nyak babe paling pintar sedunia

Lebaran ini, nyak babe lagi mood nostalgia. Sudah dua hari mereka terus menerus berbagi kisah-kisah masa muda. Dipicu juga dengan tamu-tamu teman masa lalu yang datang bersilaturahmi, yang berbagi versi mereka tentang nyak babe saya.
Hari ini adalah salah satu hari langka dimana kami berempat punya waktu banyak untuk bercengkerama dengan akur dan hangat. Biasanya selalu terhalang oleh remeh-temeh keseharian yang menuntut perhatian lebih.
Dan meskipun kami sering tak sepaham, beradu argumen, kesal atau bahkan kecewa akan satu sama lain, tapi hari ini saya disadarkan satu hal yang cukup penting.
Saya bersyukur memiliki orang tua yang (cukup) demokratis mendidik anaknya. Yang tidak (terlalu) dogmatis. Yang selalu berbagi kisah masa muda mereka, dari yang paling membanggakan sampai yang paling konyol memalukan. Yang jarang melarang-larang dengan alasan ‘pokoknya gak boleh’. Yang tidak berpura-pura sempurna.
Saya bersyukur memiliki orangtua dari dua ekstrim yang berbeda: si romantis pecinta seni dan si pragmatis pekerja keras. Si jago argumentasi yang mengutamakan logika, dan si hati tulus yang memenangkan rasa.
Maka jadilah saya : sebuah paradoks mini, cuma ada satu di sekujur semesta. Begitupun adik saya, tidak ada duanya.
Yang namanya anak kecil dimana-mana pasti akan belajar pertama kali dari bapak ibunya. Dua orang yang menurut dia paling pintar di dunia. Setidaknya akan begitu sampai saatnya dia melangkah di dunia dan terbuka matanya. Akan tiba waktunya ketika dia belajar dari realita, kejedug kanan kiri, nabrak depan belakang, koprol kayang goyang-goyang (ini sebenernya lagi ngapain sih?) sampai akhirnya dia bisa memaknai hidupnya sendiri.
Buat saya tugas orangtua bukan terus menerus mengawal si anak sampai ujung. Ibarat naik sepeda, mereka mengajarkan trik-trik dasarnya dulu, sambil menuntun dan memegangi si anak dan sepedanya sampai merasa cukup aman. Akan ada satu titik dimana mereka tahu, sudah saatnya melepas si anak berjuang sendiri dengan sepedanya. Meskipun mungkin nanti si anak tak tahu cara berbelok, atau lupa nge-rem, atau hilang keseimbangan sampai terjatuh, berguling, luka-luka di sana sini. Tapi mereka akan mencoba lagi, sampai kelak si anak menengok ke belakang dan melihat dari kejauhan ayah ibunya melambaikan tangan. Nothing better than that feeling, that sense of accomplishment.
I will do the same when I have children, will let them learn from our successes AND our mistakes. Let them know nobody’s perfect.
Karena yg penting bukan cuma pilihan2 yang kita buat, tp juga KENAPA waktu itu kita memilih itu, dan APA YG BISA DIPELAJARI dr pilihan itu.
Thanks, mama papa :’) for the great lesson.

belahan jiwa

Pagi ini saya terbangun dari sebuah mimpi buruk. Secara harafiah.
Saya benar-benar bermimpi buruk, terbangun di pagi buta dalam keadaan menangis. Bukan pengalaman yang menyenangkan, dan menurut saya tidak ada hal yang lebih menimbulkan perasaan kesepian dan sendirian daripada ini. Kecuali sakit. Dan saya memang sedang sakit.
Lalu ketika di titik nadir begini, kemana biasanya kita pergi? Saya selalu mencari sahabat saya, yang sayangnya berada ribuan kilometer jauhnya dan berada di zona waktu yang berbeda.
Maka mulailah saya menulis surat kepadanya.
Klik SEND.
2 menit kemudian, ada indikator merah menyala di hp saya. Email masuk. Dari sahabat saya. Bukan email balasan, melainkan email update bulanan darinya.

…if that’s not soulmates, I don’t know what is

Alhamdulillah saya diberikan sahabat yang terbaik. Meski kami berbeda agama, ras, negara dan zona waktu. Tapi hati kami terhubung selalu ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah saya diingatkan, saya tidak pernah sendiri ๐Ÿ™‚

Posted with WordPress for BlackBerry.

30 hari mencari cinta (untuk Indonesia)

Seorang teman memutuskan untuk menyambut ulangtahun Indonesia bulan depan dengan membuat sebuah proyek. Setiap hari selama 30 hari ke depan, sampai dengan tanggal 17 Agustus 2010, dia akan menampilkan testimoni alasan sebagian orang mencintai Indonesia. Memang tidak mudah, ketika pada kenyataannya setiap hari kita dibombardir berbagai potret kondisi absurd yang membuat semakin sanksi atas kompetensi pemerintah.
Mulai dari ledakan bertubi-tubi tabung gas elpiji, berbagai institusi hukum yang mendadak lebih suka menjadi polisi moral untuk kasus perzinahan daripada korupsi, dan ah… perlukah saya tambahkan lagi?
Saya pun mencoba ikut berkontribusi semampu saya dalam proyek tersebut, berbagi kisah cinta saya dengan bahasa Indonesia. Dan hari ini via twitter, tiba-tiba saya melihat ada
artikel NY Times ttg bagaimana penggunaan bahasa Indonesia mulai terkikis. Sebuah realita yang sudah lama terbaca, hanya saja mungkin kita menolak untuk benar-benar menyadarinya. Miris rasanya. Sungguh.
Tapi justru itu saya rasa, yang membuat proyek ini menjadi penting. Justru ketika rasa apatis semakin memuncak, kita perlu diingatkan bahwa kita tetaplah bagian dari bangsa ini. Bahwa jauh di dasar hati, ada benang merah yang mengikatkan kita ke negeri ini, yang membuat kita (pernah) jatuh cinta. Dan bahwa, kita perlu melakukan sesuatu, selain hanya berdiam diri dan merutuk dalam hati.
Sejarah Indonesia memperlihatkan kekuatan kaum muda, dan apa yang bisa dicapai oleh semangat membara. Meski sangat mungkin masih sedikit ‘mentah’ dan belum berwadah, tapi saya yakin dari 1000 hati yang tersentuh, minimal ada 1 yang bisa mewujudkan aksi nyata.
Dari tujuh kisah yang sudah masuk sejauh ini,
ini yang paling menyentuh saya. Coba luangkan waktu anda berkunjung setiap hari untuk menemukan kembali alasan mencintai negeri ini.
Atau lebih baik lagi, tanya pada diri sendiri, apa yang anda cinta dari negeri ini?

Posted with WordPress for BlackBerry.

perempuan yang tak layak dinikahi

Saya marah!
Hari ini melalui twitter, seorang ‘motivator’ yang cukup ternama di Indonesia menjabarkan kalimat berikut:
“Wanita yg pas u/ teman pesta, clubbing, brgadang sampe pagi, chitchat yg snob, mrokok, n kdang mabuk – tdk mungkin drencanakan jd istri”

Gila.
Sesempit itu ya orang Indonesia?

Berusaha memahami lebih dalam maksud dr kalimat ini, mungkin (mungkiiin lhooo, trying to think positive) sebenarnya bertujuan untuk menyampaikan bahwa perempuan tidak perlu merokok/minum/begadang sampe pagi/clubbing/chitchat yg snob (apa maksudnya yg terakhir ini saya juga gak ngerti) HANYA untuk mendapatkan laki-laki.
Karena memang terkadang saya temui juga orang yang merokok supaya terkesan keren, minum supaya terkesan cuek, atau apalah yang semacam itu.
MUNGKIN maksudnya itu. Atau MUNGKIN maksudnya bahwa perempuan yang melakukan hal2 diatas itu memiliki suatu trait tertentu yang membuatnya kurang layak sebagai istri/ibu.
Apapun maksudnya, tapi kalimatnya itu lhooo, bikin naik darah!

Kenapa?
Karena cuma memaparkan beberapa perilaku spesifik, tanpa disertai penjelasan yang jelas, maka akhirnya berujung pada stereotyping. Apa sebenarnya alasan seorang perempuan yang seru untuk diajak merokok/minum/clubbing/dll tetekbengek itu menjadi ‘tidak mungkin direncanakan sebagai istri’?
Kalau memang perilaku2 itu dianggap indikator adanya sebuah trait yang membuat seorang perempuan tidak mungkin direncanakan sebagai istri, bukankah lebih baik jika yang disampaikan adalah trait tersebut?

Lebih ringkas dan jelas, bukan, untuk menyatakan “dicari : kucing sehat”, daripada menyatakan “dicari : hewan piaraan rumah berkaki empat dari genus felidae dengan anggota tubuh lengkap, mampu berlari dengan kecepatan sekian kilometer per jam, suka memanjat pohon dan berburu tikus”? Karena kriteria kucing sehat untuk saya bisa jadi berbeda dengan anda.
Begitupun, kriteria ‘orang yang mungkin direncanakan menjadi istri’ akan berbeda.
Ah, maaf kalau terlalu berlarut2 dan menggunakan argumentasi serta analogi yang kurang jelas. Saya terlalu kesal. Mungkin karena saya terlalu sering chitchat snob (apapun maksudnya itu).

Bersatu untuk Sesuatu?

Belakangan ini jiwa Nasionalisme orang-orang Indonesia serta-merta bangkit membahana. Berawal dari serangan bom teroris yang kemudian memicu gerakan bernama Indonesia Unite. Saya sendiri belum paham betul mengenai gerakan ini. Siapa pencetusnya, apa filosofi dasarnya, apa agendanya? Tapi di beberapa situs jejaring sosial macam twitter dan facebook, gerakan ini begitu dielu-elukan. Mungkin karena trend?

Tapi mungkin juga salah satu daya tarik utamanya adalah karena gerakan ini masih mencari bentuk, sehingga kaum muda Indonesia bebas menginterpretasikan, memberi saran, berkontribusi dan berkolaborasi dalam gerakan ini. Di tengah kondisi yang serba korup (meskipun sedang berupaya digerus), pembangunan dan akses informasi yang tidak merata, maka tidak heran bahwa mayoritas kaum muda Indonesia bersikap apatis terhadap perkembangan negeri. Tidak ada rasa memiliki, karena mayoritas kebijakan hanya pro pada kalangan tertentu, dan kalangan tersebut bukan kita kaum muda. Kalaupun ada kebijakan yang dasarnya bagus, selalu melempem di implementasi. Akhirnya banyak yang merasa hanya ‘numpang lahir’ dan akhirnya memilih menjadi ‘TKI’. Mencari nafkah dan aktualisasi diri di negeri orang, yang dirasa lebih bisa mengapresiasi dan ‘memanusiakan’ bakat dan minat kita.

1 bulan setelah gegap gempita Indonesia Unite, belum terlihat aksi konkrit (atau mungkin saya saja yg belum terinformasikan). Disana dan disini muncul beberapa kegiatan dengan tempelan Indonesia Unite. Ada acara musik, photoshoot, dll. Tapi baru sebatas itu yang saya lihat.

Sedangkan kehidupan berjalan seperti biasa, mulai dari perdebatan pemilu presiden, budaya Indonesia yang ‘diakui’ sebagai budaya bangsa lain, dan masih banyak lagi. Lama kelamaan status #indonesiaunite di twitter mulai diisi dengan hal2 yang semakin trivial. Balon momentum yang sudah dibangun perlahan-lahan kempes tanpa bentuk. Benarkah? Semoga tidak. Semoga ini hanya akibat dari lingkup saya yang sempit sehingga tidak mengetahui bahwa di luar sana masih banyak orang Indonesia yang berjuang untuk sesuatu. Semoga hanya apati saya yang berbicara.

Dan betul saja, beberapa rekan sudah menuliskan di blog masing-masing interpretasi mereka sendiri untuk #indonesiaunite. Perjuangan mereka sendiri. Mulai dari berkampanye untuk Indonesia yang lebih hijau, atau menggiatkan donor darah. Semua sah-sah saja. Justru mungkin inilah yang harus dilakukan. Daripada menunggu ‘dikoordinasikan’ oleh orang lain untuk tujuan entah apa, ini saatnya kita menentukan arah sendiri. Mungkin #indonesiaunite adalah semangat, angin yang berhembus. Kita yang perlu mengemudikan kapal layarnya, menentukan untuk apa semangat itu digunakan.

Secara pribadi, saya sendiri seperti ditampar. Tadinya posting ini saya tulis dalam bahasa inggris seperti sering saya lakukan. Tapi kemudian saya sadar bahwa sepertinya lama kelamaan bahasa Indonesia mulai tergerus, dan jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi memang membuat kita semakin akrab dengan bahasa itu. Tapi apakah perlu sampai menggantikan bahasa ibu? Jangan sampai perlahan kita lupa, lalu kesastraan kita yang kaya itu kemudian dicaplok oleh bangsa lain (seperti sudah terjadi pada banyak produk budaya kita).

Maka, mungkin itu yang akan menjadi perjuangan saya. Saya tidak muluk, tidak bermaksud untuk membuat gebrakan besar (atau mungkin belum). Seperti yang pernah diucapkan salah seorang dosen saya : Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.

Sebagai salah satu upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia, saya akan lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia. Semoga anda-anda juga ๐Ÿ™‚

#indonesiaunite !

NB : mohon maklum bahwa ini adalah opini pribadi saya. Apabila ada yg kurang tepat, atau ada informasi yg lebih akurat tentang #indonesiaunite, saya sangat terbuka untuk mendengar ๐Ÿ™‚

TIME Mobile – Everything But the Ring: Why Some Couples Don’t Wed

Everything But the Ring: Why Some Couples Don’t Wed

More couples are deciding to live together and raise a family. Why bother getting married?

For well over a year, I campaigned for my boyfriend and me to wed. “I don’t see what the point of marriage is,” he’d say. Public avowals of love, I suggested – or presents? “Le Creuset?” I’d ask, mostly joking.

Eventually I gave up and moved on to the next topic: babies. Absolutely, he replied. We’d been together for 2ร‚ยฝ years by that point, and while he didn’t want to bother getting married, a family was something he could happily commit to.

It turns out he’s in good company. More than 5 million unmarried couples cohabit in the U.S., nearly eight times the number in 1970, and a record-breaking 40% of babies born in 2007 had unmarried parents (that’s up 25% from 2002). Sure, there are plenty of baby-daddies in the Levi Johnston vein, i.e., young and accidental. But nonmarital births have increased the most among women ages 25 to 39, doubling since 1980, thanks in part to a small but growing demographic a sociologist has dubbed committed unmarrieds (CUs). These are the happily unwed – think Brad and Angelina, Oprah and Stedman, Goldie and Kurt – whose commitment to their partners is as strong as their stance against marriage. (See pictures of famous couples.)

Celebrities, gay-marriage bans and fear of divorce are helping fuel the rise in unwedded bliss. “We love each other far, far too much to ever actually get married,” says Raymond McCauley, 43, a biotech engineer in Mountain View, Calif., who has twin 2-year-olds with his partner of five years, Kristina Hathaway. His opposition to marriage is political, in solidarity with gays who can’t legally wed in most states, and personal – he and his partner both got divorced in their 20s, an experience that has led McCauley to liken marriage to food poisoning: “You don’t want to eat that thing again, even if you know it’s perfectly fine this time.” (Read “A Gay-Marriage Solution: End Marriage?”)

In lieu of a marriage license, he and Hathaway have drawn up legal documents that grant them rights automatically afforded married couples, covering everything from child custody to property. And yet this arrangement still gives him some sense of freedom. “Every day we’re making this decision and this commitment anew,” he says. “I’m not with you because there would be legal speed bumps to get through if we weren’t. I’m with you because this is where I want to be.”

Is marriage on its way to becoming the relationship equivalent of our appendix (in that it’s no longer needed but can cause a lot of pain)? “You’re looking at the vanguard,” sociologist Andrew Cherlin says of CUs like McCauley and Hathaway. A Johns Hopkins professor and author of The Marriage-Go-Round: The State of Marriage and the Family in America Today, he notes that unmarried parents in Europe stay together longer than married parents in the U.S. “Marriage is a more powerful symbol here,” he says. “It’s the ultimate merit badge of personal life.” And if it doesn’t fulfill people’s (often overwrought) expectations, they leave.

See pictures of the busiest wedding day in history.

See pictures of American fathers protecting their daughters’ virtue until marriage.

Indeed, a study published in the December Journal of Marriage and Familyfound that a man’s involvement in his partner’s pregnancy – trips to the doctor, childbirth classes, etc. – was the best way to secure his long-term dedication. Lead author Natasha Cabrera of the University of Maryland says, “It is the decision that couples make to strengthen commitment and move in together that is important, rather than marital status per se.”

Marriage can always end, and the protection it once offered offspring is now covered by child-support laws. Add that development to the gains made by the domestic-partnership movement, and, Cherlin says, “the legal advantages of marriage, the benefits that one would get, are eroding.” This is one reason CUs like Charles Backman, 44, a commercial real estate developer in New Hampshire, see marriage as outdated at best. Backman wants no part of what he calls “the government stamp” of approval on his relationship to his partner of 15 years. “People mistake the government sanctioning your marriage for commitment,” he says. The father of three girls ages 1 to 7, Backman finds marriage not only unnecessary but also tarnished by commercialization. By not marrying, he says, “I saved $50,000 on a wedding, money I can use to help pay for the kids’ college.” (See pictures of the college dorm’s evolution.)

But while Backman saved a lot of money by withstanding the pressure to have a lavish wedding, over time it is costing him a bundle to remain unmarried: since he is not covered by his partner’s company health-insurance plan, he pays $12,000 a year for his own policy. “As I get older and sicker, I’m much more likely to get the rubber stamp,” he admits.

Of course, unmarriage isn’t a guarantee of love everlasting any more than marriage is. According to Rutgers University’s National Marriage Project, cohabiting couples are at least twice as likely to break up as married couples are. Long term, notes Stephanie Coontz, a professor of history and family studies at Washington’s Evergreen State College, unmarriage works only if both people are equally committed to the lack of legal commitment. If they’re not, to borrow a phrase from Beyoncรƒยฉ: If you like it, then you should have put a ring on it.

The majority of cohabitants either break up or marry within five years, says Alison Hatch, a grad student at the University of Colorado who is doing her dissertation on committed unmarrieds, a demographic to which she and her partner of six years belong. She and Coontz have found that many of them end up marrying because they face the same discrimination as gay couples regarding insurance, taxes and other legal issues. Having kids can also change things. David Letterman didn’t say what prompted him in March to wed his partner of 23 years, who is also the mother of his 5-year-old son. I know that in our case, the plus sign on my pregnancy test led my boyfriend and me to marry in April, which has made our relationship feel more committed, but maybe a little less cool.

See pictures of the founders of wedding website The Knot.

See pictures of Americans in their homes.

HR Forum JadiJadian

berawal dari sebuah email di hari kamis sore, ditambah bumbu pancingan sana sini yang kemudian digigit oleh beberapa ekor ikan maka akhirnya jadilah hari ini kami bersua.
ikan ikan yang bertemu ini semuanya alumni dari fakultas psikologi sebuah universitas di Jakarta, dan masing-masing terdampar di daratan pekerjaan berjudul HR (ada yang bilang HRD, ada yang bilang HRM (baca : ha-er-em, bukan haram))…
semuanya punya agenda masingmasing untuk ketemuan hari ini. ada yang lagi excited karena baru mulai megang OD (meskipun beberapa minggu kemudian ternyata gak jadi megang OD dan terpaksa kembali ke comben hiksss…), ada yang lagi mempersiapkan untuk belajar comdev, ada yang lagi perlu belajar grading buat TA, pokoknya macem2 lah ya, terus ada juga satu orang yang hari ini didapuk menjadi keynote speaker-nya (cieeehhhhh…)
meskipun terpentok beberapa kendala seperti berkurangnya peserta karena sms yang salah dikirimkan, serta terlambatnya ibu keynote speaker karena pesawat-nya delay (maklum, harus diimpor dulu), bahkan sampai dengan venue yang ternyata TUTUP meskipun memproklamirkan diri buka 24 jam, tapi akhirnya sharing hari ini berhasil terlaksana.
sebuah angin segar ditengah realita keseharian yang yaaaahhh gitu dehhhhh…. lupakan sejenak masalah teori, anggaran, dan keterbatasan. hari ini kami menyerahkan diri pada mimpi.
…sebelum besok jam 8 berjumpa realita kembali