Cuti Melahirkan – Episode 2

LHO????

Kok judulnya cuti melahirkan???

Huhuhu iya nih, setelah lamaaaaaa sekali nggak update, akhirnya baru sempet nengok-nengok blog lagi. Jadi, ada beberapa perkembangan sejak posting terakhir. Sejak November 2014, memang frekuensi main dan menulis di sini jadi lebih jarang karena kesibukan dan tanggung jawab di kantor bertambah.

Tapi ternyata ada satu hal lagi yang nggak gw pertimbangkan sebelumnya. Gw. Hamil.

LAGI.

Kombinasi antara kesibukan di kantor + punya toddler + hamil itu ternyata sangat menguras energi lho. Jadi ya akhirnya baru bisa buka-buka blog lagi ya sekarang, ketika sudah mulai cuti melahirkan di minggu ke-37.

So, mungkin untuk beberapa hari ke depan akan mulai posting-posting lagi (kalau nggak keburu nongol si bayi, which means akan mulai jarang lagi bisa buka blog hahahaha)

Bear with me, people.

Advertisements

365 hari aksara

Nggak terasa, hari ini si #hurufkecil genap 1 tahun.

Huwowww 365 hari yang dihabiskan bersama anak bocah sungguh warna-warni. Terkadang merahjambu, bisa mengharu biru, ada juga hari-hari suram seru menegangkan. Sebagaimana sudah pernah disebutkan berkali-kali, ternyata justru dari bayi ini gw banyak belajar soal hidup *cih berat amat*

Berdamai dengan diri sendiri, dengan ekspektasi, dengan idealisme, dengan keterbatasan. Berdamai dengan lingkungan sekitar, mengalah untuk menang, dan ada kalanya memang harus menelan harga diri bulat-bulat.

Aneka drama ASIX, drama alergi, drama berat badan bayi, drama work life balance, drama berantem pola asuh, endebray endebray endebray. Semuanya terhapus cuma dengan pandang-pandang muka anak gadis lagi tidur nyenyak, atau ndusel di ketek asemnya.

Nak, semoga peluk ini tidak akan pernah terlalu sesak untukmu, semoga tangan ini tidak akan pernah terlalu lelah menuntunmu. 365 lembar sudah tertulis, masih banyak lagi di depan sana… I love you more than I can understand. Mama cuma bisa bilang terima kasih, and I really hope I won’t mess you up.

 

littlemissbirthday

Close Call

Dear Readers (kalau ada), just to share a little about a verrrrry creepy thing that happened. Semoga hal-hal serupa nggak akan pernah terjadi lagi, AMIN.
A little background story : saat ini gw masih memberi ASIX ke si hurufkecil, meskipun teramat sangat kejar tayang (baca : pompa hari ini buat diminum besok). Kejar tayangnya terkadang cukup ekstrim (baca : pompa pagi buat diminum sore), sampai terkadang gw terpaksa izin nggak masuk kantor atau kerja dari rumah kalau bener-bener nggak ada stock untuk hari itu. Ndilalah, beberapa minggu lalu akhirnya gw pertama kali haid sejak melahirkan, yang menyebabkan produksi ASI gw jadi menurun drastis.
Sufor pun bukan solusi mudah. Bukan karena gw lactivist yang anti sufor banget, bukan. Tapi, hurufkecil punya alergi terhadap protein yang ada di susu sapi dan kedelai, sedangkan mayoritas sufor terbuat dari susu sapi atau susu kedelai kan. Ada beberapa alternatif lain sih, dari asam amino atau apalah, tapi ternyata rasanya nggak enak dan akhirnya anak bocah ngamuk sama sekali kalau dikasih susu itu. Baru keminum seteguk, botolnya dilempar, trus nangis-nangis. *hatiretak*
Akhirnya setelah diskusi panjang sama suami, kami mempertimbangkan alternatif untuk cari donor ASI. Meskipun yaa, agak setengah hati sih gw, karena kayaknya susah cari donor yang pantangan makan produk kedelai. Namapun di Indonesia, pasti kecap tahu tempe udah jadi makanan sehari-hari kan ya. Tapi ya udah lah dicoba aja, siapa tahu ada.

Mulai deh pilih-pilih media/forum untuk cari donor ASI. Karena jarang pakai facebook, jadi nggak posting di FB nya AIMI ASI. Instead, gw posting di sebuah forum parenting yang sepertinya cukup terpercaya, dengan mencantumkan nomor telpon dan email. Seiring waktu berlalu, produksi ASI gw kembali normal dan alhamdulillah sudah mencukupi kembali kebutuhan si hurufkecil, lalu gw akhirnya lupa mengenai posting  tersebut.

Senin lalu, tiba-tiba ada seorang lelaki menelepon menawarkan donor ASI. Katanya, bayi mereka meninggal (innalillahi wa inna ilaihi rajiun), lalu sekarang istrinya ingin mendonorkan ASI nya. Gw tidak langsung mengiyakan karena kondisi alergi si hurufkecil, sehingga donornya harus pantang beberapa makanan. Ketika gw jelaskan ini kepada orang tersebut, jawabannya nggak nyambung “iya ini disusuin langsung aja”

Gw bingung lalu menanyakan lokasi domisili mereka. Lelaki itu mengaku saat ini posisinya di Malang, sedangkan gw di Jakarta. Karena kondisi saat ini ASI masih cukup, gw menyarankan untuk ditawarkan saja ke orang lain yang mungkin kondisinya lebih urgent/lebih membutuhkan dan untuk cari calon donor di facebook AIMI ASI.

Lelaki itu kembali mendesak “saya butuh cepet, karena istri saya kesakitan bengkak”. Gw sarankan kembali bahwa ASInya dipompa saja lalu disimpan untuk didonasi kemudian, yang dijawab lelaki itu dengan “nggak bisa, ASInya nggak keluar kalau dipompa, harus disusuin langsung”

Di titik ini gw mulai curiga, karena :

  1. kalau dari bahasanya, kok seolah2 anak gw alat untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan istrinya?
  2. kenapa harus ngotot disusui langsung? bukankah bisa dipompa?
  3. meskipun ybs di Malang (katanya) dan gw di Jakarta, dia ngotot mau mendatangi demi bisa menyusui langsung anak gw

Something is not right, feeling gw.

….tapi ujung-ujungnya gw sedikit merasa kasihan karena ingat cerita ybs bahwa bayinya baru saja meninggal. Gw pikir mungkin dia panik atau nggak terlalu paham seputar mekanisme donor ASI dan manajemen ASIP. Akhirnya untuk menyudahi pembicaraan yang membuat gw makin nggak nyaman, gw bilang bahwa gw akan save nomor ybs dan menginformasikan kalau ada teman yang membutuhkan.

Satu jam kemudian, lelaki tersebut menelepon lagi dan semakin mendesak “Gimana mbak udah ada belum temennya?” yang tentunya gw bilang aja belum ada, dan pembicaraan menjadi semakin aneh :

Penelpon (P) : “Tolonglah Mbak istri saya udah kesakitan”
Saya : “Dipompa aja Pak, terus disimpen dulu buat kalau besok-besok ada yang butuh”
P : “dipompa nggak keluar, udah mampet”
Saya : “ke dokter atau konselor laktasi Pak, mungkin harus dilancarkan dulu”
P : “kata dokter harus disusuin ke bayi, harus ada bayinya langsung”

di titik ini gw semakin yakin ada yang nggak beres, langsung tutup telpon, block nomor tersebut.

Gw sempat cerita juga soal kejadian ini ke beberapa teman, dan ternyata salah satunya menginformasikan bahwa di fanpage Facebook AIMI ASI ada info mengenai modus kejahatan seperti ini.

Kalau dipikir, kok ada sih orang jahat banget gitu ya. Siapapun yang cari donor ASI kan bisa dibilang sedang dalam kondisi kesusahan, masih aja dimanfaatkan buat kepentingan diri sendiri ūüė¶

Exhausted

With great power comes great responsibility. Being VP at 30, is a lot to handle. Memang secara judul nampak keren, tapi job description nya pun puanjang dan lebar.

Plus, tim masih compang-camping. Pasukan belum lengkap, dan kebanyakan di tingkat junior.

Plus, punya anak bayi.

Plus, terkadang masih sok idealis. Ya untuk parenting, ya untuk kerjaan.

KELAR.

No, no, am not complaining (well, trying really hard not to). Tapi nggak bohong, capeknya luar biasa. Apalagi ketika kebanyakan orang merasa pantas jadi komentator, sumbu gw langsung pendek lah itu.

Terkadang gw cuma butuh afirmasi, that I’m doing OK. That I’m an OK mother. Not perfect, but OK. And that is enough. Pfft….

Unconditional Love

Banyak orang bilang yang namanya “unconditional love” itu hanya satu : cinta seorang ibu untuk anaknya. Tapi sekarang setelah punya anak, kayaknya gw merasa ungkapan itu kurang tepat.

In my case, gw masih seseorang yang sangat egois dan punya batas sabar/capek. Jadi ya meskipun gw sayang setengah mati sama Aksara, kayaknya gw belum berani bilang itu unconditional. Pembuktiannya adalah suatu hari nanti, ketika dia mulai beranjak untuk menggapai mimpi dan cita-citanya – yang bisa jadi tidak sama dengan apa yang pernah gw angan-angankan untuk dia. Kenyataannya, setiap orang tua pasti punya harapan tinggi untuk anaknya. Dan nggak sedikit juga orang tua yang kalah oleh rasa kecewa atau malu ketika anaknya ternyata tidak bisa atau tidak mau memenuhi harapan itu. Makanya gw belum berani bilang rasa sayang gw unconditional, meskipun gw sangat sangat berharap gw bisa mencintai dan membebaskan dia bertumbuh kembang di jalur yang dia mau.

Gw rasa, lebih tepat kalau dibilang bahwa anak (setidaknya, bayi) yang punya kapasitas mencintai tanpa syarat. They love totally, unconditionally, without judgments, or any terms and conditions. And they ask for nothing in return.

These mini humans carry inside them a universe of wisdom, and it is our duty to preserve it. Yet they are our teachers. Sungguh, menjadi orang tua adalah salah satu hal yang paling menggentarkan buat gw. Tapi gw percaya, anak-anak kuat dan tegar, bahkan melebihi orang tuanya.

Semakin besar Aksara, gw semakin berterima kasih bahwa dia begitu pengertian dan bisa memaklumi ibunya yang abal-abal ini. Emaknya pulang malem karena lembur, disambut pake senyum dan minta gendong. Emaknya nyusuin sambil bersungut-sungut karena kebangun tengah malem, dia tetap senyum dan elus-elus muka gw. Kenapa makhluk mungil ini punya hati yang begitu besar?

I have a lot to learn, but I have the best possible teacher in the world : my daughter.

Dear Aksara,

suatu hari nanti kalau kamu membaca ini : Terima Kasih ya hurufkecilku, semoga kamu sudah jadi Huruf Besar ūüôā

Patut Dicoba

Holaaa masih dalam rangka International Breastfeeding Week. Nemu beberapa hal yang saat ini baru mulai dicoba untuk meningkatkan produksi ASI.

Jus Pare

Apaaaa?!? Ihihihi pertama nemu ini di instagramnya Andra Alodita, kemudian sedikit tanya-tanya pada ybs melalui email (orangnya baik banget yaaa hihihi, suka deh!)

Dengan sedikit modifikasi pada resep aslinya, tadi pagi perdana sarapan pakai jus pare. Ternyata sama sekali nggak pahit, hanya ada sedikit rasa getir di awal, tapi ya bisa kita akalin juga dengan nambah takaran bahan lainnya.

Self Massage

Gw orang yang suka banget dipijat. Aktivitas menyusui dan mompa (dan jam tidur yang cuma seiprit) ngefek banget bikin otot-otot gw tegang semua, yang otomatis ngefek juga ke produksi ASI. Kalau badan capek kurang tidur, ASI gw pasti nggak bisa banyak. Sedangkan gw kan nggak punya banyak stok dan seringkali kejar tayang (more on that later), jadi ya penurunan produksi sedikitpun langsung bikin gw kebakaran jenggot.

Nah tadi nemu exercise ini nih untuk melemaskan otot-otot, jadi kita nggak tergantung orang lain untuk mijetin kita.

Hasilnya belum tahu ya, wong baru mau dicoba hari ini. Will update soon kalau memang ngefek. Buibu yang lain silakan dicoba ya, please inform me juga kalau ada trik-trik lainnya.

Selamat menyusui!

Perlengkapan Perang Menyusui – part 1 : Bulan Pertama

Hola buibu, taukah anda bahwa sekarang sedang pekan menyusui internasional alias International Breastfeeding Week?

Perihal ASIX¬†ini memang nggak habis-habisnya dibahas ya, bahkan waktu hamil dulu gw paling BUANYAK belanja ya untuk seputar persiapan menyusui dan pemberian ASI eksklusif ini. Kayaknya barang apapun yang ada embel-embel “ASI”, “ASIX”, “breastfeeding”, semuanya gw beli deh mwahahaha… Semua demi mempersiapkan diri, karena gw emang berniat banget untuk bisa kasih ASIX.

Bukannya bahwa sufor itu dosa sih, soalnya gw pun anak oplosan sufor kok. Jaman dulu kan belum ada ilmu manajemen ASIP ya, jadi waktu mamak gw balik ngantor ya anaknya dikasih sufor. Alhamdulillah masih hidup sampe sekarang, sehat walafiat dan nggak bodoh(-bodoh amat).

Nah dari aneka barang-barang menyusui yang gw beli, akan gw review mana aja yang bermanfaat, mana yang nggak penting, dan mana yang masih gw mupengin tapi belum kesampean dibeli ahakhakhak…¬†brace yourselves people, this is gonna be a long post,¬†biar lebih enak gw bagi-bagi aja deh ya sesuai jangka waktu kepakenya.

WAJIB DIBELI :

Nipple Cream

Nipple cream ini PENTING! Karena meskipun menyusui itu suatu hal yang sifatnya insting untuk ibu dan bayi, tapi yang namanya latch on itu perlu proses sodara sodarih. Dan selama masih dalam proses belajar untuk latch on dengan baik, maka selama itu pula lah ada resiko puting lecet lecet asoy.

Meskipun Aksara terbilang cukup bagus latch on nya, tapi dia hobi banget ngempeng. Nah ketika ngempeng ini mulutnya nggak latch on dengan baik dan akhirnya membuat puting gw lecet. Sempet ada masanya gw ngilu sendiri setiap kali Aksara nangis minta disusui, karena udah kebayang perihnya, bahkan pernah sampai puting gw luka dan berdarah. Kebayang dong rasanya kalau luka itu kegesek baju? Wong kena hembusan angin aja rasanya kayak ditusuk peniti. MANTABH.

Solusinya : nipple cream (dan tidur tanpa baju ahahaha). Nipple cream ini banyak banget kok pilihan merknya dan bahan dasarnya rata-rata sama yaitu Lanolin, yang katanya aman meski tertelan oleh bayi. Jadi nggak perlu dilap-lap sebelum menyusui. Kalau lagi lecet, terbantu banget pake ini, jadi rada adem rasanya.¬†Sayangnya, Aksara NGGAK SUKA. Kayaknya dia jadi nggak mantep¬†latch on¬†nya karena licin-licin gitu puting gw. Alhasil…. kalo mau menyusui tetep aja gw lap dulu. Lama-lama gw makin males harus¬†lap-lap, jadi ya pake cara tradisional aja : diolesin ASI sesudah dan sebelum menyusui.

Loh kalo gitu, kenapa masuk MUST BUY? Ya prinsip gw sih mendingan jaga-jaga aja deh daripada nyesel. Selama seminggu yang puting gw lukanya parah banget, krim ini super berjasa kok. Mendingan punya tapi jarang dipake kan daripada jam 3 pagi nangis akibat puting berdarah-darah? *truestory*

ARDO Gold Cream

Daster Menyusui/Kancing Depan

PENTING!!! Yang namanya newborn, masih belum terlalu paham sensasi lapar/kenyang. Yang ada laper banget atau kenyang banget, dan tau dong kayak apa nangisnya bayi yang laper banget. Ya, kenceng banget. Idealnya¬†newborn¬†memang harus disusui setiap 2 jam sekali, waktu malam sekalipun. Gempor? Lumayan deh….

Karena gw melahirkan secara cesar, jadi otot perut emang masih nyeri untuk menyusui sambil duduk. Gw lebih nyaman untuk menyusui sambil tiduran (nyamping). Selain nggak harus sering bangkit, enaknya tangan nggak pegel, kitanya juga bisa sambil merem huahahaha.

Beberapa minggu pertama, gw tidur tetep pake kaos gombor & celana. Alhasil kalau menyusui sambil tidur kan baju kaosnya diangkat ya…. bayangin nggak kalau berjam-jam baju keangkat? Hasilnya ya masuk angin dong. Sempet dibeliin nyokap daster yang pake kancing, tapi kalo udah ngantuk banget biasanya gw males ngancingin lagi dan hasilnya ya tetep aja masuk angin.

Kemudian dari surga turunlah ….¬†daster menyusui. Dulu gw kira ini cuma gimmick aja, tapi ternyata emang beneran penting (buat gw). Bukaan menyusui memastikan area yang terbuka cuma seputar dada aja. Bayi kenyang, mamak bebas masuk angin.

Ehem, buat yang mau beli, silakan cekidot lapak ane di mari ye. *shameless

BreastPad

Gw termasuk yang sering rembes parah banget, jadi di rumah pun wajib pakai breastpad selama beberapa bulan pertama (bahkan sampai sekarang 5 bulan setelah melahirkan kadang masih suka rembes). Udah pernah coba merk Pigeon (di puting gw terasa perih), model yang bisa dicuci (serabut kainnya suka nempel di puting) sampai model silikon (malah nutup saluran ASI dan bikin bengkak) akhirnya terinspirasi oleh Bunye, pilihan berlabuh di MAM. Meski lebih mahal dan susaaaaah banget nyarinya, tapi ini udah terbaik lah.

Nggak bulky (jadi nggak nyeplak kalau pakai bra yang tipis/baju dengan bahan kaos), daya serap bagus, nggak perih di puting gw. Lulus!!!

MAM Breast Pad

Nursing Cover

Kalo ini udah pada tau kan ya bentuknya kayak apa. Mau motif apapun, model apapun, merk apapun, menurut gw ini kepake banget. Apalagi ketika kita masih di RS pasca melahirkan dan banyak orang yang besuk. Nggak mungkin dong kita usir tamunya ketika mau menyusui? Jadi kalau ada tamu laki-laki ya gw menyusui pake cover ini aja, lama-lama mereka juga biasanya canggung sendiri dan pamit pulang ahakhakhak… Lebih enak daripada gw yang ngusir kan?

Breastpump

Soal ini akan ada posting sendiri karena …mmm… ya seru deh hahaha. Apapun merk preferensi ibu-ibu sekalian, saran gw ini udah disteril dan dibawa pada saat melahirkan yaa.¬†Belajar dari pengalaman beberapa teman, lebih baik¬†jaga-jaga, siapa tahu pasca melahirkan belum bisa menyusui langsung (misalnya karena bayi harus disinar, atau puting masuk, atau apalah komplikasi lain).

Kalaupun alhamdulillah bisa langsung menyusui, breastpump ini penting juga buat memancing produksi ASI (kalau produksi masih kurang) atau mengosongkan payudara (kalau produksi terlalu banyak).

YANG NGGAK PENTING (BUAT GW) :

  1. Bantal Menyusui. RIBET. Apalagi perut masih gombyor gitu sehabis melahirkan, jadi masih atur-atur posisi bayinya udah keburu nangis.
  2. Bra Menyusui yang pakai kawat (underwired). Berhubung bulan pertama masih ngendon aja dirumah dan males kemana-mana, ini nggak bakal kepake lah. Apalagi ketika tetikadi lagi bengkak-bengkaknya. Hih males! Setelah kembali ngantor pun, ternyata gw nggak suka pake bra model ini karena menekan saluran ASI dan selalu bikin mampet.
  3. Aneka Media ASIP dengan label anti bingput. Advanced feeder? Cup feeder? Aksara keburu nggak sabar dan akhirnya malah tersedak. Orang rumah pun¬†pada nggak pede untuk kasih ASIP dengan media ini. Medela Calma anak gw sama sekali nggak suka. Jadi…. ya botol dot biasa lah ahakhak ūüė•
  4. Breast Soother. Itu nama kerennya, kalau nama udiknya sih kompresan t*ket. Gw beli untuk jaga-jaga kalau mastitis, tapi pada akhirnya sama sekali nggak dipake karena gw lebih prefer pakai handuk aja. Kalau udah bengkak, nggak sempet banget deh gw panas2in atau dingin2in dulu di kulkas. Lebih ringkes pakai handuk, celup di air dingin/panas dari dispenser.

Yang Seharusnya Dibeli/Dilakukan :

  1.  Ikut kelas Laktasi dengan mengajak pengasuh yang akan mengurus anak saat kita nggak ada (bisa nyokap/suami/babysitter).
  2. Diskusi mengenai preferensi proses laktasi yang kita inginkan sejak sangat sangat dini. Paling nggak dari usia kandungan 5 bulan kalau menurut gw. Dulu gw terlalu menggampangkan soal ini, tapi ternyata lumayan banyak bikin gw dan orang rumah bersitegang karena nggak ada penyamaan persepsi.
  3. Baca-baca tentang SuFor. Jangan rajam aku ya wahai kaum lactivist, tapi menurut gw ini penting. Setidaknya kalau memang ternyata pada hari kesekian ASI masih belum mencukupi kebutuhan bayi, kita perlu siap juga dengan ilmu mengenai SuFor yang paling aman untuk bayi. Percaya deh, nggak mungkin kepala kita bisa jernih saat bayi nangis jerit-jerit jam 3 pagi. DSA pun nggak mungkin dibangunin kan jam segitu buat konsultasi? Yang ada pasti cuma panik aja. Oleh karena itu, setidaknya kalaupun sampai harus beli SuFor setidaknya kita nggak buta-buta amat.

Apa lagi ya? Ya udah sih itu aja kayaknya untuk bulan pertama. Nantikan edisi berikutnya yaaa *kecup*