Limbung

Kemarin saya kembali diingatkan untuk bersyukur…

Untuk teman-teman lama yang mampu ‘menampar’ saya dengan kata-katanya,
yang setelah lama berselang ternyata masih ‘mengenal’ saya dibalik fasade.
Untuk teman-teman yang senantiasa ada dan bersedia mendengar, tanpa menilai atau menggurui.
Untuk teman di pucuk hari yang telah bersedia sedikit berbagi…

Untuk diri yang perlahan mulai akrab dengan sendiri.

Terima kasih, Tuhan.

Loving vs Being In Love

A friend once asked me the difference between loving someone and being in love with someone.
It’s simple.
Loving is a choice.
Loving is a decision.
You nurture it, you guard it, you respect it.

Whereas being in love…is just something you stumble upon.
As they say, you FALL in love.

You can fall anywhere.
But the decision whether you get the hell up and go somewhere else, or explore the world you fell into, is yours.
It’s ours. Take full responsibility and know what we’re getting into.
Or deny it all we want.
But I believe denial won’t take you far, it has a nasty habit of coming back full circle.
And there will be moments of truth when the three evil guys -should’ve, would’ve, and could’ve- just stares you in the face.
And there will be second chances where you can decide to go for it this time, or let it go and accept that it wasn’t meant to be.

So tell me, what do you choose?

Laugh Till We Die, Laugh While We Cry

Ternyata saya tertawa lebih keras ketika sedang sedih. Dan kesadaran ini berawal dari sebuah lagu.
Di awal kemunculannya, salah satu stasiun tv lokal pernah non-stop memutar video klip layaknya Mtv. Dan salah satu yang waktu itu paling menarik untuk saya adalah lagunya Mike and The Mechanics yang judulnya Over My Shoulder.
Saya memang tidak pernah hafal kata-katanya, ataupun berusaha mencari tahu. Karena yang menarik buat saya ketika itu adalah nada dan nuansa lagu itu yang sangat ceria dan ringan.
Ketika baru-baru ini saya teringat akan lagu itu, rasanya saya ingin lebih menikmati daripada sekedar menyiulkan dan menggumamkan nadanya. Ingin menyanyikannya supaya lebih poll. Dan akhirnya saya mencari teks lagu tersebut :

Looking back over my shoulder
I can see that look in your eyes
I never dreamed it could be over
I never wanted to say good bye

Looking back over my shoulder
With an aching deep in my heart
I wish we were starting over
Oh, instead of drifting apart

Everybody told me you were leaving
Funny I should be the last to know
Baby please tell me that I’m dreaming
I just never want to let you go

Looking back over my shoulder
I can see that look in your eyes
Tearing my heart over and over
I never wanted to say goodbye

I don’t mind everybody laughing
But it’s enough to make a grown man cry
Cause I can feel it slipping through my fingers
I don’t even know the reason why

*whistle*

Every day it’s a losing battle
Just to smile and hold my head up high
Could it be that we belong together?
Baby, won’t you give me one more try

Nah lhoooo… Terkejut setengah mati mengetahui bahwa lagu yang saya suka karena nuansa ceria itu, ternyata adalah LAGU PATAH HATI !!?!
Lalu setelah sempat membahas-bahas sedikit dengan seorang teman, dia berkomentar begini :

Sama dengan kita, tertawa-tawa padahal sedang sedih :’)

Belakangan ini, gerombolan manusia dengan #nasibbudakkorporasi di kantor saya memang sedang getol-getolnya menggalakkan work-life balance, dengan banyak-banyak main bersama di luar jam kerja.
Dan memang, hari-hari saya akhir-akhir ini selalu diisi oleh mereka, dan tentunya canda-tawa-gila-bikin-mules-ketawa yang mereka bawa bersama.
Jauh di dalam, masing-masing mungkin punya masalah sendiri. Ada yang patah hati, ada yang patah arang dlm karier, ada yang patah gigi (?!?)… Tapi terkadang semua lenyap ketika kami berbaur dalam tawa 🙂
Dan saya pun baru sadar, bahwa akhir-akhir ini saya tertawa lebih keras dan lepas, padahal sudah beberapa tahun kami saling mengenal.
Benarkah orang akan tertawa lebih lepas ketika sebenarnya dirundung duka?
Apakah mungkin ditengah gelap, sinar sekecil apapun terasa begitu mencerahkan?
Entahlah… Tapi saya bersyukur. Bahwa saya dipertemukan dengan orang-orang ini 🙂
Sangat.

Nilai raport 2009

Sekitar setahun yang lalu, gue membuat daftar resolusi 2009.

Sekarang tahun 2010 sudah joget-joget gembira di hadapan gue, dan tampaknya sudah saatnya gue mengevaluasi tahun 2009 sekaligus coba-coba bikin resolusi 2010. Ok, satu satu ya kita bahas resolusi sok optimis gue tahun lalu.

1. Belajar nyetir » ini sudah jelas gagal total. TOTAL. Bahkan gue menyentuh setir mobil pun nggak. Dan oleh karena itu, tahun ini akan dimasukkan kembali ke dalam daftar resolusi. Semoga kali ini terlaksana. Amin.

2. Belajar bahasa Jerman atau bahasa asing apapun » ini pun. Gagal. Pekerjaan gue sama sekali nggak memberikan waktu luang secuil pun untuk gue mengembangkan diri dalam aspek lainnya 😦 Dan tahun ini, resolusi ini kembali masuk dalam daftar.

3. Baca satu buku setiap minggu » hmmm… Gagal juga. Alasannya sama, waktu. Beberapa buku yang masih sempat gue baca di tahun 2009 adalah perahu kertas-nya Dewi Lestari (yang bagusss banget), dan 2 buku Sophie Kinsella : Shopaholic & Sister, Un-domestic Goddess. Lihat kan, semuanya buku2 ringan yang mudah dicerna sepulang kantor. Otak gue susah banget soalnya memproses yang rumit-rumit kalau udah di luar jam kantor. Lebih tertarik beristirahat.

4. Dengerin satu album baru setiap minggu » juga. Gagal. Hedeuuh. Sejauh ini tahun 2009 penuh kegagalan yah. Jadi malassss melanjutkan.

5. Lombok/Makassar/Belitung trip » *what’s that folks? Yesss let’s say it together* GA…GALL..!!! But anyway, kegagalan ini nggak terlalu mengecewakan, karena toh pada tahun ini gue berkesempatan menonton COLDPLAY live in concert di singaparna… Ups, maksudnya Singapura. Dannnn tahun ini gue dua kali aja gitu ke sana, 1x utk coldplay, 1x lagi liburan bersama orang-orang spesyell dalam hidup X). Selain itu ada juga liburan ke anyer bersama rekan-rekan kerja, yang ternyata cukup menyenangkan. Karena gue anak pantai sejati, jadi mau kemana aja asal pantai, ya saya senaaang 🙂

6. Menabung rp xxx setiap bulan… Pun gagal. Penyebabnya? The singapore trips :p Tapi, ya sudahlah, at least it was worth it. Semoga tahun 2010 lebih baik lagi yaaa.

7. Katalog digital baju/sepatu » bwaaah apa pula iniii. Gue pun nggak tahu kesambet setan apa yang membuat gue terinspirasi untuk bikin resolusi edan semacam ini. Tentunya gagal. Mepet-mepet juga paling nyokap nandain kotak sepatu pake tulisan spidol besar-besar. Hueee :p

8. Coba resep baru setiap bulan » Lagi-lagi gagal. Satu-satunya resep baru yang gue coba adalah aglio olio yg kemudian gue modifikasi sendiri menjadi meatballo olio (apa sehh)

9. Menulis sesuatu setiap hari » hanya bertahan sampai bulan Maret. Kembali salahkan benda bernama kesibukan. Ya maap deh.

10. Cuma belanja sesuai jadwal, nggak boleh tergiur kata diskon » frase terakhir berhasil lho. Gue nggak kalap lagi kalo ada kata-kata diskon. Masalahnya kadang-kadang nggak diskon pun gue sekarang belanja, gara-gara lagi keasyikan berusaha menjadi perempuan. Sejak ikutan forum ini, gue malah asyik blanjablanji online berbagai produk kosmetik :p sama aja yak parahnya.

Secara keseluruhan 2009 menjadi tahun yang cukup datar buat gue. Putusnyambungputusnyambung ala lagu BBB, pekerjaan yang selalu menyita waktu dan energi, kondisi kesehatan anggota keluarga yang memburuk, suasana kerja yang nggak kondusif, semuanya sakseus seliweran di tahun lalu sehingga resolusi gue terbengkalai ajah semuanya.

Anyway untuk tahun 2010 ini, gue memberanikan diri kembali bermimpi menyusun resolusi.
Sederhana saja, lebih berani menentukan kebahagiaan untuk diri sendiri. kalau memang kondisi saat ini nggak memungkinkan untuk mencapai resolusi-resolusi mini di atas, maka tahun ini gue harus mengubah kondisi itu.
So, here goes.

rapuhnya asa

Beberapa saat lalu saya pernah membandingkan trust -atau kepercayaan- dengan gelembung sabun yang rapuh. Saya rasa analogi yang serupa dapat berlaku untuk harapan.
Harapan. Asa. Mimpi. Cita.
Pepatah berkata, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Dan setinggi itulah harapan bertahta. Ketika mungkin tubuh kita, terkungkung oleh gravitasi bumi dan realita di permukaannya, hanya serpihan sisa-sisa semangat juang kita yang bisa menolak.

Harapan terbang jauh, meski sesungguhnya ia rapuh.
Karena ia ringan tak terbeban, tanpa atribut norma dan realita.
Maka angin menjadi kawan, setia mengantar hingga labuhnya.
Karena ia jernih, ia bersih, tak terkotori prasangka.
Maka tak ada perih tersaji, melalui lensanya.

Mungkin karena itu, sampai sekarang saya senang sekali melihat gelembung-gelembung sabun beterbangan. Terbawa angin ke berbagai penjuru.
Seolah-olah kumpulan harapan sedang bersiap-siap, berpasrah diri dibawa semesta kepada tempatnya.
Maka jangan salahkan saya jika mata ini tak berhenti berbinar setiap melihat penjual cairan gelembung sabun. Pun jika kemudian saya membelinya dan tak berhenti meniupkan gelembung hingga habis.
Ijinkan saya menitip doa kepada semesta, saya bisikkan perlahan ke dalam masing-masing gelembung. Mengajak angin bersekongkol dengan saya sembunyikan gelembung-gelembung itu ke penjuru dunia, berharap tak kunjung pecah dia seakan-akan abadi asa.

#Trip : Singapore – Coldplay’s Viva La Vida World Tour

Satu hal yang cukup signifikan di dekade 2000-2009 kemarin (maaf ya kalo belakangan ini saya sering banget ngebahas masalah dekade-dekade ini :p), adalah hubungan saya dengan musik. Saya berasal dari keluarga dengan tingkat musikalitas yang cukup tinggi, dan sebagian besar keluarga saya adalah musisi. Tapi awal pertama kali saya benar-benar jatuh cinta dengan musik adalah mulai tahun 2000 (see, tepat di awal dekade ini kannnn. Spektakulerrr ☺).

Dan yang berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati adalah abang-abang bernama Guy Berryman, Johnny Buckland, Will Champion dan Chris Martin. Yap. Coldplay.

Awalnya sederhana. Saya suka sekali warna kuning. Dan ketika itu radio-radio ibukota sedang kecanduan memutar Yellow dimana-mana. Lagu Yellow sendiri, sebetulnya, tidak terlalu spesial untuk saya. Hanya lagu pop pada umumnya. Tapi ketika saya meminjam album Parachutes pada seorang teman dan mendengarkan semua lagu di album itu, saya jatuh cinta.

Bayangkan kelabilan seorang remaja kurang populer berusia 16 tahun. Anehkah jika sound yang gloomy, vokal yang lirih dan lirik yang ‘gelap’ menjadi demikian menarik untuk saya? :p

Setelah Parachutes, muncul A Rush of Blood to the Head, X&Y dan Viva La Vida yang sudah bergeser dari apa yang membuat saya pertama kali jatuh cinta sama mereka. Tapi toh, selalu ada warna baru yang membuat saya tetap setia meski untuk hal yang berbeda…

Dan maka alangkah bahagianya, ketika di penghujung akhir dekade ini saya berkesempatan menyaksikan mereka secara LIVE.

Menghirup udara yang sama dengan mereka dalam satu ruangan. Melihat sendiri bagaimana abang Chris jejingkrakan berkeliling panggung seperti kesetanan. Bagaimana dia berdansa diluar irama ketika tiga temannya justru menjaga irama. Menyanyikan lagu favorit saya bersama mereka.

Salah satu momen paling signifikan di tahun 2009 🙂

And here are the pretty people I spent it with

this picture courtesy of my lovely cousin. thankyou spups!

————– 19/11/11 ————–

Baru nemu setlistnyaaa di sini dan di sini

20111119-015030.jpg

Beberes Rumah

Hari ini menjadi hari kedua sebuah tahun yang baru, sekaligus dekade yang baru lhooo 🙂
Dan sepertinya alangkah baiknya periode baru ini kita mulai dengan beres-beres! Tapi untuk mulai bergerak membereskan kamar saya yang lebih serupa gudang itu, tampaknya saya terlalu em a el a es. Bisa habis satu tahun sendiri untuk itu, jadi mungkin nanti saja saya lakukan kalau saya sudah akan meninggalkan kamar itu. Pikiran dan hati saya, ternyata sama saja kondisinya dengan kamar ‘gudang’ saya itu.
Setelah saya sadari saya memang ternyata suka menggenggam erat remah-remah kenangan sekecil apapun: baik, buruk, maupun yang tidak penting sama sekali. Dan hal-hal kecil itu tak jarang bertumpuk menjadi sampah yang menghambat saya meletakkan hal-hal baru untuk menghias hidup. Perseteruan-perseteruan kecil di masa lalu terkadang membuat saya sulit maju dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang tertentu. Atau kenangan indah di masa lalu membuat saya sulit menerima bahwa beberapa orang di sekitar saya telah berubah menjadi racun, dan malah terus berharap hal itu hanya sementara.
Jadi, saya akan mulai tahun -dan dekade- ini dengan beres-beres kehidupan saya dari sampah-sampah ajaib semacam itu.

Tahap pertama beres-beres tentunya adalah menyortir. Mana saja peristiwa-peristiwa yang memang signifikan dan menjadi media pembelajaran untuk pengembangan diri seorang Andied, dan mana yang cuma selewat lalu. Peristiwa signifikan ini akan menjadi ‘piala-piala’ saya, untuk terus dipajang di rak kehormatan memori. Akan sangat berguna nanti, ketika kita sedang terpuruk dan butuh diingatkan akan potensi diri. Tahap berikutnya, buang jauh-jauh sampah dan hal-hal remeh-temeh. Dendam masa lalu dan sakit hati yang sudah basi tidak lagi perlu disimpan-simpan. Analisa kondisinya, tarik kesimpulan, simpan lessons learned -nya. Lukanya tidak perlu dibawa-bawa, apalagi dikorek-korek.

Nah, sekarang lihat, lapang bukan sisa ruang di hati? Saatnya kembali menimba ilmu di sekolah bernama hidup 🙂