She vs Him

He likes the Beatlespre 1966. As in the good old fashioned rock and roll era.

I like the Beatles – especially post 1966, the point where their music (both in composition as well as the issues they highlight) got more complex

He likes vintage music – circa 60’s – 70’s, veering towards folksy and harmonic music like Simon & Garfunkel, Engelbert Humperdinck & the likes.

I like vintage music – basically from the same era. Blues, soul, gritty rock and great guitar sounds. Music from most of the 27 club appeals to me, as well as those from Jefferson Airplane, Deep Purple & Led Zeppellin.

He likes Chicago (the band, not the city).

I like Kansas (the band, not the city).

He likes Kings of Convenience.

I like Kings of Leon.

So what do we play in the car? Well, we found some common ground in Coldplay, the Beatles’ greatest hits, some Bread, a mix of slow rocks, and the ultimate Indonesian classic:

20130131-101544.jpg
WARKOP Juaranya!

Les Miserables

Jadi ya, seminggu ini kerjaan di kantor lagi super duper hectic. Tiga hari berturut-turut pulang paling cepet jam 11 malam. Sampai rumah pasti udah tepar dan langsung guling-guling di kasur sampai ketiduran. Di kantor pun sudah nggak sempat lihat yang lain selain layar. Pffttttt…  Alhamdulillah di tengah-tengah minggu ada satu hari libur, yang pastinya langsung dimanfaatkan untuk nonton. Pokoknya harus keluar rumah, karena bosan lihat tembok terus di kantor.

Sejak pertama kali lihat poster Les Miserables di bagian “Coming Soon” bioskop-bioskop Indonesia, saya sudah ultimatum suami : pokoknya harus nonton. Suka nggak suka, mau nggak mau, rela nggak rela. Kalau emang dia nggak mau sama sekali (he’s not really into musicals), ya saya mau nonton sendiri aja. Intinya :

harus

nonton

.titik.

Pasalnya, hal yang pertama membuat saya jatuh cinta sama teater dan musikal, ya Les Miserables ini. Kelas 6 SD adalah trip perdana saya ke luar negeri sama orang tua, dan waktu itu salah satu acaranya adalah nonton opera Les Miserables di Esplanade (kalau nggak salah). Duduk di baris depan, tengah-tengah. And I swear, it was one of the most mesmerizing things I ever saw. Enchanting.

Ya sebenarnya sih umur segitu belum ngerti-ngerti banget juga sama keseluruhan ceritanya. Yang saya ingat waktu itu cuma the Thenardiers, sepasang suami istri oportunis yang digambarkan sangat komikal. Dan yang paling dahsyat di ingatan saya adalah anak mereka, Eponine. Si korban friendzone yang bertepuk sebelah tangannya super miris sampai waktu itu juga saya ikutan nangis sesenggukan. Itu lagu On My Own juga sampai saya kuliah selalu terngiang-ngiang deh kalau lagi patah hati.

Bahwa inti cerita Les Miserables sebenarnya tentang keadilan dan perjuangan, malah nggak terlalu membekas di ingatan saya. Mungkin waktu itu juga saya belum perduli dengan topik-topik “serius” seperti itu ya.

Maka itu buat saya, nonton Les Miserables kali ini : wajib. Apalagi sesudah Smita posting reviewnya. Agak deg-degan juga sih sebenarnya, takut ekspektasi terlalu tinggi dan akhirnya malah kecewa. Tapi kalau dilihat jajaran cast-nya, sepertinya cukup menjanjikan.

Akhirnya tibalah hari libur yang dinanti-nanti. Dan ya ampun sumpah nggak kecewa sama sekali.

  1. Anne Hathaway sebagai Fantine menurut saya sempurna. Adegan nyanyi “I Dreamed a Dream” sukses bikin mata berkaca-kaca. Terasa banget bagaimana dia dikecewakan dan dikalahkan oleh realita, harus rela merendah-rendahkan harga dirinya cuma untuk uang yang nggak seberapa juga. Rasanya pengen kasi *pukpuk* terus peluk sambil ikutan nangis. Meskipun agak sebel juga, kenapa sih udah dibotakin, gigi item-item gitu, muka dekil, nangis mewek tapi kok masih cantik aja sih mbak. Iri deh!
  2. Eponine, to me, is and has always been the true heroine. Susah lho bisa rela bilang “aku seneng kok asal kamu seneng mas”. Tapi aku geregetan karena nggak setuju dengan selera cowoknya. Apa sih kok naksir sama Marius yang cengeng dangdut gitu, so not worth all the tears deh. Kalo Eponine harusnya naksir sama Enjolras, temennya Marius yang pemimpin pemberontakan dong ah! Kan mas-mas idealis gitu gagah lho. *iki opooo
  3. Gavroche, si bocah muka badung itu menggemaskan sekaliii. Aku mau tabok bapak-bapak tentara yang tembak dia. Dasar nggak punya hati.
  4. The Thenardiers are brilliantly casted. Helena Bonham Carter & Sacha Baron Cohen juara banget. Mereka bisa menggambarkan oportunisnya keluarga Thenardier dengan sangat menghibur, sama seperti penggambaran keluarga Thenardier di opera yang saya tonton dulu.
  5. Pas lagu “Do You Hear The People Sing”, itu rasanya beneran kayak mau ikut turun ke jalan deh sambil kibar-kibar bendera. Terbakar gitu semangatnya hahaha, silakan coba buktikan, rasanya setara dengan dengar Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade.

Ah pokoknya, Les Miserables sakseus lah bikin saya nggak (terlalu) miserable.

H-3 : Three Little Birds

“Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.
Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right! ”

Rise up this mornin’,
Smile with the risin’ sun,
Three little birds
Each by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Sayin’, (“This is my message to you-ou-ou: “)

Singin’: “Don’t worry ’bout a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.”
Singin’: “Don’t worry (don’t worry) ’bout a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right! ”

Rise up this mornin’,
Smiled with the risin’ sun,
Three little birds
Each by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Sayin’, “This is my message to you-ou-ou: ”

Singin’: “Don’t worry about a thing, worry about a thing, oh!
Every little thing gonna be all right. Don’t worry! ”
Singin’: “Don’t worry about a thing” – I won’t worry!
“‘Cause every little thing gonna be all right.”

Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right” – I won’t worry!
Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.”
Singin’: “Don’t worry about a thing, oh no!
‘Cause every little thing gonna be all right!

Marley is the man brah! Huhuhu, dari dulu suka sama lagu ini, dan sudah beberapa bulan terngiang-ngiang di kepala. Tepatnya, sejak bachelorette party salah satu teman saya.

Waktu itu, bachelorette party diadakan dalam kondisi semi darurat dan masih ada beberapa hal krusial yang belum beres. Alhasil ada momen-momen ditengah tawa kami ketika bride-to-be-nya mendadak teringat berbagai hal yang belum beres itu, dan mulai berkaca-kaca. Di penghujung malam, dan nyaris di penghabisan tawa kami, lagi-lagi teman saya itu mulai panik soal urusan pernikahannya.

Tepat ketika dia mulai berkaca-kaca dan menangiskan kata-kata “Undangan gue gimana iniiiih?” …tepat saat itu juga house band memainkan lagu ini : “Don’t you worry, about a thing. Every little thing is gonna be alright”, to which the bridal shower party chimed into song and started singing it to the bride-to-be. 

Momen tersebut selalu teringat sampai saat ini, dan menjadi reminder untuk diri saya sendiri. Setiap kali saya mulai berpikir panik tentang berbagai kemungkinan yang bisa membuat perencanaan saya berantakan, saya menyanyikan lagu ini dalam hati untuk ingat bahwa semuanya akan baik-baik saja. As John Lennon said, life is what happens when you’re busy making plans. Maka silakan berencana sepuas hati, tapi buat saya sekarang lebih penting mempersiapkan diri untuk pasrah.

Here’s three other little birds that makes me happy : 

Souvenir Siraman 🙂

Samar-Samar Menari Saman

Salah satu penyesalan terbesar masa kecil saya adalah bahwa saya nggak pernah belajar tari daerah khas Indonesia. Ya abis gimana, dari jaman hamil saya si mama aja hobinya nonton film Flashdance, dan dari kecil pun dijejelin segala macam VHS BETAMAX & LaserDisc tari-tarian ballet, jazz, modern dance endebray. Ditambah lagi waktu itu nggak trendy kalo nggak  les ballet di sebuah sekolah ballet ternama.

Waktu berlalu, dan tentunya saya TIDAK menjadi seorang penari. Ballet yang butuh teknik tinggi dan latihan disiplin terasa kurang menarik pada akhirnya.

Dan sekarang, di masa dimana tari India sudah masuk salah satu kategori yang dinanti-nanti dalam So You Think You Can Dance, serta ketika berbagai aspek budaya Indonesia terbengkalai di negeri sendiri dan rawan dicaplok negara lain *uhuk* … rasanya menyesal setengah mati nggak pernah sedikit pun mengakrabkan diri pada budaya Indonesia selain sebatas sebagai penikmat.

Jadi ketika ada kesempatan berkontribusi menari Saman di acara ulangtahun ke 99 induk perusahaan, tentu saya sambut baik dongs. Saya tahu ini sih nggak ada apa-apanya dibanding para penari Saman beneran yang super kompak dan kayaknya punya built in metronome didalam jam tubuhnya, tapi ya saya anggap saja ini upaya kami mengapresiasi budaya sendiri.

 

Losing A Friend

I couldn’t think of better words to describe how I felt watching the Cardigans’ concert in Jakarta last night. It really did feel much like losing a friend. I have to say, that compared to the concerts I’ve previously been to, this is the one I went to with least preparation on my behalf. I didn’t replay the albums cover to cover and I didn’t memorize the lyrics. Maybe I’ve gotten less excited because the show was clearly titled “Gran Turismo Tour”, and I wasn’t too crazy over GT.

Musically, I guess it did show more maturity from their previous work. But personally, I identified more with their earlier work such as Emmerdale. I went so far as to posting comments on their website asking them to play their earlier albums and not make the show too GT, although I don’t know whether or not they read it.

Anyways, during the concert I thought there must be a reason why they dubbed this the Gran Turismo tour, even though it was not their last album. I guess the band evolved, and their preferences changed as they matured. Which I suppose is a good thing actually, compared to packaging the same old riffs with different lyrics instead like the common mistake done by so many other bands who hit big early.

This is why I said it’s like losing a friend. You know how after 10 years you often don’t relate to your high school best friends anymore? The ones you were inseparable from, the ones you talk on the phone to every night, and whose shoulders you cried on? You’ve grown, and they’ve grown, and most often not in the same direction. It’s good for them, but you just don’t relate in the same way you used to. And as a friend, you applaud them for having grown that much. It would be selfish if you ask them to return to the way they used to hang out with at the time. Well, this is the same thing.

The concert itself was brilliant, featuring amazing lightworks, prime vocals from Nina and nice interaction from the band. They couldn’t stop taking pictures of the crowd, and expressing their joy that we knew the songs.

Another highlight : this is the first ever concert me & Abang went to together as a couple. Huhuhu… and although he’s not so much into live music as I am, I’m touched that he gave a lot of effort to enjoy it as much as I do.  :’)

Lovefools!
Thank You for the Music 🙂

Mid Week Madness

I fill my days browsing through How About Orange? by Jessica Jones, drooling all the way. The website provides so much inspiration and resources for Do-It-Yourself projects.

It then led me to find some stuff that I hopefully bring myself to make assemble. Someday soon, hopefully.

  • Bright and whimsy calendars from Scout Creative are just amazing. When I have children I think these would make a great activity.
  • Illustrated alphabets from digitprop. They also offer other mindblowingly amazing templates. Wouldn’t you also like to have your personal butler hold all your business cards?

These people are brilliant! Pure genius, I say.

Anyways, sebenernya saya browsing ini bukan males-malesan kerja loh (mmmm dikit sih.. oke banyak deh), melainkan karena semalem si babeh baru saja memberikan pernyataan yang mengezutkan. Alkisah, untuk hadiah pernikahan anak perempuan semata wayangnya ini, si babeh dari dulu udah bilang akan memberikan sebuah … LAGU. Ya beginilah kalau punya bapak mantan anak band, music director & producer pula, nggak bakal jauh-jauh dari musik ceritanya.

Mak dar it, wedding souvenir saya diputuskan berupa CD ajyah. Etapi dasar si papa sebagai *uhuk* insan musik, dia nggak mau saya masukin lagu orang dalam CD ituh, karena menurut doi itu artinya membajak! Mmmm tapi kan buat personal use paaa, gak cari keuntungan… Tapi doi (sampai saat ini) tak bergeming. Baiklah kalo getooh.

Alhasil nampaknya harus cari inspirasi free printables untuk CD sleeve & sticker nya. Uwoooh malah semakin membingungkan. Karena gimana caranya kan harus bisa dibuat sendiri. 400 biji mak! *pengsan*

This Curbly tutorial, is very sweet and would be appropriate for weddings.

While the following template from Squawk Fox is fairly easy to assemble.

I’m in love with this design from Tomoko Suzuki (i found it via How About Orange)

This free printable from Benign Object is also easy to assemble.

3 months to go before the wedding, and I still haven’t made up my mind on these details. What kind of bride am I? —purely rhetoric, you don’t need to provide an answer, although I think it would be cute if you do 😉 —

—updated August 3rd 2012—

Stumbled upon some thoughts about the legality of homemade CD mix as wedding souvenirs here. Well I guess dad does have a point. Pffft.

We’re Engaged!

Ah ya, si acara lamaran yang ditegang-tegangkan itu pun selesai. (sounds wrong ya?)

Rasanya kepengen sujud syukur Alhamdulillah. Memang di dunia ini nggak ada yang lebih baik dari berpasrah ketika semua usaha maksimal sudah diupayakan.

Jagoanku :*

Mamahku Jagoan

Sebagaimana CPW pada umumnya, di setiap tahapan acara pastilah ada yang namanya berantem-berantem diskusi mendalam sama orang tua, terutama si Mama. Apalagi mama lumayan perfeksionis dan mau apa-apa diselesaikan right here, right now, right here, right now. Buat doi, nelpon vendor jam 10 malem itu nggak apa-apa, sedangkan saya suka nggak enak karena rasanya seperti “mencuri” waktu si vendor dengan keluarganya. Kalau bicara hasil, ya jelas sih Mama biasanya lebih sakseus dari saya.

Mengenai seserahan, saya dan si abang cenderung santai. Alhasil barang-barang seserahan baru terkumpul seminggu menjelang acara lamaran, bahkan ada yang satu hari menjelang lamaran baru dapat (more on that later). Padahal si mama sudah menyiapkan box-box cantik berbagai ukuran terbuat dari aluminium, dengan motif emboss yang terlihat seperti ukiran. Soal hias-menghias, Mama juga yang mengurus semuanya. And I kid you not, hasilnya cantikkk banget.

Kemarin saya ke toko bunga di salah satu mall terkemuka Jakarta, box seserahan saya yang seukuran kotak cincin dijual dengan harga 40 ribu rupiah. Sedangkan si Mama beli di harga 15 ribu rupiah saja loh. Yang parah, ukuran sedang dijual 160 ribu rupiah di toko itu, sedangkan Mama beli ukuran paling besarnya dengan harga ….eng ing eng… 90 ribu rupiah. Wow, mama jagoan!!

*kecupkecup*

The Engagement Rings – dalam box beli di bawah stasiun Menteng
Box yang sama, dijual di salah satu mall elite Jakarta Raya

Papahku Jagoan

Karena Papa adalah anak tertua, dan kakek saya sudah sangat sepuh, rencananya perwakilan keluarga adalah Angku Tom atau oom-nya Papa yang kebetulan adalah juga sahabat papanya si abang waktu kuliah dulu. Jadi bisa dibilang Papa hampir nggak ada persiapan apapun, untuk acara lamaran ini, selain tampil ganteng (gitu katanya).

H-1, ternyata Angku Tom terpaksa dirawat di rumah sakit, sedangkan Angku-Angku yang lain lebih sepuh lagi dan sepertinya terlalu dadakan untuk meminta bantuan mereka. Alhasil, Papa mulai panas dingin meriang deg-degan tapiiii gengsi mau ngomong. Berhubung saya cukup peka pada gelagat si Papa, saya berniat baik kasih contekan naskah lamaran sepupu si Abang. Yang ada Papa malah makin pusing karena itu balas-balasan pantun panjang berlembar-lembar. Huhuhuhu maaf ya Paaaa…

Meskipun saya sudah titip pesan untuk tidak berpantun karena penyambutan dilakukan oleh Papa dan bukan Angku Tom, tapi mungkin koordinasi yang kurang baik dan informasi yang mendadak mengakibatkan… keluarga si Abang datang berpantun sebanyak tiga lembar. Saya di kamar sudah ikut deg-degan, karena takut ada pihak-pihak yang tersinggung.

Alhamdulillah Papa berhasil mencairkan suasana kembali, tanpa perlu pantun. Sini sini dikecup dulu sama anaknya.

Lalu di detik-detik terakhir kami baru sadar bahwa nggak ada yang nyiapin musik untuk menemani acara makan dan penyambutan keluarga. Percayakanlah pada Papaku si mantan Music Director, doi mengeluarkan album Beatles versi Bossas untuk membuat sejuk di hari nan terik itu.

Saudara-Saudaraku Jagoan

Acara lamaran ini hampir semuanya gratisan atau swadaya. Mulai dari cari kotak seserahan, sampai dekorasi. Kita bela-belain belanja bunga ke Rawa Belong dan memilih bunga yang akan digunakan, untuk dibawa Mas Angga sang Florist (iya namanya sama kayak si abang) semalam sebelum acara. Nggak tanggung-tanggung, demi memastikan bunganya tetap segar, Mas Angga datang jam 11 malam dan langsung nguplek merangkai bunga di rumah saya sampai jam 1 pagi.

Untuk menghemat biaya, saya dan Mama sama sekali nggak pilih bunga mawar atau anggrek, melainkan bunga-bunga murah. Ternyata bunga yang dibawa Mas Angga banyak banget, sampai tiap 10 menit dia minta vas lagi daripada sayang bunganya nggak dipajang. Paling ekstrem, akhirnya segala macam mangkok sama pitcher nganggur di rumah juga kebagian jatah jadi vas dadakan.

Nah, siapa lagi yang bersedia nungguin tukang kembang rangkai-rangkai bunga kalau bukan adik saya yang paling manis sedunia? I need my beauty sleep kaaaan soalnya. Karena jendela ruang tamu dijebol supaya nggak terkesan sempit, adik saya bahkan rela tidur di ruang tamu untuk jaga rumah.

Hari H, lagi-lagi dia dan satu orang adik sepupu saya yang jadi koordinator lapangan. Mulai dari utak atik rundown, koordinasi dengan keluarga Abang, sampai jadi fotografer dadakan. Sepupu saya yang adalah juga teman terlama saya, rela bolos kerja dan pulang dari Singapura demi menjadi MC. Aduuu makasi banget spups saya jadi pengen kecup satu-satu.

My Spups yang sangat berjasa

Pacarku Jagoan

Mana ada sih, pihak pelamar ikutan angkat-angkat kursi H-1 menjelang lamaran sedangkan yang mau dilamar malah kerja di kantor? Ketika sore-sore pulang kantor, pemandangan yang saya jumpai adalah si abang sedang ikut ngurusin rundown dan dekor bersama mama, tante dan sepupu saya, rasanya hati ini adem beneer. Sekece-kecenya cowok, mungkin nggak ada yang lebih bikin jatuh cinta daripada melihat dia bisa membaur dan jadi bagian dari keluarga kita. Alhamdulillah 🙂

Aku (boleh kan ikutan jadi) Jagoan

Berhubung hasrat ingin mewujudkan personalized & small wedding impian sudah di-veto sejak jauh hari oleh Mama, jadi saya punya agenda pribadi untuk bisa memanifestasikan personal touch di acara lamaran saya. Berbekal free printables dari Wedding Chicks,  font gratisan dan Adobe Illustrator, saya membuat placecards untuk masing-masing kursi. Dan karena antara ruang tamu dan ruang utama ada partisi dengan tinggi nanggung, akhirnya saya hias dengan bunga-bunga sisa Mas Angga the Florist. Meskipun sekitar jam 12 malam saya sempat berpikir kayaknya gua gila yak ngerjain kayak gini sendirian, but I have to say I like the results, meskipun bisa jadi saya subyektif berhubung saya yang bikin sendiri hohoho.

Perlengkapan Perang
seating cards
pompom flowers on the banister

Satu-satunya hal yang saya sesalkan adalah dokumentasi. Karena budget minim, akhirnya kami minta tolong teman untuk dokumentasinya. Namun mungkin karena kurang briefing dari kami mengenai susunan acara dan request hal-hal yang diinginkan, sepertinya banyak detail yang nggak ter-capture. Dan sepertinya keluarga saya maupun keluarga si abang memang kurang sadar blocking, jadi beberapa acara inti kurang terlihat “rapi” fotonya. Banyak  yang clingak clinguk di sana sini huahahaha.

*daftar les blocking*

*emang ada lesnya?*

Yah demikianlah, yang penting toh hasil akhirnya. Dan yang lebih penting lagi, saya diingatkan betapa saya punya harta yang paling berharga : keluarga yang sangat-sangat baik *masukkan soundtrack keluarga cemara disini*

My Lovely Family
Proud Grandparents : Aung, Uti, Opa — lamaran perdana cucu-cucu mereka soalnya
Soon To Be Family (Amin)

Dan marilah kita tutup dengan muka saya dan si abang yang lagi super girang karena baru aja tunangan. Semoga lancar hari ini menjadi lancar pula untuk ke depannya dan segala sesuatunya. Saya dengar ada amin di sini? Amin.