Review : UP-lifting Shoes for Hot Mamas

Dulu saya sering buka-buka blog personal style Diana Rikasari, salah satu sosok muda Indonesia yang menurut saya cukup inspiring. Fashion blogger sih jamak banget sekarang, tapi sedikit yang memberdayakan orang lain melalui pengaruhnya.

Melalui UP Shoes, Diana memberi sentuhan gaya unik khas dirinya pada setiap pasang sepatu. Untuk setiap pembelian sepatu, UP Shoes menyisihkan sebagian untuk pendidikan anak Indonesia melalui inisiatif Level UP Scholarship. Fashion with a mission, indeed.

Sejujurnya sih saya sudah lama sering buka webstore UP Shoes, tapi batal terus beli karena…susah banget milihnyaaaaa, lucu-lucu semua sih!
Pas kebetulan dapat voucher UP Shoes untuk acara KelasMaret kemarin, akhirnya memantapkan hati memilih sepatu yang udah lama (banget) dipandang-pandang. Plus kata BuLi temenku di KelasMaret, sepatu UP nya enteng banget dan nyaman.

image

Akhirnya setelah beberapa minggu, sepatunya datang dan …. menggemaskan banget memang hohoho. Buat saya yang jarang pake sepatu hak, model wedges seperti ini bikin nggak pegel dan tetap berasa “napak”. Stabil gitu maksudnya, nggak oglek-oglek seperti kalau pake hak lancip. Dan karena enteng, jadi masih bisa lari-lari ngejar bocah juga. Bisa lah jadi alternatif untuk acara semi formal sambil bawa anak-anak.

image

Tapi kayaknya saya masih penasaran sama sepatu flat nya UP deh… gajian masih lama ya? Hehehe… Selain beli sepatu, kemarin juga sekalian beli stiker dengan pesan-pesan yang ceria. Sebagai reminder buat diri sendiri aja kalau lagi berasa capek, soalnya warnanya nyenengin sih.

Advertisements

March #MonthlyManicure | Jagoan Neon

Semua berawal dari browsing trend 2013, yang katanya akan banyak warna warni neon. Lihat isi lemari kok kayaknya saya banyakan warna gelap dan netral. Mau pakai baju pink neon juga kurang pede, abis namapun kulit sawo matang, nggak terawat pula. Yang ada malah makin keliatan buluk deh.
Jawabannya pasti aksesoris. Tapi apa? Tas warna neon nggak doyan. Saya pun bukan maniak sepatu yang harus punya aneka warna. Anting nggak terlalu suka. Eeeh terus nemu jam tangan mungil di Wakai. Modelnya klasik, strap tipis kulit (sintetis) warna kuning neon. Kereeeen. Tapi kok harga setengah jetih? Udah gila kali. Terus mutung deh karena pengen tapi dalam hati tahu itu overpriced.
Terus karena belakangan ini sering iseng-iseng mewarnai kuku, kemudian di instagram nemu online shop yang jual aneka OPI set mini. Jadi daripada beli satu botol besar, dengan harga yang hampir sama bisa dapat 4 botol kecil aneka warna.

Dan ahaaaaaa ada yang warna NEON! Impulsif belanja kemudian menghasilkan eng ing eeeeeeng…

On fingernails : Suzy’s Hungary Again – OPI Euro Centrale Mini Set

On toes : Can’t Find My Czech Book – OPI Euro Centrale Mini Set

20130402-165339.jpg

Sometimes you can’t make it on your own

Grandpa is being hospitalized. He’s been there for over a week now. 😦
Seperti biasa pasti anak cucunya bergantian jaga, dan kemarin kebetulan jaga sama sepupu mungilku. Sambil mengisi waktu kita main kepang-kepangan. Dan inilah buktinya, bahwa kalau soal kepang mengepang lebih baik dilakukan oleh orang lain.

20130303-002305.jpg

February #MonthlyManicure | A Twist

Iseng di suatu malam ngoprek meja rias mama dan menghasilkan french manicure modifikasi

20130228-104912.jpg

Centilcentil lucu ya aku suka deh! Bling enough for a party but still acceptable for everyday. Warna mudanya pakai Revlon #345 Peach Smoothie, yang ternyata saat mengering ada aroma Peach nya. Warnanya agak terlalu pucat sih untuk kulit saya yang nggak terlalu putih, jadi kurang bagus kalau dipakai begitu aja. Makanya akhirnya saya tambah sedikit glitter di ujung, pakai glitter gold dari The Face Shop (entah namanya apa, browsing di google pun nggak nemu).

20130228-113416.jpg

Meskipun cantik nan ciamik hasilnya, tapi di kantor ternyata terlalu mengundang perhatian. Ditambah lagi itu glitter kok susahnya minta ampun mau dihapus deh. Setengah jam sendiri, pake nyangkut-nyangkut pula serat kapasnya.

20130228-114459.jpg

Next target, rencananya mau coba lagi dengan kuteks glitter yang lebih manusiawi (dan nggak terlalu bling).

20130228-114652.jpg

———-update———–
Ini hasil percobaan kedua dengan glitter yang lebih kecil. Overall nggak terlalu sukses sih, karena kemampuan memantulkan cahaya nggak sebagus glittet yang besar. Alhasil tante saya komen bahwa justru terlihat seperti ujung kuku saya kotor. Tergantung lagi dipandang dari arah mana sih.
Intinya apakah akan diulangi? Tidak. Ahahaha. Lebih suka versi pertama aja.

20130303-000604.jpg

Mau : Rimmel London Lasting Finish Lipstick by Kate Moss

Waktu acara kantor bertema 80an kemarin, untuk totalitas peran tentulah dibutuhkan gincu super jreng untuk bikin ala ala bibir mer.

Saya sendiri sebenarnya nggak suka pakai lipstick, semata dengan alasan : ribet deh ah. Kelar makan harus pulas ulang. Kebanyakan ngomong, pulas ulang. Mau cium-cium juga pasti mikir dua kali ngeri suami pipinya warna warni. Belum lagi bibir kering malah jadi makan kering. Jarang banget merk yang cocok deh pokoknya.

Yang namanya lipstick warna-warni, saya super alergi. Kalau tips-tips make up selalu bilang : pilih satu feature di muka untuk ditonjolkan. Berhubung pipi tembem, sebisa mungkin saya menghindari menonjolkan apapun yang letaknya dekat pipi. Jadi pasti emphasise on the eyes, yang artinya : bibir harus warna alami.

20130225-124619.jpg
Si lipstick idaman

Etapi apa iniiii, kok gincu merah pinjeman warnanya dahsyat? Nggak kliatan membencong ataupun layaknya spidol artline nemplok. Dipakai berjam-jam pun nggak kering dan warna masi super on. Baiklah mari di cari tahu merknya.

20130225-125432.jpg

Eng ing eng… Rimmel London Lasting Finish Lipstick by Kate Moss, warna 01. Yaah kok nggak ada di Indonesia sih merknya? Ternyata pun produk lama ya, udah ada dari tahun 2011. Hiks aku mau, apakagi swatchesnya sungguh menggoda.

20130225-125419.jpg
Swatch taken from Karla Sugar

Tentang Foundation Kesayangan

Sebagai orang yang males dandan dan punya kulit sensitif, menemukan foundation yang tepat menjadi tantangan tersendiri. Kadang gw nggak ngerti buat apa orang harus dandan setiap hari. Pagi-pagi menghabiskan waktu minimal 15 menit untuk nempelin ini itu di muka, yang malemnya harus dihapus lagi. Kemudian ritual yang sama berulang keesokan harinya, dan lagi, dan lagi…. Buat apaaaaa? Bukankah itu sesuatu yang sia-sia?

Pada akhirnya gw tidak memungkiri sih, bahwa tampil cantik dan segar itu memang membuat pikiran dan jiwa lebih segar dan bersemangat. Tapi tetep aja judulnya : males! Cuma yang namanya kerja kantoran, bagaimanapun tampilan profesional tetap dibutuhkan dong. Jangan sok-sok natural look kalau emang nggak kebagian jatah gen berkulit mulus nan sehat. Soalnya dewy skin itu beda loh sama berminyak. Masa iya ngantor tapi mukenye kayak abis lari 25 kali keliling lapangan banteng?

Ditambah lagi, kulit ini pada dasarnya sensitif, jadi nggak semua foundation boleh ditempelin kecuali mukanya mau bruntusan, jerawatan ataupun mendadak kusam. Akibat itulah dalam memilih foundation ya terpaksa di-shortlist dengan beberapa kriteria saringan :

  1. Warnanya sesuai dengan warna kulit. Karena foundation lebih untuk meratakan warna kulit yang kadang splotchy di sana sini, supaya lebih merata warnanya, bukan buat bikin terlihat lebih putih. Well, at least that’s in my opinion. It’s supposed to look like your skin, only better. Tagline merk apa ya itu? Hmmm lupa hehehe. Menurut Mbak Bobbi, cari yang warnanya paling mendekati warna kulit. Buat contekan bisa juga lihat link ini.
  2. Formula Liquid atau Cream. Dari pengalaman coba-coba beberapa foundation menurut rekomendasi para jawara makeup di forum ini, tampaknya kulit saya memang hanya mau ditempelin foundation cair atau berbahan krim. Segala macam bentuk two way cake atau yang teksturnya bedak, silakan dadah-dadah goodbye karena dalam waktu 1 – 3 minggu dijamin bruntusan dan muncul banyak whiteheads. Untuk keperluan make up kantor, saya lebih pilih yang teksturnya cream, karena lebih ringkas dibawa-bawa dan aplikasinya lebih mudah daripada cair.
  3. Aman untuk kulit sensitif. Karena maunya gue, foundation itu untuk menonjolkan kulit, bukan menutupi imperfections. Jadi kalau foundationnya aja udah bikin kulit merah, gatel, bruntusan, jerawatan, ya mendingan jangan dipakai.
  4. Tanpa embel-embel “oil free”. Berhubung kulit saya memang dari sananya tambang minyak, formula yang menahan supaya minyak nggak keluar, ternyata malah menyumbat pori-pori dan menghasilkan jerawat. Dijamin. 3 hari pertama sih cakep, finishnya rapi matte kayak bintang pelem. Besok-besoknya udah nggak beres.
  5. Light to medium coverage. Karena pada dasarnya nggak suka make up, maka kalaupun pakai saya cenderung ogah sama make up yang terlalu berat. Jadi yang tipis-tipis ciamik ajah.

Ketika beberapa bulan lalu akhirnya menemukan si foundation yang ideal… bahagia betul rasanya.

Biasanya beli foundation nggak pernah dipakai sampai habis, karena nggak semua kriteria di atas cocok. Tapi dia… dia berbeza. Pertama kaliiii punya foundation yang nggak absen dipakai setiap hari tanpa protes dari kulitkyuh. Maka ketika dia mulai menipis, saatnya untuk menitip ke sepupu yang akan pulang dari luar negeri (karena beda harganya lumayan banget dibanding di Indonesia huhuhu). Tapiiiii apa yang terjadih? Dia DISCONTINUED!!!

Kenapaaaa Mbak Bobbiiiiii?!? KENAPAAAAAA?

Dan dengan demikian, berlanjutlah perjuangan untuk mencari foundation ideal. Ada saran?