Samar-Samar Menari Saman

Salah satu penyesalan terbesar masa kecil saya adalah bahwa saya nggak pernah belajar tari daerah khas Indonesia. Ya abis gimana, dari jaman hamil saya si mama aja hobinya nonton film Flashdance, dan dari kecil pun dijejelin segala macam VHS BETAMAX & LaserDisc tari-tarian ballet, jazz, modern dance endebray. Ditambah lagi waktu itu nggak trendy kalo nggak  les ballet di sebuah sekolah ballet ternama.

Waktu berlalu, dan tentunya saya TIDAK menjadi seorang penari. Ballet yang butuh teknik tinggi dan latihan disiplin terasa kurang menarik pada akhirnya.

Dan sekarang, di masa dimana tari India sudah masuk salah satu kategori yang dinanti-nanti dalam So You Think You Can Dance, serta ketika berbagai aspek budaya Indonesia terbengkalai di negeri sendiri dan rawan dicaplok negara lain *uhuk* … rasanya menyesal setengah mati nggak pernah sedikit pun mengakrabkan diri pada budaya Indonesia selain sebatas sebagai penikmat.

Jadi ketika ada kesempatan berkontribusi menari Saman di acara ulangtahun ke 99 induk perusahaan, tentu saya sambut baik dongs. Saya tahu ini sih nggak ada apa-apanya dibanding para penari Saman beneran yang super kompak dan kayaknya punya built in metronome didalam jam tubuhnya, tapi ya saya anggap saja ini upaya kami mengapresiasi budaya sendiri.

 

Tentang Puasa dan Toleransi

First of all, buat teman-teman yang berpuasa, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, semoga lancar dan puasanya dapat mengajak kita memberi makna baru pada syukur dan keseharian masing-masing.

Posting ini sebenarnya adalah puncak dari keresahan yang sudah lama menumpuk, dan dipicu oleh berita berikut yang saya peroleh dari tweet teman saya. Himbauan semacam ini bukan hal baru, sudah cukup sering nampaknya menjadi wacana setiap kali bulan puasa. Dan untungnya, sejauh ini saya rasa pemerintah masih cukup bijak untuk tidak menjadikan himbauan tersebut sebuah peraturan. Namun setiap kali wacana ini muncul, saya tidak bisa mengingkari munculnya keresahan saya pribadi.

Selalu atas nama toleransi dan menghormati yang beribadah. Saya bisa berikan banyak contoh bahwa terkadang negara ini bias, dimana toleransi dan rasa hormat terhadap ibadah hanya diberikan ke kelompok agama tertentu, namun bukan itu masalahnya disini.

Untuk saya pribadi, wacana seperti ini justru “menyentil” kedewasaan iman saya. Apa iya, saya mendadak akan batalin puasa cuma karena lihat ada es cendol dengan sirup warna merah kuning hijau di etalase toko? Apa iya, iman saya segitu ceteknya sampai karena lihat orang makan steak fresh from the grill terus saya ikutan makan sebelum waktunya?

Saya rasa tidak.

Kalau saya tidak salah – ini sepemahaman saya lho ya, mohon dikoreksi kalau salah – pada dasarnya Shaum itu adalah pengendalian diri. Bukan semata tidak makan, tidak minum, dan tidak ini itu, melainkan mengendalikan hawa nafsu. Yang artinya – kembali lagi ini sepemahaman saya – dengan kita mengurangi faktor “godaan” (kalau memang bisa disebut demikian), buat saya kok ya rasanya curang.

Hidup adalah pilihan. Begitupun beribadah. Hal sekecil apapun dalam keseharian kita adalah pilihan. Terkadang kita tahu itu pilihan yang salah atau dilarang, tapi toh kita pilih juga. Pada akhirnya tentu kita harus belajar untuk menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Bukankah begitu intinya menjadi manusia dewasa?

Ditambah lagi, penduduk Indonesia itu tidak semuanya beragama Islam, maka tidak semuanya menjalankan ibadah puasa. Di mana toleransi untuk mereka? Lalu apa kabar rejeki pemilik rumah makan?

Satu hal yang aneh di negara ini, seringkali kita salah mengidentifikasi pokok permasalahan. Lebih suka yang kuratif daripada preventif.

Kalau sampai orang-orang begitu mudahnya tergoda untuk tidak berpuasa cuma karena lihat rumah makan, maka jelas yang salah bukanlah rumah makannya melainkan pemahaman orang tersebut tentang ibadah puasa. Kalau mau mencegah, perbaiki pemahaman tersebut melalui pendidikan agama yang benar. Pemahaman konsep yang bukan semata ritual kosong.

But then again, agama buat saya adalah ranah pribadi. And it begins at home.

Dan maka itu, semoga wacana ini selamanya cuma sebatas himbauan, bukan peraturan. Demi kedewasaan iman anak-anak saya nanti, dan demi kemampuan mereka mewujudkan toleransi sebenar-benarnya tanpa bias.

Amin.

Merah dan Putih

—Posting ini sudah terlalu lama di folder draft, dan saya lupa terus menyelesaikannya sampai akhirnya seorang teman menulis tentang film ini juga.

Belakangan ini kayaknya banyak orang yang semangat nasionalismenya sedang ‘berkobar-kobar’. Mungkinkah karena bulan Agustus?

Beberapa minggu lalu saya menonton salah satu film perjuangan Indonesia. Sepertinya selain film G30S PKI dan film Naga Bonar yang pertama, baru ini film bertemakan perjuangan yang saya tonton. Maka jangan heran kalau ekspektasi saya cukup tinggi. Apalagi dengan pemberitaan di TV bahwa anggaran pembuatannya cukup bombastis.

Saya tidak akan bicara tentang efek khusus ledakan-ledakan super dahsyat (yang saya curigai memakan sebagian besar anggaran yang bombastis itu).

Saya sangat ingin mengatakan bahwa Merah Putih berhasil memenuhi harapan saya. Sangat ingin. Dengan setting situasi keragaman latar belakang sosial ekonomi dan budaya di antara para pejuang, sebenarnya banyak potensi konflik yang bisa digali. Tapi konflik terselesaikan dengan terlalu buru-buru dan simplistik. Seperti film televisi di bulan Ramadhan yang terlalu dengan pesan moral eksplisit.

Dialog yang timbul pun terasa tersendat dan kurang membumi (setelah saya tahu bahwa naskah sebenarnya dikerjakan oleh orang asing dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, saya baru paham kenapa). Tapi yang saya tidak paham, kenapa naskah dibuat oleh orang asing? Kurang banyakkah penulis Indonesia yang bagus?

Tapi yah sudahlah, setidaknya masih ada yang berusaha membuat film Indonesia dengan tema yang tidak itu-itu saja. Dan toh ini adalah film pertama dari sebuah trilogi (rencananya), jadi saya sangat sangat berharap -dan tentunya tetap menantikan- film kedua dan ketiga.

Dan semoga pembuat film Indonesia lainnya insyaf untuk tidak membuat film-film horor bodoh yang membuat kita semakin bodoh.

Amin.

Bersatu untuk Sesuatu?

Belakangan ini jiwa Nasionalisme orang-orang Indonesia serta-merta bangkit membahana. Berawal dari serangan bom teroris yang kemudian memicu gerakan bernama Indonesia Unite. Saya sendiri belum paham betul mengenai gerakan ini. Siapa pencetusnya, apa filosofi dasarnya, apa agendanya? Tapi di beberapa situs jejaring sosial macam twitter dan facebook, gerakan ini begitu dielu-elukan. Mungkin karena trend?

Tapi mungkin juga salah satu daya tarik utamanya adalah karena gerakan ini masih mencari bentuk, sehingga kaum muda Indonesia bebas menginterpretasikan, memberi saran, berkontribusi dan berkolaborasi dalam gerakan ini. Di tengah kondisi yang serba korup (meskipun sedang berupaya digerus), pembangunan dan akses informasi yang tidak merata, maka tidak heran bahwa mayoritas kaum muda Indonesia bersikap apatis terhadap perkembangan negeri. Tidak ada rasa memiliki, karena mayoritas kebijakan hanya pro pada kalangan tertentu, dan kalangan tersebut bukan kita kaum muda. Kalaupun ada kebijakan yang dasarnya bagus, selalu melempem di implementasi. Akhirnya banyak yang merasa hanya ‘numpang lahir’ dan akhirnya memilih menjadi ‘TKI’. Mencari nafkah dan aktualisasi diri di negeri orang, yang dirasa lebih bisa mengapresiasi dan ‘memanusiakan’ bakat dan minat kita.

1 bulan setelah gegap gempita Indonesia Unite, belum terlihat aksi konkrit (atau mungkin saya saja yg belum terinformasikan). Disana dan disini muncul beberapa kegiatan dengan tempelan Indonesia Unite. Ada acara musik, photoshoot, dll. Tapi baru sebatas itu yang saya lihat.

Sedangkan kehidupan berjalan seperti biasa, mulai dari perdebatan pemilu presiden, budaya Indonesia yang ‘diakui’ sebagai budaya bangsa lain, dan masih banyak lagi. Lama kelamaan status #indonesiaunite di twitter mulai diisi dengan hal2 yang semakin trivial. Balon momentum yang sudah dibangun perlahan-lahan kempes tanpa bentuk. Benarkah? Semoga tidak. Semoga ini hanya akibat dari lingkup saya yang sempit sehingga tidak mengetahui bahwa di luar sana masih banyak orang Indonesia yang berjuang untuk sesuatu. Semoga hanya apati saya yang berbicara.

Dan betul saja, beberapa rekan sudah menuliskan di blog masing-masing interpretasi mereka sendiri untuk #indonesiaunite. Perjuangan mereka sendiri. Mulai dari berkampanye untuk Indonesia yang lebih hijau, atau menggiatkan donor darah. Semua sah-sah saja. Justru mungkin inilah yang harus dilakukan. Daripada menunggu ‘dikoordinasikan’ oleh orang lain untuk tujuan entah apa, ini saatnya kita menentukan arah sendiri. Mungkin #indonesiaunite adalah semangat, angin yang berhembus. Kita yang perlu mengemudikan kapal layarnya, menentukan untuk apa semangat itu digunakan.

Secara pribadi, saya sendiri seperti ditampar. Tadinya posting ini saya tulis dalam bahasa inggris seperti sering saya lakukan. Tapi kemudian saya sadar bahwa sepertinya lama kelamaan bahasa Indonesia mulai tergerus, dan jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi memang membuat kita semakin akrab dengan bahasa itu. Tapi apakah perlu sampai menggantikan bahasa ibu? Jangan sampai perlahan kita lupa, lalu kesastraan kita yang kaya itu kemudian dicaplok oleh bangsa lain (seperti sudah terjadi pada banyak produk budaya kita).

Maka, mungkin itu yang akan menjadi perjuangan saya. Saya tidak muluk, tidak bermaksud untuk membuat gebrakan besar (atau mungkin belum). Seperti yang pernah diucapkan salah seorang dosen saya : Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.

Sebagai salah satu upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia, saya akan lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia. Semoga anda-anda juga 🙂

#indonesiaunite !

NB : mohon maklum bahwa ini adalah opini pribadi saya. Apabila ada yg kurang tepat, atau ada informasi yg lebih akurat tentang #indonesiaunite, saya sangat terbuka untuk mendengar 🙂