privacy

Habis_gelap_terbitlah_terang_1

KEnapa ya sekarang yang  namanya ruang privat kok seperti udah nggak dihargai lagi?

why is it so important to know about other people’s lives?? makan tuh infotainment!! emang udah nggak ada informasi yang lebih berharga buat disimak apa ya? menghibur juga nggak.. heran, bikin penonton jadi lebih bloon, dan seolah-olah ngasih justifikasi bahwa sah-sah aja ngurusin kehidupan pribadi orang lain.. iya sih, emang teorinya masyarakat indonesia itu cenderung kolektivistik, tapi kan bukan berarti mengorbankan privacy untuk jadi konsumsi publik.. belum lagi, sebagian besar orang justru bangga kalau digosipin, diomongin, ada apa dikit bikin press conference, diwawancara padahal informasinya udah tangan kesembilan. segitu pentingnya apa nampang di TV?

KAyaknya sekarang udah nggak aman lagi deh. Mau ngapain dikit salah, ngapain dikit diomongin, dikomentarin ini itu.. padahal orang yang ngasih komentar sebenernya cuma tau 10% dari kenyataan. SAnctuary yang paling aman ya kayaknya cuma di kamar (itupun kalo kamar loe isinya cuma loe doang. kalo share sama orang lain? selamat aja deh..)

Jakarta kepenuhan orang nih…

ruang tunggu

Beberapa hari yang lalu keadaan Jakarta yang dilanda hujan deras memaksa gue untuk menunggu. Dan gue sangat tidak suka menunggu. Come to think of it, who does? Kenapa ya rata-rata orang tidak suka – bahkan benci – menunggu? Sering sekali kan, kalau orang diminta menjawab pertanyaan : apa yang paling loe benci? Maka, mereka akan jawab : menunggu!! (pakai tanda seru pula)

Sebenernya apa sih yang segitu menyebalkannya dengan menunggu? Bisa dipahami sih… Menunggu (garis miring penantian) selalu hadir berbarengan dengan apa yang dinamakan ketidakpastian..

Misalnya : Orang ini pasti datang atau nggak ya? (misalnya sudah terjawab, pasti datang, maka akan timbul pertanyaan berikutnya : berapa lama lagi ya datangnya? sebentar lagi atau masih lama ya?)

Menunggu (menurut gue) membawa satu implikasi yang pasti kepada pelakunya : KERAPUHAN..

Kenapa begitu? Karena eh karena, yang namanya manusia (apalagi manusia modern di kota metropolitan seperti Jakarta -homo Jakartanensis, kalau di sebuah majalah-¬† yang menganut prinsip ‘time is money’), nah yang namanya manusia ini saat dihadapkan pada apa yang namanya menunggu, dipaksa untuk berhadapan juga dengan kenyataan bahwa mereka ini ya ternyata ‘mortal’ belaka.. bahwa mereka bukan superman, bukan dewa atau apalah yang tanpa cela.. di sini kita (manusia) disadarkan kalau kita ini cuma setitik kecil di tengah-tengah sesuatu yang maha besar, sebegitu besarnya sampai tidak terdefinisikan.

Mereka (kita) merasa lemah, tidak berdaya,, karena hidupnya yang (tadinya mereka pikir) serba terkontrol & terencana, sekarang jadi tidak sempurna, tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.. kita begitu kecewa karena apa yang tadinya dikira sudah pasti, eh ternyata belum..

Akhirnya kita terbukti tidak punya kendali atas hal-hal di sekitar kita. Dan buat manusia yang emang sifatnya selalu ingin memanipulasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya, hal ini, kenyataan ini, ternyata terlalu menakutkan untuk dihadapi… huahahaha…buktinya, sambil menunggu gue menghabiskan waktu gue dengan nulis ginian..

kata-kata

hari ini gue dapet bulletin yang minta diisi hanya dengan satu kata yang bisa bener-bener menggambarkan masing-masing kategori. terus, gue mentok. entah kenapa, di setiap kategori itu (tadinya) gue secara otomatis menjawab dengan kalimat atau setidaknya frase. Yang pasti bukan hanya satu kata.

Terus akhirnya gue kepikiran,, kenapa ya sekarang kok bahasa indonesia seperti hampir ‘mati’ ? Coba pikir, berapa banyak kata-kata yang kita gunakan sehari-hari kan sebenernya udah bukan bahasa indonesia yang baku, dan banyak sekali yang kata serapan dari bahasa asing (gue jadi pingin baca buku yang judulnya 9 dari 10 kata bahasa indonesia adalah serapan..bener nggak yah judulnya, gue cuma pernah liat sekilas di toko buku, ada yang mau minjemin??)

Nah terus, gue kepikiran juga… kayaknya sekarang ini yang namanya kata-kata itu sudah diumbar habis-habisan, di-exploit sedemikian rupa sampai-sampai banyak sekali kata yang sudah bergeser maknanya (majas apa hayo kalo di pelajaran bahasa indonesia???).

Kita udah terbiasa untuk membungkus maksud hati (yang seringkali tidak mulia) dengan kata-kata yang indah dan berukir-ukir.. sampai-sampai kata-kata bisa dengan mudahnya keluar dari mulut kita, tapi nggak dihayatin beneran..

Intinya : speak.

BAru-baru ini di kantor gue diminta untuk menerjemahkan dokumen yang sifatnya formal, dari bahasa inggris ke indonesia dan sebaliknya… gue berusaha dong untuk bikin yang versi Indonesia-nya beneran pake bahasa indonesia yang baik. Tapi jadi terlalu panjang. Nah terus consultantnya komentar : ternyata bahasa Indoensia itu nggak kaya ya?

Bingung gue, karena menurut gue sebenernya bahasa Indonesia itu kaya kok. dan Indah bunyinya.. gimana nggak kaya? jelas-jelas suku di Indonesia banyak banget dan pasti kan masing-masing nyumbang beberapa kata ke perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Cuma masalahnya ya itu dia… nggak dibakukan, jadi nggak ada standardnya, kata ini artinya apa, ini artinya apa. Sementara kata-kata yang baku, jarang sekali dipakai, maka jelas aja kalau orang-orang jadi nggak kenal lagi dengan kata-kata itu…

blood

Piknik_72

where are the chains, you say? You can’t see them. But they’re there.

And they bind us together…

Some say, blood is thicker than water. It’s true, really.. so thick that it sufffocates you once you enter. And you can drown so deep in it that you lose all chance of clarity, unable to point yourself in the right direction, or at least in the direction you intend to go..


although there will always be those moments when -in a burst of escapism- you just long to run away and hide from it all..this serves very well for that purpose. you can just lose yourself in it. not in a sense of refuge, but in the sense that your wants, needs and free will is somehow deemed insignificant… and you can be exactly what you want to be in that exact moment..

…invisible…

hayo hayooo

pernah kau coba bicara pada angin, berharap ia sudi mendengar selagi lalu?

mengapa kau terkejut bila kau tak asing bagi setiap labuhnya?

kisahmu dititipnya disana, meski waktu telah mengubahnya sedikit…

pernah kau coba berkisah pada angin, namun kau lupa ia senantiasa lalu bagikan kisah pada dunia…