fatigue

At an era where everything is built to be mobile and instant – we can multitask anything, anytime, anywhere – there comes a point when we stop being able to listen to our body. Instead, we rely on apps, on charts and graphs, to tell us whether or not we have had a healthy meal. We input all kinds of data, take pictures of our food, and “log in” to places we’ve been during the day. We no longer rely on memories of the gorgeous day we had, because we didn’t savor it enough to form such memory.

We ignore our senses.

It tells us to rest, and we don’t listen.

It asks us to sleep, and we don’t listen.

It warns us to take a moment, and we don’t listen.

and so there comes a point when the body screams for attention any way it can.

Have you listened to what your body is telling you today?

Or did you rely on an app reminder instead?

 

pffffftttt….

Berusaha keras untuk tidak berubah ke bridezilla mode. Meski belakangan terlalu sulit untuk dilakukan.

Pengen jahit mulut orang. Entah mulut gue apa mulut orang lain.

Mbaknya, bisa nggak kalau komen disaring dulu?

Bisa? Oke. makasih.

 

Tentang Foundation Kesayangan

Sebagai orang yang males dandan dan punya kulit sensitif, menemukan foundation yang tepat menjadi tantangan tersendiri. Kadang gw nggak ngerti buat apa orang harus dandan setiap hari. Pagi-pagi menghabiskan waktu minimal 15 menit untuk nempelin ini itu di muka, yang malemnya harus dihapus lagi. Kemudian ritual yang sama berulang keesokan harinya, dan lagi, dan lagi…. Buat apaaaaa? Bukankah itu sesuatu yang sia-sia?

Pada akhirnya gw tidak memungkiri sih, bahwa tampil cantik dan segar itu memang membuat pikiran dan jiwa lebih segar dan bersemangat. Tapi tetep aja judulnya : males! Cuma yang namanya kerja kantoran, bagaimanapun tampilan profesional tetap dibutuhkan dong. Jangan sok-sok natural look kalau emang nggak kebagian jatah gen berkulit mulus nan sehat. Soalnya dewy skin itu beda loh sama berminyak. Masa iya ngantor tapi mukenye kayak abis lari 25 kali keliling lapangan banteng?

Ditambah lagi, kulit ini pada dasarnya sensitif, jadi nggak semua foundation boleh ditempelin kecuali mukanya mau bruntusan, jerawatan ataupun mendadak kusam. Akibat itulah dalam memilih foundation ya terpaksa di-shortlist dengan beberapa kriteria saringan :

  1. Warnanya sesuai dengan warna kulit. Karena foundation lebih untuk meratakan warna kulit yang kadang splotchy di sana sini, supaya lebih merata warnanya, bukan buat bikin terlihat lebih putih. Well, at least that’s in my opinion. It’s supposed to look like your skin, only better. Tagline merk apa ya itu? Hmmm lupa hehehe. Menurut Mbak Bobbi, cari yang warnanya paling mendekati warna kulit. Buat contekan bisa juga lihat link ini.
  2. Formula Liquid atau Cream. Dari pengalaman coba-coba beberapa foundation menurut rekomendasi para jawara makeup di forum ini, tampaknya kulit saya memang hanya mau ditempelin foundation cair atau berbahan krim. Segala macam bentuk two way cake atau yang teksturnya bedak, silakan dadah-dadah goodbye karena dalam waktu 1 – 3 minggu dijamin bruntusan dan muncul banyak whiteheads. Untuk keperluan make up kantor, saya lebih pilih yang teksturnya cream, karena lebih ringkas dibawa-bawa dan aplikasinya lebih mudah daripada cair.
  3. Aman untuk kulit sensitif. Karena maunya gue, foundation itu untuk menonjolkan kulit, bukan menutupi imperfections. Jadi kalau foundationnya aja udah bikin kulit merah, gatel, bruntusan, jerawatan, ya mendingan jangan dipakai.
  4. Tanpa embel-embel “oil free”. Berhubung kulit saya memang dari sananya tambang minyak, formula yang menahan supaya minyak nggak keluar, ternyata malah menyumbat pori-pori dan menghasilkan jerawat. Dijamin. 3 hari pertama sih cakep, finishnya rapi matte kayak bintang pelem. Besok-besoknya udah nggak beres.
  5. Light to medium coverage. Karena pada dasarnya nggak suka make up, maka kalaupun pakai saya cenderung ogah sama make up yang terlalu berat. Jadi yang tipis-tipis ciamik ajah.

Ketika beberapa bulan lalu akhirnya menemukan si foundation yang ideal… bahagia betul rasanya.

Biasanya beli foundation nggak pernah dipakai sampai habis, karena nggak semua kriteria di atas cocok. Tapi dia… dia berbeza. Pertama kaliiii punya foundation yang nggak absen dipakai setiap hari tanpa protes dari kulitkyuh. Maka ketika dia mulai menipis, saatnya untuk menitip ke sepupu yang akan pulang dari luar negeri (karena beda harganya lumayan banget dibanding di Indonesia huhuhu). Tapiiiii apa yang terjadih? Dia DISCONTINUED!!!

Kenapaaaa Mbak Bobbiiiiii?!? KENAPAAAAAA?

Dan dengan demikian, berlanjutlah perjuangan untuk mencari foundation ideal. Ada saran?

aksaraku menari

hmmm akhirnya bikin satu blog khusus untuk menampung puisi-puisi saya 🙂
Rumah baru untuk Jendral Andied dan 26 prajuritnya… Apa bedanya dengan blog ini? hmm…
seperti judulnya, NONSENSE and a cup of cake, memang blog ini lebih dimaksudkan untuk menjadi sarana katarsis semata, ketika mungkin membutuhkan media untuk mencurahkan apa yang ada di hati dan pikiran…
Jadi lebih spontan dan tanpa struktur mungkin ya…

sedangkan Aksaraku Menari, sesuai dengan konteks ‘menari’ ya, memang lebih terarah dan punya kerangka yang lebih jelas…
Sayangnya sampai saat ini lebih banyak menampung puisi-puisi lama, baik yang pernah di-share di forum Boendel Kata maupun yang belum. Tapi namanya rumah baru, agar lebih terasa familiar dan nyaman, biasanya diisi dulu dengan foto-foto kenangan masa lalu.

Sekarang tinggal berharap supaya tidak keterusan pajang foto-foto lamanya, dan mulai beli perabotan baru…
Amin.

pagi. hujan.

Pagi ini terbangun untuk bertemu hujan. Dan cuaca mendung-mendung dingin di pagi hari rasanya selalu mengajak saya kembali berselimut, lalu bergulung ke posisi fetus.
Tapi tentu saja realita berbicara lain. Jadi terpaksalah saya mandi, mengenakan baju kurungan (bukan baju kurung loh, tp baju kurungan karena entah kenapa pakaian kantor terasa sangat menghambat kebebasan gerak), dan berpacu dengan macet untuk mengejar bis kantor. Di perjalanan, ngobok-ngobok hp cari lagu yang pas dengan suasana pagi ini, tapi playlist saya kurang pas aja ternyata.
Setelah berbengong-bengong, tiba-tiba terngiang-ngiang beberapa lagu yang sepertinya cocok nih.

1. Come around – Rhett Miller. Terutama kata-kata ‘am I gonna be lonely for the rest of my life’… Huehehehe. Karena entah kenapa ketika dingin, mendung, rasanya selalu ingin mencari kehangatan. Dan ketika nggak ada orang lain di dekat kita, otomatis berasa sepiiiiii banget. Dan sepi itu gak enak banget, rasanya seolah-olah akan kesepian seumur hidup. Drama queen? Memang. :p

2. Inside of love – Nada Surf. Kalo ini sih lebih karena memori aja. Alkisah beberapa tahun lalu ketika gue mengalami masa kerontang dalam hal per-pria-an (kalo kata teman saya, itu masa-masa saya nggak memproduksi feromon setetes pun) seorang teman yang lain pernah bilang : ini lagu kayak kisah hidup loe ya ndied. Ehhhh kurang ajar, saya juga nggak se-desperate itu tauk! Tapi yah, itu kan memang masa-masa gloomy-gloomy galau kurang jelas gitu, memang identik dengan mood-mood mendung lah.

Lagu lainnya? Belum kepikiran :p

Telur Setengah Matang

Hari ini saya rindu sekali sarapan telur setengah matang
Aroma telur setengah matang selalu mengingatkan saya akan pagi hari di rumah nenek dan kakek saya : Uti dan Aung.
Sarapan sederhana di sebuah ruang makan mungil, mengitari meja bundar bermandi sinar matahari mengintip dari balik jendela.
Penuh cinta. Sederhana.

…Keluarga.

Mungkin rindu ini muncul karena untuk kesekian kalinya Aung harus dirawat inap di rumah sakit. Usianya 84, sudah tidak muda. Meski begitu sampai 1 tahun lalu dia selalu berusaha mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah. Memperbaiki pipa kamar mandi, mengganti lampu yang mati, membuat kap lampu, dan entah apa lagi. Terkadang malah lebih merepotkan bagi kami, karena fisiknya yang renta sudah terlalu rapuh.

Namun bagaimana kita meredupkan jiwa yang masih membara? Ketika raga sudah menyerah namun jiwa belum mau kalah?

Aung senantiasa menjadi sosok yang menginspirasi, dan berjasa besar. Untuk saya, adik saya, dan mama. Dari beliau saya belajar pentingnya kerja keras, pantang menyerah, disiplin, integritas, serta semangat untuk selalu belajar dan berkarya. Bahwa hidup adalah perjalanan yang tak kenal akhir, dan setiap hari adalah perjuangan mencapai makna diri. Dari beliau saya memperoleh hasrat yang selalu haus akan pengetahuan, dan beliau pula yang mengenalkan saya pada benda ajaib bernama ensiklopedia. Beliau membuka dunia bagi saya, dan membiarkan saya bermain sepuasnya.

Maka untuk pejuang yang tak kenal lelah, saya menitipkan doa kepada semesta…

papercut

Each and every day in life, we meet the chance of getting hurt. It’s something not to be avoided. It can’t be avoided, as it is an essential process in life itself. I believe that when something doesn’t kill us, it makes us stronger. Adversity is the thing that allows us -or rather, force us- to grow as a person.

However, I tend to look at pain differently when it happens to someone else. And when I am the source of that pain.

Being a very outspoken person, I always speak my mind. That is what you call assertive. On the flip side, I also always speak my heart out. THAT, may often prove to be abrasive, especially when done at the height of emotional turmoil and not granted with the privilege of self constraint.

Although I may not have any intention to hurt, but there is no denying the fact that someone got hurt. Just like a papercut. As small or minuscule it may seem to me, but the pain is real to that person.

As my lecturer in college once said,

when it comes to feelings, there are no rights or wrongs

So I’d have to say, the only thing wrong in this situation …… is me.
I don’t think a band aid’s going to do the trick 😦