The Wedding | Kebaya by Renzi Lazuardi

This is the guy that saved my wedding. Masih inget bahan cantik yang ada di posting ini? Karena sok mau hemat dan menyerahkan kepada penjahit kebaya yang seadanya, alhasil kain itu termutilasi. Rencana awal sih model simpel kan ya, tapi tahu sendiri apapun yang simpel kalau ada cacat sedikit pasti jadi kelihatan banget, dan ini cacatnya cukup fatal. KEBAYA SAYA MIRING SODARA SODARI! Yang lebih bikin kesal, sang penjahit bilang pasti mata saya yang salah. Ealaaaah, mata elang begini dibilang salah. Udah deh mas, ikutin aja penganten maunye ape! *culek

Setelah awalnya sempat mau memberikan kesempatan kedua pada sang penjahit, tapi kok hati ini nggak bisa tenang. Aku kan cranky ya, kalau tiba-tiba kebayanya tetep nggak sesuai keinginan gimana? Kalau udah bingung gini, saatnya minta masukan dari calon suami.

Me : “gimana ya ini kebayanya?”
Him : “sreg nggak sama penjahit kemarin?”
Me : “nggak tahu sih. Abis sayang kalau harus beli bahan lagi kan”
Him : “tapi yakin nggak dia bisa?”
Me : “nah itu dia… Ya udah lah ya gapapa, kan cuma dipake berapa jam doang”
Him : “tapi muka lo kalo gak puas tu keliatan banget. Mending cari penjahit lain aja deh, daripada pas nikah muka lo bete. Ngeri dikira orang lo kepaksa nikah ama gw.

Jyaaah. Tapi bener juga sih, saya paling nggak bisa bohong kalau nggak suka sama sesuatu. Masa nanti foto-foto hari H saya terlihat bermuram durja? Akhirnya dengan berat hati, saya memutuskan membatalkan pesanan saya ke penjahit itu. Saya tetap membayar sesuai dengan harga bustier dan satu kebaya yang sudah terlanjur jadi (meskipun miring), tapi bahan kebaya resepsi saya minta dikembalikan supaya bisa saya bawa ke penjahit lain.

Masalahnya, saat itu kalender menunjukkan bahwa tersisa 1,5 bulan menuju hari H. EBUSET. Patah hati berkali-kali saya ditolak sana-sini sama penjahit deh. Lalu sepupu saya bilang kalau salah satu sahabatnya bisa bikin kebaya, namanya Renzi Lazuardi. Seperti biasa, saya langsung googling dan nemu instagramnya. Sekali lagi, aku jatuh cinta. Dan alhamdulillah, kali ini nggak ditolak. Mungkin dia iba ya sama calon pengantin yang terancam bugil ini. Ahahaha…

Semua berawal dari BBM, kemudian lanjut janji kencan di Plaza Senayan supaya menyamakan konsep dan persepsi, sekaligus serah terima bahan kebaya resepsi. Ngobrol-ngobrol seputar designer ternama, mulai agak kebaca deh sense of aestheticsnya Renzi ini, dan kayaknya cucok lah sama saya. Masuk ke budget, saya langsung jujur-jujuran di awal aja : budget saya awalnya sekian, untuk dua kebaya yaitu akad dan resepsi. Tapi sebagian sudah terlanjur dipakai untuk kebaya akad yang gagal itu, dan saya udah nggak punya budget lagi. Singkatnya waktu itu saya bilang, saya punya uang segini untuk bikin dua kebaya dalam 1,5 bulan. Sanggup nggak?

Si Renzi ini senyum-senyum aja loh sambil mengucapkan kata-kata menenangkan. Fyuh. Alhamdulillah deh ketemu penjahit yang bisa jadi pawang bridezilla begini. Ternyata, itu karena Renzi juga sedang merintis bisnis WO, dan dia pun bisa juga jadi wedding singer maupun pre-wed photographer. WOW! Multitalenta! Coba dari awal ketemunya, mungkin saya tinggal leha-leha ngupil di kasur, nggak usah pusing ngurusin kawinan.

Yang saya suka dari Renzi adalah karena sama sekali nggak perhitungan. Ada beberapa item yang nggak ada di deal awal kita, tapi tetep dikasih sama Renzi hratis ataupun dengan harga yang bersahabat. Dia juga seringkali muncul dengan aneka inisiatif yang meskipun bikin effort dia jadi lebih besar, tapi bikin hasil akhirnya jadi bagoss. Misalnya :

  1. Kebaya akad saya model kutubaru. Untuk menghindari kebaya geser-geser yang suka bikin bustier ngintip, akhirnya bustier pun diakalin sehingga seolah-olah menjadi bagian dari kebaya. Jadi mau petakilan kayak apa, kebayanya tetap nempel cakep di badan. Inovasi inipun yang kelak akan menyelamatkan saya ketika ada tragedi bustier jebol. Note : episode bustier jebol ini bukan salah Renzi lho ya, tapi murni karena saya yang semakin menggila makannya menjelang hari H.
  2. Tambahan train yang bisa dicopot-copot supaya lebih dramatis pada saat kirab menuju pelaminan.
  3. Penambahan payet di beberapa bagian supaya nggak terkesan sepi. Jadi sebenarnya bahan yang saya beli itu sudah ada payetnya, dan perjanjian awal nggak akan ada payet tambahan biar keburu. Tapi karena dirasa terlalu kosong, ditambahin deh sama Renzi.
  4. Merombak (dikit kok) bagian bahu kebaya akibat dirasa terlalu seksi oleh CPP :p
  5. Menambah payet dan mengganti kancing di jas CPP.
  6. Menemani selama proses persiapan di resepsi, mulai dari pemakaian baju (tentunya saya nggak bugil2 amat ya tapi udah pakai bustier), sampai selesai prosesi kirab. One of my favorite pics dari keseluruhan prosesi bahkan hasil jepretan Renzi juga.
  7. Menenangkan bridezilla dikala panik melanda.

20130815-091454.jpg20130816-222156.jpg

20130816-222704.jpg

Untuk kebaya resepsi, untungnya bahan yang saya punya belum terlanjur rusak parah. Sebagian sudah sempat dipotong sama penjahit sebelumnya, tapi karena model yang saya minta simple dan nggak banyak ornamen (mengingat bahannya udah rame gila begono), jadi masih bisa dikaryakan oleh Renzi tanpa harus ganti baru. Akhirnya saya cuma nambah sekitar 1,5 meteran yang terlanjur dipotong.

 

IMG-20120808-01021
Bahan asli, apa adanya.

20131008-002132.jpg20131008-002204.jpg

Hasil akhirnya bener-bener sesuai, bahkan melebihi ekspektasi saya deh. Selain payet yang sudah ada di bahannya, Renzi menambah lagi payet di area-area yang butuh penekanan seperti misalnya di neckline, atau area yang butuh kamuflase (misalnya buat nutupin lengan yang menggemuk hehehe). Renzi juga ikut hadir di hari-H untuk bantu proses pemakaian kebaya, padahal sebenarnya model kebaya ini sangat simpel dan mudah dipakai.

Overall? I felt so pretty in that kebaya, exactly the way a bride should feel on her wedding day.

Mungkin kalau lihat hasil kebayanya, nggak akan ada yang nyangka bahwa proses pembuatannya begitu singkat. For that, Renz, I will always be grateful to you. *kecup

The Wedding | MakeUp by Angelina Grace

4 thumbs up buat vendor yang satu ini. Mbak Angel berhasil menyulap mukaku jadi anak daro sejati. Saya dapat rekomendasi Mbak Angel dari sepupu saya yang waktu nikah juga di make up Mbak Angel. Setelah lihat portfolionya langsung jatuh cinta karena selain piawai pegang make up modern atau ala barat, tapi make up tradisionalnya juga bagus. Nama Mbak Angel juga sering sekali muncul sebagai make up artist di artikel berbagai majalah pernikahan. Meskipun belum pernah ketemu muka, tapi contact via bbm dan email lancar banget dan jelas. Akhirnya ketemu waktu Mbak Angel make up sepupu saya untuk acara lamarannya, dan setelah lihat hasilnya secara langsung, saya book deh tanpa test make up dahulu. Namanya feeling kalau udah sreg ya saya nggak akan banyak pertimbangan lagi. Mbak Angel juga terbuka sama saran-saran saya. Saya nggak suka dengan bulu mata ala Syahrini yang saking panjangnya sampai nabrak-nabrak alis. Setelah test make up sekitar sebulan sebelum acara, saya minta bulu matanya diganti dengan jenis yang agak lebih pendek. Setelah diskusi dengan Mbak Angel soal kenyamanan vs “mata hidup”, akhirnya Mbak Angel bersedia mencarikan bulu mata sesuai request saya.

Pada hari H, Mbak Angel & team datang tepat waktu dan bekerja dengan sangat cepat. Maksimal 1 jam kayaknya untuk make up. Seperti cerita saya sebelumnya, saya merasa cocok dengan gayanya Mbak Angel yang bikin wajah terlihat manglingi tapi nggak sampai berbeda banget.

compressed

Selain make up saya dan para mama, Mbak Angel juga menyewakan dan memakaikan sendiri sunting saya. Hasilnya? I love it! I feel beautiful, dan suntingnya nggak terasa sakit maupun (terlalu) berat. Saya juga boleh pilih sendiri model Laca atau hiasan dahinya, karena Mbak Angel membawakan beberapa alternatif pilihan. Sunting lalu sakseus nyangsang di kepala mulai dari jam enam sore sampai jam setengah sebelas malam tanpa keliyengan. Buktinya saya masih bisa cekakakan dan petakilan kok di pelaminan. Palingan kalau agak terasa turun, saya angkat dikit sesuai tips dari Ninda. Sesudah acara, Mbak Angel & team balik lagi untuk membantu proses pelepasan suntingnya. Pokoknya top lah untuk Mbak Angel.

melrose
cekakak1cekakakangkaaat Konde turun? Angkat aja dikiit

The Wedding | MakeUp by Marlene Hariman

This is the person that makes the magic happens. Dari awal saya memang kurang tertarik untuk mempercayakan make up pada perias adat. Soalnya garis muka saya itu (menurut saya sih) agak jadul dan tradisional banget, jadi takutnya kalau dipulas pake pakem adat hasilnya akan kurang muda-mudi. Saya tahu sih banyak juga perias adat yang sebenernya sekarang udah nggak terlalu keukeuh sama pakem, tapi setahu saya juga harganya diluar pakem kantong saya ahahaha *ketawamiris*

Waktu awal berencana menikah, kan konsep awalnya saya mau tanpa adat ya. Yang sederhana, bersahaja, modern dan elegan aja. Kalaupun ada unsur adatnya hanya sebagai aksen. Tapiiiiii pengantin cuma bisa berencana, orang tua yang akan menentukan juga. Dari yang tadinya mau akad nikah didandanin tipis sederhana, rambut simple, pada akhirnya menjadi … penganten jawa adat Solo Putri. Duar! Padahal dari awal saya udah bilang nggak mau dipaes karena bikin muka keliatan semakin chubby.

Selain itu, saya pribadi nggak suka make up yang tebal dan medok, yang sampai membuat muka saya berubah banget. Pernah saya survey salah satu make up artist, karena lihat hasil riasannya di majalah. Lihat portfolionya, pas foto before sih muka pengantinnya beda-beda, tapi begitu foto after kok podo kabeh alias sama semua mukanya. Ini sih namanya jasa pasang topeng, mau mukanya kayak apa dibikin jadi cantik ala template si make up artist.

Angan-angan tatanan rambut dan muka di hari-H. Pic taken from Aisle Candy.

Pada akhirnya saya mengalah pakai adat Solo Putri dengan syarat : make up artistnya saya yang pilih. Setelah cari-cari ke sana kemari lalu dapat rekomendasi nama Marlene Hariman. Ternyata dese adalah make up artist untuk photo shoot nya cotton ink (one of my fave local brands), dan kalau lihat portfolionya sesuai dengan hasrat dalam hati : simple tapi cantik!

Saya jatuh cinta sejak test make up. Waktu itu, jadwal Marlene hanya kosong di pagi hari sekitar jam 10, padahal saya mau sekalian pakai make up nya untuk ke undangan malam (ogah rugi). Dan tebak apa, make up nya tahan lho sampai malam! Yang saya retouch cuma lipstick ajyah!

20130503-130646.jpg20130503-121848.jpg

Sayangnya karena tanggal pernikahan sempat digeser-geser, alhasil saya terlambat booking Marlene untuk resepsi saya. Hiks. Tapi untuk semua rangkaian acara pernikahan lainnya, mulai dari lamaran, pengajian, siraman dan akad nikah saya percayakan ke Marlene deh.

20130503-134315.jpg20130503-135043.jpg20130503-134852.jpg

Bagoooos kaaaan? This woman creates magic with her hands! Pokoknya review saya buat Marlene tiada cela deh. Orangnya ramah tapi nggak terlalu banyak omong, dan sangat terbuka kalau saya tanya-tanya ini itu soal make up, termasuk produk-produk apa aja yang dia pakai. Bisa kerja sama dengan baik sama perias adat (untuk paes & sanggul), cepet tanggap sama request saya & mama juga, sigap (selalu datang lebih cepat ke venue, dan proses meriasnya tergolong cepet banget) dan yang penting hasilnya : nggak medok, makes me feel it’s the prettier version of myself.

Untuk contactnya silakan langsung ke blognya aja ya : http://www.marlenehariman.blogspot.com

The Wedding | Undangan Akad & Resepsi

Detail Undangan

Yang namanya undangan intinya kan informasi ya, bahwa kita sebagai pihak pengundang akan mengadakan acara apaan, hari apa jam berapa, dan yang datang bakal ngapain aja atau harus siapin apa aja. Untungnya kedua keluarga pun sepakat bahwa kita nggak mau masukin terlalu banyak “kata berbunga” yang bisa menyebabkan undangannya jadi berlembar-lembar dan nggak ringkas.

Karena acara dilaksanakan di 2 hari yang berbeda, jadi undangan pun dibagi. Ada tamu yang diundang hanya untuk akad nikah, yaitu untuk keluarga dekat, sahabat sangat dekat dan tamu yang sudah sangat sepuh. Untuk mengakali adanya pihak-pihak yang suka merasa tersinggung kalau nggak diundang (padahal sih nggak dekat-dekat amat), saya undang juga pas akad nikah. Berhubung hari kerja, jadi mungkin orang yang tidak dekat juga mikir-mikir kan mau datang. Lagipula banyak orang (aneh) yang ngomel atau tersinggung kalau nggak diundang, padahal diundang juga nggak datang. Hahah.

Format undangan akad dan resepsi sama. Satu lembar karton, di satu sisi adalah informasi dasar seperti nama CPW CPP dan keluarga, waktu dan tanggal undangan. Di sisi lainnya adalah peta dan informasi tambahan seperti lokasi parkir. Pertimbangannya supaya kita mudah juga untuk distribusinya. Kalau diundang di satu acara ya masukin satu undangan ke amplop, kalau diundang dua acara ya masukin dua-duanya. Tutup amplop, masukin plastik, tempelin stiker alamat, kirim. Beres.

Desain Undangan

Sejalan dengan ditemukannya color scheme yang sudah cucok di hati CPW beserta kain kebayanya, maka berlanjutlah ke PR selanjutnya yaitu undangan. Browsing sana sini banyak nian yang ditaksir, apalagi saya pecinta typography, jadi kalo nemu font lucu rasanya langsung pengen tempelin di undangan. Tapi kok kalau dilihat lagi, undangan yang saya taksir itu memang lebih cocok dengan tema awal yaitu simple vintage garden party. Padahal ini udah jelas jadinya nikah di gedung, bahan kebaya nggak ada simple-simplenya pula. Intricately sequined!

Fingerprint-Modern-Letterpress-Wedding-Invitations-Cordes-Printing-6-550x366

southern-wedding-04

Begitu survey ke gedung, ternyata memang nggak salah selera ibunda. Cantik sih. Klasik, tidak terlalu banyak ornamen, dan pas liat langit-langit eh lho kok keren lampu dan desainnya ala-ala art deco? Pas dilihat font penanda gedungnya, ealaaaaa alaa art deco juga fontnya! Kok ya dia tahu aku suka sekali era-era 1920-1930an? Dan akhirnya jadilah, desain undangan mengarah ke gaya-gaya art deco seadanya. Namapun bikin sendiri ya, mau gimana lagi deh.

Lucky-Luxe-Couture-Correspondence-Gatsby-Letterpress-Wedding-Invitations2
Gorgeous Art Deco Invitations by Lucky Luxe
deco-letterpress-sample-2
Bella Figura‘s amazing art deco invites
deco-letterpress-sample-1
Front view of Bella Figura’s invitations

Soal undangan ini, alhamdulillah dapat bantuan dari teman Mama yang punya percetakan. Let’s say it was his wedding gift for us. Sebagai orang yang tahu diri, saya tanya dulu dong sama si Oom, kira-kira kita bisa pakai kertas yang mana aja Oom, tintanya boleh berapa warna, dll. Apa jawab si Oom? Choose anything you like. Malah kita diajak tur keliling percetakannya dan melihat semua proses kerja mulai dari desain sampai jadi barang cetakan. Masih ditambah bonus pula untuk kartu penukar souvenir dan packaging tanda terima kasih. Yaampun Oom makasih banyak yaaa, semoga dikaruniai sukses kesehatan dan bahagia lahir bathin sepanjang usia *amin.

Ada tapinya? Ada sih. Percetakan ini bukan spesialis undangan, lebih banyak melakukan pengerjaan barang cetakan untuk perusahaan. Flyer, brosur, poster, kalender, dll. Jadi desain bukan salah satu aspek kekuatannya. Mau nggak mau artinya apa sodara-sodari? Yaaa…. desainlah sendiri undanganmu. Hohoho…

Ets jangan panik, untungnya ada teman papa yang desainer grafis. Jadilah saya recokin si Oom desainer di kantornya untuk minta waktu diskusi soal undangan. Tapi jangan salah, mulai dari cari font, cari ornamen desain yang pas, sampai kertasnya, semua CPW dan CPP yang ngerjain. Bahkan peta lokasi pun gambar sendiri di powerpoint, baru abistu minta desainer percetakannya pindahin ke format corel ahohohoho…

Untuk soal undangan ini, pokoknya alhamdulillah deh. Semua jadi tepat waktu, kualitas ciamik, desain pun memuaskan di hati CPW CPP dan segenap keluarga. Terima kasih mama papa dan teman-temannya 🙂

Cetak undangan : Siem n Co.

Jl. Garuda No. 86
Kemayoran Jakarta 10620
Indonesia
T. 62 21 424 5109 (Hunting)
F. 62 21 425 7619
E. info@siemnco.com

H-43

2 minggu lalu sepupu saya baru saja menikah, dan meskipun bukan panitia ternyata tetap yaa pas hari H adaaaa aja yang harus dikerjakan. Lumayan lah, jadi lessons learnt supaya lebih kebayang kondisi on the day nya itu seperti apa. Kelar acara, tentunya tepar masih sangat bersisa. Kayaknya pengen tidur yang laamaaaaaa banget. Saya baru sadar ternyata hari H itu melelahkan sekali, kebayang banget itu adik sepupu saya badannya remuk kayak apaan. Mak dar it, saya merasa bole dong beberapa hari nggak urusin nikahan dulu, capek tauk abis urusin nikahan orang, toh belanda masih jauh.

Guess what? Di Path mendadak ada tag :

Morning Dear, another 43 mornings till …

*prang*

empat

puluh

tiga

hari

????

Langsung dong panik cari buku pintar, ubek-ubek apa aja yang masih belum confirm.

HYAOLOOO MASI BANYAK. Ini gak bole topan dulu yak? Masih rontok ini badannyaaa… Alhasil jadilah minggu ini super produktif. Dan alhamdulillah banyak banget checklist yang berhasil dicontreng minggu ini.

1st on the list : Penataran persiapan pernikahan di KUA

Karena masjidnya masuk Kecamatan Kebayoran Baru, jadi kita ke kantor KUA yang di Jalan Kerinci, dekat Mayestik. Waktu absen kita sempat ditanya

Bawa Al Qur’an nya nggak?

Agak bingung buat apaan, karena kita nggak tau ada info untuk bawa Al Qur’an? Jangan-jangan di tes suruh ngaji nih. Tapi ternyata, Al Qur’an itu dimaksudkan sebagai sumbangan calon pengantin ke KUA nya. Penataran ini sih sebenarnya lebih berupa himbauan supaya calon pengantin sadar akan perannya masing-masing dalam keluarga. Bagaimana cara menghadapi konflik, menjaga mood satu sama lain, dan sebagainya. Tapi lama-lama ini ibu-ibu yang memberi penataran mulai bahas yang nyerempet-nyerempet terus, bahas soal “minta jatah” terus. Hadeh males bener deh ya bu.

20120925-195514.jpg
Buku yang dibagikan untuk bekal berumah tangga.
Jangan lupa halaman 19 : Makin Mesra Usai Malam Pertama

Selepas sesi si ibu, datang salah satu penghulu untuk memberikan pengarahan tentang proses Ijab Qabul. Lucunya si bapak ini, selalu menekankan :

Nanti pada saat salaman, jangan lupa meleng dikit ke kamera. Sayang kamu bayar tukang foto mahal-mahal kalo muka kamu nggak keliatan. Inget ya! Pas salaman, meleng kamera. Salamannya juga jangan cepet-cepet biar sempet difoto. Pasang cincin pelan-pelan juga. Pas tandatangan juga.

Dan pak penghulu ini sama sekali lepas dari image penghulu yang sok gue-penting-loh, nampaknya sangat membumi dan mencintai pekerjaannya. Semoga Bapak tetap ceria dan menyenangkan ya Pak…. Kebayang pengantin yang dapet dia jadi penghulu, pasti adem dan tenang hatinya, nggak tegang. Sayangnya saya nggak sempet cari tahu namanya, dan ternyata pun saya kebagian penghulu yang berbeda juga.

Berhubung nanggung sudah sampai Kerinci, akhirnyaaaa kita berhasil juga nyicipin makan di RM Sepakat yang di Mayestik, sekalian ketemu teman-teman kuliah si abang yang rumahnya dekat mari. Kemarin RM Sepakat ini sempat lama nggak beroperasi akibat renovasi gedung pasar mayestik. Gedungnya sekarang enak banget lhoo. Pake AC!!! Huwoowww. Perut kenyang, hati senang, alhamdulillah….

Perhentian #2 : Sanggar Minang Djus Masri

Selepas dari Mayestik, tujuan berikutnya adalah Sanggar Minang Djus Masri, untuk keperluan sewa songket dan demang untuk resepsi. Alasan memilih Djus Masri sebenarnya bisa dibilang nyaris tanpa pertimbangan. Berhubung resepsi cuma akan menggunakan “nuanasa” adat Minang, jadi sebenarnya memang tidak terlalu banyak properti yang akan dipinjam. Lalu dapat info bahwa sepupu si abang yang akan menikah seminggu sesudah saya menggunakan jasa Djus Masri, bahkan dari jaman kakak-kakaknya. Intinya sudah terpercaya lah oleh keluarga besar.

Pada saat survey, sanggarnya cukup ramai padat oleh pasangan-pasangan keturunan Minang dengan mata berbinar kepengen kawin *ahahaha lebay*. Tante Djus nya mendatangi sendiri lho masing-masing pasangan & orang tuanya diajak ngobrol. Meskipun obrolannya nggak mendetail, tapi lumayan bikin adem hati bridezilla, berasa diperhatiin dapet personal attention gimana gitu kan. Penting lho itu, catat ya wahai para vendor : itu penting.

Yang penting lagi : harganya sungguh bersahabat. Saya memang nggak sempat survey ke Des Iskandar atau Elly Kasim – atau lebih tepatnya nggak berani – karena deg-degan dengar gosip sana sini bahwa harganya mahal. Tapi yang pasti di Djus Masri masih cukup terjangkau. Ahahaha memang tiada yang lebih penting daripada ini di kamus saya.

Kalau memang ingin pernak-pernik adat Minang yang tradisional, kayaknya memang tepat ke Djus Masri. Persediaan baju pengantin maupun seragam orang tua tersedia dalam beraneka warna, mulai dari merah yang khas padang banget sampai turqoise pun ada. Tapi ya modelnya memang cuma tersedia ala pengantin Minang tradisional yang kaya ornamen.

20121004-162606.jpg
Sequins Galore – in any color imaginable to man

Perhentian #3 : Koordinasi vendor Catering & Dekorasi di Venue Resepsi

Beberapa saat lalu, saya sempat datang ke acara pernikahan dimana SEMUA BUFFET SUDAH HABIS DI PUKUL 8.15 sedangkan tamu masih mengalir sampai pukul 09.30. Traumatis? Tentunya! Makanya saya langsung hubungi PIC catering dan wanti wanti setengah mati jangan sampai terjadi. Awas pokoknya! Tusuk pake garpu lho ya nanti.

Di acara pernikahan itu pula, nyaris tidak ada dekorasi di sekujur area makan. Paling banter hanya bunga di vas, padahal pernikahan diadakan di ruangan super besar, sehingga menimbulkan kesan kosong.

Berawal dari keparnoan itu, akhirnya saya mempertemukan PIC dekorasi dan catering supaya bisa pada janjian bagaimana dekorasi dan layout di hari H nanti. Jangan sampai yang satu pake taplak hijau pastel, satunya pasang hijau army. Kalau perlu janjian pake referensi Pantone yang sama. Ahuhuhu….

Hari ini ternyata lumayan produktif ya. Aku senang 🙂

Terima kasih ya Ibu & Abang sudah ikut berjibaku dengan semua keriwehan hari ini.

 

4 Bulan Menjelang

Ebuset, udah tinggal 4 bulan lagi menuju hari dimana saya ME NI KAH.

Sadarnya pun akibat dapat email reminder dari The Knot. Isinya? Daftar hal-hal yang seharusnya sudah dan sedang diselesaikan empat bulan menjelang hari H. Makasi loh pagi-pagi bikin saya deg-degan.

Reminder yang pagi-pagi bikin senewen

Penuh rasa takut saya buka emailnya, dan disambut dengan kalimat : BOOK YOUR HONEYMOON. Horeeee saya kan waktu itu sudah sakseus pesan tiket pesawat tepat ketika ada promo super murah Air Asia. Jadi to-do-list nya solved dong. Saya sebagai calon pengantin yang mudah teralihkan perhatiannya dengan sengaja mengabaikan kenyataan bahwa belum book penginapan. Itu nanti ajah, yang penting nyampe dulu ke tujuan. visioner dan berpikir ke depan, lalu lanjut memikirkan hal penting berikutnya.

In this case, hal-hal penting yang harus didiskusikan dengan fotografer, mulai dari foto apa saja yang wajib ada di album sampai dengan tone atau style yang diinginkan :

  1. A (really good) kissing shot Kenapa dicoret? …mmm sejujurnya saya agak malas loh sama foto-foto ciyam ciyum semacam ini. Depan orang lain pula. Kebayang pula di-staging sama fotografernya : “Ya Mbak miringin dikit palanya. Masnya jangan monyong-monyong amat mas. Belai dikit rambutnya.” Foto ciuman aja males, gw nggak kebayang deh kalau bintang film b*kep kayak apa malesnya. Untung itu bukan cita-cita gw ya -___________-‘ Sebenarnya Kissing Shot ini bisa keliatan manis sih, asal pengambilannya artistik. Bayangannya aja misalnya, atau dari jauh dengan foreground di sela-sela detil dekorasi misalnya. Tapi ya itu, I think a good kissing shot should be candid and not staged. Thus, daripada dipaksain ya mending nggak ada ajah nggak sih?
  2. Getting Ready : The Guys + friends, the bride with mom, yang penting di sini kayaknya harus dicari ruangan dengan setting dan lighting ciamik supaya fotonya juga bisa hits.
  3. The Bouquet …ah saya jadi semangat berburu bunga Bouquet ke Rawa Belong 🙂
  4. The Reception Tables …pernikahan di Indonesia kayaknya agak jarang ya yang model sitting dinner. Paling banter juga area meja VIP untuk para pinisepuh keluarga.
  5. The Shoes …sedangkan saya rencananya pake sepatu apa aja yang udah ada. Bisa jadi udah rada bopak-bopak :p Artinya boleh beli sepatu baru dong yaaa. Eh nggak ya?
  6. The Bride in Action ini saya kurang ngerti juga maksudnya apa hahahaha, di websitenya sih gambarnya ada CPP lagi main bulutangkis pake wedding dress. *telpon tim dekor *minta pasang net
  7. Details : mulai dari detil undangan, detil souvenir, detil dekorasi, sampai scenes-scenes yang bisa menerjemahkan tone dan suasana akad/resepsinya. Rencananya akan ada diskusi yang super mendalam dengan team fotografi untuk bisa dapat setting yang terbaik.
  8. The Wedding Cake kayaknya sih… nggak akan ada wedding cake hahahaha. Ngapain juga bikin kue 3 tingkat padahal yang 2 tingkatnya terbuat dari styrofoam. Mending budgetnya buat nambah dessert bar dari catering.
  9. Bridesmaids’ Bouquets. No bridesmaids, so no bridesmaids’ bouquets
  10. The Ceremony and the Reception from various angles. Saya memang nggak ingin terlalu banyak foto rombongan di pelaminan ala foto studio. Lebih ingin banyak foto yang bisa menggambarkan acara di mata tamu. Semoga Kinema bisa menerjemahkan ini ya nantinya. Amiiin…
  11. The Dress …kayaknya ini cuma bagus kalau bajunya bikin yah. Kalau sewa sih…. mmmm… kayaknya sayang ajah
  12. The Hairstyle. Yes! Yes! Yes! I always love a good beauty shot of hairdos.
  13. Scenes, scenes, scenes. Dengan alasan yang sama seperti di point nomor 10 tadi
  14. The Jewelry. Meskipun nantinya akan sewa, tapi yang namanya aksesori adat pasti akan cantik untuk difoto detailnya yah… Hitung-hitung mendokumentasikan kebudayaan, toh?
  15. A Sign of The Times. Nah ini penting nih, supaya anak cucu nanti tahu waktu jaman mama/neneknya nikah apa sih yang lagi ngetrend. Hmmm… kira-kira apa ya item yang bisa “berbicara” mewakili zaman? Foto Obama?
  16. The Staples : a fashion/glam shot, a b&w shot, a dramatic couple shot, an artistic angle shot

Ya kurang lebih gitu lah ya, dari daftar itu memang nggak semuanya bisa diaplikasikan toh, tergantung selera dan gaya pernikahan masing-masing. Untuk lengkapnya, sila dilihat di sini dan sini.