Bahagia itu sederhana

sesederhana makan tomat segar tabur gula,

steak holycow yang sudah lama didamba (setelah harus bersabar dua minggu selagi mereka libur lebaran),

ketawa ketawa sama suami di perjalanan berangkat dan pulang kerja,

kruntelan sama adik semata wayang bagaikan kami masih umur lima,

menyaksikan anak bayi di perut bergerak pertama kalinya.

Selalu mengingatkan diri sendiri jangan lupa bersyukur untuk hal-hal kecil yang berharga di setiap hari.

Advertisements

Rumah Baru

Hola!

Yang baru bukan rumah sebenarnya (meskipun maunya sih yang itu bisa terwujud secepatnya. AMIN), melainkan wadah buat tulisan-tulisan saya yang kadang penting tapi lebih sering kurang penting ini.

Kenapa sih pindah?

  1. Alamat blog yang dulu kayaknya kok panjang amat ya
  2. Ternyata judul dan url address blog nya terasa sudah nggak relevan dan nggak menggambarkan seorang Andied lagi
  3. Ceritanya biar semakin rajin nulis *pfft*

Sayangnya layout nggak bisa sama dengan blog yang lama, karena ternyata theme yang dulu saya pakai sudah retired. Artinya, hanya bisa digunakan oleh blog yang dibuat sebelum theme tersebut retired. Jyaaah cape deeeh.

Mohon maklum kalau pas mampir-mampir rumah ini masih terasa kosong. Namanya juga baru pindahan, jadi seadanya dulu aja yah hehehe.

Sampai jumpaaa.

Nesting

Belum pula kelar segala kerempongan pernikahan, si Mamak sekarang memburu-buru anak perempuan semata wayanganya untuk mulai ….
menghias…
kamar..
penganten.

JDANG.

Sebagaimana berkali-kali sudah terjadi dalam Andied’s Universe, selalu terjadi pertempuran kolosal antara budget vs selera.

Ngok.

Setelah banyak banyak banyak berdiskusi dengan si sepupu yang arsitek, maka akhirnya si kamar ini akan dibuat full warna putih. Mulai dari tembok, jendela, pintu, sampai furniture.

Pertimbangannya :

  1. Ukuran super mini dan minim natural lighting
  2. Kamar pengantin bersifat sementara (insyaallah) dengan harapan dalam waktu maksimal 6 bulan penghuninya akan capcus ke sarang cinta yang lebih permanen
  3. Sesudah pengantennya pindah, peruntukan kamar ini belum jelas mau dijadiin apa, jadi supaya bisa mengakomodasi seandainya ada perubahan dekor, lebih baik dibuat senetral mungkin

Demikianlah pada akhirnya saya sibuk bernyanyi-nyanyi

Katakan padakuuuu hai tukang kayuuuu, bagaimana caranya memesan furniture padamu??

Yang urgent-urgent dibikin sih kayaknya headboard tempat tidur, media cabinet dan meja rias. Harapannya bisa sebagaimana yang aku tapsirun di sini :

Ciamik apalagi jika dilapis warna putih

Tapi dipikir-pikir lagi, dengan kecenderungan gw yang sangat accident prone, bisa-bisa jadi belakang kepala gw banyak codet-codet motif ukiran gituh. Alhasil pada kenyataannya nanti mungkin harus cukup puas dengan yang modelnya semacam ini ajah

Supaya gak kejedug marilah kita lapisi busa dan kain

Sebagaimana perempuan pada umumnya yang mencintai hal-hal cantik maka aku pun menaksir yang semacam ini

CANTEK sodara sodariiih

Cantik? Itu pasti. Feasible, belum tentyuh. Wong kamar cuma sa’uprit kok ya mau diisi beginian ditaro sebelah mana cobaaaa.

Sebenernya lumayan terlihat kan kontrasnya perbedaan antara versi dambaan hati dengan versi “kompromi”nya? Hiks memang bagaimanapun money talks ternyata.

Akhirnya sisi pragmatis otak saya memutuskan untuk nyicil-nyicil bikin/beli/refurbish furniture yang sifatnya modular dan simple, supaya lebih mudah di mix & match dan digeser-geser maupun diangkut-angkut ke rumah baru nantinya. Pun  si furniture sebaiknya agak multi fungsi, misalnya meja rias yang bisa sekaligus jadi meja kerja, kalo perlu merangkap meja makan sama meja setrikaan. Meja catur sekalian. *kok emosi mbaknya?

Yah okelah nggak perlu seekstrim itu, tapi semoga bisa mendekati inspirasi di bawah ini :

Meja nan (insyaallah) serbaguna, soalnya bisa dibuka tutup tu atasnya
See? Instead of lemari 2 pintu, bikin aja 2 buah lemari 1 pintu
Rak buku super kece yang bisa digeser untuk menambah storage space

Nah secara paralel marilah kita sibuk cari pernak pernik. Untuk hal ini baru deh warna-warni beraksi, biar ruangan nggak putih semua semacam rumah sakit jiwa.

*brb browsing lagi*

It’s OUR Day

Hari ini lagi browsing inspirasi web design untuk HR intranet di kantor, terus di salah satu artikel contoh design website terbaik , menemukan website yang sangat lucu ini

I like the idea, because a wedding (and the marriage) truly is something exciting for both the bride and groom. So, masnya… ayo diliat-liat itu lho websitenya, terutama bagian memilih cincin kekekekekek…..

Ketika Action Berujung Komedi

—warning : may contain teasers. Kalau belum nonton filmnya,read this at your own risk—-

 Sudah dengar tentang film Indonesia yang judulnya “The Raid”? Film ini banyak digembar-gembor karena memperoleh banyak reviewpositif di luar negeri. Bahkan di IMDB skornya 8.4 dari skala 1-10. Film ini dibuat oleh Merantau Films, yang dulu juga pernah membuat film “Merantau”(ya abeeees, namanya aja gitu.)

Berhubung udah lama nggak kencan bioskopan berdua, si Er doyan sama “Merantau” dan saya udah bener-bener sakau bioskop, maka berbekal e-ticket dari Blitz Megaplex terdekat pergilah kami suatu minggu sore,siap untuk dipukau oleh karya sineas Indonesia.

Sejujurnya ya, untuk kalian wahai pembaca yang memang doyan film genre action, this movie is a must see. Fight choreography nya keren, dan alurnya benar-benar nggak menyisakan waktu sedikitpun buat kita leyeh-leyeh.Truly adrenaline pumping. Which is why, menurut gw di setiap counter tiket seharusnya dipasang warning besar bertuliskan : “ANAK-ANAK DIBAWAH 17 TAHUN DANPENDERITA PENYAKIT JANTUNG TIDAK DIPERBOLEHKAN MENONTON FILM INI”.

Kenapa demikian? Karena fight scenesnya nyaris tanpa sensor,penuh darah, dan lumayan sadis. Jadi kasihan dong ya adik-adik kalau dari kecil sudah disajikan pemandangan traumatis semacam itu.

Kenapa saya tambahkan “penderita penyakit jantung”? Karena gw sendiri NYARIS IKUT JANTUNGAN akibat duduk di sebelah ibu-ibu yang (meskipun tidak jantungan, tapi kelakuannya bikin gw takut dia bakalan) kena serangan jantung.

Lokasi duduk gw dan Er sebenarnya sangatlah ciamik : row C dan persis di tengah layar. Di sebelah kanan gw duduk ibu-ibu paruh baya, suaminya, dan dua anak yang mungkin usia kuliah. Di sebelah kiri Er duduk bapak-bapak paruh baya dan istrinya.

Lampu meredup dan pertunjukan dimulai. Adegan baku hantam semakin seru sampai tiba-tiba dari sebelah kanan gw :

“Astaghfirullah astaghfirullaaaaaah…. Sadis ini pah,aduh kok sadis amat siiiih?!?”

Kemudian hening, mungkin suami ibu itu sudah berhasil menenangkannya. Tapi lalu…

“Aduuuh ini sadiiis. SADIS paaaaah saaaadis!!! Yaampun kasiaaan dipukulin kayak gitu. Sadis amat sihhhh…”

Terus tiba-tiba ada dialog yang memang sengaja nggak diselesaikan kalimatnya, karena penonton diharapkan untuk menyimpulkan sendiri,dimana salah satu tokoh berkata :

“…penyerangan ini bukan…”

Hening sejenak, lalu si ibu teriak :

“Bukan apa? Bukan apa pah? Bukan apa siiiiih?!?”

Di titik ini saya sama Er udah setengah mati nahan ngikik-ngikik sambil sikut-sikutan : jawab gih ibunya, jelasin tuh bukan apaan.

Masih dilanjutkan lagi pas ada adegan tokohnya merangkakuntuk mengambil suatu benda yang bisa dijadikan senjata, terus kamera nge-shootbenda tersebut :

“Pah itu apaan sih? Kenapa dia mau ambil?”

“wasweswoswasweswos” (gw nggak tau suaminyapersisnya jawab apa, yang pasti gw salut sama kesabarannya)

“kenapa diambil sama dia? Emangnya bisa dipake buat apaan? Kenapa dia nggak lari ajah yah”

Jejeritan semacam ini berlangsung sepanjang film, sampai saya bukannya kesal malah jadi kasihan sama ibu ini. Anak-anaknya tega bener ngerjain ibunya diajak nonton film begini. Dan untungnya si ibu suaranya nggak cempreng, jadi annoyingnya nggak kuadrat buat saya.Puncaknya saya rasa, adalah ketika tokoh Mad Dog si antagonis sedang bertarung melawan dua jagoan tokoh utama, dimana si ibu berkomentar :

“Ih dia jago banget ya Pah penjahatnya. Cuma sayang aja, kenapa jagonya nggak dipake buat kebaikan.”

huhuhu…. Langsung deh gw inget sama nyokap di rumah dan ibu-ibu lainnya dimanapun anda berada. Kayaknya yang namanya naluri keibuan emang susah ditahan, pasti punya harapan bahwa semua orang akan menjadi orang yang baik, bahkan untuk penjahat sadis sekelas Mad Dog. So dear Ibu-Ibu yang duduk di sebelah saya, saya setulusnya mendoakan semoga Ibu tetap polos dan lucu selalu, dan terus melihat potensi kebaikan dalam diri setiap orang. Amin.

terlalu manis…

Sekian menit pertama dari film UP selalu menyentuh saya. Kisah yang terlalu manis, meski sederhana. Tanpa dialog, hanya diiringi lagu instrumental.
Dua petualang kecil yang tidak takut bermimpi. Satu melengkapi yang lain, si ceria penuh semangat dan si pemalu yang cerdas.
Tumbuh menjadi dua mudamudi yang memutuskan membangun mimpi bersama. Lalu dalam perjalanan hidupnya, menjadi dua orang dewasa yang saling menopang ketika harus rela menukar mimpi itu akibat dihajar realita hidup.
Bercita-cita menjadi si penjelajah dunia baru yang akan menemukan berbagai spesies binatang langka dengan berkendara zeppelin, akhirnya yang satu berprofesi sebagai pemandu di kebun binatang dan satunya sebagai penjual balon di kebun binatang yang sama.
Sampai akhirnya si kakek mencoba mewujudkan impian mereka dengan ribuan balon yang sama yang biasa dijualnya.
Sampai akhirnya ternyata bagi si nenek, kehidupan yang mereka jalani berdua adalah sebuah petualangan tersendiri.

Dan sialannya, meski animasi tapi film ini begitu sukses menggambarkan chemistry dan pandangan penuh cinta antara Carl & Ellie. Aih merindiiiiing.

Jadi teringat kakek dan nenek saya. 55 tahun lebih menikah.
To this day, he still gives her a goodnight kiss before going to bed.

I hope to find this simple kind of love…