#Trip : Bandung Road Trippin’

Beberapa tahun lalu saya pernah menulis ini

Dan akhir minggu kemarin, saya kembali diingatkan betapa berharganya kesederhanaan interaksi tanpa pretensi.
Road trips, buat saya, selalu menjanjikan. Mungkin karena selama perjalanan kita terputus dari dunia luar, “terperangkap” dalam sebuah kotak kecil beroda. Mungkin karena dalam keterperangkapan itu, yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu hanyalah mendengarkan musik dan/atau mengakrabi teman seperjalanan. Apapun itu, saya selalu bersemangat menyambut setiap road trip.
Nah tapi kembali ke masalah ‘keterperangkapan’ dengan teman seperjalanan, maka sebuah road trip hanya akan menyenangkan apabila teman seperjalanan kita memang menyenangkan. Minimal : kooperatif, enak diajak ngobrol, selera musik yang sama, minat pit stop yang sama. A road trip is only as good as the people you take on it. And I couldn’t say it better than
this post by one of yesterday’s road trip buddies.

Buat saya highlightnya adalah, ketika tersadarkan bahwa liburan kemarin betul-betul menggambarkan post saya diatas.
Perjalanan diawali bersamaan dengan terbit matahari di sebuah sabtu pagi, dan diakhiri seiring terbenam matahari minggu. Saya berangkat dengan 7 orang teman dan 2 orang ‘temannya teman’, lalu pulang dengan 9 orang teman.

ternyata aku tidak merindu teknologi, remah-remah hidup yang berkedok modernisasi
Selama 2 hari, tidak sekalipun televisi dinyalakan. Hiburan kami sederhana : makan bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ada untungnya juga bahwa dalam rombongan kali ini terdapat 1 mantan MD radio kampus, 2 anak band, dan 2 anggota paduan suara. Dimanapun, kapanpun, setiap lagu familiar mendadak memicu singalong session yang terkadang bahkan dilengkapi dengan bagi suara.
Dan perjalanan ini sukses membuat kami tersenyum semanis Yamin dan tertawa selebar pangsit… Mohon maap kalo ga ngerti, memang SamPingPong dengan salah satu fotografer kami yang senantiasa memberikan aba-aba ajaib. *please pardon the inside jokes*

rupanya cukup kopi dan roti, tertawa sambil menghirup udara pagi
Meskipun tidak ada roti (dalam kasus kali ini boleh lah ya digantikan tahu goreng, kerupuk dan sambal kecap), namun momen terbaik untuk saya adalah melewati pagi dengan super duper long brunch, di teras yang dilengkapi dapur dengan pemandangan asri menghijau, diiringi lagu-lagu default generasi 90an. *maap kalo seperti lebay, tapi memang tempatnya sungguh cantik dan nyaman*

rupanya cuma butuh kalian, teman, cerminan serpih jiwa, untuk ajak aku tersenyum hari ini
Terima kasih teman-teman 🙂

#Trip : Singapore – Coldplay’s Viva La Vida World Tour

Satu hal yang cukup signifikan di dekade 2000-2009 kemarin (maaf ya kalo belakangan ini saya sering banget ngebahas masalah dekade-dekade ini :p), adalah hubungan saya dengan musik. Saya berasal dari keluarga dengan tingkat musikalitas yang cukup tinggi, dan sebagian besar keluarga saya adalah musisi. Tapi awal pertama kali saya benar-benar jatuh cinta dengan musik adalah mulai tahun 2000 (see, tepat di awal dekade ini kannnn. Spektakulerrr ☺).

Dan yang berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati adalah abang-abang bernama Guy Berryman, Johnny Buckland, Will Champion dan Chris Martin. Yap. Coldplay.

Awalnya sederhana. Saya suka sekali warna kuning. Dan ketika itu radio-radio ibukota sedang kecanduan memutar Yellow dimana-mana. Lagu Yellow sendiri, sebetulnya, tidak terlalu spesial untuk saya. Hanya lagu pop pada umumnya. Tapi ketika saya meminjam album Parachutes pada seorang teman dan mendengarkan semua lagu di album itu, saya jatuh cinta.

Bayangkan kelabilan seorang remaja kurang populer berusia 16 tahun. Anehkah jika sound yang gloomy, vokal yang lirih dan lirik yang ‘gelap’ menjadi demikian menarik untuk saya? :p

Setelah Parachutes, muncul A Rush of Blood to the Head, X&Y dan Viva La Vida yang sudah bergeser dari apa yang membuat saya pertama kali jatuh cinta sama mereka. Tapi toh, selalu ada warna baru yang membuat saya tetap setia meski untuk hal yang berbeda…

Dan maka alangkah bahagianya, ketika di penghujung akhir dekade ini saya berkesempatan menyaksikan mereka secara LIVE.

Menghirup udara yang sama dengan mereka dalam satu ruangan. Melihat sendiri bagaimana abang Chris jejingkrakan berkeliling panggung seperti kesetanan. Bagaimana dia berdansa diluar irama ketika tiga temannya justru menjaga irama. Menyanyikan lagu favorit saya bersama mereka.

Salah satu momen paling signifikan di tahun 2009 🙂

And here are the pretty people I spent it with

this picture courtesy of my lovely cousin. thankyou spups!

————– 19/11/11 ————–

Baru nemu setlistnyaaa di sini dan di sini

20111119-015030.jpg

#Trip : Anyer – Anak Pantaaaiii…

Entah kenapa, kalau kata-kata liburan itu di otak gue memiliki korelasi yang sangat signifikan dengan (dg margin error 0,05%…bener gak sih istilahnya, gue ud amnesia sama statistik): PANTAI.
Main air, sinar matahari terpantul di permukaan air, pasir, aroma laut, debur ombak, semua stimuli sensori itu diterjemahkan otak gue menjadi L I B U R A N . . .
Meskipun dengan waktu yang terbatas, ‘outing’ kali ini cukup berhasil me-recharge gue… Biar kegulung-gulung ombak sampe tenggorokan dan idung sakit kena air laut, biar ketipu tukang banana boat, biar gosong dan belang-belang, tapi SENANG!!
Pantai, anyone?
(Foto-foto menyusul, courtesy of bos herman :p)

She, Sun, Sea 🙂