The Wedding | Kebaya by Renzi Lazuardi

This is the guy that saved my wedding. Masih inget bahan cantik yang ada di posting ini? Karena sok mau hemat dan menyerahkan kepada penjahit kebaya yang seadanya, alhasil kain itu termutilasi. Rencana awal sih model simpel kan ya, tapi tahu sendiri apapun yang simpel kalau ada cacat sedikit pasti jadi kelihatan banget, dan ini cacatnya cukup fatal. KEBAYA SAYA MIRING SODARA SODARI! Yang lebih bikin kesal, sang penjahit bilang pasti mata saya yang salah. Ealaaaah, mata elang begini dibilang salah. Udah deh mas, ikutin aja penganten maunye ape! *culek

Setelah awalnya sempat mau memberikan kesempatan kedua pada sang penjahit, tapi kok hati ini nggak bisa tenang. Aku kan cranky ya, kalau tiba-tiba kebayanya tetep nggak sesuai keinginan gimana? Kalau udah bingung gini, saatnya minta masukan dari calon suami.

Me : “gimana ya ini kebayanya?”
Him : “sreg nggak sama penjahit kemarin?”
Me : “nggak tahu sih. Abis sayang kalau harus beli bahan lagi kan”
Him : “tapi yakin nggak dia bisa?”
Me : “nah itu dia… Ya udah lah ya gapapa, kan cuma dipake berapa jam doang”
Him : “tapi muka lo kalo gak puas tu keliatan banget. Mending cari penjahit lain aja deh, daripada pas nikah muka lo bete. Ngeri dikira orang lo kepaksa nikah ama gw.

Jyaaah. Tapi bener juga sih, saya paling nggak bisa bohong kalau nggak suka sama sesuatu. Masa nanti foto-foto hari H saya terlihat bermuram durja? Akhirnya dengan berat hati, saya memutuskan membatalkan pesanan saya ke penjahit itu. Saya tetap membayar sesuai dengan harga bustier dan satu kebaya yang sudah terlanjur jadi (meskipun miring), tapi bahan kebaya resepsi saya minta dikembalikan supaya bisa saya bawa ke penjahit lain.

Masalahnya, saat itu kalender menunjukkan bahwa tersisa 1,5 bulan menuju hari H. EBUSET. Patah hati berkali-kali saya ditolak sana-sini sama penjahit deh. Lalu sepupu saya bilang kalau salah satu sahabatnya bisa bikin kebaya, namanya Renzi Lazuardi. Seperti biasa, saya langsung googling dan nemu instagramnya. Sekali lagi, aku jatuh cinta. Dan alhamdulillah, kali ini nggak ditolak. Mungkin dia iba ya sama calon pengantin yang terancam bugil ini. Ahahaha…

Semua berawal dari BBM, kemudian lanjut janji kencan di Plaza Senayan supaya menyamakan konsep dan persepsi, sekaligus serah terima bahan kebaya resepsi. Ngobrol-ngobrol seputar designer ternama, mulai agak kebaca deh sense of aestheticsnya Renzi ini, dan kayaknya cucok lah sama saya. Masuk ke budget, saya langsung jujur-jujuran di awal aja : budget saya awalnya sekian, untuk dua kebaya yaitu akad dan resepsi. Tapi sebagian sudah terlanjur dipakai untuk kebaya akad yang gagal itu, dan saya udah nggak punya budget lagi. Singkatnya waktu itu saya bilang, saya punya uang segini untuk bikin dua kebaya dalam 1,5 bulan. Sanggup nggak?

Si Renzi ini senyum-senyum aja loh sambil mengucapkan kata-kata menenangkan. Fyuh. Alhamdulillah deh ketemu penjahit yang bisa jadi pawang bridezilla begini. Ternyata, itu karena Renzi juga sedang merintis bisnis WO, dan dia pun bisa juga jadi wedding singer maupun pre-wed photographer. WOW! Multitalenta! Coba dari awal ketemunya, mungkin saya tinggal leha-leha ngupil di kasur, nggak usah pusing ngurusin kawinan.

Yang saya suka dari Renzi adalah karena sama sekali nggak perhitungan. Ada beberapa item yang nggak ada di deal awal kita, tapi tetep dikasih sama Renzi hratis ataupun dengan harga yang bersahabat. Dia juga seringkali muncul dengan aneka inisiatif yang meskipun bikin effort dia jadi lebih besar, tapi bikin hasil akhirnya jadi bagoss. Misalnya :

  1. Kebaya akad saya model kutubaru. Untuk menghindari kebaya geser-geser yang suka bikin bustier ngintip, akhirnya bustier pun diakalin sehingga seolah-olah menjadi bagian dari kebaya. Jadi mau petakilan kayak apa, kebayanya tetap nempel cakep di badan. Inovasi inipun yang kelak akan menyelamatkan saya ketika ada tragedi bustier jebol. Note : episode bustier jebol ini bukan salah Renzi lho ya, tapi murni karena saya yang semakin menggila makannya menjelang hari H.
  2. Tambahan train yang bisa dicopot-copot supaya lebih dramatis pada saat kirab menuju pelaminan.
  3. Penambahan payet di beberapa bagian supaya nggak terkesan sepi. Jadi sebenarnya bahan yang saya beli itu sudah ada payetnya, dan perjanjian awal nggak akan ada payet tambahan biar keburu. Tapi karena dirasa terlalu kosong, ditambahin deh sama Renzi.
  4. Merombak (dikit kok) bagian bahu kebaya akibat dirasa terlalu seksi oleh CPP :p
  5. Menambah payet dan mengganti kancing di jas CPP.
  6. Menemani selama proses persiapan di resepsi, mulai dari pemakaian baju (tentunya saya nggak bugil2 amat ya tapi udah pakai bustier), sampai selesai prosesi kirab. One of my favorite pics dari keseluruhan prosesi bahkan hasil jepretan Renzi juga.
  7. Menenangkan bridezilla dikala panik melanda.

20130815-091454.jpg20130816-222156.jpg

20130816-222704.jpg

Untuk kebaya resepsi, untungnya bahan yang saya punya belum terlanjur rusak parah. Sebagian sudah sempat dipotong sama penjahit sebelumnya, tapi karena model yang saya minta simple dan nggak banyak ornamen (mengingat bahannya udah rame gila begono), jadi masih bisa dikaryakan oleh Renzi tanpa harus ganti baru. Akhirnya saya cuma nambah sekitar 1,5 meteran yang terlanjur dipotong.

 

IMG-20120808-01021
Bahan asli, apa adanya.

20131008-002132.jpg20131008-002204.jpg

Hasil akhirnya bener-bener sesuai, bahkan melebihi ekspektasi saya deh. Selain payet yang sudah ada di bahannya, Renzi menambah lagi payet di area-area yang butuh penekanan seperti misalnya di neckline, atau area yang butuh kamuflase (misalnya buat nutupin lengan yang menggemuk hehehe). Renzi juga ikut hadir di hari-H untuk bantu proses pemakaian kebaya, padahal sebenarnya model kebaya ini sangat simpel dan mudah dipakai.

Overall? I felt so pretty in that kebaya, exactly the way a bride should feel on her wedding day.

Mungkin kalau lihat hasil kebayanya, nggak akan ada yang nyangka bahwa proses pembuatannya begitu singkat. For that, Renz, I will always be grateful to you. *kecup

Advertisements

The Wedding | MakeUp by Angelina Grace

4 thumbs up buat vendor yang satu ini. Mbak Angel berhasil menyulap mukaku jadi anak daro sejati. Saya dapat rekomendasi Mbak Angel dari sepupu saya yang waktu nikah juga di make up Mbak Angel. Setelah lihat portfolionya langsung jatuh cinta karena selain piawai pegang make up modern atau ala barat, tapi make up tradisionalnya juga bagus. Nama Mbak Angel juga sering sekali muncul sebagai make up artist di artikel berbagai majalah pernikahan. Meskipun belum pernah ketemu muka, tapi contact via bbm dan email lancar banget dan jelas. Akhirnya ketemu waktu Mbak Angel make up sepupu saya untuk acara lamarannya, dan setelah lihat hasilnya secara langsung, saya book deh tanpa test make up dahulu. Namanya feeling kalau udah sreg ya saya nggak akan banyak pertimbangan lagi. Mbak Angel juga terbuka sama saran-saran saya. Saya nggak suka dengan bulu mata ala Syahrini yang saking panjangnya sampai nabrak-nabrak alis. Setelah test make up sekitar sebulan sebelum acara, saya minta bulu matanya diganti dengan jenis yang agak lebih pendek. Setelah diskusi dengan Mbak Angel soal kenyamanan vs “mata hidup”, akhirnya Mbak Angel bersedia mencarikan bulu mata sesuai request saya.

Pada hari H, Mbak Angel & team datang tepat waktu dan bekerja dengan sangat cepat. Maksimal 1 jam kayaknya untuk make up. Seperti cerita saya sebelumnya, saya merasa cocok dengan gayanya Mbak Angel yang bikin wajah terlihat manglingi tapi nggak sampai berbeda banget.

compressed

Selain make up saya dan para mama, Mbak Angel juga menyewakan dan memakaikan sendiri sunting saya. Hasilnya? I love it! I feel beautiful, dan suntingnya nggak terasa sakit maupun (terlalu) berat. Saya juga boleh pilih sendiri model Laca atau hiasan dahinya, karena Mbak Angel membawakan beberapa alternatif pilihan. Sunting lalu sakseus nyangsang di kepala mulai dari jam enam sore sampai jam setengah sebelas malam tanpa keliyengan. Buktinya saya masih bisa cekakakan dan petakilan kok di pelaminan. Palingan kalau agak terasa turun, saya angkat dikit sesuai tips dari Ninda. Sesudah acara, Mbak Angel & team balik lagi untuk membantu proses pelepasan suntingnya. Pokoknya top lah untuk Mbak Angel.

melrose
cekakak1cekakakangkaaat Konde turun? Angkat aja dikiit

Love. Laugh. Life.

Judul posting kali ini dipinjam dari judul blog temanku yang super manis. Tulisan yang sama juga terpatri di bagian dalam cincin pernikahan kami, dengan harapan setiap harinya kami dapat selalu berbagi cinta, tawa dan hidup. Amin!

Hari ini tepat seminggu memulai hidup baru. Jadi istri. Punya suami. Separuh dari sebuah kesatuan,  meskipun semoga tetap bisa berdiri sendiri. Pastinya masih jetlag karena selepas resepsi kami langsung berangkat bulan madu.

Ternyata semakin mendekati hari H dan setelahnya, cuma rasa syukur dan haru yang terus menerus terasa. Alhamdulillah, kami diberkahi begitu banyak cinta dari keluarga dan sahabat, bahkan keluarga para sahabat dan sahabat keluarga. Rasanya seperti punya satu keluarga yang super besar dan hangat.

Terima kasih untuk Muty yang nggak putus hadir & support moral selama 3 hari acara… Termasuk live update di Path dengan jepretannya yang mumpuni banget ngambil berbagai momen penting, meskipun pemirsanya pun cuma Smita ya nampaknya hahaha… Love you girls!

Siraman – photos courtesy of Muty
Akad Nikah – photos courtesy of Muty

Terima kasih untuk team suksesku : Mas Adhi, Indhira & Ibu, yang jungkir balik menyukseskan acara dari persiapan sampai dengan hari H.

Tim Sukses (minus Ibu)

And finally, terima kasih yang tak terputus untuk Papa dan Mama, yang berkolaborasi dengan dearest brother & cousin(s) untuk hadiah kejutan yang sukses bikin pengantin nangis di pelaminan

Banyak sekali cerita yang ingin saya bagi, tapi mungkin perlahan-lahan karena masih menyesuaikan diri, belajar membagi waktu antara diri sendiri dengan si “tamagotchi” – pinjem istilah Smita.

Insyaallah, rumah tangga kami pun akan selalu diliputi cinta dari keluarga besar ini, dan kami mampu membangun keluarga yang sama hangatnya dan penuh cinta, sakinah, mawadah, warohmah. Amin :’)

20130401-164121.jpg

H-18 : Ini Rumah atau Gudang?

Alhamdulillah, sudah ada beberapa progress signifikan di akhir minggu ini :

  • Finalisasi aksesoris dan flow akad nikah di Sanggar Ardhiya
  • Finalisasi sewaan seragam keluarga di Djus Masri
  • Finalisasi layout dekorasi dengan DeCosmo
  • Finalisasi buku pengajian, siap diambil tanggal 27 Oktober
  • Distribusi seragam keluarga dan teman (status 70%)
  • Foto prewed (iyeee akhirnya mendadak jadi ada foto prewed) sudah done, tinggal pilih untuk dicetak
  • Deal dengan fotografer siraman
  • Deal mini studio keluarga untuk resepsi (paketnya nggak include mini studio soalnya sih huhuhu)
  • Undangan Akad & Resepsi sudah menumpuk di rumah, siap diberi label, dibungku plastik dan dikirim. Status? 50%
  • Souvenir akad nikah sudah sampai
  • Souvenir siraman sudah sampai

 

Ini rumah jadi lebih mirip gudang, isinya aneka macam barang. Pusingnya cuma satu : distribusi tepat waktu.

Bismillah….

H-43

2 minggu lalu sepupu saya baru saja menikah, dan meskipun bukan panitia ternyata tetap yaa pas hari H adaaaa aja yang harus dikerjakan. Lumayan lah, jadi lessons learnt supaya lebih kebayang kondisi on the day nya itu seperti apa. Kelar acara, tentunya tepar masih sangat bersisa. Kayaknya pengen tidur yang laamaaaaaa banget. Saya baru sadar ternyata hari H itu melelahkan sekali, kebayang banget itu adik sepupu saya badannya remuk kayak apaan. Mak dar it, saya merasa bole dong beberapa hari nggak urusin nikahan dulu, capek tauk abis urusin nikahan orang, toh belanda masih jauh.

Guess what? Di Path mendadak ada tag :

Morning Dear, another 43 mornings till …

*prang*

empat

puluh

tiga

hari

????

Langsung dong panik cari buku pintar, ubek-ubek apa aja yang masih belum confirm.

HYAOLOOO MASI BANYAK. Ini gak bole topan dulu yak? Masih rontok ini badannyaaa… Alhasil jadilah minggu ini super produktif. Dan alhamdulillah banyak banget checklist yang berhasil dicontreng minggu ini.

1st on the list : Penataran persiapan pernikahan di KUA

Karena masjidnya masuk Kecamatan Kebayoran Baru, jadi kita ke kantor KUA yang di Jalan Kerinci, dekat Mayestik. Waktu absen kita sempat ditanya

Bawa Al Qur’an nya nggak?

Agak bingung buat apaan, karena kita nggak tau ada info untuk bawa Al Qur’an? Jangan-jangan di tes suruh ngaji nih. Tapi ternyata, Al Qur’an itu dimaksudkan sebagai sumbangan calon pengantin ke KUA nya. Penataran ini sih sebenarnya lebih berupa himbauan supaya calon pengantin sadar akan perannya masing-masing dalam keluarga. Bagaimana cara menghadapi konflik, menjaga mood satu sama lain, dan sebagainya. Tapi lama-lama ini ibu-ibu yang memberi penataran mulai bahas yang nyerempet-nyerempet terus, bahas soal “minta jatah” terus. Hadeh males bener deh ya bu.

20120925-195514.jpg
Buku yang dibagikan untuk bekal berumah tangga.
Jangan lupa halaman 19 : Makin Mesra Usai Malam Pertama

Selepas sesi si ibu, datang salah satu penghulu untuk memberikan pengarahan tentang proses Ijab Qabul. Lucunya si bapak ini, selalu menekankan :

Nanti pada saat salaman, jangan lupa meleng dikit ke kamera. Sayang kamu bayar tukang foto mahal-mahal kalo muka kamu nggak keliatan. Inget ya! Pas salaman, meleng kamera. Salamannya juga jangan cepet-cepet biar sempet difoto. Pasang cincin pelan-pelan juga. Pas tandatangan juga.

Dan pak penghulu ini sama sekali lepas dari image penghulu yang sok gue-penting-loh, nampaknya sangat membumi dan mencintai pekerjaannya. Semoga Bapak tetap ceria dan menyenangkan ya Pak…. Kebayang pengantin yang dapet dia jadi penghulu, pasti adem dan tenang hatinya, nggak tegang. Sayangnya saya nggak sempet cari tahu namanya, dan ternyata pun saya kebagian penghulu yang berbeda juga.

Berhubung nanggung sudah sampai Kerinci, akhirnyaaaa kita berhasil juga nyicipin makan di RM Sepakat yang di Mayestik, sekalian ketemu teman-teman kuliah si abang yang rumahnya dekat mari. Kemarin RM Sepakat ini sempat lama nggak beroperasi akibat renovasi gedung pasar mayestik. Gedungnya sekarang enak banget lhoo. Pake AC!!! Huwoowww. Perut kenyang, hati senang, alhamdulillah….

Perhentian #2 : Sanggar Minang Djus Masri

Selepas dari Mayestik, tujuan berikutnya adalah Sanggar Minang Djus Masri, untuk keperluan sewa songket dan demang untuk resepsi. Alasan memilih Djus Masri sebenarnya bisa dibilang nyaris tanpa pertimbangan. Berhubung resepsi cuma akan menggunakan “nuanasa” adat Minang, jadi sebenarnya memang tidak terlalu banyak properti yang akan dipinjam. Lalu dapat info bahwa sepupu si abang yang akan menikah seminggu sesudah saya menggunakan jasa Djus Masri, bahkan dari jaman kakak-kakaknya. Intinya sudah terpercaya lah oleh keluarga besar.

Pada saat survey, sanggarnya cukup ramai padat oleh pasangan-pasangan keturunan Minang dengan mata berbinar kepengen kawin *ahahaha lebay*. Tante Djus nya mendatangi sendiri lho masing-masing pasangan & orang tuanya diajak ngobrol. Meskipun obrolannya nggak mendetail, tapi lumayan bikin adem hati bridezilla, berasa diperhatiin dapet personal attention gimana gitu kan. Penting lho itu, catat ya wahai para vendor : itu penting.

Yang penting lagi : harganya sungguh bersahabat. Saya memang nggak sempat survey ke Des Iskandar atau Elly Kasim – atau lebih tepatnya nggak berani – karena deg-degan dengar gosip sana sini bahwa harganya mahal. Tapi yang pasti di Djus Masri masih cukup terjangkau. Ahahaha memang tiada yang lebih penting daripada ini di kamus saya.

Kalau memang ingin pernak-pernik adat Minang yang tradisional, kayaknya memang tepat ke Djus Masri. Persediaan baju pengantin maupun seragam orang tua tersedia dalam beraneka warna, mulai dari merah yang khas padang banget sampai turqoise pun ada. Tapi ya modelnya memang cuma tersedia ala pengantin Minang tradisional yang kaya ornamen.

20121004-162606.jpg
Sequins Galore – in any color imaginable to man

Perhentian #3 : Koordinasi vendor Catering & Dekorasi di Venue Resepsi

Beberapa saat lalu, saya sempat datang ke acara pernikahan dimana SEMUA BUFFET SUDAH HABIS DI PUKUL 8.15 sedangkan tamu masih mengalir sampai pukul 09.30. Traumatis? Tentunya! Makanya saya langsung hubungi PIC catering dan wanti wanti setengah mati jangan sampai terjadi. Awas pokoknya! Tusuk pake garpu lho ya nanti.

Di acara pernikahan itu pula, nyaris tidak ada dekorasi di sekujur area makan. Paling banter hanya bunga di vas, padahal pernikahan diadakan di ruangan super besar, sehingga menimbulkan kesan kosong.

Berawal dari keparnoan itu, akhirnya saya mempertemukan PIC dekorasi dan catering supaya bisa pada janjian bagaimana dekorasi dan layout di hari H nanti. Jangan sampai yang satu pake taplak hijau pastel, satunya pasang hijau army. Kalau perlu janjian pake referensi Pantone yang sama. Ahuhuhu….

Hari ini ternyata lumayan produktif ya. Aku senang 🙂

Terima kasih ya Ibu & Abang sudah ikut berjibaku dengan semua keriwehan hari ini.

 

3G

Disclaimer :

ini bukan posting soal sinyal ponsel, pun bukan posting soal pertunjukan 3 dewa gitar Steve Vai, Joe Satriani & Eric Johnson (which reminds me, I must start watching that DVD again).

Ini adalah posting soal…warna.

Di awal awal dahulu, sempat teramat bingung  perihal color scheme pernikahan. Masalah awalnya, dari dulu selalu super ngiler liat wedding outdoor sore hari. Kayaknya seger seger gimana gitu *sruput es teh manis*. Tapi ya berhubung emak sudah kasih veto kudu di gedung jadilah saya sempat berada dalam fase ngambek-ngambek nggak mau mikirin dengan harapan akhirnya dikasih kawin di kebun.

Upaya saya tersebut tentunya…

Gagal.

Sayangnya waktu nggak bisa menunggu, mau sampai kapan ngambek-ngambek nggak mau belanja bahan kebaya? Dikira jahit baju cepet apa gimanah? Alhasil mulailah saya browsing browsing kombinasi warna yang bisa digunakan. Terinspirasi oleh posting yang ini rasanya ingin ikutan nasionalis dan menyesuaikan tema warna dengan akar budaya. Saelaaaaah.

Tapi yang namanya kawinan ranah Minang ya, warnanya nggak jauh-jauh dari merah, kuning, hijau, hitam dan emas. Kudu crong pulak kan ya, mana ada warna-warna kalem coba di sekujur budaya Minang? Cih, apa itu dusty green? Apa itu beige? Berhubung bosan setengah mati dengan tema pernikahan warna merah atau maroon apalagi yang dikombinasi dengan emas, maka jadilah saya pilih hijau ajah.

Menyesuaikan dengan nuansa resepsi yang tidak terlalu menuruti pakem adat, alhasil dipilihlah tema warna semacam berikut

Tema Warna Resepsi – niat awal

Yeee sebelah mana warna ala Minangnyeee? Iya sih emang maksa sebenarnyah. Ya abis gimana, emang kurang doyan aja sama warna-warna semacam ituh sayanya. Seiring dengan perjalanan waktu, mulai mantap dengan warna tersebut. Apalagi ternyata jeng yang satu ini juga menggunakan tema warna yang mirip, yaitu peacock atau burung merak. Cantik kan ya kan ya kan?

Maka berangkatlah kami ke Mayestik, mencari berbagai kain dengan warna senada tema itu. Dan hasilnya?

Lagi-lagi gagal.

Susah ternyata cari warna semacam itu yang nggak bikin muka saya terlihat dekil. Ditambah lagi si CPP dari awal sudah menyatakan ogah pake warna warni. Maunya kalau nggak emas, abu-abu/silver, hitam, putih. Yaelaaaah gemaneeeee masa’ penganten baru bajunya belang bonteng?

Sampai akhirnya saya bertemu kain yang membuat saya jatuh cinta. Yang melenceng cukup jauh dari skema warna sebelumnya. Daripada niat mulia melestarikan adat cuma dipegang setengah-setengah, ya sekalian sajalah ikuti kata hati dari awal. Bagaimanapun juga ain’t nobody happy if the bride ain’t happy ya toh?

IMG-20120808-01021
Ini dia si bahan kebaya yang bikin jatuh cinta

Maka sambutlah, tema warna yang baru : 3G.

(Dusty) Greens

Greys

(Antique) Golds

Semoga ciamik!

*) All color palletes taken from Design Seeds