overlooking the obvious

ugh…today would be one of those days where I would sigh and grunt every several minutes or so.

sometimes, the tolls of life can burden itself on your shoulders as such that all you ever see is that thing sitting upon your shoulders. and you overlook the fact that your toll is chickenshit compared to other people’s problems. and you overlook the fact that beside you is a hand, helping you carry that weight… and you sigh, you grunt, you cast a curse on the world for the wretched life that you lead. and you forgot.

you forgot about the hand. you forgot that you’re in reality not alone, not so burdened, and not leading a wretched life at all.

sometimes I lose that objectivity in looking on my life and each moment, each event happening in it. sometimes I think that I am the only person that matters on earth. call me egoistical, call me selfish, call me histrionic. to me, my problem is that I am continually overlooking the obvious. call it defensive, call it denial. call it what ever you want. I don’t know what you’re talking about.

satu langkah (masih ada seribu lagi)

Hari ini satu langkah, masih ada seribu lagi…. ini bukan tulisan tentang perjalanan, cuma ekspresi kegirangan atas keberhasilan mengalahkan diri sendiri. ada yang bilang ini terlalu dini untuk dikategorikan sebagai sebuah keberhasilan.. tapi, buat gue ini kemajuan. nah iya, itu dia tepatnya. KEMAJUAN… bab 1 dan bab 2 sudah selesai (walaupun pasti akan mengalami revisi nantinya)…tapi yang penting akhirnya dikerjakan!!!! akhirnya berhasil mengalahkan semua campur aduk di kepala, terus berusaha membuatnya menjadi sesuatu yang (agak) terstruktur..

teman-teman (baik yang lulus maupun yang belum)… doain gue doooong!!! saya butuh moral supportnya nih!

privacy

Habis_gelap_terbitlah_terang_1

KEnapa ya sekarang yang  namanya ruang privat kok seperti udah nggak dihargai lagi?

why is it so important to know about other people’s lives?? makan tuh infotainment!! emang udah nggak ada informasi yang lebih berharga buat disimak apa ya? menghibur juga nggak.. heran, bikin penonton jadi lebih bloon, dan seolah-olah ngasih justifikasi bahwa sah-sah aja ngurusin kehidupan pribadi orang lain.. iya sih, emang teorinya masyarakat indonesia itu cenderung kolektivistik, tapi kan bukan berarti mengorbankan privacy untuk jadi konsumsi publik.. belum lagi, sebagian besar orang justru bangga kalau digosipin, diomongin, ada apa dikit bikin press conference, diwawancara padahal informasinya udah tangan kesembilan. segitu pentingnya apa nampang di TV?

KAyaknya sekarang udah nggak aman lagi deh. Mau ngapain dikit salah, ngapain dikit diomongin, dikomentarin ini itu.. padahal orang yang ngasih komentar sebenernya cuma tau 10% dari kenyataan. SAnctuary yang paling aman ya kayaknya cuma di kamar (itupun kalo kamar loe isinya cuma loe doang. kalo share sama orang lain? selamat aja deh..)

Jakarta kepenuhan orang nih…

ruang tunggu

Beberapa hari yang lalu keadaan Jakarta yang dilanda hujan deras memaksa gue untuk menunggu. Dan gue sangat tidak suka menunggu. Come to think of it, who does? Kenapa ya rata-rata orang tidak suka – bahkan benci – menunggu? Sering sekali kan, kalau orang diminta menjawab pertanyaan : apa yang paling loe benci? Maka, mereka akan jawab : menunggu!! (pakai tanda seru pula)

Sebenernya apa sih yang segitu menyebalkannya dengan menunggu? Bisa dipahami sih… Menunggu (garis miring penantian) selalu hadir berbarengan dengan apa yang dinamakan ketidakpastian..

Misalnya : Orang ini pasti datang atau nggak ya? (misalnya sudah terjawab, pasti datang, maka akan timbul pertanyaan berikutnya : berapa lama lagi ya datangnya? sebentar lagi atau masih lama ya?)

Menunggu (menurut gue) membawa satu implikasi yang pasti kepada pelakunya : KERAPUHAN..

Kenapa begitu? Karena eh karena, yang namanya manusia (apalagi manusia modern di kota metropolitan seperti Jakarta -homo Jakartanensis, kalau di sebuah majalah-¬† yang menganut prinsip ‘time is money’), nah yang namanya manusia ini saat dihadapkan pada apa yang namanya menunggu, dipaksa untuk berhadapan juga dengan kenyataan bahwa mereka ini ya ternyata ‘mortal’ belaka.. bahwa mereka bukan superman, bukan dewa atau apalah yang tanpa cela.. di sini kita (manusia) disadarkan kalau kita ini cuma setitik kecil di tengah-tengah sesuatu yang maha besar, sebegitu besarnya sampai tidak terdefinisikan.

Mereka (kita) merasa lemah, tidak berdaya,, karena hidupnya yang (tadinya mereka pikir) serba terkontrol & terencana, sekarang jadi tidak sempurna, tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.. kita begitu kecewa karena apa yang tadinya dikira sudah pasti, eh ternyata belum..

Akhirnya kita terbukti tidak punya kendali atas hal-hal di sekitar kita. Dan buat manusia yang emang sifatnya selalu ingin memanipulasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya, hal ini, kenyataan ini, ternyata terlalu menakutkan untuk dihadapi… huahahaha…buktinya, sambil menunggu gue menghabiskan waktu gue dengan nulis ginian..