Jollyroo Makes Us Jolly :)

 

Ketika di posting sebelumnya saya masi harap-harap cemas menantikan kiriman cupcakes ulangtahun si mama dari Becky, maka ini reviewnya 🙂

Plus :

  • Sesuai review orang-orang, frostingnya tidak terlalu manis, karena cream cheese-based. Cucok dengan selera orang rumah.
  • Ukuran mini cupcake pas untuk sekali suap. Hap hap hap nyaaammmm. Apalagi karena pertama kali coba, jadi bisa tes berbagai rasa tanpa harus eneg kemanisan.
  • Terbaik buat saya adalah Green Tea Cupcakes, karena green teanya terasa baik di frosting maupun kuenya. Dan ditambah dengan potongan white chocolate diatasnya (krn utk tulisan happy birthday), jadi paduan yg pas untuk rasa bitter-tangy green tea frostingnya.

Minus :

  • Untuk beberapa rasanya kurang dominan karena kalah dengan rasa cream cheese nya. Ini personal preference aja sih kayaknya, karena orang rumah yang lain bahagia-bahagia aja makannya hehehe.
  • Tadinya ekspektasi untuk yang Rum Raisin agak tinggi, tapi menurut saya rasa Rumnya
  • kurang berasaaa. Mungkin karena cream cheesenya dominan yah? Tapi sepertinya rum ini lebih cocok sama frosting biasa yg agak lebih manis. Tapi rasa cakenya enuakkk karena pakai kismis 🙂
  • Karena telat pulang ngantor, jadi ada beberapa yang gak sempet dicicip karena SUDAH DITANDASKAN. Yak bagoooosssss. Next time ambil sendiri aja ah ga usah dianter biar aman.

 

Mango Marvelous menjadi juara umum dengan 3 votes (kitonk, ibu, saya). Disusul Minty Chocolate (2 votes from kitonk & Kiky) dan Red Velvet Goldmine (2 votes from Kiky & Papa, with extra points from me & Papa for the cool pop culture reference of the cupcake name ;). I don’t know if a lot of people have seen the movie, tapi berhubung si papa jiwa rocker jadi jaman SMA dulu anaknya disuruh nonton aja tu film gituh).

Mom’s favorite : Rainbow in the Dark. Personally, for me, kurang coklat sih rasanya. But maybe that’s just because I’m a chocolate addict.

Bapak sebagai seorang omnivora sejati, tidak punya favorit karena menurut dia semuanya ENAK. Ahahahah…

Hmm dan sayangnya, gak lama sesudah pesan, Jollyroo launching rasa baru yang nampak ciamik untuk dicoba : Roo’Beer Float dan Cup of Coffee. Terus tergiur juga mencoba Peanut Butter & Jelly dan Georgy Banana. Hohoho next order lah yah kalo gituh.

Anyway, senang karena dengan kue-kue mungil JollyRoo ini semua senang dan semua kenyang. Thanks, Becky 🙂
Thanks Smita untuk rekomendasinyaaa.

 

cupcakes again!

Setelah sekian lama nggak posting soal cupcake, marilah kita sambutnyaaaaaaaah postingan terbaru : tentang beli cupcake :p huhuhu…
Alkisah si mama akan ulangtahun dalam waktu dekat, dan berhubung dia doyan makanan manis, maka hadiah apa yang terbaik selain mini cupcakes aneka rasa? hohoho… yah tidak dapat dipungkiri saya punya kepentingan, udah lama aja nggak indulge di makanan manis 🙂
Speaking of indulging, ran across an article on the cupcake ‘fad’ in the US… quite funny, and quite true.
Anyway, setelah banyak tanya sana-sini soal cupcakes-by-order yang sedaps, akhirnya berdasarkan rekomendasi neng smita terpilihlah Jollyroo cupcakes untuk dijadikan hadiah ulangtahun si mama.
Pilihan jatuh karena variasi rasanya menarik dan menurut neng smita nggak terlalu manis.
Can’t wait!

Born to Cook

Yoichi si Anak Cita Rasa

Dulu jaman masih SD, saya demen bener nonton kartun Born to Cook. Tokoh utamanya Yoichi, si anak cita rasa membuat saya terkagum-kagum karena beberapa alasan :

  1. Kenapa namanya harus dikasih embel-embel “anak cita rasa”… apakah dia anaknya ibu Cita sama pak Rasa? apakah dia anak yang citanya penuh rasa? apakah tidak terlalu panjang untuk ditulis di akte kelahirannya? sungguh misterius…
  2. Kenapa semua makanan yang dia bikin terlihat sungguh amat sangat seolah-olah enaaaakkkkk… ini sih sebenernya efek dari ilustrasi animasi yang super lebay, dimana orang-orang yang makan masakan si Yoichi anak cita rasa ini bisa mendadak nangis-nangis terharu, mendadak punya sayap dan terbang ke atas pelangi saking enaknya itu makanan.

Jadi demikianlah, awal kisah cinta saya dengan dunia masak-memasak.

Tapi seperti kita tahu yang namanya kisah cinta gak selalu mulus. Seperti kisah cinta saya pada umumnya, pada awalnya saya bertepuk sebelah tangan (eh?)… Prosedur goreng sosis saya di usia sekitar 9 tahun adalah : berdiri sekitar 1 meter dari kompor, sambil komatkamit berdoa semoga suatu hari nanti ada yang menemukan cara membuat sosis matang tanpa harus digoreng, lalu melempar (yak anda tidak salah baca, ME LEM PAR) satu persatu potongan sosis ke dalam wajan sambil siap2 lari kalau ada cipratan minyak panas (yang PASTI nyiprat karena sosisnya dilempaaar).
Semakin ke sini, saya akhirnya berdamai dengan wajan panas (meskipun tetap tidak bisa berdamai dengan ocha panas sushi tei -___________-” ) …tapi sayangnya masih belum cukup rukun dengan berbagai resep yang ada di dunia ini.
Meskipun cukup sukses dengan pancake, cupcakes dan pasta aglio olio; tp pernah juga terdapat beberapa insiden mengerikan yang melibatkan :

  1. sepotong roti dan adonan telur campur kopi
  2. selai apel dan sari lemon

dan…mmm…masih banyak lagi. Tidak perlu dijabarkan secara detil lah ya, mungkin cukup saya jelaskan bahwa insiden tersebut sempat membuat keluarga saya (semakin) meragukan hasil masakan saya.
Nah sekarang coba bandingkan dengan tuyul-tuyul sialan yang ada di acara Junior Masterchef Australia. Bocah-bocah ini, berumur antara 9-12 tahun, dan sudah paham apa itu truffle serta bagaimana cara memasaknya. Mereka tahu bagian daging mana yang enak untuk masakan jenis tertentu. Bahkaaan mereka bisa bersihin ikannnn. Oh. May. Gat. Dunia sungguh tak adil.
Tapi selain makanan-makanan super enak yang membuat saya berkali-kali menelan ludah, ada satu hal lagi yang membuat saya sangat menikmati acara ini. Berbeda dengan versi dewasanya yang sangat tegang, serius dan penuh intrik, versi juniornya terasa lebih jujur dan joyful. Meskipun sebenarnya mereka bersaing dengan satu sama lain, tapi anak-anak ini sangat sportif. Di tengah gentingnya detik-detik menjelang tenggat penyajian masakan, mereka sempat-sempatnya bilang “cmon you can do it” ke temannya yang masih rempong dengan masakannya. Dan mereka nggak segan-segan bilang “great job” ke kawan yang dipuji oleh para juri. As one contestant said “I just like being surrounded by people who like to cook.” Sesederhana itu.
Salut juga buat juri-jurinya, yang rela turun tangan saat ada anak yang kesulitan, dan selalu memberikan kritik yang membangun. Terkadang reality show semacam ini kan lebih suka menjual drama; yang penting ada nangis-nangis, tegang, terharu, tanpa memikirkan dampak psikologisnya ke kontestan. Tapi Junior Masterchef ini tampaknya cukup mempertimbangkan bahwa anak-anak ini masih dalam tahap perkembangan. Nggak pernah sekalipun ada celaan sadis atau overexpose terhadap aspek drama. Kalimat-kalimat yang dilontarkan selalu bernada positif dan menyemangati. And it’s only about the cooking. Resep, teknik, rasa. That’s it. Nggak ada cerita latarbelakang sedih macam di reality show lainnya. Purely the joy of cooking.
Dan tampaknya memang cuma itu yang penting. Mungkin Yoichi si anak cita rasa dan bocah-bocah Junior Masterchef ini memang beneran “born to cook”, dan saya tidak. So what? Toh enyak saya juga dulu sama sekali nggak bisa goreng tempe, dan sekarang jagoan setengah mati bikin lasagna, meski proses belajarnya sekian belas tahun.
Jadi berhubung tahun 2011 ini sama sekali belum bikin resolusi, ini resolusi pertama saya : kembali rajin masuk dapur. Saya akan berusahaaaaa *ala benteng takeshi*

Ownership

Pagi ini gue disuruh nyokap bikin pancake buat sarapan sekeluarga. Sebenernya bukan hal yang terlalu istimewa karena toh gue cukup sering bikin pancake. Satu hal yang berbeda adalah, kalau biasanya adonan gue bikin sendiri dari nol (tepung, baking soda, dst dst), maka kali ini pake adonan instan.

Kalau boleh jujur, hasil akhirnya enak sekali. Aromanya lebih wangi dan adonan lebih empuk daripada yang biasa gue buat. Tapi toh ketika orang rumah memuji masakan gue, sedikitpun gue gak bangga. Kenapa? Karena disana peran gue hanya sebagai tukang. Tukang goreng tepatnya.

Apalagi yang penting dari makanan kalau bukan rasa dan aroma? Kedua hal itu munculnya dari proses pengadonan, serta pengolahan. Untuk pancake yang pengolahannya gampang setengah mati (panasin wajan, kasih mentega, tuang adonan, angkat), maka jelas kalau proses mengadon yang penting untuk menimbulkan rasa dan aroma yang diinginkan. Berhubung proses pengadonan dilakukan di pabrik Pancake Mix Instan tersebut, jelas dong, betapa gue gak punya kontribusi signfikan dalam membuat pancake tersebut jadi enak?

Kalau dipikir2, memang gue orangnya seperti itu. Pada saat gue menyelesaikan suatu project, mau dikate itu projectnya berhasil banget, keren banget, impactnya besar banget, tapi kalau gue disana semata-mata ‘nukang’, nggak akan deh gue merasa bangga. Kenapa? Karena gue merasa project itu bukan punya gue. Ada penggagas empunya project ini, sementara saya kebagian disuruh-suruh ini itu sesuai dengan maunya yang empunya.

Memang bukan berarti tidak berkontribusi, gue tau bahwa di project itu ada juga sebagian darah keringat dan air mata gue terlibat. Tapi sebagai tukang, kita selalu mengikuti apa kata penggagas. Si perancang yang empunya konsep. Yang melahirkan bibit ide. Alhasil, kalau si penggagas bodoh (misalnya), maka project akan selesai sebagai project yang bodoh. Kalau si penggagas pintar, project akan selesai sebagai project yang pintar dan mengagumkan. Meskipun, sekali lagi, bukan punya saya.

Bukan berarti tukang adalah profesi kelas 2. Gue sama sekali nggak setuju. Tingkat craftsmanship yang tinggi adalah sesuatu yang sulit dicapai dan membutuhkan kedisiplinan tinggi. Justru menurut gue yang namanya penggagas harus selalu berkonsultasi dulu dengan tukangnya untuk tahu apakah mungkin atau nggak project itu dilakukan. Lebih bagus lagi kalau berkolaborasi dari awal. Yang satu memikirkan segi desain dan konsep, sementara yang satunya menjaga dari sisi teknis.

Maka jangan salahkan gue kalau gue nggak mau cuma jadi tukang jait, yang ngikutin apa mau loe dengan membabi-buta.

Mom’s new toy.

Every now and then, we have a need to reinvent and redefine ourselves. Be it a new profession, a new job, a new city or simply a new state of mind.

My mom’s got a new hobby : making juice. Seriously, I mean it.
She just bought a new juicemaker. And a plethora of ingredients for it : plums, apples, lemons, limes, pineapples, papayas, and heaven knows what else.

Every now and then she gives the machine a little whirl, plunging cut fruits here and there as needed. She seems happy after guzzling down a mug of her creations. It’s like she feels a sense of accomplishment.

Mind you, my mom’s accomplished enough as a careerwoman. But I think this juice thing makes her feel happier. More serene.

Well, whatever works for you, right?

I’m just gonna have some juice now.

baking in progress

Okay.. so according to the blog’s title, I will be featuring some of the things that I bake. Don’t get your hopes up people, it is not at all like the amazingly pretty & delicious foodie blogs that I have linked on the right side of the page. This is the story of a girl who up until recently is extremely adamant about having anything to do with baking (it just seems so feminine, don’t you think?). but anyway, the little things are just so darn cute, and well I AM a girl so what the hell… hee hee 😀

so this far, I have been on several baking frenzies (7 to date), periods in which I just put everything on hold and dedicate my entire day to baking. some are pretty okay, and some are… well… mmmm… let’s just say that I wouldn’t recommend it… hee hee… so here is some snapshots of my journey so far (cupcake-wise) :

baking frenzy #1
Terlihat sangat tidak layak dikonsumsi manusia
baking frenzy #1.chocolate twist on nigella recipe
Upaya frosting yang menyedihkan

This is my very first baking attempt, based on a basic cupcake recipe that I downloaded from Nigella Lawson’s website (check out http://www.nigella.com for the vanilla cupcake recipe). As this was my 1st attempt, it got so ugly that I covered it up with some homemade royal icing and just made it even uglier hyaaahahahahahahaha… to make matters worse (?) I tried to make the chocolate version, using the same recipe but substituting 1/4 of the flour with cocoa powder, and 1/4 of the butter with melted cooking chocolate. It actually turned out quite OK (am so proud!), with a chocolatey taste and halfway brownie texture.

baking frenzy #2
Ciyeeh ceritanya sok bikin variasi adonan nih
they-look-so-fluffy-and-they-are
Meskipun senang karena terlihat fluffy, tapi tidak terlihat perbedaan antara adonan yang satu dengan yang lain ahahahaha

This was from my second attempt, in which I used the nigella recipe but using a mixing technique that I caught in what I summed up to be the best cupcake blog ever (of all the blogs that I’ve been lurking in) : cupcake bakeshop by chockylit (linked at the right hand side of my page). In my 2nd baking frenzy I divided the batter by 4, and added to 3 of them a twist; mint essence, orange rind + juice, and frambozen paste. The mint was phenomenal, I used a little bit too much essence and gave it a real kick. I think it’d be great for a pick-me-up at breakfast. The orange, I used too little rind and juice so there was barely any taste of orange in the cake. For the frambozen, it tasted too artificial (I did use a cheap brand) so I’m definitely not making that one ever again. All in all, the cake was a little bit more successful than the 1st batch. The texture was softer and tasted better.

baking frenzy #3.gradasi
Ini apaaaa kok kayak clepotan lumpur?
baking frenzy #3
Tapi pas digigit ternyata lembuuut :’)

This was my 3rd attempt. I used roombutter which was supposed to make cakes softer. It did. But my cakes sank into infinity and beyond, and was too oily for my taste. But once it cooled down, it was really really fluffy! It was heavenly fluffy (but the taste was too butter-y). I also made a cinnamon version of the cupcake, which was a success. Have to remind myself to make that one again with my usual brand of butter.

baking frenzy #4
Ini terlihat manis yaa, never underestimate the power of frosting

This (attempt No 4) was made for a halalbihalal event with some of my friends. It was the vanilla cupcakes which I frosted with frambosen flavored royal icing, and chocolate cupcake with green tea icing. The green tea icing was almost delicious (I think I’ll have to put in some more green tea next time)…. and I’m also planning to make green tea cupcakes some day (I’m going to try a recipe from cupcake bakeshop by chockylit)

baking frenzy #5
They look pretty 😀

This was attempt No 5, made for halalbihalal with my family. I made 100 mini vanilla cupcakes, frosted with orange/strawberry royal icing/chocolate ganache or something. I totally forgot to take pictures of the chocolate iced ones. They were gone before I got a chance! (double proud!). Everybody took home the leftover cakes, and these were the only ones I managed to salvage 😀 The chocolate ganache/whatever was actually a failed recipe, saved by my ever so expert father to become something edible. Plan on experimenting with it again someday…

baking frenzy #6baking frenzy #6.daisies

The above was attempt No 6 made from vanilla cupcakes (based on the Magnolia Bakery Cookbook recipe I got from http://cupcakeblog.com/index.php/200/01. The frosting was something I got from allrecipes.com (forgot the exact link, sorry) and turned out great. Everything else on top was tit and tats that I bought at a baking supplies store. The occasion was for a friend’s daughter’s birthday party so I had to keep it festive. Haven’t got any feedback though… 😦 I just hope it didn’t taste THAT bad…

baking frenzy #7
wakakakak jeleknyaaaaa

This was my latest try, and it was made from an instant muffin mix that my brother bought for me. To me, creating these big bubbas wasn’t as fulfilling as my previous 6 attempts was, because it was too instant. I didn’t like the end result cos it was too crunchy (can you imagine a crunchy cake?) and not chocolatey enough… My dad liked it though, better than my usual creations… whoa… big blow to the tummy for me.

So that’s my baking journey so far… I’ve been trying to gear myself up for the next projects… wish me luck!