QOTD : Be Here, Now

I love The Beatles. Their music was and still is, magnificent.

I remember how I used to watch the movie “HELP!” on VHS every single day when I was little.

I remember always referring to Paul McCartney as “Om Paul”. Ebuset, situ ikrib mbaknya?

I remember my dad buying a tribute to beatles laser disc, and I was mesmerized watching Julian Lennon singing “Dear Prudence”. I asked my dad to rewind it over and over. The song’s fragile melody combined with Julian’s soft voice was just…lovely. It had a sad yet hopeful quality to it.

I think John Lennon is brilliant and inspiring. Slightly too eccentric, but still, brilliant & inspiring nonetheless.

As my taste in music evolved, I became more and more drawn to songs by George Harrison. To me, McCartney songs are simple and catchy with sweet lyrics, Lennon’s are raw : words, with ethereal and psychedelic tendencies. But George Harrison songs are sophisticated, crisp and concise. In melodies, in lyrics and the messages conveyed by those lyrics. I think he must be a very beautiful soul.

And today I found a beautiful George Harrison quote :

It’s being here now that’s important. There’s no past and there’s no future. Time is a very misleading thing. All there is ever, is the now. We can gain experience from the past, but we can’t relive it; and we can hope for the future, but we don’t know if there is one

Be here, now.

(your) Most Valuable Possession

SAYA SUKA BEN FOLDS.

Koreksi : SAYA CINTE MATI SAMA MAMANG BEN.

Dan oleh karena itu, entah dari mana harus mulai berkisah tentang “most valuable possession” saya saat inih : euphoria nongton konser mamang ben. LIVE. BUKAN di DVD. *aaaaak mau mati sesak nafas*

Lebay? Belum cencyuuuh. Begini, bayangkan seorang remaja perempuan tanggung yang sangat biasa-biasa saja. Tidak terlalu khusus dalam hal apapun. Bayangkan betapa di usia itu dia sedang mulai membentuk jati dirinya, dan hal-hal yang diakrabinya di usia itu akan sangat berperan besar dalam proses pembentukan itu.

Yak, di usia itu, saya akrab betul sama Ben Folds Five. Band ajaib yang isinya cuma piano, bass dan drum. Permainan piano yang terkadang trining-trining manis menenangkan dan skillful, tapi juga mendadak suka jembrang jembreng rusuh. Ditemani distorsi bass. Cuma main bertiga tapi ramenya minta ampun. Lalu, yang utama : lirik-lirik sarkastis mentertawakan diri sendiri, cerita-cerita random yang dikisahkan dengan lucu. Nyam nyam nyaaammm… ah aku sukaaa.

Menonton Ben Folds LIVE, sebenernya masuk salah satu bucket list saya. Soalnya dulu itu, sama sekali nggak berani berharap Ben Folds (baik dengan embel-embel Five maupun sendiri) akan pernah datang ke Indonesia, jadi kayaknya kalaupun mau nonton harus pergi ke luar negeri (dan itu pan mahaaaaal).

Meskipun beberapa lagu lumayan terkenal di Indonesia (apalagi Brick yang dulu jadi backsound Dear Diary-nya Prambors), tapi Ben Folds nggak punya banyak hits yang masuk top 40 dan dikenal banyak orang. Jadi kayaknya (saya kira) massanya nggak akan terlalu banyak disini. Dan oleh karena itu juga, saya seneng setengah mati kalau ketemu sesama pecinta Ben Folds.

Tapi ternyataaa semesta yang baik ini berkata lain. Dari awal 2011 sempat rame isu-isu pergosipan di twitter yang bilang Ben Folds mau dateng. Tapi daripada berharap ketinggian terus akhirnya kecewa, jadi sok-sok cuek. Sampai akhirnyaaaaah si Ben Folds sendiri yang nulis di twitternya bahwa dia mau datang ke Jakarta. Masaoloh maesaroooh!!!! *melongo* *sibuk itung duit*

20111129-233725.jpg

Setelah semuanya semakin jelas dan pasti, akhirnya diperoleh sebuah tanggal baik yaitu 26 Mei 2011. Dan tanggal itu sungguhlah baik karena keesokan harinya si babeh ulangtaun. Dan berhubung dahulu babeh sayalah yang pertama memperkenalkan saya pada album “Whatever & Ever Amen” nya Ben Folds Five, maka sepertinya pas sekali kalau saya berikan karcis menonton Ben Folds sebagai hadiah ulangtaun babeh kan? (padahal cari temen)

Demi mengantisipasi Jakarta macet dan kerjaan dadakan yang suka datang di penghujung hari kerja, maka saya pun sengaja CUTI di hari itu. Lalu sengaja berangkat 1,5 jam lebih awal karena acaranya di Kuningan dan takutnya macet. Dan entah mengapa, hari itu sama sekali nggak macet. Yang artinya kami datang di venue 1,5 jam lebih awal. Terus bingung mau ngapain. *jedaaaang* Untungnya di sana malah jadi semacam reuni mini dengan banyak teman yang sesama pecinta Ben Folds, jadi tidaklah terlalu mati gaya.

Dan akhirnya konser dimulai. Di panggung cuma ada 1 piano. Beberapa highlight yang masih bikin saya euphoria sampai saat ini :

  1. Ben Folds masuk, langsung main tanpa basa-basi : “If there’s a God, He’s laughing at us” – EFFINGTON! Dilanjutkan dengan Annie Waits + Sentimental Guy. Trus mulailah dia ngobril-ngobril sama penonton, bahas smoke machine yang entah kenapa ditaro di sblah pianonya. Sampai akhirnya gw jejeritan “Play Smoooke!” …and he played it. Dan ternyata lagu Smoke nggak ada di original set listnya. Meskipun saya yakin bukan cuma saya sendiri yang tiba-tiba teriak “smoke”, tapi rasanya seolah-olah saya punya andil gituh. Dan takjub aja lihat si Ben Folds mendadak impulsif nurut sama penonton-penonton yang banyak maunya ini.
  2. Di lagu “You Don’t Know Me” yang aslinya dia nyanyikan duet sama Regina Spektor, dia ngajak penonton sing along. Tapi memang dasar para penonton ini suka terlalu berinisiatif (sebagaimana dicontohkan pada poin pertama), jadi bahkan di bagian-bagian yang nggak disuruh nyanyi kita tetep nyanyi. Bahkan sampe ada yang bagi suara segala. Mimik kagetnya si Ben Folds di lagu itu priceless banget, dan bisa dilihat di video berikuts.
  3. Dahuluuu kala sekitar tahun 2002, saya bersama seorang teman sesama pecinta Ben Folds sedang gandrung-gandrungnya *saelaaah GANDRUNG* dengerin album “Ben Folds Live”. Terutama track “Army”, dimana dia membagi penonton jadi 2 untuk gantian menyanyikan bagian horn section di track aslinya. Dan bahkan buat kami berdua yang saat itu cuma bisa dengerin dari kasetnya (iya waktu itu belinya masih bentuk kaset), part itu terdengar sangat menyenangkan. Nah kita berdua waktu itu suka berkhayal-khayal, kayak apa yah rasanya kalau kita jadi bagian dari penonton yang disuruh ikut nyanyi juga. … Lalu… Lalu… Guess what, setelah 9 tahun, akhirnya khayalan itu beneran kejadian. For the both of us. Maaaaakkkkkk, Andied ikutan nyanyi lagu Army sambil nonton mamang Ben maaaakkkk… *nangiskejer*
  4. Si mamang Ben mendadak jamming sendiri sambil bikin lagu impromptu tentang Indonesia… He’s a real entertainer indeed.

Mmh…mmh… Trus apa lagi yaaah. Aaah terlalu banyaaaak. Terlalu banyak hal menyenangkan di malam itu. Rasanya nggak pengen pulang. Pengen terus-terusan menonton sang idola nyanyi sambil main piano. Pengen terus menikmati interaksi mamang Ben yang sangat down to earth & hangat dengan para penonton. POKOKNYA GAK MAU PULAAAANG!!! *melotot* …hosh hosh hosh…
But yeah, all good things must come to an end. So does this night. Malam ini akan tetap menjadi salah satu malam terbaik dalam hidup saya. *masihgakrelaharuspulang*
Terima kasih semuanyaaah.
Terima kasih papah yang sudah memperkenalkan saya sama Ben Folds Five.
Terima kasih teman-teman yang selalu menginformasikan update-update terbaru soal mamang Ben Folds.
Terima kasih ismaya yang mendatangkan Ben Folds.
Dan pastinyah… Terima kasih semesta yang membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin.
🙂

… Nah… Berikutnya…
Mari menabung untuk beli box set anthology-nya mamang Ben Folds!!!

————-19/11/11————–

Baru nemu setlist ciamiknyah di sini dan setlist dibawah ini diambil dari siniiii

20111129-234542.jpg

Incidentals

Always always love this song.
I quote :

Oooo, you know it’s la la la la love, when you dream,

A monster just swallowed you up and you don’t wanna be saved.

FINALLY… after failing terribly to find it in 4shared, I guess I’ll have to be content to have this “video” version instead.

“The Incidentals” – Alisha’s Attic

It’s just the little things, The Incidentals,

It’s like you wouldn’t even notice when you really turn me on,

It’s the little sparks that fly and then land like dynamite,

It’s just, it’s just the simple things, pure incidentals,

It’s like stayin’ up ‘till midnight and talkin’ about … absolutely nothing.

It’s the thought that it’ll always be as wild as I expect it to be, yeah.

Oooo, you know it’s la la la la love, when you dream,

A monster just swallowed you up and you don’t wanna be saved.

Oooo and I am crazy about you babe,

You satisfy me in so many ways, so many ways.

But it’s just the little things, The Incidentals (bada ba bup)

It’s like you wouldn’t even notice when you were really turnin’ me on,

It’s those little sparks that fly and then land like dynamite,

It’s just, it’s just the simple things, pure incidentals,

It’s like breathin’ on the back of my neck and makin’ me feel weak inside.

It’s no, no matter how scared I, scared I am (I’m safe) I know I’ll be safe tonight (yeaah yeaaah).

Oooo, you know it’s la la la la love, when you dream,

A monster just swallowed you up and you don’t wanna be saved.

Ooooooooo and I am crazy about you babe,

You satisfy me in so many ways, so many ways,

Mmm, so many ways, I can’t count the ways.

(Oooo, oooo)

(Bada ba bup)

(Oooo, oooo)

It’s the thought that it’ll always be as wild as I expect it to be

And it’s just the little things, pure incidentals,

It’s like you wouldn’t even notice when you were really turnin’ me on,

It’s those little sparks that fly and then land like dynamite yeah, (yeaah yeaaah)

It’s those little sparks that fly and then land like dynamite, yeah.

Burnt

The following are actually an idea I got for a song lyric. Haven’t manifested into a song yet, though.

Written on January 29th 2010.
—————————————————–

Take your gaze off me mister,
It burns me burns me to the core
I’m flushed in the face now mister,
But still I want more I want more

Those fragments of a second,
When I caught you stealing a sideway glance
Now tell me how d’you reckon,
Can I deny the potential romance?

A slight of hand, a subtle touch
A few well chosen words
To others it may not be much
But see how it unnerves…
Me…
So…

Posted with WordPress for BlackBerry.

#Trip : Singapore – Coldplay’s Viva La Vida World Tour

Satu hal yang cukup signifikan di dekade 2000-2009 kemarin (maaf ya kalo belakangan ini saya sering banget ngebahas masalah dekade-dekade ini :p), adalah hubungan saya dengan musik. Saya berasal dari keluarga dengan tingkat musikalitas yang cukup tinggi, dan sebagian besar keluarga saya adalah musisi. Tapi awal pertama kali saya benar-benar jatuh cinta dengan musik adalah mulai tahun 2000 (see, tepat di awal dekade ini kannnn. Spektakulerrr ☺).

Dan yang berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati adalah abang-abang bernama Guy Berryman, Johnny Buckland, Will Champion dan Chris Martin. Yap. Coldplay.

Awalnya sederhana. Saya suka sekali warna kuning. Dan ketika itu radio-radio ibukota sedang kecanduan memutar Yellow dimana-mana. Lagu Yellow sendiri, sebetulnya, tidak terlalu spesial untuk saya. Hanya lagu pop pada umumnya. Tapi ketika saya meminjam album Parachutes pada seorang teman dan mendengarkan semua lagu di album itu, saya jatuh cinta.

Bayangkan kelabilan seorang remaja kurang populer berusia 16 tahun. Anehkah jika sound yang gloomy, vokal yang lirih dan lirik yang ‘gelap’ menjadi demikian menarik untuk saya? :p

Setelah Parachutes, muncul A Rush of Blood to the Head, X&Y dan Viva La Vida yang sudah bergeser dari apa yang membuat saya pertama kali jatuh cinta sama mereka. Tapi toh, selalu ada warna baru yang membuat saya tetap setia meski untuk hal yang berbeda…

Dan maka alangkah bahagianya, ketika di penghujung akhir dekade ini saya berkesempatan menyaksikan mereka secara LIVE.

Menghirup udara yang sama dengan mereka dalam satu ruangan. Melihat sendiri bagaimana abang Chris jejingkrakan berkeliling panggung seperti kesetanan. Bagaimana dia berdansa diluar irama ketika tiga temannya justru menjaga irama. Menyanyikan lagu favorit saya bersama mereka.

Salah satu momen paling signifikan di tahun 2009 🙂

And here are the pretty people I spent it with

this picture courtesy of my lovely cousin. thankyou spups!

————– 19/11/11 ————–

Baru nemu setlistnyaaa di sini dan di sini

20111119-015030.jpg