatbanting… kenapa eh kenapa? begini ceritanya.

angkatbanting pada dasarnya menggambarkan situasi ketika setelah perasaan loe diangkat-angkat, dikasih sayap biar hatinya terbang-terbang setinggi-tingginya, hanya untuk menemukan sesuatu yang bisa bikin kita pengen cepet2 gali lubang di tanah, masup dan gak keluar-keluar lagi sampe badai berakhir (katanya sih badai pasti berakhir, tapi biasanya ketika kita lagi di tengah badai rasanya seperti tidak akan pernah berakhir :p)

laluuuuuuu…hari ini adalah anniversary ke-2 kelulusan gue dari sebuah program MT… yang mana implikasinya adalah hari ini sekaligus menjadi hari kebebasan gue dan 22 orang teman gue di angkatan tersebut. Kenapa eh kenapa? karena eh karena setelah lulus dari program tersebut kita terikat perjanjian untuk tetap berada di perusahaan tersebut selama 2 TAHUN! konsekuensi jika melanggar adalah bayar denda dengan nominal yang cukup bikin mata gue melotot bahkan sampe hampir menggelinding keluar dari lobang mata gue pada saat mau tandatangan kontraknya. emang sih sebenernya di antara kita belum ada satupun yang berniat pindah ke tempat lain (baca: belum laku dijual) jadi sebenernya memang ikatan dinas itu gak jadi beban buat kita. Tapi bagaimanapun rasa kebebasan yang datang bersama hari ulangtahun ke2 ini tetep aja sukses menjadi angin segarrrr di tengah badai topan yang lagi datang bertubitubi…

bahkan kita udah berencana untuk merayakan ulangtaun ini lhooo…. pokoknya gue bangun pagi dengan perasaan semangat juang 45 untuk merebut kembali kemerdekaan (yang sebenernya udah gak perlu diperjuangkan karena otomatis dapet pas 2 taun. tapi biar dramatis aja)

tapi ternyataaaaaaaaaaaaaa dunia memang tidak selebar daun kelor (apa hubungannya sih?). 5 menit sesudah bangun pagi gue ngerasa perut gue kayak ditonjok2 tyson (meniru salah satu iklan TV), keringat dingin udah ngucur2 bahkan gue gak bisa berdiri. gak beres banget itu perut pokoknya, terutama di ulu hatinya. padahal hari itu harus tampil kece untuk nodong tandatangan beberapa petinggi di kantor. harus nyamperin mereka di gunung geulis pula!

akhirnya dengan susah payah, tidur sebentar dan TANPA MANDI gue pake baju dan langsung meluncurrrr… dan setelah berjam-jam luntang luntung nunggu mereka break, gue cuma berhasil dapet SATU tandatangan, padahal yang dibutuhin DUA!!! apakah ini akibat gue gak mandi? (hmmmm….. mungkin ya?)

jadi dengan langkah gontai gue berjalan terseok-seok meninggalkan TKP, bingung mau bilang apa sama anak istri (ini sebenernya cerita apa sih?)…huhuhu susah bener cari duit yaaaa…

untunglah hari yang teruk ini masih berhasil diangkat (dikiiiiiitttt) dengan bertemu temanteman untuk merayakan hari kebebasan. meskipun gak berhasil lengkap karena sayangnya ada beberapa orang yang masih terdampar di luar Jakarta… dan oh ya, hari ini berhasil dapet foto2 waktu liburan ke Ujung Kulon kemarinnnn 🙂 semoga ngangkat yang dikit ini gak ada bantingannya yah.

sumpek

hari berganti hari tak terhitung lagi dan dia lupa bahwa dia manusia, lupa bahwa dia berhak atas kebebasan dan waktu luang, bahwa hidup bukan cuma kerja tidur dan makan, bahwa ada emosi berjudul ceria, bahwa ada ekspresi bernama tawa.

waktu berlalu tak terekam lagi dan mereka lupa bahwa dia pernah tertawa bahwa dia pernah bahagia dan bahwa dia manusia. lalu detik demi detik berjalan meninggalkan dia, meninggalkan satu manusia yang lupa akan dirinya, meninggalkan haknya tanpa jejak untuk dijejalkan kedalam waktu semu yang disisakan oleh mereka baginya.

hari yang cuma dua mereka sebut kebebasan yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia punya tujuh hari yang memang ADA tanpa perlu diberikan siapa-siapa. waktu yang cuma satu jam mereka sebut istirahat yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia tak perlu istirahat karena tak pernah merasa lelah atau penat.

dan kini dia bahagia cukup dengan belanja atau pandangi kotak segi empat dengan gambar berjalan bersuara, puas dengan berjalan pandangi benda-benda yang tak mampu dibelinya dan tersenyum ketika bisa lelap lebih dari enam jam. dia lupa bahwa dulu ada yang namanya pertanyaan penasaran dan perjuangan, lupa bahwa ada emosi yang lebih dalam daripada tersenyum ketika keadaan menuntutnya, lupa bahwa dia manusia.

siapa yang akan mengingatkan dia ketika ternyata di dunia ini sudah tak ada lagi manusia? cuma robot-robot kota yang digerakkan tangan tak kasat mata…

sedikit neraka di malam takbiran

hari ini matahari bakar Jakarta

tanpa ampun seperti hendak balas dendam yang lama tertunda

beri sedikit rasa neraka untuk para calon penghuninya

tapi mereka cuma tertawa.

katanya; aku tak takut neraka, dia ada di setiap jengkal keberadaanku.

lalu mereka kembali lagi jalani hari

menyeberang jalan dan mencari makan

…..ditulis 9 desember 2005, tapi sesuai untuk gambarkan cuaca hari ini

…failure to launch

semua orang punya mimpi.

cita-cita kecil dulu adalah menjadi astronot. melihat bintang dan dunia dari perspektif yang lebih luas.

pernah juga mau jadi detektif, mencari petunjuk dan menerka makna dibaliknya.

satu cita-cita lagi untuk jadi arkeolog. keliling dunia, menguak sisa-sisa peradaban lain. kemudian belajar dari kesalahan yang membawa kehancuran peradaban itu.

….

….

….

dan sekarang, dua belas tahun sejak mimpi-mimpi itu,,

baru NYARIS jadi pegawai bank.

life’s funny way of saying ‘you’ve still got a long way to go’

penjara dengan dinding kaca

joni di lantai dua puluh tiga, memandang jauh ke luar jendela. hanya langit biru menyapa ditemani awan tanpa noda.

burung-burung terbang…dan daun terbang…andai joni bisa terbang.

dinding kubikel menyempit, joni terhimpit, ingin menjerit.

lalu berdiri

lepaskan alas kaki

berlari

tabrakkan diri

kaca berserpih

terbanglah joni!

tapi..

jon, tolong sebelum jam lima nanti ke meja saya untuk diskusi

sayap joni patah lagi.

cuma katarsis

Referring to someone’s comment on a former post : YES, I am one of the people who answers and reposts bulletins. which is really the catalisator of my writing the former posted blog. It wasn’t a critic to other people, it included me as part of the people. In a way, I see these bulletins as a tool. I saw that most people (include me in it if you like), are using these bulletins as a media to express themselves either anonimously or recklessly.

sometimes the topics of these bulletins are just downright ridiculous. and for certain members of society who doesn’t have the privilege of being able to act ridiculously in everyday life, answering and posting these bulletins are a great and cheap outlet for their perhaps rarely used frivolity. for others, perhaps lonely people, these bulletins are an aid to attempt reaching others in the hope of achieving human contact. perhaps it is the safest way of putting themselves on a limb, trying to be funny for some, trying to be serious for others, trying to be honest, to look perfect, and perhaps other goals I haven’t thought of.

Perhaps now there’s a question about the safety I mentioned beforehand. Why? It’s safer because bulletins rarely go noticed. people don’t give too much a damn about your answers and the truthfulness of it, people read it for amusement. and in the end, aren’t we all actually performers at heart? And we are also afraid to take risks. So if there are things that we don’t have the guts to say in real life, perhaps the bulletin board proves to be more beckoning.

Apart from my overanalyzing the situation, I simply use bulletin boards and blogs as a catharsist. Read it if you like, ignore it if you want. It’s really just words.