papercut

Each and every day in life, we meet the chance of getting hurt. It’s something not to be avoided. It can’t be avoided, as it is an essential process in life itself. I believe that when something doesn’t kill us, it makes us stronger. Adversity is the thing that allows us -or rather, force us- to grow as a person.

However, I tend to look at pain differently when it happens to someone else. And when I am the source of that pain.

Being a very outspoken person, I always speak my mind. That is what you call assertive. On the flip side, I also always speak my heart out. THAT, may often prove to be abrasive, especially when done at the height of emotional turmoil and not granted with the privilege of self constraint.

Although I may not have any intention to hurt, but there is no denying the fact that someone got hurt. Just like a papercut. As small or minuscule it may seem to me, but the pain is real to that person.

As my lecturer in college once said,

when it comes to feelings, there are no rights or wrongs

So I’d have to say, the only thing wrong in this situation …… is me.
I don’t think a band aid’s going to do the trick 😦

…PussyCAT doll

Tampaknya emak bapak saya udah nggak sabar ingin punya cucu. Beberapa kali hal ini disinggung dan sekian kali pula saya menanggapinya dengan cengar-cengir ala kura-kura dalam perahu (pura-pura tidak tahu).

Hasrat mereka semakin kentara ketika keluarga kami memutuskan mengadopsi seekor kucing kampung (sebenarnya si kucing itu yang secara sepihak dan semena-mena mendeklarasikan bahwa rumah kami = rumah dia).
Kucing ini secara khusus memang bukan orang kucing asing bagi kami. Kalau masih ingat cerita di posting sebelumnya tentang tem, bubu, kunkun + mamahnya, kucing sok asik ini adalah si kunkun dalam cerita tersebut. Jadi memang dia cukup sering main ke rumah, dan disambut dengan cukup ramah oleh segenap anggota keluarga.
Lama kelamaan dia keenakan. Setiap jam makan entah mengapa dia selalu sukses nongol di bawah meja makan (cerdasnyaaa kucing ini). Ikut nonton tv sama prt di rumah saya. Bahkan dia suka iseng nyelisip2 masuk lemari.
Kucing ini tidak sepenuhnya nggak tau diri sih. Sesekali dia ‘membalas budi’ dengan caranya sendiri : menangkap tikus. Diletakkannya tikus yang sudah almarhum itu, terkapar di luar rumah, seperti mau bilang “ini upah kalian untuk ngasih makan saya 2 minggu ke depan”.
Oke, mulai ngelantur. Apa hubungannya pengen punya cucu sama kucing ajaib? Karenaaaa sejak jaman dahulu kala ibu saya itu paling anti sama makhluk bernama kucing. Tapi kucing ini direlakannya tidur di kamar bapak ibu saya, seperti anak bayi.
Dan secinta2nya bapak saya sama kucing, nggak pernah sampai dia rela MENCUCIKAN PIRING MAKANAN SI KUCING. Bahkan piring makanan miliknya sendiri nggak pernah dicuci sama bapak saya.

Tau kan bagaimana kakek nenek itu selalu bangga sama hal2 paling kecil yang dilakukan cucunya? Bahkan ketika cucunya pup di atas baju kakek neneknya yang paling mahal pun bagi mereka adalah sesuatu yang sangat menggemaskan. “Ih opa opa liat deh si schaatje pup di atas baju oma yang Prada. Pinter banget sih maunya pup di atas barang mahal. Cucu siapa dulu dooong”. Gitu kali kira2 pembicaraannya ya.
Bapak ibu saya punya reaksi yang sama pada si kunkun. Setiap kali temperamen bapak saya agak kumat, atau ibu saya lagi bete di kantor, cerita2 kecil mengenai kenakalan si kunkun di hari itu selalu sukses membuat mereka tersenyum kembali.
Teman saya bilang “wah, ndied, beneran pengen cucu itu artinya”. Astaganaga. Matilah saya.
Selain saya sering mati gaya di depan anak kecil, rasanya lahir bathin kok ya belum siap untuk memunculkan andied-andied kecil di dunia ini.
Saya masih terlalu egois dan terlalu apatis. Gimana mau ngajarin anaknya kalau ibunya juga belum (sepenuhnya) matang?

Jadi ma, pa, berapa ekor kucing yang kalian mau (sambil menunggu)? 😀

blood

Piknik_72

where are the chains, you say? You can’t see them. But they’re there.

And they bind us together…

Some say, blood is thicker than water. It’s true, really.. so thick that it sufffocates you once you enter. And you can drown so deep in it that you lose all chance of clarity, unable to point yourself in the right direction, or at least in the direction you intend to go..


although there will always be those moments when -in a burst of escapism- you just long to run away and hide from it all..this serves very well for that purpose. you can just lose yourself in it. not in a sense of refuge, but in the sense that your wants, needs and free will is somehow deemed insignificant… and you can be exactly what you want to be in that exact moment..

…invisible…