H-1 Bertemu Aksara

Duh neng, anaknya udah umur 4 bulan kok baru bikin cerita kelahiran? Sibuk soalnya buibu, sibuk mompa. Hohoho.

Alkisah setiap kali periksa ke obgyn dulu selalu nanya, kira-kira bisa normal kan dok? Yang dijawab dokternya “sejauh ini belum ada alasan untuk harus caesar”. Amin.

Jadilah gw rajin browsing segala macem untuk persiapan melahirkan secara normal. Meskipun tiap kali browsing ada sedikit yang menggelitik dalam hati, mempertanyakan kekuatan diri sendiri : bisa nggak ya gw menghadapi proses melahirkan yang menurut banyak orang begitu menantang.

Minggu 36, 37, 38, semua terlewati dengan santai. Sampai kok tiba-tiba udah minggu 39 dan bayinya masih belum masuk ke jalan lahir? Padahal udah tiap hari jalan keliling kompleks lho. Pas check up di minggu 39,5 kata dokter air ketuban sudah mulai berkurang. Akhirnya “cek dalam” yang kata banyak orang horor banget itu dilakukan. Dan beneran, emang horor (buat gw). Sakit banget!

Ndilalah hasil cek dalem panggul gw berbentuk android — padahal gw kan pakenya iPhone. Si android ini maksudnya bentuk panggul gw berbeda dengan panggul perempuan pada umumnya yang agak bulat, sedangkan panggul gw bentuknya kayak hati (heart shaped) jadi jalan lahirnya tergolong sempit. Itulah sebabnya, bayi belum kunjung masuk ke jalan lahir.

20140704-053122-19882713.jpg
Melihat kondisi ketuban yang udah berkurang, ObGyn menyarankan bahwa maksimal ditunggu 3 hari lagi. Kalau belum ada tanda-tanda melahirkan ya diinduksi. Apakah kalau diinduksi bisa melahirkan normal? Kata si ObGyn dengan bentuk panggul seperti ini induksi diestimasikan makan waktu 24-36 jam, itu pun belum tentu tidak akan berakhir dengan sectio. Yang bener aje lo gw udah 1,5 hari kesakitan akhirnya masih dibelek juga!!!

Akhirnya setelah konsultasi dengan suami & nyokap diputuskan untuk sectio keesokan harinya. Ada beberapa pertimbangan sih :

  1. Seminggu sebelumnya ada orang kantor dengan kondisi ketuban sudah berkurang, memutuskan untuk tetap menunggu munculnya tanda-tanda akan melahirkan alami sampai 3 hari sesuai deadline dari dokter. Di hari ketiga, saat jadwal kontrol, ternyata bayinya sudah tidak bergerak lagi :(((( Peristiwa ini bikin gw ketakutan banget, takut membuat keputusan yang salah dan menyesal seumur hidup.
  2. Gw ogah induksi lama-lama kalau ujungnya tetap harus sectio. Kalau lahiran normal kan sakit prosesnya tapi recoverynya nggak sakit dan cepat. Kalau sectio prosesnya nggak sakit tapi recoverynya yang sakit dan makan waktu. Kalau udah induksi lama plus sectio, udah sakit di awal eh sakit juga di belakang. Ogah.

Maka masuklah gw kembali ke ruang ObGyn :

“Dok kayaknya saya mau cesar aja deh, dan nggak perlu tunggu 3 hari. Dokter ada kosong kapan?”

“Besok sore ya bu jam 5”

“ok deh dok. Besok ya”

Ini janjian mau kencan apa mau ngelahirin sih kok santai bener dua-duanya?

Akhirnya keluar dari ruang praktek langsung ke bagian administrasi untuk booking kamar. Nyokap mulai mules-mules karena senewen, sedangkan gw masih sibuk mondar-mandir urus paperwork. Itu pun pulangnya gw masih minta makan di Grand Indonesia, karena itu makan enak terakhir kan ya sebelum puasa sampai keesokan harinya.

Sampai rumah, mendadak nangis di pelukan suami karena ragu. Nggak apa-apa nggak ya ini anak dipaksa lahir begini, gimana kalau dia memang belum mau lahir? Tapi ya udahlah, berdoa aja semoga ini pilihan yang paling baik untuk situasi yang ada. Eh abis itu baru inget kalau belum punya nama tengah untuk Aksara, jadi berembug dulu sama suami sampai ketemu yang disepakati kedua belah pihak.

Malam itu gw jadi manja banget sama suami, tidur aja nggak tau diri minta dipeluk padahal udah segede ikan paus. Abis gimana ya, itu kan malam terakhir kita cuma berduaan aja. Berikutnya udah ada anggota baru di keluarga Yudhanegara toh?

bersambung yaa ke cerita hadirnya Aksara.

Aksaraku

Jauh sebelum Aksara dikandung, jauh sebelum ia dibuat *uhuk* bahkan jauh sebelum saya menikah, saya sudah punya cita-cita jika kelak punya anak akan diberi nama Aksara. Alasannya cetek sih, karena dulu suka nulis-nulis puisi (ciyeeeh yang mellow), dan blog puisi itu judulnya Aksaraku Menari.
Dulu saya kira Aksara artinya adalah huruf atau abjad.

Aksara is the unit of graphemic symbols in the Indian writing system which system having the knowledge of phonemes (consonants and vowels), syllables and words before adopting the Brahmi Script had opted for Aksara. Aksara is more a syllable-like unit for writing which requires the knowledge of syllables and the matra i.e. the measure of prosadic marking. It is a sub-syllabic representation which stands for onset, onset plus nucleus and nucleus alone, the coda part of a syllable goes into the next aksara in a word.

Sulit amat ya bacanya njlimet gini. Sebenarnya nggak salah juga sih bahwa artinya abjad, tapi ternyata ada arti yang lebih dalam dari itu.

It has two main fields of application, in Sanskrit grammatical tradition (śikṣā) and in Vedanta philosophy. The uniting aspect of these uses is the mystical view of language, or shabda, in Hindu tradition, and especially the notion of the syllable as a kind of immutable (or “atomic”) substance of both language and truth.

Jadi berdasarkan kesotoyan saya atas kalimat-kalimat ribet di atas, ternyata sebenarnya Aksara memiliki makna “kekal”.

Yang bikin saya suka sekali nama ini adalah karena :

  1. Bisa dipakai untuk laki-laki maupun perempuan. Pada dasarnya saya nggak terlalu suka nama perempuan yang terlalu berukir-ukir sih, makanya saya pun lebih pilih dipanggil Andied daripada Ayu.
  2. Akrab untuk lidah orang Indonesia, karena memang bahasa Indonesia dan saya serta suami orang Indonesia. Rasanya aneh aja nggak sih kalau bapaknya bernama Erlangga, ibunya Ayu terus tiba-tiba punya anak namanya Cathleen? Selain itu juga takut kalau dia masuk sekolah dan orang-orang di sekelilingnya nggak bisa menyebut namanya dengan benar. Nama Jorge memang keren, tapi nyebutnya gimana sih? Horhe? Zorge? Jorj? Hayooo…
  3. Masih bisa ditolerir lidah asing. Cita-cita ibunya, suatu hari nanti Aksara bisa bertualang sekolah atau berkarya di luar negeri. Biar jadi citizen of the world ceritanya. Nah untuk itu, namanya perlu dipikirin supaya nggak susah diucapkan orang-orang di negeri seberang.

Dengan sekian banyak alasan, maka saya kasih ultimatum suami. Pokoknya ini anak namanya Aksara. Titik.
Untung dese setujuh. Tapi ada syaratnya, nama belakangnya pakai nama bapake, dan nama tengahnya harus ambil dari bahasa Arab atau nama yang ada di AlQuran.
Wakwaooow…
Setelah browsing-browsing di sana dan di sini, akhirnya menemukan nama yang cantik dan artinya juga baik. Sayangnya kurang klop dipadukan dengan nama Aksara. Padahal nama ini sebenarnya bagus banget 😦 akhirnya sampai minggu ke39 kehamilan saya dan suami bingung antara 2 nama ini. Sibuk cari-cari padanan masing-masing.
Sampai ketika mendadak tahu bahwa keesokan harinya akan melahirkan, akhirnya saya dan suami sepakat di satu nama : Safiyya. Safia dalam bahasa Mesir artinya murni, dan bahasa Arab artinya sahabat yang tulus.
Jadilah namanya Aksara Safiyya Yudhanegara — sahabat yang tulus dan teguh 🙂 Insyaallah tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan baik kepada orang lain, tulus murni dalam tindakannya.

So…no, people, I did not name my child after a bookstore. 😭

Menarilah, Aksara…

Sudah cukup lama waktu berlalu sejak dia lahir, tapi tidak pernah ada kata yang tepat untuk menggambarkan bahagia dan syukur yang hadir bersama kedatangannya.
27 Februari 2014 pukul 16.40, keluarga mungil kami sudah bertambah satu personil : Aksara Safiyya Yudhanegara – seorang sahabat yang teguh dan tulus.
Menjadi seorang ibu, terus terang, buat saya adalah hal yang sangat menakutkan. Bukan tanggung jawab yang ringan, dan menyerah di tengah jalan bukanlah pilihan. Tapi makhluk mungil ini bukan beban, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk belajar menjadi orang yang lebih dewasa, untuk bisa tulus memberikan yang terbaik, untuk mencintai tak berbatas dan suatu hari nanti melepasnya untuk menjalani hidup.
Bismillah…

20140408-140857.jpg