(your) Most Valuable Possession

SAYA SUKA BEN FOLDS.

Koreksi : SAYA CINTE MATI SAMA MAMANG BEN.

Dan oleh karena itu, entah dari mana harus mulai berkisah tentang “most valuable possession” saya saat inih : euphoria nongton konser mamang ben. LIVE. BUKAN di DVD. *aaaaak mau mati sesak nafas*

Lebay? Belum cencyuuuh. Begini, bayangkan seorang remaja perempuan tanggung yang sangat biasa-biasa saja. Tidak terlalu khusus dalam hal apapun. Bayangkan betapa di usia itu dia sedang mulai membentuk jati dirinya, dan hal-hal yang diakrabinya di usia itu akan sangat berperan besar dalam proses pembentukan itu.

Yak, di usia itu, saya akrab betul sama Ben Folds Five. Band ajaib yang isinya cuma piano, bass dan drum. Permainan piano yang terkadang trining-trining manis menenangkan dan skillful, tapi juga mendadak suka jembrang jembreng rusuh. Ditemani distorsi bass. Cuma main bertiga tapi ramenya minta ampun. Lalu, yang utama : lirik-lirik sarkastis mentertawakan diri sendiri, cerita-cerita random yang dikisahkan dengan lucu. Nyam nyam nyaaammm… ah aku sukaaa.

Menonton Ben Folds LIVE, sebenernya masuk salah satu bucket list saya. Soalnya dulu itu, sama sekali nggak berani berharap Ben Folds (baik dengan embel-embel Five maupun sendiri) akan pernah datang ke Indonesia, jadi kayaknya kalaupun mau nonton harus pergi ke luar negeri (dan itu pan mahaaaaal).

Meskipun beberapa lagu lumayan terkenal di Indonesia (apalagi Brick yang dulu jadi backsound Dear Diary-nya Prambors), tapi Ben Folds nggak punya banyak hits yang masuk top 40 dan dikenal banyak orang. Jadi kayaknya (saya kira) massanya nggak akan terlalu banyak disini. Dan oleh karena itu juga, saya seneng setengah mati kalau ketemu sesama pecinta Ben Folds.

Tapi ternyataaa semesta yang baik ini berkata lain. Dari awal 2011 sempat rame isu-isu pergosipan di twitter yang bilang Ben Folds mau dateng. Tapi daripada berharap ketinggian terus akhirnya kecewa, jadi sok-sok cuek. Sampai akhirnyaaaaah si Ben Folds sendiri yang nulis di twitternya bahwa dia mau datang ke Jakarta. Masaoloh maesaroooh!!!! *melongo* *sibuk itung duit*

20111129-233725.jpg

Setelah semuanya semakin jelas dan pasti, akhirnya diperoleh sebuah tanggal baik yaitu 26 Mei 2011. Dan tanggal itu sungguhlah baik karena keesokan harinya si babeh ulangtaun. Dan berhubung dahulu babeh sayalah yang pertama memperkenalkan saya pada album “Whatever & Ever Amen” nya Ben Folds Five, maka sepertinya pas sekali kalau saya berikan karcis menonton Ben Folds sebagai hadiah ulangtaun babeh kan? (padahal cari temen)

Demi mengantisipasi Jakarta macet dan kerjaan dadakan yang suka datang di penghujung hari kerja, maka saya pun sengaja CUTI di hari itu. Lalu sengaja berangkat 1,5 jam lebih awal karena acaranya di Kuningan dan takutnya macet. Dan entah mengapa, hari itu sama sekali nggak macet. Yang artinya kami datang di venue 1,5 jam lebih awal. Terus bingung mau ngapain. *jedaaaang* Untungnya di sana malah jadi semacam reuni mini dengan banyak teman yang sesama pecinta Ben Folds, jadi tidaklah terlalu mati gaya.

Dan akhirnya konser dimulai. Di panggung cuma ada 1 piano. Beberapa highlight yang masih bikin saya euphoria sampai saat ini :

  1. Ben Folds masuk, langsung main tanpa basa-basi : “If there’s a God, He’s laughing at us” – EFFINGTON! Dilanjutkan dengan Annie Waits + Sentimental Guy. Trus mulailah dia ngobril-ngobril sama penonton, bahas smoke machine yang entah kenapa ditaro di sblah pianonya. Sampai akhirnya gw jejeritan “Play Smoooke!” …and he played it. Dan ternyata lagu Smoke nggak ada di original set listnya. Meskipun saya yakin bukan cuma saya sendiri yang tiba-tiba teriak “smoke”, tapi rasanya seolah-olah saya punya andil gituh. Dan takjub aja lihat si Ben Folds mendadak impulsif nurut sama penonton-penonton yang banyak maunya ini.
  2. Di lagu “You Don’t Know Me” yang aslinya dia nyanyikan duet sama Regina Spektor, dia ngajak penonton sing along. Tapi memang dasar para penonton ini suka terlalu berinisiatif (sebagaimana dicontohkan pada poin pertama), jadi bahkan di bagian-bagian yang nggak disuruh nyanyi kita tetep nyanyi. Bahkan sampe ada yang bagi suara segala. Mimik kagetnya si Ben Folds di lagu itu priceless banget, dan bisa dilihat di video berikuts.
  3. Dahuluuu kala sekitar tahun 2002, saya bersama seorang teman sesama pecinta Ben Folds sedang gandrung-gandrungnya *saelaaah GANDRUNG* dengerin album “Ben Folds Live”. Terutama track “Army”, dimana dia membagi penonton jadi 2 untuk gantian menyanyikan bagian horn section di track aslinya. Dan bahkan buat kami berdua yang saat itu cuma bisa dengerin dari kasetnya (iya waktu itu belinya masih bentuk kaset), part itu terdengar sangat menyenangkan. Nah kita berdua waktu itu suka berkhayal-khayal, kayak apa yah rasanya kalau kita jadi bagian dari penonton yang disuruh ikut nyanyi juga. … Lalu… Lalu… Guess what, setelah 9 tahun, akhirnya khayalan itu beneran kejadian. For the both of us. Maaaaakkkkkk, Andied ikutan nyanyi lagu Army sambil nonton mamang Ben maaaakkkk… *nangiskejer*
  4. Si mamang Ben mendadak jamming sendiri sambil bikin lagu impromptu tentang Indonesia… He’s a real entertainer indeed.

Mmh…mmh… Trus apa lagi yaaah. Aaah terlalu banyaaaak. Terlalu banyak hal menyenangkan di malam itu. Rasanya nggak pengen pulang. Pengen terus-terusan menonton sang idola nyanyi sambil main piano. Pengen terus menikmati interaksi mamang Ben yang sangat down to earth & hangat dengan para penonton. POKOKNYA GAK MAU PULAAAANG!!! *melotot* …hosh hosh hosh…
But yeah, all good things must come to an end. So does this night. Malam ini akan tetap menjadi salah satu malam terbaik dalam hidup saya. *masihgakrelaharuspulang*
Terima kasih semuanyaaah.
Terima kasih papah yang sudah memperkenalkan saya sama Ben Folds Five.
Terima kasih teman-teman yang selalu menginformasikan update-update terbaru soal mamang Ben Folds.
Terima kasih ismaya yang mendatangkan Ben Folds.
Dan pastinyah… Terima kasih semesta yang membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin.
🙂

… Nah… Berikutnya…
Mari menabung untuk beli box set anthology-nya mamang Ben Folds!!!

————-19/11/11————–

Baru nemu setlist ciamiknyah di sini dan setlist dibawah ini diambil dari siniiii

20111129-234542.jpg

best imitation of myself

i feel like a quote out of context, witholding the rest

(best imitation of myself, by Ben Folds Five)

why is it that people tend to try so hard to make people see them as they wish to be seen? why can’t we realize that these charades bring forth only two outcomes, both as undesirable as the other? it’s just the lesser of two evils :

1. you carry on life with your own script, when actually others read between the lines where the truth actually lies.

2. you fabulously deceive others with your remarkable acting that they actually believe it’s you they’re interacting with.

there is no way of being truthful that eliminates any chance of getting hurt. there is no way to connect without being truthful. so is being disconnected the answer? try to lie to yourself about that. how silly that a bulletin brings forth these answers.

1. Ketika lo marah,apa yang akan lo lakukan?
tahan, tahan, tahan, lalu biarkan meledak semua jadi serpihan bunga api

2. Ketika lo sedih,apa yang akan lo lakukan?
pura-pura nggak sedih

3. Ketika lo menyadari kekurangan lo?
pura-pura nggak sadar

4. Ketika lo menyadari kelebihan lo?
gunakanlah untuk menolong orang lain..

5. Ketika seseorang menyatakan cinta ke lo?
mencoba falsifikasi

6. Ketika lo menyadari kalo lo jatuh cinta?
terjun bebas

7. Ketika lo menyadari kalo lo sakit hati karna cinta?
pura-pura nggak

8. Ketika lo menyadari kalo orang yang lo cintai itu mempermainkan lo?
pura-pura nggak cinta

9. Ketika lo menyadari kalo lo cuma dimanfaatin orang?
senyum pahit

10. Ketika lo menyadari kalo lo menyakiti orang
yang lo cintai?

be numb…

11. Ketika lo menyadari kalo lo ketemu soulmate lo?
smile

12. Ketika lo menyadari apa arti cinta yang sesungguhnya?
saatnya memutuskan, untuk mencinta atau tidak

13. Ketika lo menyadari kalo lo kehilangan orang yang lo sayang dan dia nyakitin lo?
say goodbye. pura-pura nggak sakit.

14. Ketika lo ga bisa melakukan apa2 lagi di dunia ini?
nggak mungkin

15. Ketika lo menyadari klo lo ga ada lagi di dunia ini?
what else to do but watch?

16. Ketika lo menyadari klo perasaan lo dipermainkan orang?
pura-pura ga merasa.

17. Ketika lo menyadari kalo lo mempermainkan perasaan seseorang yang sayang sm lo?
stop playing.

18. Ketika lo menyadari kalo lo merusak keadaan?
overcompensate

19. Ketika lo menyadari kalo lo punya sifat n sikap buruk?
and i try… to fix it

20. Ketika lo menyadari kalo Tuhan itu ga adil?
been there. realized fairness is a weird concept.

21. Ketika di dunia ini ga ada lg yang sayang sm lo?
hope i can still rely on myself

22. Ketika pikiran lo kosong?
biar insting yang mengatur

23. Ketika lo kangen seseorang?
bilang

24. Ketika perasaan lo ga’ enak?
tambah garam? merica?

25. Ketika lo menyadari siapa lo yang sebenarnya?
that would be great.