Class of 2015

Tahun 2015 kemarin, menjadi salah satu tahun yang paling menantang dalam karier gw. Kalau sebelumnya tantangan selalu salah satu : mengelola team atau project besar tapi individual. Kali ini…. digabung aja dong ah. Jadi sekaligus mengelola team untuk tugas yang sifatnya rutin atau business as usual  dan beberapa project kecil, sekaligus ada beberapa project besar yang dikerjain sendiri.

Kalau ditanya mana yang lebih berat, buat gw pribadi jelas mengelola team jawabannya. Untuk project, sesusah apapun itu, selama sifatnya masih individual gw pede bisa menyelesaikan dengan rentang waktu dan kualitas yang gw mau. Toh praktis hampir seluruh kendali ada di gw, terlepas dari hal-hal yang sifatnya force majeure. Ibarat kata, sampai titik komanya pun bisa gw tentuin sendiri.

Mengelola sebuah team, yaaaaaa sungguh sangat berbeza. Banyak kepala, artinya banyak pendapat dan banyak “personality”. Butuh proses buat menyatukan dan membentuk sebuah konsensus bersama. Apalagi mayoritas team ini isinya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, jadi butuh perhatian sedikit ekstra.

Dan sepanjang tahun 2015 kemarin, ternyata aneka ria safari banget orang-orang yang hadir (dan pergi) di team gw itu. Hopefully semuanya bisa jadi lessons learnt buat gw untuk lebih baik lagi di tahun 2016.

Para Jebolan Development Program

Di team gw, pernah dapet 2 anak lulusan development program. Dua-duanya pekerja keras, cepat belajar dan penuh inisiatif, nggak banyak nuntut. Dua-duanya juga alhamdulillah “lulus” dari team gw untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Yang satu, dapet kesempatan untuk mengelola team sendiri di perusahaan lain. Satunya lagi memilih untuk fokus mengurus anak. Di satu sisi senang, sisi lain sedih karena …. harus cari orang baru doooong 😦 Baru juga selesai ngajarin udah ditinggal. Gw yang capek ngajarin, orang lain yang ngerasain produk jadinya.

Salahnya sih, mungkin karena gw kerja di perusahaan yang masih kecil dan belum terlalu well managed, jadi ya untuk dapet tantangan lebih terkadang harus cari kolam lain. Bisa dimaklumi sih.

Tapi pengalaman di team lain juga ada yang lucu-lucu. Ada yang ngambek sama atasannya karena teman seangkatannya naik pangkat sedangkan dia nggak. Padahal kinerjanya jelas berbeda dibandingkan temennya yang handle project besar. Ada juga yang pas penilaian kinerja menilai dirinya “Sangat Baik” dan protes ke atasannya yang memberi nilai “Cukup”, sampai eskalasi ke atasan yang lebih tinggi. zzzz…. opo toh iki. Untungnya ini semua kejadian di team orang lain hohohoho…

Gw juga dulu lulusan Development Program sih (meski di perusahaan berbeda). Dan kayaknya gw sama teman-teman dulu lebih fokus ke membuktikan diri sebelum minta macem-macem. “Lapar” minta project dan tugas yang bisa menunjukkan kontribusi kita ke perusahaan. Fasilitas tentunya datang belakangan, dan tergantung bagaimana hasil pembuktian diri di tugas sebelumnya. Tentunya dari teman-teman seangkatan, perjalanan kariernya nggak selalu berbarengan, dan kami semua paham bahwa memang tidak otomatis . Sekarang, 9 tahun sejak lulus, ada yang baru naik pangkat 1 kali (jadi Manager) tapi ada juga yang udah jadi VP. Berbanding lurus dengan usaha dan kerja keras masing-masing.

Fresh Graduate

Lagi-lagi karena di perusahaan kecil, umumnya fresh graduate yang masuk datang dari universitas yang nggak terlalu bagus, yang dirasa “cukup” untuk mengerjakan tugas yang sifatnya rutin dan sederhana. Gw pribadi nggak suka dengan filosofi seperti ini, karena harapannya orang dan organisasi akan berkembang bersama. Kalau terlalu banyak rekrut orang yang “cukup” untuk ngerjain yang “gitu doang”, lalu bagaimana ketika organisasi berkembang dan menuntut SDMnya ikut berlari?

Dari dulu gw juga selalu berharap bahwa semua orang yang pernah masuk di team gw bisa lulus dan jadi lebih baik atau bahkan melampaui gw. Makanya, gw punya ekspektasi besar dan cenderung nggak mau ngasih assignment yang sederhana. Sayangnya, banyak fresh graduate jaman sekarang punya mental yang mau gampang aja. Kerja untuk uang, uangnya buat jalan-jalan dan jajan chiki. Maunya pulang tenggo, maunya udah dikasih tau harus ngapain tanpa dia harus mikir susah-susah. Idiiiiih aku sih males yes ngurusin yang kaya begitu.

Tantangan terbesarnya adalah mengajarkan etos kerja dan etika komunikasi business. Apalagi team gw melayani semua level organisasi, mulai dari staff sampai direktur. Nah yang paling bikin sakit kepala ya itu tadi, jawab email direktur dengan bahasa seadanya atau terlalu technical sehingga nggak dipahami orang awam. Atau ada juga yang hobinya tarsoktarsok, entar aja besok aja ngerjainnya.

Experienced Hire

Sepusing-pusingnya ngurusin anak kecil, ternyata lebih pusing ngurusin anak yang ngerasa udah gede. Apalagi yang datang dari perusahaan lebih besar, hobinya banding-bandingin : “di tempat gw yang lama kaya gini ada staff yang ngerjain”, “di tempat gw yang lama gw nggak ngerjain ini”. Well, you are very welcome to go back there. Padahal sejak interview gw udah kasih pahit-pahitnya lho, bahwa di sini kondisinya begini begitu. Lah gw aja waktu baru pindah ke kantor ini fotokopi apa-apa sendiri kok, padahal di kantor lama tinggil minta tolong OB.

Yang lebih pusing lagi, terkadang suka distorsi soal keseimbangan hak dan kewajiban. Ada lah yang tiap hari telat dengan alasan macet, and I literally mean TIAP HARI TELAT, tapi pulangnya mau tenggo. Seriously man, you’ve been working in the same area for 9 years, and you still use the traffic jam excuse? Ada yang suka ngilang dari meja berjam-jam tanpa ada yang tahu dia dimana.

Ada yang pulang tenggo dilanjutkan cuti dadakan berhari-hari ketika ada project yang harus selesai dalam minggu itu, akhirnya gw terpaksa minta tolong anggota team yang lain plus ikut terjun sendiri (dalam keadaan hamil 7 bulan) buat kelarin project itu sampe jam 11 malem. Besoknya dateng cengangas cengenges nanya apa kabar. MENURUT NGANA TORANG PE KABAR BEGIMANA?

*jambakjambakrambut

Ya lucu-lucu gitu lah modelnya. Apalagi pas lagi hamil hormon suka fluktuatif, ngadepin yang kayak gini ya rasanya gimana yaaaaa

Anyway, semoga balik dari cuti melahirkan, gw punya semangat baru untuk mencoba strategi-strategi lain menghadapi aneka rupa anggota team dan segala dramanya. Minimal lebih zen lah… *komatkamitbacamantra

Seputar Bonus

Duaribulimabelas sadis ah, dari awal udah nggak kasih nafas.

Balada orang HR, sibuk gilak ngitungin bonus orang banyak. Meskipun untuk gw, ini selalu jadi pengingat untuk nggak lepas bersyukur dan mensyukuri apapun bentuk rejeki yang kita terima. Udah kebal banget lihat angka angka dengan sekian digit yang berkali-kali lipat dari gaji gw, dan udah nggak sirik. *hore*

Dan untuk para karyawan yang membaca, ini sedikit insight seputar bonus.

Setelah hampir 8 tahun berkutat dengan dunia HR – dimana sebagian besar waktu gw dihabiskan di bagian rewards  – gw menemukan masih banyak karyawan yang nggak paham (atau nggak mau paham) soal filosofi bonus.

Bonus, secara kasar artinya tambahan. Artinya, bukan bagian dari kewajiban dasar. Artinya, boleh dikasih, boleh juga nggak. Umumnya, bonus diberikan kalau perusahaan mencapai keuntungan yang lumayan baik, dan setelah dikurangi aneka biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan bisnisnya, masih ada sisa lalu dibagikan ke karyawan. Pemahaman gw, dalam bahasa gampang, dasarnya begitu.

Kalau dari sisi pengelolaan SDM, pembagiannya pun bisa jadi diatur lebih detail. Bonus bisa dianggap sebagai bentuk apresiasi perusahaan kepada karyawan yang sudah bekerja keras sehingga target perusahaan tercapai. Oleh karena itu kalau mau adil, seharusnya proporsi bonus lebih besar diberikan kepada karyawan-karyawan yang memang punya kontribusi lebih signifikan dibandingkan yang tidak. Artinya kalau si A kerjanya lebih bagus daripada si B, harusnya bonus A lebih besar dong. Ya kan? Pun, bonus ketika kinerja perusahaan sedang baik pasti akan lebih besar dibanding ketika kinerja perusahaan sedang nggak optimal.

Masalahnya, banyak karyawan yang merasa bonus itu kewajiban perusahaan. zzzz….. Jadilah banyak orang suka teriak-teriak bilang bonusnya sedikit.

Contoh kasus, ada karyawan yang sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan top 5 di industrinya, lalu pindah ke perusahaan gw yang bisa dibilang masih new player. Tingkat profitnya jelas beda dong ya, antara perusahaan yang sudah settle dengan yang masih membangun diri. Tapi si karyawan ini ngomel-ngomel karena menurut dia bonusnya terlalu kecil dan membandingkan dengan bonus dia di perusahaan lama. Hey, man, you should have thought of that before you moved here.

Gw personally paling bencik sama orang yang banyak nuntut, tanpa melihat konteks, tanpa berhitung keseimbangan antara hak dan kewajibannya.

Sekian ngomel-ngomel hari ini, kalau ada yang masih merasa bonusnya sedikit, sesekali bersyukurlah masih dapet bonus. *tutuplaptop*

Exhausted

With great power comes great responsibility. Being VP at 30, is a lot to handle. Memang secara judul nampak keren, tapi job description nya pun puanjang dan lebar.

Plus, tim masih compang-camping. Pasukan belum lengkap, dan kebanyakan di tingkat junior.

Plus, punya anak bayi.

Plus, terkadang masih sok idealis. Ya untuk parenting, ya untuk kerjaan.

KELAR.

No, no, am not complaining (well, trying really hard not to). Tapi nggak bohong, capeknya luar biasa. Apalagi ketika kebanyakan orang merasa pantas jadi komentator, sumbu gw langsung pendek lah itu.

Terkadang gw cuma butuh afirmasi, that I’m doing OK. That I’m an OK mother. Not perfect, but OK. And that is enough. Pfft….

H-17 : Should’ve Would’ve Could’ve

Tidak terasa sudah tinggal 18 hari lagi…

Pada titik ini saya sungguh menyesal kenapa dulu tidak mendengarkan suara hati untuk menggunakan jasa Wedding Planner. Dear para capeng, tolong dicatat : kalau kamu & pasangan sama-sama budak korporasi 9 to 5, kalau kalian bukan datang dari keluarga besar yang siap repot, dan kalau sekiranya teman-teman kalian tipe yang acuh tak acuh pada pernikahan : do yourself a favor and use a wedding planner. Serius deh ya, kayaknya daripada budgetnya buat foto pre wed lebih baik dialokasikan ke wedding planner.

Di bulan-bulan awal memang tidak terlalu terasa, apalagi kalau acara kita tergolong “standard” seperti pernikahan pada umumnya. Tapiiiii, lihat nanti 2 bulan menjelang hari H. Dijamin jungkir balik.

Dulu saya juga berpikir “apa susahnya sih, kan vendor bisa komunikasi lewat telpon email atau bbm?”. Ternyata ya susah. Susah karena menyita konsentrasi, menyita waktu, terkadang ada hal urgent yang perlu di tindak lanjuti tapi di saat yang bersamaan mungkin kita sedang meeting sehingga tidak bisa tertangani. Susah.

2 minggu sebelum hari H, rencananya akan diadakan Technical Meeting dengan seluruh pihak yang terkait pada saat resepsi. Saya sudah berencana untuk cuti. Coba tebak apa yang terjadi? Saya ditugaskan ke luar kota pada H-1 dan H-2 Technical Meeting tersebut, dan tidak diizinkan cuti pada hari H technical meeting.

Homaygat.

Bismillah ya Allah, berikan kesehatan dan kekuatan…