Langit Jakarta

Seperti biasa bulan-bulan Maret & April pasti langit mulai cerah ceria. Meskipun langit Jakarta nggak se-ajaib di Karawaci sana, tapi saya selalu nggak tahan untuk kehilangan potongan-potongan langit cantik ini.
Selalu mengingatkan diri untuk bersyukur pada sang pencipta 🙂

20130319-112626.jpg
dari lantai 22 gedung kantor, terik!
20130319-112633.jpg
Lunchtime view
20130319-113214.jpg
patung pancoran yang selalu menggapai langit
20130319-112727.jpg
Maghrib, dari atap rumah

Cukup

Pagi di tepi jalan utama Jakarta, seorang laki-laki terduduk di trotoar. Dikelilingi dagangannya, entah apa, yang terlihat cuma warna-warni dan kilau plastik. Robot-robot kota Jakarta lalu lalang tanpa sedikitpun menoleh. Laki-laki itu sendiri, sebuah eksistensi sepi di sela padat ibukota.

Benarkah?

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, meskipun sumbang. Tentu senandungnya bukan untuk uang, karena ia pedagang. Tak nampak wadah receh yang biasa disediakan pengamen. Pun ia tak tampakkan wajah memelas meminta iba.

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, namun riang. Untuk dirinya sendiri. Untuknya temani hari.

Di dalam sedan istimewa tempat saya tak perlu duduk di muka, saya sedang sibuk merutuk rutinitas budak korporasi yang terasa membebani. Tamparan hari ini datang halus-halus dari nyanyian seorang laki-laki. Lantang, sumbang, namun riang.

Bahagia adalah abstraksi tanpa standardisasi ukuran.

Dan nyanyian laki-laki itu mengingatkan saya, bahwa bahagia adalah cukup. Dan berkecukupan bukan semata ‘berkata’ cukup. Semoga saya sampai pada titik dimana lebih besar rasa syukur daripada rakus. Titik dimana apa pun yang ada saat itu bisa saya maknai dan syukuri sebagai sesuatu yang cukup.

 

sumpek

hari berganti hari tak terhitung lagi dan dia lupa bahwa dia manusia, lupa bahwa dia berhak atas kebebasan dan waktu luang, bahwa hidup bukan cuma kerja tidur dan makan, bahwa ada emosi berjudul ceria, bahwa ada ekspresi bernama tawa.

waktu berlalu tak terekam lagi dan mereka lupa bahwa dia pernah tertawa bahwa dia pernah bahagia dan bahwa dia manusia. lalu detik demi detik berjalan meninggalkan dia, meninggalkan satu manusia yang lupa akan dirinya, meninggalkan haknya tanpa jejak untuk dijejalkan kedalam waktu semu yang disisakan oleh mereka baginya.

hari yang cuma dua mereka sebut kebebasan yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia punya tujuh hari yang memang ADA tanpa perlu diberikan siapa-siapa. waktu yang cuma satu jam mereka sebut istirahat yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia tak perlu istirahat karena tak pernah merasa lelah atau penat.

dan kini dia bahagia cukup dengan belanja atau pandangi kotak segi empat dengan gambar berjalan bersuara, puas dengan berjalan pandangi benda-benda yang tak mampu dibelinya dan tersenyum ketika bisa lelap lebih dari enam jam. dia lupa bahwa dulu ada yang namanya pertanyaan penasaran dan perjuangan, lupa bahwa ada emosi yang lebih dalam daripada tersenyum ketika keadaan menuntutnya, lupa bahwa dia manusia.

siapa yang akan mengingatkan dia ketika ternyata di dunia ini sudah tak ada lagi manusia? cuma robot-robot kota yang digerakkan tangan tak kasat mata…

sedikit neraka di malam takbiran

hari ini matahari bakar Jakarta

tanpa ampun seperti hendak balas dendam yang lama tertunda

beri sedikit rasa neraka untuk para calon penghuninya

tapi mereka cuma tertawa.

katanya; aku tak takut neraka, dia ada di setiap jengkal keberadaanku.

lalu mereka kembali lagi jalani hari

menyeberang jalan dan mencari makan

…..ditulis 9 desember 2005, tapi sesuai untuk gambarkan cuaca hari ini

jakarta siang ini

hari ini matahari bakar Jakarta
tanpa ampun seperti hendak balas dendam yang lama tertunda
beri sedikit rasa neraka untuk para calon penghuninya
tapi mereka cuma tertawa
katanya, aku tak takut neraka. dia ada di setiap jengkal keberadaanku.
lalu mereka kembali lagi jalani hari
menyebrang jalan dan mencari makan

… 9 desember 2005, di pusat kota Jakarta

privacy

Habis_gelap_terbitlah_terang_1

KEnapa ya sekarang yang  namanya ruang privat kok seperti udah nggak dihargai lagi?

why is it so important to know about other people’s lives?? makan tuh infotainment!! emang udah nggak ada informasi yang lebih berharga buat disimak apa ya? menghibur juga nggak.. heran, bikin penonton jadi lebih bloon, dan seolah-olah ngasih justifikasi bahwa sah-sah aja ngurusin kehidupan pribadi orang lain.. iya sih, emang teorinya masyarakat indonesia itu cenderung kolektivistik, tapi kan bukan berarti mengorbankan privacy untuk jadi konsumsi publik.. belum lagi, sebagian besar orang justru bangga kalau digosipin, diomongin, ada apa dikit bikin press conference, diwawancara padahal informasinya udah tangan kesembilan. segitu pentingnya apa nampang di TV?

KAyaknya sekarang udah nggak aman lagi deh. Mau ngapain dikit salah, ngapain dikit diomongin, dikomentarin ini itu.. padahal orang yang ngasih komentar sebenernya cuma tau 10% dari kenyataan. SAnctuary yang paling aman ya kayaknya cuma di kamar (itupun kalo kamar loe isinya cuma loe doang. kalo share sama orang lain? selamat aja deh..)

Jakarta kepenuhan orang nih…

ruang tunggu

Beberapa hari yang lalu keadaan Jakarta yang dilanda hujan deras memaksa gue untuk menunggu. Dan gue sangat tidak suka menunggu. Come to think of it, who does? Kenapa ya rata-rata orang tidak suka – bahkan benci – menunggu? Sering sekali kan, kalau orang diminta menjawab pertanyaan : apa yang paling loe benci? Maka, mereka akan jawab : menunggu!! (pakai tanda seru pula)

Sebenernya apa sih yang segitu menyebalkannya dengan menunggu? Bisa dipahami sih… Menunggu (garis miring penantian) selalu hadir berbarengan dengan apa yang dinamakan ketidakpastian..

Misalnya : Orang ini pasti datang atau nggak ya? (misalnya sudah terjawab, pasti datang, maka akan timbul pertanyaan berikutnya : berapa lama lagi ya datangnya? sebentar lagi atau masih lama ya?)

Menunggu (menurut gue) membawa satu implikasi yang pasti kepada pelakunya : KERAPUHAN..

Kenapa begitu? Karena eh karena, yang namanya manusia (apalagi manusia modern di kota metropolitan seperti Jakarta -homo Jakartanensis, kalau di sebuah majalah-  yang menganut prinsip ‘time is money’), nah yang namanya manusia ini saat dihadapkan pada apa yang namanya menunggu, dipaksa untuk berhadapan juga dengan kenyataan bahwa mereka ini ya ternyata ‘mortal’ belaka.. bahwa mereka bukan superman, bukan dewa atau apalah yang tanpa cela.. di sini kita (manusia) disadarkan kalau kita ini cuma setitik kecil di tengah-tengah sesuatu yang maha besar, sebegitu besarnya sampai tidak terdefinisikan.

Mereka (kita) merasa lemah, tidak berdaya,, karena hidupnya yang (tadinya mereka pikir) serba terkontrol & terencana, sekarang jadi tidak sempurna, tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.. kita begitu kecewa karena apa yang tadinya dikira sudah pasti, eh ternyata belum..

Akhirnya kita terbukti tidak punya kendali atas hal-hal di sekitar kita. Dan buat manusia yang emang sifatnya selalu ingin memanipulasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya, hal ini, kenyataan ini, ternyata terlalu menakutkan untuk dihadapi… huahahaha…buktinya, sambil menunggu gue menghabiskan waktu gue dengan nulis ginian..