Random Morning

Today is my last day as a 31 year old.

And yet I still find reasons to do some more self maturing. Alas, chronological age does not come with an automatic updated version of Andied v.3.2 complete with psychological age appropriate mindsets and behaviors.  That upgrade remains unique and needs some prior soul searching first.

But who has time to scavenge some golden wisdom in crevices of the soul? I have two kids below the age of 5, and a 9 to 5 job. Imagine how little spare time I have — said the person who browses instagram until the wee hours of morning. Oh the hypocrisy. I need to reduce screen time. My toddler needs to reduce screen time as well, come to think of it.

So here I am, post argument, sans phone, hungry yet too afraid to leave my desk because I’m waiting for the husband to contact me via email regarding my phone. At last, getting some uninterrupted time with myself. And still, unable yet to find the me I aspire to be.

Advertisements

Close Call

Dear Readers (kalau ada), just to share a little about a verrrrry creepy thing that happened. Semoga hal-hal serupa nggak akan pernah terjadi lagi, AMIN.
A little background story : saat ini gw masih memberi ASIX ke si hurufkecil, meskipun teramat sangat kejar tayang (baca : pompa hari ini buat diminum besok). Kejar tayangnya terkadang cukup ekstrim (baca : pompa pagi buat diminum sore), sampai terkadang gw terpaksa izin nggak masuk kantor atau kerja dari rumah kalau bener-bener nggak ada stock untuk hari itu. Ndilalah, beberapa minggu lalu akhirnya gw pertama kali haid sejak melahirkan, yang menyebabkan produksi ASI gw jadi menurun drastis.
Sufor pun bukan solusi mudah. Bukan karena gw lactivist yang anti sufor banget, bukan. Tapi, hurufkecil punya alergi terhadap protein yang ada di susu sapi dan kedelai, sedangkan mayoritas sufor terbuat dari susu sapi atau susu kedelai kan. Ada beberapa alternatif lain sih, dari asam amino atau apalah, tapi ternyata rasanya nggak enak dan akhirnya anak bocah ngamuk sama sekali kalau dikasih susu itu. Baru keminum seteguk, botolnya dilempar, trus nangis-nangis. *hatiretak*
Akhirnya setelah diskusi panjang sama suami, kami mempertimbangkan alternatif untuk cari donor ASI. Meskipun yaa, agak setengah hati sih gw, karena kayaknya susah cari donor yang pantangan makan produk kedelai. Namapun di Indonesia, pasti kecap tahu tempe udah jadi makanan sehari-hari kan ya. Tapi ya udah lah dicoba aja, siapa tahu ada.

Mulai deh pilih-pilih media/forum untuk cari donor ASI. Karena jarang pakai facebook, jadi nggak posting di FB nya AIMI ASI. Instead, gw posting di sebuah forum parenting yang sepertinya cukup terpercaya, dengan mencantumkan nomor telpon dan email. Seiring waktu berlalu, produksi ASI gw kembali normal dan alhamdulillah sudah mencukupi kembali kebutuhan si hurufkecil, lalu gw akhirnya lupa mengenai posting  tersebut.

Senin lalu, tiba-tiba ada seorang lelaki menelepon menawarkan donor ASI. Katanya, bayi mereka meninggal (innalillahi wa inna ilaihi rajiun), lalu sekarang istrinya ingin mendonorkan ASI nya. Gw tidak langsung mengiyakan karena kondisi alergi si hurufkecil, sehingga donornya harus pantang beberapa makanan. Ketika gw jelaskan ini kepada orang tersebut, jawabannya nggak nyambung “iya ini disusuin langsung aja”

Gw bingung lalu menanyakan lokasi domisili mereka. Lelaki itu mengaku saat ini posisinya di Malang, sedangkan gw di Jakarta. Karena kondisi saat ini ASI masih cukup, gw menyarankan untuk ditawarkan saja ke orang lain yang mungkin kondisinya lebih urgent/lebih membutuhkan dan untuk cari calon donor di facebook AIMI ASI.

Lelaki itu kembali mendesak “saya butuh cepet, karena istri saya kesakitan bengkak”. Gw sarankan kembali bahwa ASInya dipompa saja lalu disimpan untuk didonasi kemudian, yang dijawab lelaki itu dengan “nggak bisa, ASInya nggak keluar kalau dipompa, harus disusuin langsung”

Di titik ini gw mulai curiga, karena :

  1. kalau dari bahasanya, kok seolah2 anak gw alat untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan istrinya?
  2. kenapa harus ngotot disusui langsung? bukankah bisa dipompa?
  3. meskipun ybs di Malang (katanya) dan gw di Jakarta, dia ngotot mau mendatangi demi bisa menyusui langsung anak gw

Something is not right, feeling gw.

….tapi ujung-ujungnya gw sedikit merasa kasihan karena ingat cerita ybs bahwa bayinya baru saja meninggal. Gw pikir mungkin dia panik atau nggak terlalu paham seputar mekanisme donor ASI dan manajemen ASIP. Akhirnya untuk menyudahi pembicaraan yang membuat gw makin nggak nyaman, gw bilang bahwa gw akan save nomor ybs dan menginformasikan kalau ada teman yang membutuhkan.

Satu jam kemudian, lelaki tersebut menelepon lagi dan semakin mendesak “Gimana mbak udah ada belum temennya?” yang tentunya gw bilang aja belum ada, dan pembicaraan menjadi semakin aneh :

Penelpon (P) : “Tolonglah Mbak istri saya udah kesakitan”
Saya : “Dipompa aja Pak, terus disimpen dulu buat kalau besok-besok ada yang butuh”
P : “dipompa nggak keluar, udah mampet”
Saya : “ke dokter atau konselor laktasi Pak, mungkin harus dilancarkan dulu”
P : “kata dokter harus disusuin ke bayi, harus ada bayinya langsung”

di titik ini gw semakin yakin ada yang nggak beres, langsung tutup telpon, block nomor tersebut.

Gw sempat cerita juga soal kejadian ini ke beberapa teman, dan ternyata salah satunya menginformasikan bahwa di fanpage Facebook AIMI ASI ada info mengenai modus kejahatan seperti ini.

Kalau dipikir, kok ada sih orang jahat banget gitu ya. Siapapun yang cari donor ASI kan bisa dibilang sedang dalam kondisi kesusahan, masih aja dimanfaatkan buat kepentingan diri sendiri ūüė¶

Exhausted

With great power comes great responsibility. Being VP at 30, is a lot to handle. Memang secara judul nampak keren, tapi job description nya pun puanjang dan lebar.

Plus, tim masih compang-camping. Pasukan belum lengkap, dan kebanyakan di tingkat junior.

Plus, punya anak bayi.

Plus, terkadang masih sok idealis. Ya untuk parenting, ya untuk kerjaan.

KELAR.

No, no, am not complaining (well, trying really hard not to). Tapi nggak bohong, capeknya luar biasa. Apalagi ketika kebanyakan orang merasa pantas jadi komentator, sumbu gw langsung pendek lah itu.

Terkadang gw cuma butuh afirmasi, that I’m doing OK. That I’m an OK mother. Not perfect, but OK. And that is enough. Pfft….

(Bitter)Sweet November

Kenapa sweet?

Karena wedding anniversary, bebiiih… Tahun kedua pernikahan, alhamdulillah masih banyak greget-greget kasmaran yang dirasakan, meskipun kini harus pintar mencari waktu dan tempat buat melepas rindu. Yeeee, siapa suruh co-sleeping?

Kadang ada untungnya masih tinggal di rumah orang tua, sih : “Ma, titip anak ya, aku mau bikin anak kedua dulu” Bwahahahaaha…. well, not exactly.

Sweet yang kedua, akhirnya berat badan si hurufkecil nggak masuk kategori rendah lagi. HORE!

Kenapa bitter? Karena banyak keputusan besar yang harus dibuat di bulan November, salah satunya seputar karier. Sebenernya sih harus banyak bersyukur ketika diberi kebingungan memilih antara yang baik dan yang lebih baik. Tapi tetep aja, milihnya susah karena takut nyesel. Aku anaknya gampang menyesal soalnyah. Terus laksana pengecut tulen buang bodi ke suami : Abang aja deh yang milihin yaaaa, adek bingung! Yang tentu aja nggak digubris hahaha

Ya sudah, bismillah aja ini pilihan yang terbaik dari dua yang baik. AMIN.

Etapi kok dengan pilihan yang sudah diambil, berbuntut sering lembur dan sekarang hurufkecil pileeeek. Kasian banget ya liat anak bayi sentrup-sentrup gitu, hidung bumpet susah nafas. Berbekal semprotan NaCl untuk mencairkan ingus, alat untuk sedot ingus, transpulmin, sama baskom air panas yang ditetes minyak kayu putih begadang deh semaleman ngurus anak bayik. Tadi ditinggal ke kantor masih meler, meski untungnya tetep aktif dan ceria. Bener deh nak, kamu bayi yang pengertian banget sama mamanya :’)

Cepet sembuuuuh!!!!

Life After Baby

HALOH DUNIA APA KABARNYAAAAAA…

Huhuhu kok nggak santai gitu ya? Abisnya semenjak lahiran masa baru sempet update blog satu kali ajah?!? Ya maklum aja deh, namanya juga ngurus anak sendirian. Ada sih ART rumah nyokap (berhubung tinggalnya masih nebeng), tapi berhubung doi adalah musuh bebuyutanku dan orangnya nggak resik maka diputuskan bahwa SHE SHALL NOT EVER TOUCH MY CHILD. EVER.

Apa rasanya punya anak? Surreal. Absurd. Punya anak belum pernah terbersit sebagai salah satu target hidup saya. Bukannya nggak mau sih, tapi ya nggak pernah kepikiran aja. Mungkin itu juga penyebabnya Aksara nggak kunjung menunjukkan tanda-tanda mau lahir sampai hampir full term. Kayaknya dia tahu, bahwa ibunya belum PD diberi tanggung jawab penuh atas well being seorang manusia lain. 

Teman-teman yang sudah lama nggak ketemu pun reaksinya sama ketika tahu sudah ada Andied Junior di dunia ini. Melongo, ternganga, sambil bilang “Andied? Punya anak?”. Jangankan teman, anggota keluarga pun banyak yang meragukan kemampuan saya merawat anak manusia. Lha wong anak kucing aja nggak diurus.

Bagaimanapun, yang namanya darah daging sendiri, ternyata memang¬†beda. I’m not saying that I’m a great mom, tapi ya ternyata saya cukup bisa menikmati tambahan peran sebagai seorang ibu. Nggak pernah sebelumnya membayangkan diri saya masih bisa tertawa ketika diompolin bayi, atau dengan rela hati nyendokin pup dari pampers demi bisa dibawa untuk lab test. Nggak pernah sebelumnya membayangkan saya bisa nangis sesenggukan ketika ASI belum keluar sedangkan anak menangis lapar, atau cemburu ketika anak dengan mudahnya mau digendong oleh orang lain. Nggak pernah sebelumnya terpikir saya akan dengan mudahnya merelakan¬†cuti seminggu demi nimbun stok ASIP karena stok sebelumnya nggak bisa dipakai lagi (more on that later).

Lalu sekarang sudah habis masa cuti melahirkan 3 bulan (plus tambahan cuti tahunan), setiap hari di kantor rasanya ternyata sangat berbeda. Hatiku kosong. Selalu ingin terbang melesat secepat kilat ke rumah untuk bertemu si hurufkecil. Tiap hari kejar-kejaran stok ASIP untuk diminum hari berikutnya. Sampai rumah si hurufkecil sudah pulas tertidur. Duh… Berat ya ternyata jadi working mom, rasanya jadi pengen sungkem sama si mamah.

Ini apa sih posting kok jadi ngalor ngidul? Maklumin aja yaaa…namapun lagi kangen anak kan.

Jangan Jumawa

Emang deh, selama hamil ini diingetin terus bahwa nggak boleh jumawa.

Dulu itu sempet jumawa nggak mual, dan tak lama kemudian mulai dihajar gelombang asam lambung naik parah sampai muntah setiap malam. Sampai hati kebat-kebit kalau udah jam pulang kantor, karena akan melalui berbagai hal serba salah : kalau makannya dikit asam lambung naik terus muntahnya periiiih banget di kerongkongan, kalau makannya banyak begah terus ya muntah juga akhirnya. Akhirnya pilih yang makan banyak aja, minimal artinya banyakan yang masuk daripada yang keluar (semoga).

Alhamdulillah fase itu terlewati sudah, dengan berbekal minyak telon, undies khusus hamil yang nutup sampe udel serta kaos kaki tebel setiap tidur. Lalu kebat-kebit lagi karena nimbang kok cuma naik setengah kilo ya, perasaan makan gw banyak banget udah bagaikan babi? Kan jadi takut bayinya kekurangan makanan. Ternyata pas kontrol, kata dokter berat bayi normal, malah cenderung besar.

Akhirnya nggak kapok, dan kembali jumawa karena bodyku tidak bagaikan orang hamil (catatan : kalau dilihat dari belakang lho ini, kalau dari samping sih nggak bisa bohong). Jadi yang tambah besar cuma di perut. Ih pokoknya masih bisa pake atasan dan dress-dress yang biasa kupake deh, yang harus pensiun ¬†cuma celana aja. Dipuja-puji ibu-ibu di kantor karena ih asik ya hamilnya kece. Jumawa….jumawa tiada terkira.

Kemudian kontrol ke dokter dan….

Ibu makannya ditambah ya. Anaknya beratnya kurang. Banyakin makan sayur juga yaa..

APAAAAA? KOK BISA?

Si abang juga bingung karena dia yang paling tahu gimana besarnya nafsu makan gw selama hamil, dan gimana crankynya gw kalau telat makan sedikiiiit aja.

Maafin mamaaaa ya naaaaak. Kalau jumawa yang dulu efeknya ke diri sendiri, tapi kalau jumawa yang ini kan kasihan si anak bayi. Aku ndak tega! Kangsung deh terus-terusan mengingatkan diri sendiri nggak boleh jumawa lagi ah kalau ada hal-hal yang dipermudah selama kehamilan ini, harusnya malah lebih banyak bersyukur kan.

Dulu baca twit2nya Dee Lestari waktu dese hamil, dia sering bilang bahwa kehamilan mengajarkan dia banyak hal. I guess that’s true. In a way, this tiny lifeform in my tummy is reminding me a lot more about the simple things in life to be grateful for, about how miniscule my individual existence is, and most importantly, to be responsible for another being other than myself. *kecup perut sendiri* Terima kasih ya sayangku…

On a ligher note, gue dapet panggilan kesayangan anyar dari suami, yaitu JONI. Kok Joni? Demi menangkal masuk angin dan asam lambung, sekarang lebih pilih pake undies khusus hamil yang membungkus keseluruhan perut sampai udel-udelnya. Kata suami kayak jojon, sehingga dia mulai memanggil gw JON. *sambit kolor* Lama kelamaan Jon berevolusi menjadi Joni, dan di titik paling parah sempat menjadi Joni Iskandar (untungnya Joni Iskandar dipensiunkan  berkat tatapan setajam silet dari mata bumil). Makasih lho ya sayang, panggilan sayangnya flattering bener lho.

Oh, the things you see on the road!

Jakarta macet? Bukan hal baru. Tapi untungnya warga Jakarta selalu punya berbagai cara dan gaya untuk mencanangkan eksistensi di jalanan.

Mulai dari yang gayanya paling Old Skool…

20130408-121225.jpg
Yogyaman : Lost in Jakarta

Sampai yang paling modern. Ini juara sih, dreadlocks nya dikuncir dan dikeluarin lewat lubang di helm. Who says you can’t be safe and¬†stylish, right?

20130408-115623.jpg

Nah kalau yang terakhir ini sebenarnya bukan di Jakarta, melainkan di jalur Pantura waktu saya dalam perjalanan ke Cirebon.

20130408-120314.jpg