Hamil #1 vs Hamil #2

Bener kata orang-orang, tiap hamil emang beda-beda pengalamannya.

Feeling
Alkisah waktu hamil pertama, dr sebelum telat mens pun gw udah yakin banget lagi hamil. Inget bener waktu itu pas lagi nonton Java Rocking Land dan gw mikir

ih lucu yaaa anak kicik ikutan nonton konser.

Kehamilan kedua ini, awalnya nggak sadar bahwa udah telat mens. Soalnya setelah melahirkan Aksara dulu, gw baru mulai mens lagi setelah Aksara umur 10 bulan. 1x mens, 2x mens, jadi belum hafal tanggalnya…. kemudian

kok kayaknya bulan ini belum mens ya?

Pas kebetulan suster yang ngasuh Aksara jadwal mensnya barengan, dan lho kok dia bulan ini udah mens gw belum? Mulai deh dagdigdug testpack dan…. ya ternyata garisnya dua hahahaha.

Yang konsisten, ternyata gw kalo hamil minggu2 awal (sebelum telat mens) selalu demam dan gak enak body semacam masuk angin gitu.

Seputar Perut dan Makanan

Hamil pertama bisa dibilang gw nggak mengalami mual-mual terlalu parah. Yang ada malah lahap bener makannya, baru mual kalo kelaperan… itu sih maag ya namanya? Tapiiii heartburn parah banget sejak bulan kedelapan. Tidur harus sambil duduk tegak, kalau nggak asam lambung naik dan jadi ada rasa muntah di tenggorokan. Yes, it feels as yucky as it sounds.

Hamil kedua, mual-mualnya lebih terasa. Daaaaan gw yang biasanya anti makanan pedas mendadak ogah makan kalau nggak pedas dan asem. Di sisi lain, heartburnnya nggak terlalu parah kecuali pas masuk bulan 9.

Mood

Hamil pertama, gw cenderung zen. Kalau lagi kesel dan hormonnya bergejolak aja, baru gw jadi cengeng dan gampang nangis. Yaelaaaah masakin roti buat suami trus gosong aja nangisnya sesenggukan banget.

Hamil kedua, ternyata “api” banget, kesulut dikit langsung meledak. Kasian deh tim gw di kantor, bikin salah dikit gw melototnya udah kayak mata mau keluar.

Ternyata ini lumayan tercermin di anak-anak lho. Aksara dari bayi zeeeeen banget, disuntik aja nggak nangis. Baru nangis kalo beneran udah capek banget atau kesel banget, itupun bunyinya haluuuus gitu. Inara? Ya ampun, telat disusuin dikit aja nangis teriak kenceng banget sampe mukanya merah.

So, ternyata bener bahwa setiap bayi itu beda. Bapaknya sama ibunya sama, hasilnya belum tentu sama hehehe. Dulu sih gw berharap bisa sama aja deh karakteristiknya, kebayang udah ada templatenya supaya gampang juga jalaninnya. Tapi namanya ilmu harus diupgrade terus sih ya, harus naik kelas terus nih. Semangat!

Advertisements

Ibu Beranak Dua

Wakwawww…
Orang yang kenal gw sejak lama, atau sahabat-sahabat terbaik gw, semuanya pasti akan bilang betapa absurdnya ketika status “ibu” menempel pada gw. Apalagi, ibu yang beranak dua.

How did this happen?!?!?! *please insert explanation of the birds and the bees here*

Yang tidak berhenti gw syukuri adalah bahwa situasi dan kondisi yang ada cukup memudahkan gw dalam menjalani peran ini. Saileeh, padahal baru juga seminggu…
Sejak gw hamil, si hurufkecil memberi banyak (banget) pemakluman dan pengertian. Mulai dari selfweaning sampai sabar ketika ibunya udah susah gendong-gendong lagi, mulai dari suapin vitamin mama sampai peluk adek (dalam perut) setiap pagi. Mungkin bosen ya dengan statement ini, tapi gw masih selalu terkaget-kaget dan takjub dengan betapa besar hatinya anak ini. Nama Safiyya sepertinya menjadi doa yang terkabul, karena anaknya penyayang beneeeerrrr…. bocah gak kenal aja suka dikejar-kejar trus ajak temenan.
Tantangan utama sekarang adalah gimana caranya membagi perhatian dan kasih sayang secara adil? Karena meski si kakak pengertian tapi kan pasti punya batas sabar. Apalagi usianya juga masih belum dua tahun, kemampuan abstraksi masih terbatas, sehingga maklum banget bahwa seminggu ini dia jadi lebih cranky dari biasanya.
Too much excitement dan hal baru yang butuh penyesuaian, dari semua pihak. Buat gw sendiri, harus sadar bahwa nggak bisa sepenuhnya manja-manjaan nyiumin bau bayi seharjan dan kruntelan sama bayi koala seperti zaman Aksara dulu. Kalau Inara tidur, berarti waktunya gw main sama kakaknya.
Buat Aksara, perlu penyesuaian bahwa gw nggak lagi sepenuhnya available untuk dia seorang. Apalagi karena operasi, jadi ya mamanya belum bisa kejar-kejaran main bola kayak dulu. Perlu penyesuaian juga bagaimana dia bertingkah laku, karena untuk sementara nggak bisa ndusel-ndusel di perut gw dulu, dan nggak bisa tomprok-tomprok adiknya meski gemes.
Panjang lah ini prosesnya, dan sekarang gw bisa paham kenapa orang bilang “kasihan” kalau jarak antar kakak-adik terlalu dekat. Tapi ya gimana, it runs in the family. Jarak gw & adik gw 17 bulan. Jarak antara kakak suami juga segituan.
Tapi somehow Aksara bikin gw percaya bahwa kami akan bisa melewati proses ini. Kasih sayangnya besar : untuk adiknya, untuk mamanya, untuk papanya. Jadi PR buat gw juga untuk keluarkan upaya yang sama besar untuk meyakinkan dia bahwa kasih sayang kami nggak akan pernah berkurang.
image

Dear hurufkecil,
If someday you are reading this, please know that you have a very pure heart. Please dont let anyone change that. You are our rock, our source of strength. And for that, we thank you.

365 hari aksara

Nggak terasa, hari ini si #hurufkecil genap 1 tahun.

Huwowww 365 hari yang dihabiskan bersama anak bocah sungguh warna-warni. Terkadang merahjambu, bisa mengharu biru, ada juga hari-hari suram seru menegangkan. Sebagaimana sudah pernah disebutkan berkali-kali, ternyata justru dari bayi ini gw banyak belajar soal hidup *cih berat amat*

Berdamai dengan diri sendiri, dengan ekspektasi, dengan idealisme, dengan keterbatasan. Berdamai dengan lingkungan sekitar, mengalah untuk menang, dan ada kalanya memang harus menelan harga diri bulat-bulat.

Aneka drama ASIX, drama alergi, drama berat badan bayi, drama work life balance, drama berantem pola asuh, endebray endebray endebray. Semuanya terhapus cuma dengan pandang-pandang muka anak gadis lagi tidur nyenyak, atau ndusel di ketek asemnya.

Nak, semoga peluk ini tidak akan pernah terlalu sesak untukmu, semoga tangan ini tidak akan pernah terlalu lelah menuntunmu. 365 lembar sudah tertulis, masih banyak lagi di depan sana… I love you more than I can understand. Mama cuma bisa bilang terima kasih, and I really hope I won’t mess you up.

 

littlemissbirthday

Unconditional Love

Banyak orang bilang yang namanya “unconditional love” itu hanya satu : cinta seorang ibu untuk anaknya. Tapi sekarang setelah punya anak, kayaknya gw merasa ungkapan itu kurang tepat.

In my case, gw masih seseorang yang sangat egois dan punya batas sabar/capek. Jadi ya meskipun gw sayang setengah mati sama Aksara, kayaknya gw belum berani bilang itu unconditional. Pembuktiannya adalah suatu hari nanti, ketika dia mulai beranjak untuk menggapai mimpi dan cita-citanya – yang bisa jadi tidak sama dengan apa yang pernah gw angan-angankan untuk dia. Kenyataannya, setiap orang tua pasti punya harapan tinggi untuk anaknya. Dan nggak sedikit juga orang tua yang kalah oleh rasa kecewa atau malu ketika anaknya ternyata tidak bisa atau tidak mau memenuhi harapan itu. Makanya gw belum berani bilang rasa sayang gw unconditional, meskipun gw sangat sangat berharap gw bisa mencintai dan membebaskan dia bertumbuh kembang di jalur yang dia mau.

Gw rasa, lebih tepat kalau dibilang bahwa anak (setidaknya, bayi) yang punya kapasitas mencintai tanpa syarat. They love totally, unconditionally, without judgments, or any terms and conditions. And they ask for nothing in return.

These mini humans carry inside them a universe of wisdom, and it is our duty to preserve it. Yet they are our teachers. Sungguh, menjadi orang tua adalah salah satu hal yang paling menggentarkan buat gw. Tapi gw percaya, anak-anak kuat dan tegar, bahkan melebihi orang tuanya.

Semakin besar Aksara, gw semakin berterima kasih bahwa dia begitu pengertian dan bisa memaklumi ibunya yang abal-abal ini. Emaknya pulang malem karena lembur, disambut pake senyum dan minta gendong. Emaknya nyusuin sambil bersungut-sungut karena kebangun tengah malem, dia tetap senyum dan elus-elus muka gw. Kenapa makhluk mungil ini punya hati yang begitu besar?

I have a lot to learn, but I have the best possible teacher in the world : my daughter.

Dear Aksara,

suatu hari nanti kalau kamu membaca ini : Terima Kasih ya hurufkecilku, semoga kamu sudah jadi Huruf Besar ūüôā

Menjelang MP-ASI

Udah dulu ah posting cerita kelahiran Aksara… Terlalu banyak yang pengen diceritain, tapi waktu terbatas tas tas tas karena harus juggling antara pendingan kerjaan yang numpuk pasca cuti, jadwal pumping dan belajar MP-ASI.

Apaaaaa? Udah mau 6 bulan aja umurnya si #hurufkecil ternyata, sungguh nggak terasa deh. Perasaan baru kemarin gendong masih was was super hati-hati, sekarang anaknya udah bisa diangkat tinggi-tinggi dan diajak terbang pose superman.

Seputar MP-ASI ini cukup membuat gentar karena #hurufkecil punya banyak alergi makanan : Susu dan aneka produk turunannya, Kedelai dan produk turunannya, sama telur. Horeeeeeeeee….. Mamanya Aksara jadi super kurus akibat banyak pantangan semacam inih. Aku padahal suka sekaliii kue kue penuh krim dan susu ihik… Dadah aneka cake, dadah masakan Jepang, dadah masakan Western.

Oiya, mumpung belum lama terliwat : Mohon Maaf Lahir Bathin yaaaa para pembacaaa (kalau ada).

Pasca Melahirkan

Ketika gw masih fly di ruang recovery, kayaknya samar-samar ada suara laki-laki di samping gw. Ternyata suami yang nyamperin sambil kasih lihat foto-foto Aksara setelah dibersihkan. Tapi ya namanya juga teler, kayaknya gw cuma ngasih tatapan kosong dan nggak merespon apa-apa selain senyum-senyum deh.

Sekitar jam 8, biusnya sudah mulai hilang. Gw terbangun dengan kondisi dibalut selimut penghangat listrik, tapi masih menggigil hebat sampai giginya gemeletuk. Hausnya minta ampun, tapi belum boleh minum. Suster-suster minta gw untuk istirahat, padahal gw udah sadar banget dan akhirnya malah susah untuk kembali tidur. Mana nggak ada TV pula, alhasil gw boseeen banget dan dikit-dikit bawel nanya jam berapa boleh pindah ke kamar.

Ketika akhirnya gw berhasil kentut, kayaknya bahagiaaaaaa banget. Akhirnya gw boleh minum air putih hangat! Air putih hangat yang kalo sehari-hari gw lepeh-lepeh karena rasanya demek, hari itu kok ya jadi enak banget. Akhirnya jam 10 gw udah boleh pindah ke ruang rawat inap, eh tapi pas-pasan rombongan keluarga gw udah pada mau pulang karena kemaleman. Padahal rasanya pengen ngobrol, pengen ditemenin, tapi ya udah lah yang penting ada suami siaga hohoho….

Jam 12-an Aksara baru dibawa masuk ke ruangan, beserta satu orang yang kayaknya sih konselor laktasi. Gw terus terang masih agak teler jadi nggak terlalu tanggap sama situasi. Si mbak-mbak yang bukan suster ini, langsung minta gw untuk menyusui Aksara. Namapun ibu baru, gw masih bingung soal posisi menyusui, apalagi gw belum kuat duduk pasca operasi. Dan tahu dia bilang apa?

Ya udah bu sambil tiduran nyamping aja nyusuinnya. Cepetan bu saya banyak yang harus diurusin nih

Duuuuh untung aja waktu itu gw belum sadar banget ya, kalo udah pasti udah gw ributin dan catet namanya. Untungnya salah satu hal yang gw persiapkan dari awal adalah mental menyusui, jadi gw yakin aja bahwa tanpa bantuan mbak-mbak itu pun gw bisa menyusui. Alhamdulillah, Aksara bisa latch on dengan baik dan menyusui pun lancar.

Perdana menyusui Aksara, adalah saat gw bener-bener sadar bahwa gw sudah menjadi seorang ibu. Bahwa kini, gw punya tanggung jawab atas well being makhluk lain selain diri sendiri.

Thank you baby for choosing me to be your Mama ūüôā

Aksara is Here!

Yak lanjoooot…. postingan sebelumnya nanggung kalo kata jeng Tissa. Bener juga sih, maklumlah kalau udah punya anak buat ngapa-ngapain harus curi waktu. Mungkin sebenernya waktu pumping di kantor bisa dimaksimalkan ya buat posting di blog, tapi kan tangannya ribet, bagusnya sih pake double pump yang handsfree biar bisa bebas multitasking *coleksuami *sabuncolek *dicolok

Btw soal pompa memompa ini, suatu hari nanti akan gw bikin posting khusus deh soalnya lumayan makan asam garam di dunia perpompaan. Tapi nanti yaaaa sekarang kelarin cerita melahirkan ajaah dulu.

27 Februari 2014, gw bangun dengan perasaan campur aduk : excited sekaligus senewen. Excited karena hari itu gw akhirnya bisa ketemu makhluk yang selama ini gw tenteng kemana-mana di perut, tapi senewen karena akan dioperasi ūüė¶ Dulu pernah operasi usus buntu waktu kecil, dan gw inget itu udahannya nggak nyaman banget. Mandi ribet, jalan susah, pup apalagi. Terus kepikiran juga bahwa ini kan termasuk operasi besar ya, dan meski dibius lokal, tapi kalau ada komplikasi gimana? Kalau ada hal-hal nggak terduga gimana? Akhirnya modal bismillah deh, yakin Allah pasti akan kasih jalan terbaik.

Hari itu ngapain aja? Pagi-pagi cek ulang koper dan peralatan yang akan dibawa ke rumah sakit, sama ngabarin beberapa teman dan keluarga bahwa akan melahirkan.  Terus proses handover jabatan sebagai menteri keuangan ke suami, berhubung dia yang akan banyak urus ini itu selama gw recovery. Selain itu sih banyakan bengong-bengong aja hahaha dalam rangka senewen itu tadi.

Jam 10 berangkat ke rumah sakit sama suami dan mama, terus nunggu sebentar sampai ada konfirmasi dapet kamar atau belum. Terus terang gw nggak bisa cerita detail apa aja prosesnya, karena banyakan bapak suami yang urus-urus. Gw diminta duduk manis aja sama doi ūüôā

Sekitar jam 12, gw dan suami diminta untuk masuk ruang persiapan. Cek tensi, cek detak jantung si hurufkecil, selain itu sih gw cuma goler goler aja sambil ngobrol sama suami. Jam 2an, gw diminta ganti baju operasi dan pindah ke ruang persiapan yang lain untuk diinfus. Ruangan ini masih satu bagian juga dengan ruang recovery pasca melahirkan, dan dekat juga dengan ruang operasi. Susternya sempat bilang akan ada prosedur enema (karena hari itu gw belum BAB), dan gw rasanya maleees banget bayanginnnya.

Kemudian tetiba salah satu suster nyamperin gw dan bilang “Bu, dokter Bowo nya ada jadwal lain, jadi operasinya dicepetin aja ya ke jam setengah lima”…lho, sekarang dong sus? Gw & suami langsung panik dan kontak semua keluarga yang saat itu lagi naruh barang-barang di kamar. Positifnya, jadi nggak perlu enema deh hehehe.

Untuk prosedur sectio ini, gw minta 2 hal :

  1. Suami boleh ada di dalam ruangan
  2. Proses IMD dipastikan berjalan

Alhamdulillah, suami boleh menemani selama prosedur, tapi sama dokter Bowo diminta janji dulu jangan sampai pingsan di dalam mwahahaha… Katanya “Kalo pingsan kita nggak ngurusin lho ya pak, prioritas kita ibu dan bayinya”. Yang disayangkan, ternyata proses IMD tidak dimungkinkan dengan alasan ruang operasi sangat dingin sehingga kasihan bayinya. Gw agak ngotot untuk hal ini, karena pengalaman teman lain yang melahirkan secara sectio masih bisa IMD (teman gw melahirkan di KMC sih, bukan di Bunda). Akhirnya kompromi terakhir, setelah lahir bayi akan diletakkan di dada gw, tapi hanya sebentar saja.

Ini salah gw juga sih, kenapa nggak diskusi dari awal sama dokter mengenai IMD, supaya bisa manage ekspektasi gw juga. Lah ini udah tinggal berapa menit lagi masuk ruang operasi kok ya baru nanya.

Jam 16.30 gw masuk ruang operasi, suami masih di luar dulu. Langsung diminta melungker dan suntik epidural. Nggak lama, ada suster yang shave sambil megang-megang kaki dan nanya apakah masih berasa atau nggak. Mulai kebas. Dokter anestesi ngajak ngobrol apaan gitu lupa. Akhirnya suami boleh masuk, posisinya duduk di samping kepala gw. Para dokter (dsOg, dsa, spesialis anestesi) & suster saling berhalo-halo, terus dokter Bowo permisi-permisi sama gw sebelum memulai operasi.

Nggak lama, tiba-tiba susternya bilang “Sebentar lagi anaknya keluar ya bu”. Saat itu gw merasa perut gw digoncang-goncang agak hebat, sampai akhirnya terdengar suara dokter Bowo “Allahuakbar” dan terdengar juga suara tangisan bayi :’)

Semua proses ini cuma makan waktu 10 menit lho!!! Aksara Safiyya Yudhanegara tercatat lahir pukul 16.40, 27 Februari 2014. Sesuai janji, Aksara sempat ditidurkan di atas dada gw sejenak. Lebih tepatnya ditempelin malah, karena waktu itu Aksara masih dipegang sama susternya. Sebentar bangeeeeeeeet kayaknya cuma 5 menit deh. Lalu Aksara dibersihkan dan dibawa ke ruangan lain untuk cek ini itu, sekaligus akan diadzanin. Tinggallah gw sendirian yang masih dijahit-jahit sambil teler nge-fly.

Ini kapan ya ketemu lagi sama Aksara?