Selamat Jalan, Opa

Tak terasa nyaris 2 minggu sejak Opa pergi. Kamis lalu, 18 Oktober 2012, beliau meninggal dunia.

Semua terjadi begitu cepat, dengan cara yang begitu tak terduga. Alhamdulillah, saya masih sempat menyusul ke rumah sakit sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, meskipun saat itu beliau sudah dalam kondisi tidak sadar. Alhamdulillah, saat terakhir kali beliau menelepon saya untuk meminta sesuatu masih sempat saya penuhi. Saya tahu bakti saya masih jauh dari cukup, namun semoga apa yang selama ini sudah dilakukan masih mampu memberi sedikit senyum bagi beliau.

Opa selalu membuat saya teringat hangatnya sebuah keluarga. Beliau akan begitu riang jika semua anak menantu dan cucunya berkumpul bersama. Kesan hangat yang sama terasa di hari pemakamannya, ketika keluarga yang berkumpul tidak lagi banyak menangis, melainkan lebih banyak berbagi kenangan tentang Opa.

Nyaris 2 minggu sejak Opa pergi, rasanya masih sulit dipercaya. Saya rindu candanya. Saya rindu obrolannya yang tiada henti. Saya rindu semua kebiasaan kecilnya.

Selamat Jalan Opa. Peluk cium dari sini.

3G

Disclaimer :

ini bukan posting soal sinyal ponsel, pun bukan posting soal pertunjukan 3 dewa gitar Steve Vai, Joe Satriani & Eric Johnson (which reminds me, I must start watching that DVD again).

Ini adalah posting soal…warna.

Di awal awal dahulu, sempat teramat bingung  perihal color scheme pernikahan. Masalah awalnya, dari dulu selalu super ngiler liat wedding outdoor sore hari. Kayaknya seger seger gimana gitu *sruput es teh manis*. Tapi ya berhubung emak sudah kasih veto kudu di gedung jadilah saya sempat berada dalam fase ngambek-ngambek nggak mau mikirin dengan harapan akhirnya dikasih kawin di kebun.

Upaya saya tersebut tentunya…

Gagal.

Sayangnya waktu nggak bisa menunggu, mau sampai kapan ngambek-ngambek nggak mau belanja bahan kebaya? Dikira jahit baju cepet apa gimanah? Alhasil mulailah saya browsing browsing kombinasi warna yang bisa digunakan. Terinspirasi oleh posting yang ini rasanya ingin ikutan nasionalis dan menyesuaikan tema warna dengan akar budaya. Saelaaaaah.

Tapi yang namanya kawinan ranah Minang ya, warnanya nggak jauh-jauh dari merah, kuning, hijau, hitam dan emas. Kudu crong pulak kan ya, mana ada warna-warna kalem coba di sekujur budaya Minang? Cih, apa itu dusty green? Apa itu beige? Berhubung bosan setengah mati dengan tema pernikahan warna merah atau maroon apalagi yang dikombinasi dengan emas, maka jadilah saya pilih hijau ajah.

Menyesuaikan dengan nuansa resepsi yang tidak terlalu menuruti pakem adat, alhasil dipilihlah tema warna semacam berikut

Tema Warna Resepsi – niat awal

Yeee sebelah mana warna ala Minangnyeee? Iya sih emang maksa sebenarnyah. Ya abis gimana, emang kurang doyan aja sama warna-warna semacam ituh sayanya. Seiring dengan perjalanan waktu, mulai mantap dengan warna tersebut. Apalagi ternyata jeng yang satu ini juga menggunakan tema warna yang mirip, yaitu peacock atau burung merak. Cantik kan ya kan ya kan?

Maka berangkatlah kami ke Mayestik, mencari berbagai kain dengan warna senada tema itu. Dan hasilnya?

Lagi-lagi gagal.

Susah ternyata cari warna semacam itu yang nggak bikin muka saya terlihat dekil. Ditambah lagi si CPP dari awal sudah menyatakan ogah pake warna warni. Maunya kalau nggak emas, abu-abu/silver, hitam, putih. Yaelaaaah gemaneeeee masa’ penganten baru bajunya belang bonteng?

Sampai akhirnya saya bertemu kain yang membuat saya jatuh cinta. Yang melenceng cukup jauh dari skema warna sebelumnya. Daripada niat mulia melestarikan adat cuma dipegang setengah-setengah, ya sekalian sajalah ikuti kata hati dari awal. Bagaimanapun juga ain’t nobody happy if the bride ain’t happy ya toh?

IMG-20120808-01021
Ini dia si bahan kebaya yang bikin jatuh cinta

Maka sambutlah, tema warna yang baru : 3G.

(Dusty) Greens

Greys

(Antique) Golds

Semoga ciamik!

*) All color palletes taken from Design Seeds

Selamat Jalan, Pak Syaiful

Orang datang dan pergi, numpang permisi dalam cerita pendek hidup kita. Itu alami.

Manusia lahir dan mati setiap harinya. Itu juga alami.

Beberapa hari lalu saya mendapat kabar duka, salah seorang kenalan saya di kantor terdahulu meninggal karena kanker. Beliau adalah salah satu mentor saya ketika menjalani program pendidikan eksekutif, salah satu sosok leader yang selalu menginspirasi.

Pak Syaiful adalah sosok yang selalu dapat melihat hal positif dalam diri semua orang, dan percaya bahwa kita memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Dalam beberapa kesempatan, kata-kata beliaulah yang membuat saya percaya diri untuk menjalankan beberapa tugas yang sepertinya terlalu “besar” untuk karyawan se-Junior saya.

Setelah beliau pensiun, masih terasa  kental berbagai “peninggalan” beliau di organisasi tersebut.

Semangatnya

Etos kerjanya

Selera humornya

Jargon-jargonnya

dan anak-anak didiknya.

Menurut saya, seorang pemimpin hebat dapat diukur dari perkembangan anak buahnya. Rekan-rekan yang pernah menjadi team Pak Syaiful sampai kini memegang teguh etos kerjanya, dan mencerminkan compassion yang dimilikinya. He emphasized on the human side of human resources, and his judgments always considered the humane thing to do in each situation.

Hari ini di pemakaman beliau, saya melihat bagaimana beliau begitu dicintai, mulai dari karyawan level terendah sampai mantan CEO turut hadir menyampaikan belasungkawa dan berbagi kenangan masa-masa bersama beliau.

Tadinya saya sudah mempersiapkan satu undangan untuk Bapak. Terbayangkan betapa senangnya reuni team HR Niaga nanti. Tapi mungkin memang Tuhan sudah punya rencana lain yang lebih baik untuk Bapak ya.

Selamat Jalan Pak Syaiful, selamat beristirahat. Semoga diberikan ketenangan dan tempat yang terbaik di sisi-Nya.