Whole Lotta Love

…for this blog.

…and this band.

…and this performance

Advertisements

Idola Baru : KO!

Tahu Pentatonix kan? Grup acapella ini emang keren banget, dan saya paling suka sama dua karya mereka yang ini :

sama ini

Jenius! Naaah seperti biasa di kelompok musik apapun saya pasti tertariknya selalu sama pemain bass atau pemain drum. Begitu juga Pentatonix, saya merasa kekuatan mereka ada di beatboxernya, yang menambah dimensi pada aransemen mereka. *ejiyeeeh kayak ngerti aja sih lo Ndied*

Browsing lebih lanjut soal mas Kevin Olusola (yang punya nama beken KO), membuat saya berikrar kalau dia akan jadi idola baru saya. Ini orang kayaknya optimal banget lho penggunaan sel-sel otaknya.

Ternyata, Pentatonix menemukan si KO ini akibat video Youtube nya yang viral yaitu pas dia main cellobox. Benda apa itu? Ternyata cellobox artinya adalah

doi

main

cello

sambil

beatbox

..

.

EDYAN!

Apa sih yang doi nggak bisa?

Keren ah pokoknya si KO ini. Saya nge-fans! Hai anak kecil di perut, nanti gedenya semoga multitalenta kayak gini ya… Buat yang pengen tahu cellobox itu apa, monggo ditonton pidionyah.

JRL 2013

20130701-163824.jpg

Finally hari yang dinanti-nanti datang juga!! Tamasya telinga sekeluarga ke Java Rockin’Land, 22-23 Juni 2013 kemarin. Saya dan si adik, terus terang agak ketar-ketir bagaimana pasangan masing-masing akan menikmati acara ini. Lebih ketar-ketir lagi karena JRL tahun ini cukup banyak band yang tampil adalah mereka dengan aliran “ngeri”. Sebut aja band-band death metal dengan nama yang nggak kalah ngeri seperti “Siksa Kubur”, “Dead Squad” atau headliner dari negeri jauh “Suicidal Tendencies”. Ngeri ya mak namanya?

Saya pribadi sebenarnya nggak terlalu suka juga dengan yang alirannya terlalu ekstrim begini. Suami saya pasang muka lempeng dan akhirnya menghibur diri dengan jajan sepuasnya di aneka stand makan minum yang ada. Muka pacar adik saya, layu udah kayak kucing keujanan. Huahaha maafin yaaaa *sungkem*

Untungnya ada juga musik yang lebih ramah telinga seperti SORE dan Efek Rumah Kaca. Buat generasi 90, bisa dibilang JRL hari kedua ini layaknya mesin waktu : ada Gigi yang seperti biasa tampil atraktif dan penuh energi, ada /rif, ada PAS, cherry bombshell daaaaan Rumah Sakit.

20130701-171444.jpg
Nonton festival musik kok minumnya tetep dawet ya

20130701-162600.jpg

I love this picture! Armand Maulana bener-bener atraktif!

Kensington, band asal Belanda yang pernah tampil di JRL 2011, main lagi di JRL kali ini dengan panggung lebih besar (dulu mereka main di Dome, panggung indoor-nya JRL). Gugun Blues Shelter lagi-lagi main di panggung Tebz, dan lagi-lagi nggak mengecewakan. Buat para sobat Padi, ada Musikimia (baca : Padi minus Piyu) yang untuk lagu terakhirnya bawain lagu “Rock and Roll” punya Led Zeppelin

*lompat

*jejeritan

*ikut nyanyik

Nggak terlalu banyak yang spesial dari JRL kali ini. Saya sama sekali nggak tertarik sama artis luar negeri yang didatengin hahaha, cuma Collective Soul aja yang paling mendingan. Highlight-nya ternyata justru ada di salah satu pengunjung JRL. Can you guess who?

20130701-162721.jpg
Jokowi screaming with the crowds, watching /rif’s performance

YUP! Bapak Jokowi, Gubernur DKI Jakarta. Entah sejak kapan beliau datang, penonton pun sepertinya baru sadar ketika di tengah pertunjukan Andi /rif mendadak dikasih kertas oleh crew. Saya sempet mikir kok ada yang kasih request lagu sih, kayak lagi main di kafe aja dah. Ternyata kertas itu adalah info dari panitia bahwa Jokowi sedang ikut menonton pertunjukan /rif.

Saat Andi memanggil Pak Jokowi untuk tahu posisinya, beliau cuma membalas dengan lambaian tangan. Ternyata berdirinya agak di belakang, ikut membaur di antara penonton. Ada satu security dari panitia JRL di sebelahnya, kemudian pengawal berseragam berdiri agak jauh dari Jokowi. Selain dari itu – setidaknya sepenglihatan saya – nggak ada special treatment lain. Beliau ikut asyik nonton, ikut teriak-teriak, ikut goyang dikit, ikut berdiri di tengah penonton. Salut pak!

That’s what I love about music. Bahasa yang universal, bisa dinikmati siapa saja, kapan saja, dimana saja….dan dengan cara apa saja 🙂

Jejingkrakan rame-rame? Bisaa.

20130701-161102.jpg

Ngelamun sendirian? Bisa!

20130701-162158.jpg

JRL Flashback : 2011

Yihaaaa 2 hari lagi menuju JRL 2013!

Java Rockin’ Land tahun 2011, lagi-lagi saya pergi berdua dengan si adik. Tahun itu JRL lumayan ramai karena orang-orang mau nonton The Cranberries. Tapi buat saya, daya tarik utama adalah Frente!, sedangkan adik saya ngejar Wolfmother.

Dulu waktu kecil, setiap akhir minggu saya dijatah jajan maksimal dua komik seminggu. Ketika saya lulus SD, si papah merasa sudah saatnya saya “naik kelas” jadi jajan kaset. Masalahnya umur segitu kan rada nanggung ya, denger lagu anak-anak udah nggak doyan, tapi belum terlalu familiar juga dengan lagu dewasa. Dari hari kamisnya, saya sudah pusing sendiri mau beli kaset apa. Pasalnya, hadiah kelulusan saya adalah walkman! Masa udah kece punya walkman tapi nggak ada kasetnya?

Tahun-tahun segitu, sinetron yang lagi booming adalah Pondok Indah (jyaaah ketauan deh umurnya), dimana pada salah satu episodenya ada lagu “Bizarre Love Triangle” yang dibawakan oleh Frente! AHA! Hari sabtunya, seperti biasa kami sekeluarga ke Duta Suara di jalan Sabang, langsung ambil kasetnya, dibayarin bokap, selesai. Masalah muncul ketika kaset saya putar : udah dua sisi bolak balik kok nggak ada lagu Bizzare Love Triangle sih? Oalaa saya baru ngerti belakangan bahwa lagu itu bukan lagunya Frente! melainkan cover version dari lagunya New Order. *tepokjidat* Berhubung cuma satu-satunya, tentu itu kaset tetap saya dengerin non stop kapan pun dimanapun, sampai akhirnya menempel di kepala dan kurang lebih jadi mempengaruhi selera music saya juga di kemudian hari.

Panggung Frente! di JRL 2011 bisa dibilang bukan panggung utama. Jam mainnya juga masih sore, dan saat itu sedang hujan sehingga penonton nggak terlalu ramai. Penonton yang ada pun bisa dibilang seumuran saya semua, atau bahkan lebih senior lagi. Begitu Angie Hart naik panggung, saya agak kaget melihat penampilannya – nggak terasa ya tahun 1995 itu sudah 16 tahun lalu. Jelas aja wajahnya dan gayanya beneran bagai ibu-ibu. Untung, energinya masih prima! Hampir semua lagu di Marvin the Album dibawakan, dan crowd pun asyik bernyanyi bersama.

Angie sampai terharu karena kaget penonton tahu semua lagunya, hingga suaranya sedikit bergetar saat mengucapkan terima kasih. Nah kalau saya terharu karenaaa kebagian pick gitar yang dilempar ke arah penonton.

Terus sempet juga nonton BIP demi memandang Ipank sang idola. Aaaah terharu!

1 day to JRL!

JRL Flashback : 2010

2010 adalah tahun dimana akhirnya saya berhasil nonton JRL. Hamdallah yaaa… Waktu itu dateng cuma berdua si adik, demi mengejar band favoritnya : Stereophonics.

Selain Stereophonics, juga ada Wolfmother sama The Vines. Sayangnya saya nggak bisa nonton karena itu band terakhir di hari minggu, yang artinya mainnya malem banget menjelang dini hari. Sedangkan besoknya saya ngantooor ihiks. Ih kalo dipikir mah cupu banget ya, kenapa juga nggak dijabanin aja waktu itu nonton sampe kelar?
Sambil nunggu jam manggung si band idaman, kami sempet nonton juga Oppie, Slank, dan Superglad. Kayaknya sih masih banyak lagi deh, tapi mungkin nggak terlalu berkesan ya.

Moment paling konyol di JRL 2010 buat saya adalah waktu Slank manggung. Ceritanya itu sore menjelang matahari terbenam, di panggung utama yang berupa lapangan rumput. Saya spontan nyeruduk ke barisan depan karena semangat nonton Slank secara live, yang langsung bikin si adik panik lalu ikutan nyeruduk ke depan juga demi melindungi kakaknya dari potensi bahaya. Ih manis deh kamu dek, tapi kan aku baik-baik saja. Toh, crowdnya cukup bersahabat.

Setelah puas singalong beberapa lagu, cuaca yang tadinya panas terik mulai membaik. Yang tadinya mati angin, mulai deh ada sepoi-sepoi semilir. Paaas banget Slank mulai bawain lagu-lagu yang juga bikin sejuk semacam “Terlalu Manis” dan “Ku Tak Bisa”. Nah pas lagu ini nih mendadak turun hujan gerimis manis. Saya bilang gerimis manis karena cuacanya romantis : hujan rintik halus, saking halusnya sampai nggak terasa di kulit, dan langit juga masih terang. Langsung kan memancing aura2 pengen glendotan? Apalagi kanan kiri pada mulai peluk pasangan masing-masing dari belakang. Tapi kok ya pas saya nengok sebelah, ketemunya muka adek saya lagi sama-sama wajah pengen glendotan.

*saling liat2an*

*bengong sejenak*

*kemudian males*

Ya beginilah nasib dua kakak beradik jomblih. Asem.
Kejadian absurd lainnya adalah pas kelar nonton slank, kami berjalan ke area makanan. Ternyata karena habis hujan, lapangan rumputnya jadi becek dan berlumpur banget. Kontan lah saya dan si adik asyik ngetawain cewek2 tampil ibukota yang sibuk sendiri karena sepatu haknya nyangkut di lumpur. And guess what?

Ya mungkin namanya karma ya, saya menginjak kubangan lumpur yang sangat dalam sampai kaki saya terbenam semata kaki. Laaaaah kan jadi tengsin akik sama mbak2 yang saya ketawain tadiiiii! Dengan muka sok cuek dan sok “lumpur dikit mah gak masalah”, saya paksain jalan dan angkat kaki sekuat tenaga dari lumpur. Tali sendal jepitnya putus aja loh! Hadoh!

Peristiwa ini kemudian menyebabkan saya telanjang kaki sampai sekitar 1 jam. Makan pun sambil nyeker, lengkap dengan kaki penuh lumpur, pas juga lagi pake kaos gembel sama celana sate. Cakep. Pupus udah rencana cari jodoh di JRL.

20130619-212444.jpg

Tapi di titik itu juga salah satu kenangan gw paling manis dengan si adik : menikmati musik bersama, bernyanyi bersama, ketawaketiwi gila bersama, bandel bersama. There’s no better way to bond with a sibling.

20130619-212501.jpg

JRL Flashback : 2009

4 hari lagi menuju JRL dan aku sungguh bersemangat. Padahal sih line up musisi luar nya nggak semenarik acara-acara sebelumnya. Mungkin karena pembatalan tahun lalu bikin berasa nanggung ya, jadi nggak sabar pengen banget ngerasain suasanan festival musik lagi. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk menulis flashback memori masa lalu di JRL.

JRL pertama kali itu tahun 2009 kalau nggak salah, dan waktu itu booming banget karena mendatangkan Mr. Big. UWOOOW! Siapa yang tidak terpesona?

Selain Mr. Big ada juga Vertical Horizon dan Third Eye Blind. Yang asli Indonesia ada Tika & the Dissidents, Flowers, Mike’s Apartment sama Slank. Naaah yang terakhir ini bikin saya semangat, karena nonton Slank itu nggak akan pernah nyesel. Energinya tuh gimana ya, keren banget aja, baik dari energi band nya maupun penontonnya.

Tapi yang jadi tujuan utama buat saya pasti Mr. Big. Alkisah dulu waktu kecil, si papah kan seniman yah jadi nggak punya jam kerja tetap. Maka setiap sore abis mandi, biasanya saya sama papah duduk-duduk di teras. Doi main gitar sambil nyanyi, saya ngemil pisang goreng atau kue putu (tergantung tukang apa yang liwat depan rumah). Dan biasanya lagu yang paling sering beliau nyanyikan adalah lagu “Wild World”. Tentunya dengan diselipkan pesan-pesan sponsor bahwa jangan buru-buru jadi anak gede biar bisa diketekin papah terus. Huahahahaha. Begitu juga waktu pertama kali ngerasain sakitnya cinta (monyet) bertepuk sebelah tangan, si babe suka nyanyiin “To Be With You” buat ngingetin si bocah ingusan jangan gentar kalau nggak ada laki-laki yang naksir, karena ada babeh yang siap nemenin. :’) Nggak heran dong kalau saya semangat nonton Mr. Big?

Sayangnya, saya kena typhus pas hari H sehingga tiket hangus dan saya batal nonton. Hiks… Ini kok postingnya anti klimaks begini ya?

Ya intinya pertama kali JRL saya pengen nonton tapi nggak kejadian. Dan laksana seorang Aries sejati yang selalu harus dapet apa maunya, tentu saya bertekad harus bisa nonton JRL berikutnya.

Berhasilkah? Nantikan di posting berikutnya *ditabokpembaca

JRL 2013 – Countdown

I

CAN’T

WAIT!!!

image

Nonton konser adalah momen sempurna untuk bonding saya dan si adik. Apalagi selera musik kami berdua bisa dibilang kurang nge-pop, jadi temen-temen kami kayaknya nggak tertarik sama konser yang kami minatin. Makanya seringkali pergi nonton konser berduaan ajah. Maklum deh, salahin aja si babe yang kalo jam tidur anaknya malah setel lagu dari band-band semacam Kansas, Queen, Led Zeppelin dan Genesis (era Peter Gabriel ya, waktu Phil Collins masih jadi drummer).

Kalau nggak salah, pertama kali saya dan si adik nonton konser berdua aja itu Rock Opera, sekitar tahun 2002 atau 2003. Karena masih mahasiswa, dan udah nggak dikasih uang jajan lagi sama orang tua, jadi meskipun pengen banget nonton konser Muse tapi uangnya nggak cukup. Alhasil jadilah kita nonton Rock Opera nya Yockie Suryoprayogo, karena harganya masih bersahabat sama kantong mahasiswa.

Anyway, waktu kita tahu bahwa ada acara yang namanya Java Rockingland rasanya seneeeng banget. Sebagai flower generation wannabe, cita-cita utama dalam hidup adalah pengen ngerasain Woodstock. What could be better than 3 days full of music? Sayang saya lahir telat 2 dekade ya ihik ihik. Pengen nonton Glastonbury atau Bonnaroo, ya mahal aja dong transportnya. Makanya yaa udah lah gak papa cari festival yang mirip aja di Indonesia.

BIasanya, saya dan si adik nonton JRL berduaan ajah, meskipun di sana pasti ketemu temen-temen juga sih. Mak dar it, momen JRL kali ini rasanya ingin kuirit-irit dan kurekam semua baik-baik dalam hati. Takutnya tahun-tahun depan belum tentu bisa bareng-bareng si adik lagi.Apalagi masing-masing akan punya keluarga mini sendiri, yang berarti punya urutan prioritas juga akan berbeda. Tahun ini juga spesial karena menjadi inisiasi 2 anggota baru dalam keluarga kami : suami saya dan calon istri si adik yang dua-duanya sekali nggak doyan musik rock huahahaha. So, it’s brainwash time!

7 hari menuju JRL, kayaknya akan saya isi dengan mengenang highlights JRL-JRL sebelumnya deh. Bear with me, readers.
🙂