(Bitter)Sweet November

Kenapa sweet?

Karena wedding anniversary, bebiiih… Tahun kedua pernikahan, alhamdulillah masih banyak greget-greget kasmaran yang dirasakan, meskipun kini harus pintar mencari waktu dan tempat buat melepas rindu. Yeeee, siapa suruh co-sleeping?

Kadang ada untungnya masih tinggal di rumah orang tua, sih : “Ma, titip anak ya, aku mau bikin anak kedua dulu” Bwahahahaaha…. well, not exactly.

Sweet yang kedua, akhirnya berat badan si hurufkecil nggak masuk kategori rendah lagi. HORE!

Kenapa bitter? Karena banyak keputusan besar yang harus dibuat di bulan November, salah satunya seputar karier. Sebenernya sih harus banyak bersyukur ketika diberi kebingungan memilih antara yang baik dan yang lebih baik. Tapi tetep aja, milihnya susah karena takut nyesel. Aku anaknya gampang menyesal soalnyah. Terus laksana pengecut tulen buang bodi ke suami : Abang aja deh yang milihin yaaaa, adek bingung! Yang tentu aja nggak digubris hahaha

Ya sudah, bismillah aja ini pilihan yang terbaik dari dua yang baik. AMIN.

Etapi kok dengan pilihan yang sudah diambil, berbuntut sering lembur dan sekarang hurufkecil pileeeek. Kasian banget ya liat anak bayi sentrup-sentrup gitu, hidung bumpet susah nafas. Berbekal semprotan NaCl untuk mencairkan ingus, alat untuk sedot ingus, transpulmin, sama baskom air panas yang ditetes minyak kayu putih begadang deh semaleman ngurus anak bayik. Tadi ditinggal ke kantor masih meler, meski untungnya tetep aktif dan ceria. Bener deh nak, kamu bayi yang pengertian banget sama mamanya :’)

Cepet sembuuuuh!!!!

Advertisements

1 Year of Marriage!

Idiiih nggak terasa ya sudah setahun menikah! Dapet salam lho dari posting review vendor yang nggak kelar-kelar hakhakhakhak…

Setahun ini alhamdulillah dikasih banyak kesempatan untuk bersyukur : atas karier suami yang makin cerah, atas kepercayaan punya mini-me in the tummy, atas 365 hari yang menyenangkan ūüôā semoga ke depannya juga semakin banyak alasan untuk bersyukur, dan tentunya selalu ingat untuk bersyukur. AMIN!

Wedding anniversary kali ini ngapain aja cyin? Sibuknya nggak ketulungan karena si adik semata wayang menikah tepat di hari yang sama. Dan akyuuu sebagai kakak semata wayang tentunya kebagian peran sebagai ketua panitia. Biasanya sih gw seneng ya sibuk-sibukan beginih, tapi ini body udah nggak segesit dulu. Bayangin aja lagi hamil 5 bulan, pake sepatu hak 3 cm aja udah cenat cenut, pake kain pula. Venue semi outdoor dan ada tangga-tangga, artinya apa sodarasodaraaaa? Tepat sekali. Artinya kelar pesta 2 hari berturut-turut jalannya kayak nenek-nenek : bongkok sambil megangin pinggang cenut-cenut, kaki diseret karena konde di kepala kayaknya pindah deh ke betis.

Maka untuk anniversary ini gw nggak minta hadiah dari suami – dan nggak ngasih hadiah juga sih ke dia huahahaha. Gw kasih hadiah ke diri sendiri aja yaitu : pijet hamil di Mom n Jo! Ahihihiy.

Badanku

Badanku duluuu, tak begini

Tapi kini tak cukup lagiii

Dulu saya termasuk orang yang susah gemuk. Mau makan sebanyak apapun nggak ada pengaruh ke bodi deh. Badan ini justru baru akan menggemuk kalau saya banyak tidur. Berhubung di masa muda dahulu sering nggak bisa tidur, ya jelas aja akhirnya badan saya segitu-gitu aja. Bahkan bisa dibilang cenderung underweight.

Sekitar 2 tahun lalu, namanya usia ya, saya jadi lebih mudah capek, sehingga tidak sulit tidur lagi dan juga lebih banyak makan. Badan jadi semakin tebal dan bobot bertambah, sehingga alhamdulillah masuk kategori berat badan normal.

Setelah menikah, terjawab sudah kenapa dulu saya susah tidur. Ternyata karena saya nggak suka tidur sendiri. Buktinya begitu ada yang nemenin, tidur jadi super pulas las las. Jam 10 malem aja udah berat rasanya ini mata. Ditambah komentar-komentar semacam

“Sekarang keliatan seger ya Ndied”

Jadilah, banyak justifikasi untuk saya terus makan dan tidur. Makan, tidur, nyemil, makan, tidur, nyemil, sehingga tiba-tiba kagetlah saya begitu CELANA UDAH PADA NGGAK MUAT. Dan nggak muat nya itu bukan yang cuma sebatas susah dikancing atau jadi ketat ya, tapi ini sudah pada tahapan bener-bener badan saya nggak bisa masuk ke semua baju-baju itu. Solusinya? Upsize lah! Justru saya agak senang karena dulu ukuran baju agak susah karena S nya cenderung XS, tapi nggak bisa pakai petite juga. Kesimpulannya dengan semakin gemuk, justru semakin banyak pilihan baju yang cocok dipakai.

Cerita belum selesai sampai disini. Sekitar sebulan lalu, baju-baju baru yang saya beli ternyata JUGA SUDAH TIDAK MUAT. Lah gimana siiiih perasaan baru kemarin beli masa ini udah nggak muat lagi? Dan sesudah dilihat-lihat kok yang nggak muat sekarang cuma di bagian perut. Judulnya buncit. Pas nimbang, ternyata sekarang sudah agak overweight. Yaampoon, drastisnya! Total kenaikan sekitar 10 kiloan lah dalam 1 tahunan terakhir. Ebuseeet.

Peristiwa paling jeder adalah ketika bustier saya sobek pas akad nikah!! Padahal saya cuman lagi duduk doang lho. Jeder nomer 2, lagi belanja dan mau coba salah satu baju, Masnya nanya “size apa Mbak?”. Berhubung biasa pakai XS saya pikir kalo naik satu ukuran ya jadinya S dong. Masaaaaa pas saya jawab mau coba size S dia ngeliatin dari atas sampe bawah sambil bilang “S? M kali ya Mbak” terus naikin alis sebelah. Zzzzz. Dan emang iya bener, pas pakai size S saya lebih mirip lontong. Hahahaha.¬†Jeder nomer 3 adalah ketika naksir celana di salah satu online shop terus mau beli. Dilihat size chartnya dia, ternyata ukuran paling besarnya pun nggak akan muat saya pakai. Jyaaaah.

Begini nih akibat jumawa ya, mentang-mentang dulu badan stabil terus sekarang belagu makannya kayak orang kalap. Kalau dipikir lagi, belakangan ini saya banyak makan itu bukan karena lapar tapi karena bosan. Bengong dikit nyemil, lagi mikir nyemil, dikit-dikit nyemil deh pokoknya. Dan makanannya pun sama sekali tidak sehat : gorengan, kue-kue yang kadar gulanya banyak banget, permen, chiki-chikian. Hahahahaha pantesan aja masuk ke pinggang semua, wong nggak ada gizinya.

Saya bukan orang yang menjunjung tinggi badan kurus, malah saya nggak suka zaman dulu waktu badan saya kurus banget sampai kayak orang sakit. Saya juga nggak rela harus ngebatas-batasin makanan cuma demi kurus. Tapi masa iya sih kita sudah dikasih badan yang sehat terus nggak dijaga? Minimal daripada nyemil yang nggak sehat gitu mending nyemil buah lah. Alhamdulillah saya termasuk orang yang sebenarnya cukup doyan makan sayur dan buah tanpa harus dipaksa, jadi toh sebenarnya nggak ada pengorbanan berarti yang harus dilakukan untuk tetap sehat. Cuma sebatas merubah kebiasaan. Doakaaan ūüôā

 

Tekad Baja

…suatu pagi otw kantor…

Suami : abang gendutan nih
Istri : jangan ngomong gendut kalau celananya masih bisa dikancing! (lagi kesel karena mendadak nggak ada celana kantor yang muat)

mendadak suami angkat kemeja nunjukin kalau celananya juga nggak dikancing (meski masi diretsleting)

Pandang-pandangan, ngakak berdua.

Istri : kita harus atur makan nih, ini terlalu ekstrim
Suami : kita harus lebih rutin olahraga
Istri : setuju! Deal ya…
Suami : deal.

…malam itu…
Si mbak masak sayur asem andalan, tempe goreng, sambel terasi.
Suami nambah nasi 2 kali.
Istri nggak nambah nasi tapi ngganyem sayur asem sama tempe kayak kesetanan. Malemnya masih ngemilin biskuit coklat.

Di mana letaknya si tekad baja?

1st Valentine

Dear Husband,
Turns out yesterday would have been our 1st valentine together. Before that there were no us to begin with. We were friends, and it would have been awkward.

That is, if we even celebrate it at all. There are too many reasons not to : we would just say it’s just another futile attemt of global corporates to capitalize off our delicate sentiments for each other. The nerd in me and the alpha-male in you would just shrug it off and say

we’re too cool for that

:p

There was a quiz today on twitter where we had to submit our sweetest moment with loved ones. And I tried to think of ours. It turned out there was at least one moment each day for the past 104 days we’ve been together.

And then I was torn between submitting the super sweet ones by social standards, or by my standards? I don’t think people would understand and appreciate those moments that were most dear to me.

Should I tell them about our sleepy eyed g’bye-dear-have-a-nice-day kisses every morning when you drop me off at work? Or the crazy giggly conversations over warkop songs each night on our way home?

Should I submit stories of your warm bear hugs when I’m tired at work? Or the night I was a little gassy and farted so loud, and you thought the sheets or the curtain ripped and we laughed so hard until our jaws were stuck open?

Should I share how you’d serenade me with old Sinatra love songs? Or the time you chimed in when I was humming the tune of Yamko Rambe Yamko and we ended up singing a duet of it at 1 in the morning?

You see? The moments I treasured most were the ones that almost didn’t make sense -well at least to anyone else other than us.

So what I did was, I ended up submitting a picture of my grandparents. You know that one right, when he surprised her with a hug from behind? I submitted it because I think that was the kind of sweet everyone could relate to.

They’re my role model, the kind of love I aspire to be able to give you. I pray our love will also grow to be as strong, if not stronger. Grandpa wad 85 when the picture was taken, he’s 87 now and still kisses grandma goodnight every night before he goes to sleep. And although they always seem super sweet, I bet they too used to have quirky mischievous moments quite like ours.

What it all comes down to, is that I thank you, dear husband. For being you. For loving me the way you do.

And what it all comes down to is that I love you. Valentine or no valentine.

Game Addict

Pola komunikasi sebelum menikah :

telpon bangunin si Er dalam perjalanan ke kantor – saling telpon sesampainya di kantor – kerja – telpon saat makan siang – kerja – saling telpon di perjalanan pulang – makan malam (masing-masing) bersama teman/keluarga – me-time – saling telpon menjelang tidur

Itu nggak menghitung telepon semenit dua menit di sela waktu kerja ya. Kami memang tipe yang sering komunikasi lisan, entah kenapa rasanya waktu selalu kurang untuk ngobrol dan cerita ini itu. Jadi kapanpun sempat menelepon, pasti dimanfaatkan. Sekarang sesudah tinggal satu rumah, ternyata waktu mengobrol jadi buanyaaaaak banget. Bangun tidur, sambil sarapan, di perjalanan ke kantor, perjalanan pulang, makan malam dan menjelang tidur.

Alhasil terkadang me-time yang dulunya berlimpah, sekarang jadi barang langka. Me-time di sini maksudnya waktu untuk bengong dan decompress sepulang kantor aja sih. Rutinitas sepulang kantor yang dulunya saling nyantel di telepon, alhasil malah jadi begini :

ngobrol di mobil dalam perjalanan pulang – ngobrol sambil makan – gantian mandi sesampainya di rumah – main game di gadget masing-masing – nonton DVD – pillowtalk

Ditambah lagi suami gajian perdana di kantor baru, kemudian menghadiahi istrinya telpon baru untuk menggantikan smartphone jadul yang saking sering hang sudah nggak layak disebut SMARTphone. Jadilah sekarang saya punya banyak mainan baru, yang berbuntut munculnya berbagai sindiran dari suami : 

“Dek, abang beliin ikan beneran aja ya?” – Fish With Attitude

Game ini, sebenernya sih sama sekali nggak membutuhkan kapasitas otak di atas rata-rata. Di bawah rata-rata aja kayaknya bisa deh hahahaha. Makanya buat saya ini justru the perfect de-stressing game.

Intinya gampang, di game ini spesies ikannya dikategorikan berdasarkan sifat. Ada yang baik, ada yang pemalu, ada yang suka gosip, sampai yang doyan pesta pun ada. Caranya tinggal kawin silang antar ikan-ikan itu. Gampang kan huhuhu….

fish with attitu

fish with attitude
Lucuan ikan-ikan ini kan daripada ikan beneran?

“Dek, ngapain sih motongin buah melulu, latihan jadi tukang rujak?” – ¬†Fruit Ninja

Yak sindiran mulai nyelekit. Kalau game ini, lebih pakai otak daripada ngawin-ngawinin ikan. Tujuannya sih cuma memotong buah yang dilempar sampai memperoleh skor sebanyak-banyaknya, tanpa kena bom yang kadang-kadang ikut terlempar sama buah-buahan itu. Kalau bisa dapat combo alias memotong beberapa buah dalam satu kali tebasan pedang, nilainya semakin besar. 

fruit ninja

“Dek, ngapain sih main nyari-nyari barang terus? Mendingan cariin barang abang banyak yang keselip pas pindahan kemaren.” – Mirrors of Albion

Nggak kira-kira deh suami gue, semakin susah game nya, semakin sadis juga komennya. Game ini sebenarnya yang paling butuh kerja otak, karena harus mencari berbagai barang dalam gambar. Sounds simple sih, tapi bikin penasaran. Apalagi petunjuk barang yang dicari bisa berupa kata-kata, siluet, atau kode tertentu.

albion
Can you find the perfume bottle?

Berbagai komentar inilah yang akhirnya mendorong termaktubnya salah satu resolusi 2013 : mengurangi distraksi gadget supaya lebih bisa memanfaatkan quality time sama suami. Masih untung jam kerja saya & suami terbilang normal, bisa berangkat dan pulang bareng, dan sama-sama ditempatkan di satu kota. Padahal baca blog-blog lain, banyak juga yang terpaksa long distance marriage. Kok saya jadi seperti tidak bersyukur dan menyia-nyiakan waktu yang diberikan ya?

Apakah saya jadi berhenti main game? Tentu tidaaaak, decompressing pasti tetap dibutuhkan untuk restart otak. Ya setidaknya dikurangi aja lah, kalau memang sama-sama lagi butuh me-time ya silakan nikmati me-time masing-masing. Doakan!

Married Life

The first few minutes of Pixar’s “UP” says it all : married life is hardly all smiles and flowers.¬†Tapi ya, buat saya perjalanan apapun nggak akan berkesan kalau nggak ada tantangannya. Yang penting, sekarang menghadang tantangan nggak sendiri, melainkan berdua. Tentunya (emh… semoga ya) kemampuan problem solving¬†lebih mumpuni dibandingkan sendiri-sendiri. Semoga ini nggak jumawa semata yah ahaha.

Dua minggu menjalani kehidupan pernikahan, kayaknya kami masih afterglow, sisa euphoria rangkaian acara selama beberapa hari dan bulan madu yang beruntut-runtut. Papa masih girang menghimpun komentar tetamu tentang hadiah video & lagu dari beliau yang super mengharu-biru. Mama masih terhura mendengar pujian tentang dekor dan makanan yang (alhamdulillah, banyak yang bilang) sakseus. Saya dan suami masih terbawa hawa-hawa bulan madu hohoho…

Yang pasti, banyak hal baru. Seiring dengan status baru berjudul istri,¬†ada peran baru yang harus dijalani. Dan buat saya setiap peran baru selalu menjadi waktu untuk mendefinisikan ulang diri sendiri.¬†Tentu banyak perempuan multifungsi (eh?) multitasking di dunia ini, namun jelas saya bukan salah satunya. Sebelum menikah, saya punya peran sebagai anak, cucu, kakak, teman dan karyawan. Setelah menikah? Sudah terbayang yang namanya istri itu kombinasi pacar, sahabat, partner diskusi, perencana keuangan, dan rekan bercinta (sounds wrong ya¬†hahaha). Untuk menjalankan masing-masing peran pun banyak kontradiksi — kadang perlu galak, ngemong, manja, mandiri, proaktif, pasrah — dan tentu masing-masing sifat perlu dimunculkan di situasi dan kondisi yang tepat, dalam kadar yang tepat pula.

Gampang? Pasti nggak doooong. Apalagi saya ini EHOIS sampai ke akar. It’s my way or the highway. Lo nggak suka cara gue ya gapapa, tapi gue juga nggak merasa perlu repot-repot berurusan sama lo. Oleh karena itulah orang tua saya nampak takjub bisa-bisanya ada lelaki yang melamar saya tanpa ada unsur paksaan dari berbagai pihak. Saya juga takjub kok sebenernya mah :p … Tapi laki-laki hebat ini meyakinkan saya pasti bisa. Dan terkadang untuk maju yang kita butuhkan hanya adanya orang yang percaya bahwa kita mampu untuk maju. Jadi ya saya bertekad tidak meluruhkan kepercayaannya itu. Harus bisa ūüôā

It’s been a fun two weeks, can’t wait for more. Doakan aku ya wahai pembaca…ca…ca… *bergema karena ternyata gak ada yang baca :p