We’re Engaged!

Ah ya, si acara lamaran yang ditegang-tegangkan itu pun selesai. (sounds wrong ya?)

Rasanya kepengen sujud syukur Alhamdulillah. Memang di dunia ini nggak ada yang lebih baik dari berpasrah ketika semua usaha maksimal sudah diupayakan.

Jagoanku :*

Mamahku Jagoan

Sebagaimana CPW pada umumnya, di setiap tahapan acara pastilah ada yang namanya berantem-berantem diskusi mendalam sama orang tua, terutama si Mama. Apalagi mama lumayan perfeksionis dan mau apa-apa diselesaikan right here, right now, right here, right now. Buat doi, nelpon vendor jam 10 malem itu nggak apa-apa, sedangkan saya suka nggak enak karena rasanya seperti “mencuri” waktu si vendor dengan keluarganya. Kalau bicara hasil, ya jelas sih Mama biasanya lebih sakseus dari saya.

Mengenai seserahan, saya dan si abang cenderung santai. Alhasil barang-barang seserahan baru terkumpul seminggu menjelang acara lamaran, bahkan ada yang satu hari menjelang lamaran baru dapat (more on that later). Padahal si mama sudah menyiapkan box-box cantik berbagai ukuran terbuat dari aluminium, dengan motif emboss yang terlihat seperti ukiran. Soal hias-menghias, Mama juga yang mengurus semuanya. And I kid you not, hasilnya cantikkk banget.

Kemarin saya ke toko bunga di salah satu mall terkemuka Jakarta, box seserahan saya yang seukuran kotak cincin dijual dengan harga 40 ribu rupiah. Sedangkan si Mama beli di harga 15 ribu rupiah saja loh. Yang parah, ukuran sedang dijual 160 ribu rupiah di toko itu, sedangkan Mama beli ukuran paling besarnya dengan harga ….eng ing eng… 90 ribu rupiah. Wow, mama jagoan!!

*kecupkecup*

The Engagement Rings – dalam box beli di bawah stasiun Menteng
Box yang sama, dijual di salah satu mall elite Jakarta Raya

Papahku Jagoan

Karena Papa adalah anak tertua, dan kakek saya sudah sangat sepuh, rencananya perwakilan keluarga adalah Angku Tom atau oom-nya Papa yang kebetulan adalah juga sahabat papanya si abang waktu kuliah dulu. Jadi bisa dibilang Papa hampir nggak ada persiapan apapun, untuk acara lamaran ini, selain tampil ganteng (gitu katanya).

H-1, ternyata Angku Tom terpaksa dirawat di rumah sakit, sedangkan Angku-Angku yang lain lebih sepuh lagi dan sepertinya terlalu dadakan untuk meminta bantuan mereka. Alhasil, Papa mulai panas dingin meriang deg-degan tapiiii gengsi mau ngomong. Berhubung saya cukup peka pada gelagat si Papa, saya berniat baik kasih contekan naskah lamaran sepupu si Abang. Yang ada Papa malah makin pusing karena itu balas-balasan pantun panjang berlembar-lembar. Huhuhuhu maaf ya Paaaa…

Meskipun saya sudah titip pesan untuk tidak berpantun karena penyambutan dilakukan oleh Papa dan bukan Angku Tom, tapi mungkin koordinasi yang kurang baik dan informasi yang mendadak mengakibatkan… keluarga si Abang datang berpantun sebanyak tiga lembar. Saya di kamar sudah ikut deg-degan, karena takut ada pihak-pihak yang tersinggung.

Alhamdulillah Papa berhasil mencairkan suasana kembali, tanpa perlu pantun. Sini sini dikecup dulu sama anaknya.

Lalu di detik-detik terakhir kami baru sadar bahwa nggak ada yang nyiapin musik untuk menemani acara makan dan penyambutan keluarga. Percayakanlah pada Papaku si mantan Music Director, doi mengeluarkan album Beatles versi Bossas untuk membuat sejuk di hari nan terik itu.

Saudara-Saudaraku Jagoan

Acara lamaran ini hampir semuanya gratisan atau swadaya. Mulai dari cari kotak seserahan, sampai dekorasi. Kita bela-belain belanja bunga ke Rawa Belong dan memilih bunga yang akan digunakan, untuk dibawa Mas Angga sang Florist (iya namanya sama kayak si abang) semalam sebelum acara. Nggak tanggung-tanggung, demi memastikan bunganya tetap segar, Mas Angga datang jam 11 malam dan langsung nguplek merangkai bunga di rumah saya sampai jam 1 pagi.

Untuk menghemat biaya, saya dan Mama sama sekali nggak pilih bunga mawar atau anggrek, melainkan bunga-bunga murah. Ternyata bunga yang dibawa Mas Angga banyak banget, sampai tiap 10 menit dia minta vas lagi daripada sayang bunganya nggak dipajang. Paling ekstrem, akhirnya segala macam mangkok sama pitcher nganggur di rumah juga kebagian jatah jadi vas dadakan.

Nah, siapa lagi yang bersedia nungguin tukang kembang rangkai-rangkai bunga kalau bukan adik saya yang paling manis sedunia? I need my beauty sleep kaaaan soalnya. Karena jendela ruang tamu dijebol supaya nggak terkesan sempit, adik saya bahkan rela tidur di ruang tamu untuk jaga rumah.

Hari H, lagi-lagi dia dan satu orang adik sepupu saya yang jadi koordinator lapangan. Mulai dari utak atik rundown, koordinasi dengan keluarga Abang, sampai jadi fotografer dadakan. Sepupu saya yang adalah juga teman terlama saya, rela bolos kerja dan pulang dari Singapura demi menjadi MC. Aduuu makasi banget spups saya jadi pengen kecup satu-satu.

My Spups yang sangat berjasa

Pacarku Jagoan

Mana ada sih, pihak pelamar ikutan angkat-angkat kursi H-1 menjelang lamaran sedangkan yang mau dilamar malah kerja di kantor? Ketika sore-sore pulang kantor, pemandangan yang saya jumpai adalah si abang sedang ikut ngurusin rundown dan dekor bersama mama, tante dan sepupu saya, rasanya hati ini adem beneer. Sekece-kecenya cowok, mungkin nggak ada yang lebih bikin jatuh cinta daripada melihat dia bisa membaur dan jadi bagian dari keluarga kita. Alhamdulillah 🙂

Aku (boleh kan ikutan jadi) Jagoan

Berhubung hasrat ingin mewujudkan personalized & small wedding impian sudah di-veto sejak jauh hari oleh Mama, jadi saya punya agenda pribadi untuk bisa memanifestasikan personal touch di acara lamaran saya. Berbekal free printables dari Wedding Chicks,  font gratisan dan Adobe Illustrator, saya membuat placecards untuk masing-masing kursi. Dan karena antara ruang tamu dan ruang utama ada partisi dengan tinggi nanggung, akhirnya saya hias dengan bunga-bunga sisa Mas Angga the Florist. Meskipun sekitar jam 12 malam saya sempat berpikir kayaknya gua gila yak ngerjain kayak gini sendirian, but I have to say I like the results, meskipun bisa jadi saya subyektif berhubung saya yang bikin sendiri hohoho.

Perlengkapan Perang
seating cards
pompom flowers on the banister

Satu-satunya hal yang saya sesalkan adalah dokumentasi. Karena budget minim, akhirnya kami minta tolong teman untuk dokumentasinya. Namun mungkin karena kurang briefing dari kami mengenai susunan acara dan request hal-hal yang diinginkan, sepertinya banyak detail yang nggak ter-capture. Dan sepertinya keluarga saya maupun keluarga si abang memang kurang sadar blocking, jadi beberapa acara inti kurang terlihat “rapi” fotonya. Banyak  yang clingak clinguk di sana sini huahahaha.

*daftar les blocking*

*emang ada lesnya?*

Yah demikianlah, yang penting toh hasil akhirnya. Dan yang lebih penting lagi, saya diingatkan betapa saya punya harta yang paling berharga : keluarga yang sangat-sangat baik *masukkan soundtrack keluarga cemara disini*

My Lovely Family
Proud Grandparents : Aung, Uti, Opa — lamaran perdana cucu-cucu mereka soalnya
Soon To Be Family (Amin)

Dan marilah kita tutup dengan muka saya dan si abang yang lagi super girang karena baru aja tunangan. Semoga lancar hari ini menjadi lancar pula untuk ke depannya dan segala sesuatunya. Saya dengar ada amin di sini? Amin.

Advertisements

Pilihan Yang Sangat Bijak

Ketika baca posting sebelumnya, baru sadar bahwa awalnya berniat cerita tentang apa yang terjadi ketika si abang minta izin sama nyakbabe…

Satu catatan penting buat gw adalah “mulutmu harimaumu”.
Always, always watch what you say. Because with a quirky family like mine, ANYTHING can happen. 
 
Semua berawal baik-baik ajah. Setelah si mama dan papa kegirangan sendiri seperti digambarkan di episode sebelumnya, maka ditentukanlah sebuah hari dimana si abang mau minta izin ngawinin anak mereka. 
 
Lalu di hari itu semua ceria-ceria penuh antisipasi gimana gitu, dan karena Mbok Sum menjajah dapur demi mempersiapkan aneka hidangan padang sekelas Sederhana, maka kami terpaksa ngungsi cari sarapan di luar rumah. Pilihan jatuh pada sebuah waralaba pizza yang H*T (yeee ga sebut merek yee kan maksudnya ngeHITzzz), dimana gerai itu sekarang lagi ikut tren fast-food-buka-lapak-sarapan. Ih, pada gak kasian apa sama tukang lontong sayur?
 
Bagi mbak-mbak dan mas-mas pembaca yang seringkali menyambangi resto hits ini tentu tau juga aneka ritual dan salam genggeus unik yang sering mereka gunakan. Menurut gw karyawan restoran ini pasti semuanya punya kecerdasan emosional tinggi, terbukti dari kemampuan mereka untuk menunjukkan unconditional love pada setiap pengunjung. Apapun pilihan menu anda, karyawan disini semuanya menunjukkan approval tingkat tinggi sambil nyengir kuda dan kasi jempol sedeket mungkin sama muka anda seraya berkata : 

PILIHAN YANG TEPAT SEKALI KAKAK…

Keluarga gw paling nggak tahan dan selalu ngikik-ngikik setiap kali ada jempol melambai di depan muka salah satu dari kita. Hari ini pun tak terkecuali. Sampai akhirnya gw kepikiran :

Gw : Kalau lagi rapat direksinya restoran ini, terus ada yang propose ide, mungkin approvalnya cukup sambil bilang “pilihan yang tepat sekali” gitu kali ya?

Adek gw yang lucu tapi seringkali gak tepat timingnya : Kalo anak direksinya ada yang dilamar kali jawabnya juga gitu ya?

Bapak gw : Nanti papa gitu ah pas er minta izin nikahin kamu mbak…

 
TOLONG 
AKU
TUHAN


seandainya ada tombol ctrl+z untuk menghapus semua percakapan barusan.
Siangnya si abang dateng, gw udah harap-harap cemas si Papa bakal lupa rencana busuknya itu. Tapi apaaaa yang terjadi apaaaaaaa…..
Er sih memulai dengan menjabarkan maksud dan tujuan, tak lupa landasan teorinya (yeeee emangnya karya tulis?!?). Gw terkagum-kagum sih karena mendadak dia terlihat begitu dewasa. Bahasanya diplomatis tapi lugas dan santun… Ah ini dia laki-laki yang akan menjadi nahkoda bahtera rumah tangga gw (-______-‘) *selipkan musik dangdut mendayu di sini.Di titik ini gw separuh lupa dia ngomong apa aja, karena lagi asyik bengong-bengong bego membayangkan masa depan. Yang terakhir gw denger sayup-sayup adalah ketika suasana hening dan bapak gw yang kece itu berkata

Pilihan yang bijak sekali.
SAMBIL KASI JEMPOL

Hadeh batal dikawinin dah gw kali yak.
Untungnya nggak, saya tetep mau dinikahin (alhamdulillah). Dan si babe dari *tukang pizza mode : on* beralih ke *preman sangar mode : on* saat bilang : “Macem-macem awas ya” Masih pula dilanjutkan dengan *urang awak mode : on* sambil kasih petuah-petuah dalam bahasa Padang.
Di titik sini lah gw mendadak mellow, karena setelah menginterogasi Er untuk translate petuah babe, isinya adalah tips & trik untuk Er menghadapi gw yang bisa dibilang ‘perempuan sulit’. Awww it turns out my dad knows me so well :’) and it’s so cute that he was as nervous as Er was -hence the jempol shehanigans. And it’s even cuter that Er can handle our quirky family humor. Semoga ini artinya kita akan memproduksi mini versions of us yang bukan cuma lucu tampangnya tapi juga lucu bcandanya (AMIN!)
Sesuai moto kami “perut kenyang, hati senang”, hari ini ditutup dengan bersama-sama membumihanguskan menyantap bofet padang ala Sum.
Dan sepasang muda-mudi semakin menyadari telah membuat pilihan yang bijak sekali : memilih satu sama lain. Ya kan Er? 🙂

Tes Ombak

Sejak diajakin kawin sama si abang, lumayan banyak hal yang terjadi. Salah satu yang paling penting adalah ketika manusianya datang buat ngomong sendiri ke nyakbabeh. *merindingdisko*

Mayoritas orang bilang seharusnya gw nggak usah bilang apa-apa dulu sama orang tua, biar langsung si abang aja yang ngomong. Berhubung kondisi hubungan gw agak kurang umum, gw memutuskan bahwa tetep perlu juga gw rada tes ombak. ‘Kurang umum’ disini maksudnya adalah bahwa kami nggak pernah sebelumnya menyatakan pacaran atau semacamnya. Dan meskipun si er sudah berkenalan dengan keluarga dekat -termasuk kakek nenek & beberapa sepupu- tapi belum lama dan intens, jadi gw rasa ya pasti pendekatannya agak berbeda dengan orang yang udah pacaran beberapa tahun.

Yang namanya tes ombak, pastinya kan cuma celup-celup kaki dikit gitu ya. Rencana gw adalah untuk sekedar nanya-nanya kesan orang tua tentang Er. Pas juga momentnya baru aja makan-makan keluarga besar perdana dimana si Er ikut serta. 



Tapi tentu rencana tinggallah rencana. Yang ada kejadiannya gini :

Gw : “ma, what do you think about er?” 

Ma : “baik ya anaknya trus bla bla bla… (silakan isi sendiri, gw menghindari terlalu detil supaya Er gak besar kepala bacanya :p )

Gw lalu mengalihkan obrolan ke hal-hal lain mulai dari fashion, menu masakan sampe politik. Lalu akhirnya …

Gw : “ma kira2 kalau anaknya ada yang ngajak nikah, menurut mama aku udah siap belum?” 

Ma : “tuh kan! TUH KAN! (ucapkan dengan nada tinggi) “ 

Gw : “tuh kan apa yak?” 

Ma : “BENER KAN feeling mamaaaaa” 

Gw : “apa sih?” 

Ma : “kapaaaaaaan? Dia bilangnya gimaanaaaa? Papaaaaa….” 

Gw : “kan aku bilang KALAU” 

Ma : “ah mama yakin banget deh kamu diajak nikah ini pasti. Ayo cerita kapaaan dia bilangnya… Papaaaaa…”

….

Dan dengan demikian rencana tes ombak berakhir dengan gw kadung TENGGELAM.

Moral of the story :
Ketika orang tua sudah sangat bersemangat nikahin anaknya bahkan SEBELUM si anak punya calon, maka sebaiknya NGGAK USAH pake tes ombak daripada kejadiannya malah si orangtua langsung mencapai kesimpulan dan ketebak semuanya


Sekian. *blebeb*