Tentang Foundation Kesayangan

Sebagai orang yang males dandan dan punya kulit sensitif, menemukan foundation yang tepat menjadi tantangan tersendiri. Kadang gw nggak ngerti buat apa orang harus dandan setiap hari. Pagi-pagi menghabiskan waktu minimal 15 menit untuk nempelin ini itu di muka, yang malemnya harus dihapus lagi. Kemudian ritual yang sama berulang keesokan harinya, dan lagi, dan lagi…. Buat apaaaaa? Bukankah itu sesuatu yang sia-sia?

Pada akhirnya gw tidak memungkiri sih, bahwa tampil cantik dan segar itu memang membuat pikiran dan jiwa lebih segar dan bersemangat. Tapi tetep aja judulnya : males! Cuma yang namanya kerja kantoran, bagaimanapun tampilan profesional tetap dibutuhkan dong. Jangan sok-sok natural look kalau emang nggak kebagian jatah gen berkulit mulus nan sehat. Soalnya dewy skin itu beda loh sama berminyak. Masa iya ngantor tapi mukenye kayak abis lari 25 kali keliling lapangan banteng?

Ditambah lagi, kulit ini pada dasarnya sensitif, jadi nggak semua foundation boleh ditempelin kecuali mukanya mau bruntusan, jerawatan ataupun mendadak kusam. Akibat itulah dalam memilih foundation ya terpaksa di-shortlist dengan beberapa kriteria saringan :

  1. Warnanya sesuai dengan warna kulit. Karena foundation lebih untuk meratakan warna kulit yang kadang splotchy di sana sini, supaya lebih merata warnanya, bukan buat bikin terlihat lebih putih. Well, at least that’s in my opinion. It’s supposed to look like your skin, only better. Tagline merk apa ya itu? Hmmm lupa hehehe. Menurut Mbak Bobbi, cari yang warnanya paling mendekati warna kulit. Buat contekan bisa juga lihat link ini.
  2. Formula Liquid atau Cream. Dari pengalaman coba-coba beberapa foundation menurut rekomendasi para jawara makeup di forum ini, tampaknya kulit saya memang hanya mau ditempelin foundation cair atau berbahan krim. Segala macam bentuk two way cake atau yang teksturnya bedak, silakan dadah-dadah goodbye karena dalam waktu 1 – 3 minggu dijamin bruntusan dan muncul banyak whiteheads. Untuk keperluan make up kantor, saya lebih pilih yang teksturnya cream, karena lebih ringkas dibawa-bawa dan aplikasinya lebih mudah daripada cair.
  3. Aman untuk kulit sensitif. Karena maunya gue, foundation itu untuk menonjolkan kulit, bukan menutupi imperfections. Jadi kalau foundationnya aja udah bikin kulit merah, gatel, bruntusan, jerawatan, ya mendingan jangan dipakai.
  4. Tanpa embel-embel “oil free”. Berhubung kulit saya memang dari sananya tambang minyak, formula yang menahan supaya minyak nggak keluar, ternyata malah menyumbat pori-pori dan menghasilkan jerawat. Dijamin. 3 hari pertama sih cakep, finishnya rapi matte kayak bintang pelem. Besok-besoknya udah nggak beres.
  5. Light to medium coverage. Karena pada dasarnya nggak suka make up, maka kalaupun pakai saya cenderung ogah sama make up yang terlalu berat. Jadi yang tipis-tipis ciamik ajah.

Ketika beberapa bulan lalu akhirnya menemukan si foundation yang ideal… bahagia betul rasanya.

Biasanya beli foundation nggak pernah dipakai sampai habis, karena nggak semua kriteria di atas cocok. Tapi dia… dia berbeza. Pertama kaliiii punya foundation yang nggak absen dipakai setiap hari tanpa protes dari kulitkyuh. Maka ketika dia mulai menipis, saatnya untuk menitip ke sepupu yang akan pulang dari luar negeri (karena beda harganya lumayan banget dibanding di Indonesia huhuhu). Tapiiiii apa yang terjadih? Dia DISCONTINUED!!!

Kenapaaaa Mbak Bobbiiiiii?!? KENAPAAAAAA?

Dan dengan demikian, berlanjutlah perjuangan untuk mencari foundation ideal. Ada saran?

Advertisements