#Trip : Dream Divers at Gili Trawangan

Perjalanan kami ke Gili adalah salah satu liburan terbaik yang pernah saya rasakan. Meskipun perginya sudah lebih dari setahun lalu *disambit kalender* tapi saya selalu tersenyum lagi kalau ingat waktu itu. It was a piece of heaven!

Salah satu highlight perjalanan kami waktu itu adalah saya akhirnya menjajal diving. Saya memang sangat suka laut, tapi terus terang kurang pede berenang di laut. Pasalnya, bodi akika yang enteng (dulu lho) bikin gampang banget keseret-seret arus, sehingga saya merasa nggak berdaya kalau udah nyemplung di tengah laut. Tapi yang namanya doyan pemandangan bawah laut, rasanya rugi dooong masa udah nyampe Gili nggak nyelem?

Kalau mau cari divemaster di Gili, sumpah gampang banget! Susurin aja itu satu pulau, mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar juga ada. Waktu itu kami menentukan pilihan ke Dream Divers dengan alasan mmm deket aja sih hahaha. Itu salah satu yang pertama kita lewatin, dekat hotel tempat kita menginap, dan tempatnya terlihat terpercaya ajah. Nggak pakai lama, kami langsung mendaftar untuk menyelam keesokan harinya.

Berhubung rombongan kami isinya newbie, jadi kita diarahkan untuk memilih paket Discover Scuba Diving. Paket ini memakan waktu sehari penuh dengan pembagian :

  • Nonton video training pengenalan diving – pake post-test segala lho
  • Latihan menyelam dengan full gear di kolam. Di tahap ini saya mulai agak ketar-ketir karena ternyata sungguh tidak semudah yang dibayangkan hahaha.
  • Diving beneran di laut
prep
Siap-siap nyebur

Untuk newbie yang masih cupu kayak kami ini, dilarang bawa kamera sambil menyelam. Ya iyalah, napas aja masih susah mana sempet mau moto-moto sana sini? Untungnya Dream Divers menawarkan paket tambahan untuk mendokumentasikan penyelaman kami. Maka foto-foto di posting ini semuanya dijepret oleh awak Dream Divers ya. Enjoy!

4
Lionfish
2
clownfish nya malu-maluuu
3
ikan buntal!

1

d

e

Ngerti kan kenapa saya bilang ini salah satu liburan yang paling berkesan? Airnya sangat biru dan jernih, puas banget lihat pemandangan bawah laut ini.Tapi hati-hati ya sodara sodari, foto-foto di atas bisa dibilang separuh pencitraan. Di sisi lain kamera, sebenarnya ada empat manusia yang lagi gelagapan naik turun mencoba menjaga buoyancy, boro-boro dah sempet lihat ada ikan apa aja di bawah laut. Adegan mesra gandeng-gandengan di bawah laut? TIPU! Padahal sih sebenernya gandeng karena deg-degan setengah mati, sambil berusaha menenangkan satu sama lain. Susah ya ternyata diving, hahaha!

Ditambah lagi, ternyata cuaca memburuk dan ombak mulai mengganas, sehingga akhirnya kami setengah mati saat harus kembali ke kapal : mulai dari terhempas ombak sampai kelelep lagi (padahal regulator udah dicopot karena sempat naik ke permukaan), gagal melulu pula menggapai tangga kapal karena kapalnya terhuyung-huyung ombak, sampai ada salah satu rombongan yang naik ke kapalnya dicicil : tabung oksigen dulu diangkut, orangnya belakangan. Kapok? Nggak sih.

a
pas baru nyemplung. pada PANIK KABEH IKI. Kenceng bener pegangan sama talinya!
up
Harap-harap cemas mau naik ke kapal

 Kayaknya sih, untuk bisa benar-benar menikmati pengalaman menyelam di bawah laut, saya harus bisa mengalahkan diri sendiri dulu. Menyuruh diam suara-suara dalam hati yang kadang suka berisik bikin panic. Takut terbawa arus, takut lupa cara bernapas, takut mendadak panik, dan takut-takut yang lain. Toh, ada divemaster yang pasti menemani selama penyelaman. Toh, penyelaman tidak dalam. Toh, saya baik-baik saja waktu snorkeling. Saya baru mulai menikmati penyelaman ini sekitar 15 menit terakhir, mungkin karena -seperti teman saya bilang- the ocean makes you feel at home. Saya merasa “dipeluk” dan pada akhirnya, ditenangkan. Semoga suatu hari saya bisa mengulang pengalaman ini ya. AMIN!

b
Someday akan berfoto dengan senyum yang lebih ridho 🙂 Doakan!

Untuk penyemangat, mari saksikan video teman saya yang diving di Honduras!

Advertisements

Bali, baby! – Foreword

20130514-094027.jpg

A little teaser from the trip 😉

Jalan-jalan kali ini dalam rangka merayakan dua peristiwa sekaligus, yaitu :

  1. Long weekend
  2. Masa subur

Bwakakakakaka… bagus nih jadwalnya pas, ya kan ya kan? Sejujurnya sih karena berasa garing aja dengan rutinitas sehari-hari, dan acara jalan-jalan sebelumnya selalu gagal mencapai tujuan leye-leye. Sayup-sayup ada yang nanya : liburan yang mana Ndied? Hehe iya belum sempat diposting itu liburannya. Cerita liburan yang barusan aja dulu ya mumpung masih hangat-hangat suegerrr. Selain itu, tujuannya balas dendam juga sama Bali berhubung bulan madu kita dulu kurang sakseus.

Preparation

Paling pertama pastinya : minta cuti. Baru abistu afdol browsing tiket.

Belajar dari pengalaman masa lalu, maka liburan kali ini dipersiapkan dengan matang. Mengingat masih banyak hal di Bali yang belum dilihat, jadi sebelum booking hotel hal pertama yang harus dilakukan adalah: browsing. 

Berikut referensi saya untuk menentukan itinerary selama di Bali :

Itinerary

Beberapa kawasan yang kami bidik dari awal adalah Ubud, Seminyak dan Uluwatu. Total rencana 5 hari 4 malam. Akhirnya setelah semedi siang malam diputuskan jadwalnya akan jadi 1 malam di Ubud, 1 malam di Seminyak, sisanya dihabiskan di Uluwatu.

Transportation

Awalnya kami berencana mau hemat. Tapi dipikir-pikir antara masing-masing lokasi tujuan kan berjauhan ya, mana mungkin modal jalan kaki? Taksi pasti mahal. Mau sewa motor tapi kami lagi agak menghindari karena katanya bisa berdampak pada produksi *padahal sih tuan putri aja takut masup angin*

Alhasil tetep sewa mobil deh. Berbekal kemampuan spasial suami yang spektakuler, karena dia dua kali lewat jalan tertentu langsung inget selamanya. Keren! Dan tentunya saya sebagai navigator alias tukang baca peta lewat aplikasi di iPad.

Stay tuned for the trip summary!

#Trip : Bandung Road Trippin’

Beberapa tahun lalu saya pernah menulis ini

Dan akhir minggu kemarin, saya kembali diingatkan betapa berharganya kesederhanaan interaksi tanpa pretensi.
Road trips, buat saya, selalu menjanjikan. Mungkin karena selama perjalanan kita terputus dari dunia luar, “terperangkap” dalam sebuah kotak kecil beroda. Mungkin karena dalam keterperangkapan itu, yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu hanyalah mendengarkan musik dan/atau mengakrabi teman seperjalanan. Apapun itu, saya selalu bersemangat menyambut setiap road trip.
Nah tapi kembali ke masalah ‘keterperangkapan’ dengan teman seperjalanan, maka sebuah road trip hanya akan menyenangkan apabila teman seperjalanan kita memang menyenangkan. Minimal : kooperatif, enak diajak ngobrol, selera musik yang sama, minat pit stop yang sama. A road trip is only as good as the people you take on it. And I couldn’t say it better than
this post by one of yesterday’s road trip buddies.

Buat saya highlightnya adalah, ketika tersadarkan bahwa liburan kemarin betul-betul menggambarkan post saya diatas.
Perjalanan diawali bersamaan dengan terbit matahari di sebuah sabtu pagi, dan diakhiri seiring terbenam matahari minggu. Saya berangkat dengan 7 orang teman dan 2 orang ‘temannya teman’, lalu pulang dengan 9 orang teman.

ternyata aku tidak merindu teknologi, remah-remah hidup yang berkedok modernisasi
Selama 2 hari, tidak sekalipun televisi dinyalakan. Hiburan kami sederhana : makan bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ada untungnya juga bahwa dalam rombongan kali ini terdapat 1 mantan MD radio kampus, 2 anak band, dan 2 anggota paduan suara. Dimanapun, kapanpun, setiap lagu familiar mendadak memicu singalong session yang terkadang bahkan dilengkapi dengan bagi suara.
Dan perjalanan ini sukses membuat kami tersenyum semanis Yamin dan tertawa selebar pangsit… Mohon maap kalo ga ngerti, memang SamPingPong dengan salah satu fotografer kami yang senantiasa memberikan aba-aba ajaib. *please pardon the inside jokes*

rupanya cukup kopi dan roti, tertawa sambil menghirup udara pagi
Meskipun tidak ada roti (dalam kasus kali ini boleh lah ya digantikan tahu goreng, kerupuk dan sambal kecap), namun momen terbaik untuk saya adalah melewati pagi dengan super duper long brunch, di teras yang dilengkapi dapur dengan pemandangan asri menghijau, diiringi lagu-lagu default generasi 90an. *maap kalo seperti lebay, tapi memang tempatnya sungguh cantik dan nyaman*

rupanya cuma butuh kalian, teman, cerminan serpih jiwa, untuk ajak aku tersenyum hari ini
Terima kasih teman-teman 🙂