Review : Handmade Nation

Setelah jadi emak beranak dua, berasa banget pentingnya punya vendor andalan untuk acara-acara yang sekiranya butuh souvenir. Mulai dari pengajian, aqiqah, dan tentunya : ulang tahun.

Pada perayaan ulang tahun The Urban Mama Birth Club February’14 kemarin, Handmade Nation memberikan dukungan berupa basic party kit (bunting flag, paper straw, straw label, cupcake topper, milk wrapper, sticker) serta doorprize berupa Signature 3D Frame yang disesuaikan dengan tema “jungle”.

Kalau lihat foto yang di share teman-teman FabFeb, kelihatan banget berkat party kit dari Handmade Nation dekorasi acara hari itu menjadi lebih hidup dan meriah.

image

Signature 3D Frame juga merupakan salah satu doorprize favorit karena bentuknya lucu, unik, rapi dan bagus sekali. Kayaknya bisa jadi salah satu opsi souvenir kalau ada acara.

image

Handmade Nation bergerak di bidang kebutuhan pesta, mulai dari party properties, souvenirs, goodie bags, hampers sampai dengan event organizer. Tema dan desain yang dibutuhkan bisa disesuaikan dengan keinginan kita serta dibuat dengan sangat rapi. Teman-teman dari Handmade Nation juga ramah dan kooperatif dalam proses konsultasi.

Mulai sekarang kalau akan mengadakan acara / pesta, harus ingat buat contact Handmade Nation deh kayaknya

Instagram: @handmadenation
E-mail: handmade.nation@yahoo.com

– this post is partly in collaboration with The Urban Mama Fabulous February 2014 Birth Club, cowritten with Dezka

Advertisements

Review : Albemama

Hola, hari ini ada guest writer yang mau share reviewnya atas salah satu isi goodie bag event ulang tahun FabFeb 2014 kemarin. Thank you, Mbak Anin & Abian.

Di event Birthday Bash TUM BC Fabfeb 2014 yang digelar di Jakarta tanggal 14 Februari 2016 lalu, sebisa mungkin kami memilih camilan yang sehat untuk masuk dalam goodie bag kami. Kebetulan Albemama bersedia berpartisipasi dengan menyediakan doorprize Madu Beepollen Almond, Madu Strawberry, Madu Pahit, Madu Sarang Lebah, dan Madu Multiflora. Udah kasih banyak doorprize, semua toddler FabFeb dibekelin camilan sehat juga di masing-masing goodie bagnya. Namanya BISTIKCOLENAK = Bikuit Stik Dicocol Enak. Biskuit stik dengan cocolan, ada madu dan selai sebagai cocolannya. Unik yah?

Nama Albemama ternyata menggambarkan betapa sehatnya makanan ini, karena komposisinya hanya terdiri dari 4 bahan alami, yaitu : ALmond, BEepollen, MAdumurni & MAcadamia. Albemama ini produksi lokal lho, yaitu dari Bandung. Lokasi tepatnya di Jalan Sederhana No. 32A, Sukajadi, Bandung.

Pertama kali buka goodie bag, yang pertama banget Abian ambil ya BISTIKCOLENAK ini. Abian coba yang cocolannya madu dari bunga strawberry. Keliatan enjoy banget dia nyocol-nyocolin biskuit stik ke madunya, lalu hap dimakan dengan lahap. Mamanya penasaran, jadi ikut ngemil juga 😄

image

Beneran gak khawatir kalau cemilannya dari Albemama, karena dibuat TANPA pemanis buatan, gula, kimia, pengawet, pewarna, perasa. Rasanya unik, enak, dan bergizi.

Setelah baca review dari Mbak Anin & Abian, gw jadi penasaran dong. Kebetulan banget waktu bongkar goodiebag ada biskuit yang langsung bikin aku tertarik. Ndilalah ternyata ya Albemama punya. Dan bener banget kata Mbak Anin : ini snack yang bikin anak senang, mama tenang. Konsepnya unik sih, nggak pernah kepikiran aja gw menjadikan madu sebagai cocolan, padahal Aksara lagi doyan banget madu. Selama ini cuma gw kasih madu yg dilarutkan air hangat, supaya ceritanya “minum teh kayak mama”. Nah dengan biskuit colenak ini, Aksara jadi bisa ngemil sambil makan madu. Yum! Thanks, Albemama.

image

image

Instagram : @albemama
WA/SMS : 087722566677
Line : ALBEMAMA
Website : www.albemama.com

– this post is partly in collaboration with The Urban Mama Fabulous February 2014 Birth Club, cowritten with Anin

Jangan

Jangan bilang jangan

Begitu kira-kira yang belakangan ini sering gw baca di aneka artikel parenting. Katanya, larangan dengan kata jangan ini nggak efektif karena justru akan mendorong anak untuk melakukan apa yang dilarang. Make sense sih, karena logika gw kata “jangan” ibarat negative space di sebuah gambar yang justru menuntun mata kita ke obyek utama.
Selain itu, sebenernya lebih bagus kita ajak anak memahami KENAPA suatu hal dilarang. Harapannya supaya dia paham dan bisa mengendalikan dirinya sendiri meski di saat nggak ada “polisi” yang sibuk melarang.
Prakteknya? Mmm … susah! Waktu anak baru satu sih gw berusaha kerassss menghindari kata jangan. Tapiiiiii sejak Inara lahir, bertepatan dengan kakaknya mendekati umur 2 tahun, bubar semua teorinya. Nggak sempet cyinn merangkai kata dan menjelaskan panjang lebar ke si kakak. Yang ada tanduk gw keburu keluar, sambil teriak “woooy jangan kesana jangan begini jangan begitu”. Pffftttt..

Terrible two. Teori perkembangan pun bilang wajar banget anak sering tantrum di usia sekitar 2 tahun, karena dia sudah mulai ingin menekankan ke”aku”annya tapi kemampuan komunikasinya belum cukup lancar untum menyampaikan apa maunya. Maka sering banget terjadi drama dua babak yang isinya :

Aksara (A) : “itu itu itu aaaaaa” (sambil nada merengek)
Gw si mama (M) : “aksara mau minum?”
A : bukan minum, ituuu
M : aksara mau biskuit?
A : bukan! Itu itu ituuu
M : mau …. (silakan masukkan kata benda/kata kerja apapun di sini)
A : bukaaaaan mau ituuuu…. (happens each time gw menawarkan apapun)
…bolak balik kayak gini bisa berlangsung 15 menit sendiri sebelum akhirnya gw geregetan dan mulai galak
M : ini nggak, itu nggak, jadi maunya apa?
…which kemudian tentunya si anak jadi nangis. Padahal mamanya dalam hati udah nangis duluan sih.

Momen “aha” buat gw baru terjadi tadi siang, sepulang nemenin si hurufkecil olahraga. Skenario di atas terjadi lagi, dan ketika gw hampir mengeluarkan kalimat pamungkas “jadi maunya apa sih” baru gw sadar. Mungkin itu juga yang akan dia bilang ketika gw sering bilang jangan : “ini jangan itu jangan terus aku bolehnya ngapain mamaaaa?”
Baru deh inget lagi gimana dulu gw segitu menghindari bilang jangan. Menyesal kenapa kok sekarang kelepasan lagi, semata-mata karena kurang sabar ngurusin dua anak sekaligus.
Pas banget setelah mikirin soal ini, ada teman yang posting di path tentang beberapa alternatif kata jangan. Sebagian pernah gw pakai dulu waktu masih sabar, dan sebenernya cukup efektif. Sebagian lagi akan coba gw pakai ke depannya. Semoga kali ini stok sabarnya nggak cepet abis hehehe.
Oiya, untuk beberapa hal gw tetap melarang dulu sebelum memberi penjelasan kenapa hal itu dilarang. Biasanya untuk hal yang berbahaya, seperti mainin colokan listrik atau manjat benda yang nggak kokoh. Soalnya darurat ya chuy, jangan sampe keburu kenapa-napa anaknya sembari kita masih sibuk kasih penjelasan. Untuk hal kaya gini mending angkut dulu anaknya, dijauhin dari tempat bahaya. Kalau jarak gw jauh dari dia biasanya gw bilang “stop” atau “tunggu mama datang” buat menghindari kata “jangan”. Setelah posisinya aman baru dikasih penjelasan, meski entah masuk apa nggak karena kadang udah keburu nangis bocahnya. Gimana ya nak, tugas mama yang utama supaya kamu sehat walafiat lahir batin soalnya. You may hate me this second but you will thank me for it some time.
Selamat mencoba!

image

Hamil #1 vs Hamil #2

Bener kata orang-orang, tiap hamil emang beda-beda pengalamannya.

Feeling
Alkisah waktu hamil pertama, dr sebelum telat mens pun gw udah yakin banget lagi hamil. Inget bener waktu itu pas lagi nonton Java Rocking Land dan gw mikir

ih lucu yaaa anak kicik ikutan nonton konser.

Kehamilan kedua ini, awalnya nggak sadar bahwa udah telat mens. Soalnya setelah melahirkan Aksara dulu, gw baru mulai mens lagi setelah Aksara umur 10 bulan. 1x mens, 2x mens, jadi belum hafal tanggalnya…. kemudian

kok kayaknya bulan ini belum mens ya?

Pas kebetulan suster yang ngasuh Aksara jadwal mensnya barengan, dan lho kok dia bulan ini udah mens gw belum? Mulai deh dagdigdug testpack dan…. ya ternyata garisnya dua hahahaha.

Yang konsisten, ternyata gw kalo hamil minggu2 awal (sebelum telat mens) selalu demam dan gak enak body semacam masuk angin gitu.

Seputar Perut dan Makanan

Hamil pertama bisa dibilang gw nggak mengalami mual-mual terlalu parah. Yang ada malah lahap bener makannya, baru mual kalo kelaperan… itu sih maag ya namanya? Tapiiii heartburn parah banget sejak bulan kedelapan. Tidur harus sambil duduk tegak, kalau nggak asam lambung naik dan jadi ada rasa muntah di tenggorokan. Yes, it feels as yucky as it sounds.

Hamil kedua, mual-mualnya lebih terasa. Daaaaan gw yang biasanya anti makanan pedas mendadak ogah makan kalau nggak pedas dan asem. Di sisi lain, heartburnnya nggak terlalu parah kecuali pas masuk bulan 9.

Mood

Hamil pertama, gw cenderung zen. Kalau lagi kesel dan hormonnya bergejolak aja, baru gw jadi cengeng dan gampang nangis. Yaelaaaah masakin roti buat suami trus gosong aja nangisnya sesenggukan banget.

Hamil kedua, ternyata “api” banget, kesulut dikit langsung meledak. Kasian deh tim gw di kantor, bikin salah dikit gw melototnya udah kayak mata mau keluar.

Ternyata ini lumayan tercermin di anak-anak lho. Aksara dari bayi zeeeeen banget, disuntik aja nggak nangis. Baru nangis kalo beneran udah capek banget atau kesel banget, itupun bunyinya haluuuus gitu. Inara? Ya ampun, telat disusuin dikit aja nangis teriak kenceng banget sampe mukanya merah.

So, ternyata bener bahwa setiap bayi itu beda. Bapaknya sama ibunya sama, hasilnya belum tentu sama hehehe. Dulu sih gw berharap bisa sama aja deh karakteristiknya, kebayang udah ada templatenya supaya gampang juga jalaninnya. Tapi namanya ilmu harus diupgrade terus sih ya, harus naik kelas terus nih. Semangat!

Ibu Beranak Dua

Wakwawww…
Orang yang kenal gw sejak lama, atau sahabat-sahabat terbaik gw, semuanya pasti akan bilang betapa absurdnya ketika status “ibu” menempel pada gw. Apalagi, ibu yang beranak dua.

How did this happen?!?!?! *please insert explanation of the birds and the bees here*

Yang tidak berhenti gw syukuri adalah bahwa situasi dan kondisi yang ada cukup memudahkan gw dalam menjalani peran ini. Saileeh, padahal baru juga seminggu…
Sejak gw hamil, si hurufkecil memberi banyak (banget) pemakluman dan pengertian. Mulai dari selfweaning sampai sabar ketika ibunya udah susah gendong-gendong lagi, mulai dari suapin vitamin mama sampai peluk adek (dalam perut) setiap pagi. Mungkin bosen ya dengan statement ini, tapi gw masih selalu terkaget-kaget dan takjub dengan betapa besar hatinya anak ini. Nama Safiyya sepertinya menjadi doa yang terkabul, karena anaknya penyayang beneeeerrrr…. bocah gak kenal aja suka dikejar-kejar trus ajak temenan.
Tantangan utama sekarang adalah gimana caranya membagi perhatian dan kasih sayang secara adil? Karena meski si kakak pengertian tapi kan pasti punya batas sabar. Apalagi usianya juga masih belum dua tahun, kemampuan abstraksi masih terbatas, sehingga maklum banget bahwa seminggu ini dia jadi lebih cranky dari biasanya.
Too much excitement dan hal baru yang butuh penyesuaian, dari semua pihak. Buat gw sendiri, harus sadar bahwa nggak bisa sepenuhnya manja-manjaan nyiumin bau bayi seharjan dan kruntelan sama bayi koala seperti zaman Aksara dulu. Kalau Inara tidur, berarti waktunya gw main sama kakaknya.
Buat Aksara, perlu penyesuaian bahwa gw nggak lagi sepenuhnya available untuk dia seorang. Apalagi karena operasi, jadi ya mamanya belum bisa kejar-kejaran main bola kayak dulu. Perlu penyesuaian juga bagaimana dia bertingkah laku, karena untuk sementara nggak bisa ndusel-ndusel di perut gw dulu, dan nggak bisa tomprok-tomprok adiknya meski gemes.
Panjang lah ini prosesnya, dan sekarang gw bisa paham kenapa orang bilang “kasihan” kalau jarak antar kakak-adik terlalu dekat. Tapi ya gimana, it runs in the family. Jarak gw & adik gw 17 bulan. Jarak antara kakak suami juga segituan.
Tapi somehow Aksara bikin gw percaya bahwa kami akan bisa melewati proses ini. Kasih sayangnya besar : untuk adiknya, untuk mamanya, untuk papanya. Jadi PR buat gw juga untuk keluarkan upaya yang sama besar untuk meyakinkan dia bahwa kasih sayang kami nggak akan pernah berkurang.
image

Dear hurufkecil,
If someday you are reading this, please know that you have a very pure heart. Please dont let anyone change that. You are our rock, our source of strength. And for that, we thank you.