kabuuuur

Escapism is (sometimes) necessary.
But how do we escape from our escapism?

Just wondering.

Advertisements

#Trip : Anyer – Anak Pantaaaiii…

Entah kenapa, kalau kata-kata liburan itu di otak gue memiliki korelasi yang sangat signifikan dengan (dg margin error 0,05%…bener gak sih istilahnya, gue ud amnesia sama statistik): PANTAI.
Main air, sinar matahari terpantul di permukaan air, pasir, aroma laut, debur ombak, semua stimuli sensori itu diterjemahkan otak gue menjadi L I B U R A N . . .
Meskipun dengan waktu yang terbatas, ‘outing’ kali ini cukup berhasil me-recharge gue… Biar kegulung-gulung ombak sampe tenggorokan dan idung sakit kena air laut, biar ketipu tukang banana boat, biar gosong dan belang-belang, tapi SENANG!!
Pantai, anyone?
(Foto-foto menyusul, courtesy of bos herman :p)

She, Sun, Sea 🙂

kuning

ingin aku berlari telanjang kaki kutendangkan ke atas hingga tanggal sepatuku, terbang melayang menimpa kepalamu.

kamu berteriak, terkejut dan marah,

tapi tak terdengar olehku.

aku sudah jauh,

sibuk dengan tanah dan debu meresap di antara jemari bersama gembiraku,

sibuk dengan angin yang sentuh setiap jengkal kulit dan keberadaanku,

sibuk hirup udara dan hidup.

aku terus berlari hingga entah dimana

terus hingga seberangi benua, seberangi samudera

terus hingga tanah ini akrab sudah denganku

terus hingga tak ada lagi yang baru.

lalu aku berkata cukup.

hopeless romantics

baru aja gue nonton film,,, romantic comedy,, standard yaa? hm, tapi gue mencoba untuk merefleksikan isi film itu. Dan gue berpikir, apa ya bedanya film2 komedi romantis hollywood dengan sinetron yang selalu dituduh ‘menjual mimpi’ ?

Jawabannya: NGGAK ADA!!!!

Sama aja, cuma bedanya kalo sinetron Indonesia udah pada titik yang sangat ekstrim dan aneh banget aja sampai nggak masuk nalar, sedangkan film Hollywood lebih subtle dalam menyajikan janji-janji palsu itu. Misalnya film tadi ya, tau Notting Hill kan? Nah itu dia film yang gue tonton. Kan di situ digambarkan bahwa terjadi kisah cinta yang rumit (iyalah yang satu bintang film internasional, yang satu mas-mas toko buku), sehingga apa yang mereka punyai (di film digambarkan sebagai jatuh cinta yang bisa bikin guling-gulingan di tengah jalan, tapi sekaligus sangat menumbuhkan perasaan nyaman – the ultimate feeling everyone’s always dreamt of having).. di film itu diceritakan kalau setelah sekian lama mengalami berbagai kesalahpahaman, patah hati dan kesedihan mendalam, akhirnya dengan romantisme, keteguhan hati, bantuan dari teman-teman dan mengebut di tengah jalan raya London yang macet, pada akhirnya semua masalah terselsaikan begitu saja.

SAtu hal yang mau gue bilang : mana ada yang kaya begituuuuuuuu????

Ini pembodohan besar-besaran.. yang menyebabkan kenapa sebagian besar manusia di dunia ini (meskipun sudah menikah), tapi masih merasa belum menemukan yang namanya CINTA. Everybody is looking for the ultimate love story in their lives (based on the abovementioned irrational expectations),, sometimes overlooking the fact that there is a potential for it under their very nose. Semua orang (pada awalnya) pasti punya misconception bahwa yang namanya kisah cinta itu gampang terjadi, semuanya diatur oleh tangan-tangan sang takdir dan akan hidup bahagia bersama sampai akhir hayat memisahkan. TAI KUCINGlah…

After a while, we start to wise up and realize… that a relationship needs work, and I really do mean LOTS of HARD WORK.. Bahwa masalah pasti ada, dan yang penting adalah bagaimana kita mengatasi semua masalah itu..that one day romance will diminish and all that’s left is comfort. And THAT’s what you call love. To find somebody who is willing to go through all the shit in life WITH you.. not necessarily FOR you.

Hope you don’t overlook any chance of love…

Tapi anyway, sesekali nonton film kayak gini perlu juga sih untuk menetralisir just in case loe seseorang yang sinis sama yang namanya cinta… karena emang sebenernya nggak segitu sucksnya kok.. tapi emang it’s never easy..