Bali, Baby! – Uluwatu

Where We Stayed

Le Grande, Blok 5 Pecatu Indah Resort – Jl. Raya Uluwatu

Hotel ini murni pilihan sang suami, karena kami belum pernah menjelajahi daerah Uluwatu. Lokasinya strategis, karena ada di area kompleks resort yang sagala aya : dekat GWK, ada pantai Dreamland, ada golf course guedeee, dan ada banyak hotel lainnya yang terletak di kompleks yang sama. Semua fasilitas di atas sebenernya nggak guna buat kami karena saya udah pernah ke GWK, dan kami nggak main golf hahaha.

Kamarnya cukup mewah dan besar (mungkin ini kamar paling besar selama Bali Trip ini), tapi nuansa “mewah”nya bukan selera saya. Kayak kamar mandi full marmer, lampu sinar kuning remang-remang, lantai kamar full karpet, ornamen-ornamen nya juga gimana ya… intinya hawa-hawa OrBa deh ahaha. Gak doyan. Akik kan sukanya yang modern-modern gituh kayak 2 hotel sebelumnya.

But on the plus side, kamar kami persisssss di depan kolam renang, dan jaraknya deket banget juga sama kolam renang utama. Lho? Jadi kolam renangnya ada dua? Jangan-jangan nyambung kolam yang depan kamar sama kolam renang utamanya? Ternyata nggak sih. Mungkin karena lay out hotelnya yang terpisah beberapa bangunan, sehingga ada beberapa kolam renang untuk mengakomodasi orang yang ada di bangunan kami. Hotelnya sepii banget, karena yang nginep di sana itu sepertinya para golfer. Jadi kolamnya sepi, tapi lapangan golfnya yang rame. Jadilah kami serasa raja, berkubang sepuasnya bak di kolam renang milik sendiri.

20130610-175825.jpg

Where We Ate

Klapa at Dreamland

Dari awal tujuan kami ke Uluwatu adalah murni leyeleye, males kemana-mana. Jadi akhirnya kami makan malam di Klapa karena letaknya satu kompleks dengan hotel tempat menginap.

Sepi ya ternyataaaa masbro. Mungkin juga karena udah malem banget -pake acara ketiduran dulu haha- dan itu adalah minggu malam sehingga turis Jakarta kayaknya udah pada minggat dari Bali. Alhamdulillah deh, soalnya kami jadi bisa menikmati debur ombak berdua *tsailah*

Makanan sih so-so, service so-so, view so-so juga (karena udah kemaleman), jadi akhirnya kami buru-buru pulang karena ngantuk dan pengen lanjut tidur

The Chocolate Cafe, Jimbaran

Referensi tempat ini saya dapat dari The Diplomatic Wife. Dengar kata coklat saya langsung ngiler seember, dan geret-geret suami ke sana. Asumsi saya waktu itu, pasti semua makanan yang ada di menunya terbuat dari cokelat.

Ternyata nggak. Ini restoran normal pada umumnya, yang menyediakan main course seperti steak, fish & chips, dan makanan normal lainnya – meskipun ada juga nyempil Nasi Goreng Coklat di menu. Untuk pilihan desserts tidak tertulis di menu, tapi kita harus mendatangi counter di salah satu sudut restoran. Entah apa memang seperti itu dari awal, karena sudah cukup lama juga sejak review di blog itu jadi mungkin konsepnya agak berubah?

Setelah lihat-lihat dan pilih-pilih, akhirnya saya cuma belanja Belgian Chocolate Honeycomb aja. Dan ya ampun enaknyaaaaaaaaaa!!! Saya memang sangat doyan madu dan dark chocolate, jadi bayangkan saja reaksi saya ketika dua benda tersebut berpadu dalam satu suapin. Ternyata tidak semanis yang saya duga. Awalnya udah curiga akan terlalu manis, tapi ternyata nggak, karena baik madu maupun coklat pahit kan memang rasa manisnya nggak mblenek ya.

Langsung deh, suami nggak dibagi, kantongin sendiri buat dicemilin dikit-dikit sampe Jakarta, terus nyesel kenapa nggak beli lima.

20130610-174836.jpg

Where We Went

Finn’s Beach Club at Semara Uluwatu Cliff Edge Villas

20130610-150229.jpg

This is the highlight of our trip.

Semua berawal dari ternyata kami satu pesawat dengan salah satu biduanita muda kenamaan di Indonesia, yang kebetulan saya follow juga instagramnya. Ternyata juga, dese kayaknya menginap di hotel yang sama di Uluwatu. Nah pas lagi iseng buka instagramnya, KOK FOTO PANTAINYA CIAMIK BENER NOH? Browsing-browsing sedikit, semakin yakinlah bahwa pantai ini memang wajib dikunjungi.

Langsung deh, bujuk-bujuk suami minta diajak ke Finn’s Beach Club. Belok dari rencana awal untuk ke Rock Bar atau Karma Kandara (kasian yaa, dua-duanya belum pernah), karena takut penuh atau rame dan gak kebagian tempat semacam di Potato Head kemarennya.

Sumpah, nggak nyesel.

Finn’s Beach Club terletak di Semara Cliff Edge Villas Uluwatu, percis di sebelahnya Karma Kandara. Kalau lagi surut, katanya sih bisa jalan dari pantai ini ke pantainya Karma Kandara (katanya lho ya), tapi kami nggak berhasil membuktikan karena hari sebelumnya hujan sehingga ombak cukup tinggi dan lifeguard-nya udah pasang bendera dilarang berenang.

YAAAAH KOK GAK SERU SEEEEEEH!!! Kan akik pengen berenang trus foto-foto di pantai sambil body basah mantulin sinar matahari bali. *disambitsuami

Meski dilarang berenang, tapi kami nggak gentar kok. Tepatnya sih, udah terlanjur bayar cover charge jadi nggak rela kalau cuma sebentar di sana. Cover charge per orang Rp 250.000,- memang agak mahal, tapi berbekal iming-iming pantai pasir putih saya menelan ludah dan membuka dompet lebar-lebar. Untungnya, jumlah tersebut akan terpakai penuh untuk makanan dan minuman. Kalau jumlah total bill melebihi cover charge, baru kita bayar selisihnya.

Salah satu keuntungan cuaca yang agak mendung adalah pengunjung Finn’s Beach Club sangat sepi. Cuma ada satu rombongan selain kami, karena mungkin kami juga datang terlalu pagi. Jadilah kami puas-puasin golar-goler di kursi pantai sambil makan ini itu dan ngitung-ngitung apakah kuota cover charge kami sudah tercapai. Judulnya ogah rugi ya.

Biasanya, beach club kan jualan suasana dan pemandangan ya, jadi pengalaman saya untuk makanan dan minumannya selalu biasa aja. This was not the case here. Semua makanan dan minumannya enak, mulai dari pizza tipker, nachos, apple pie, dan juaranya buat saya adalah granitas!

Granita sih setahu saya dessert ya, biasanya bentuknya seperti sorbet tapi tekstur kristalnya lebih kasar. Di Finn’s, granita disajikan sebagai minuman (ternyata menurut wikipedia memang lebih umum disajikan demikian) dengan beberapa pilihan rasa yang cocok banget untuk santai-santai di pantai : coconut pineapple, pomegranate mint, papaya lime, watermelon vanilla, dan passion fruit mango. Saya coba dua varian yang terakhir, segar banget rasanya.

Pantai di Finn’s ini lebih pas dinikmati setelah air surut (di atas jam 2 siang), karena sebelum itu area pasirnya jadi sangat sempit dan ombaknya relatif terlalu besar. Nggak terasa, saya dan suami betah nongkrong di sana sampai jam 4 sore lho! Will definitely be back for more next time!

20130610-174944.jpg

Hiks nggak terasa liburan sudah habis yaaaa. Pengennya sih lebih lama lagi, tapi kan jadi orang nggak boleh kemaruk. Insyaallah masih akan memperoleh kesempatan lagi untuk balik kesini yaaa. Amin.

Bali, Baby! – Seminyak

Where We Stayed

Uma Karan, Jl. Bidadari III/8, Kunti 2, Seminyak

Satu lagi hasil browsingan Agoda. Hotel ini buat saya juara! Meski dari luar terlihat mungil dan sederhana ala losmen, tapi dalamnya bagus. Layoutnya juga efisien banget, nggak ada ruang yang terbuang percuma. Masuk-masuk langsung ketemu reception area. Lurus dikit ada area sarapan ala rustic yang manis di ujung kolam renang, berseberangan dengan beberapa daybeds untuk berjemur di ujung lain kolam renang.

20130522-124131.jpg20130522-124652.jpg

Jumlah kamar di Uma Karan cuma 8, dan semuanya pool side. Jadi buka kamar bisa langsung nyebur kalau mau. Jangan tertipu sama penampakan luarnya, kamar di sini luaaaaaaas banget. Kesan luas ini semakin diperkuat karena banyaknya cahaya alami yang masuk, soalnya pintu kamar terbuat dari kaca. Dinding yang menghadap ke taman juga dipenuhi jendela ukuran besar soalnya, dan semua kaca ini ditutup dengan vitrage ajaib. Kenapa saya bilang ajaib? Soalnya dari dalam kamar kita bisa melihat ke luar, dan cahaya dari luar bisa masuk semua, tapi dari luar nggak kelihatan apa-apa lho. Burem aja gitu. Keren ya?

Fasilitas kamar terbilang lengkap : ada free wifi, ada teko untuk masak air panas lengkap dengan kopi/teh instan, bahkan ada sofa & coffee table segala. Kami juga disambut dengan welcome cookies rasa chocolate chip yang rasanya enak. Tau aja dia kalo gw demen gratisan. Saya beneran males keluar kamar jadinya.

20130522-125432.jpg

Kamar mandinya cukup luas dan terang. Yang saya suka, sebagian langit-langit kamar mandi dibuat transparan, sehingga banyak cahaya alami yang bisa masuk. Free breakfast juga enak dengan beberapa pilihan : American Style (ada 2 jenis), Continental Style & Indonesian Style. American style breakfast termasuk 2 butir telur (bisa pilih mau dadar, ceplok, rebus, rebus setengah matang), 2 potong roti, teh/kopi/jus dan sosis ayam.

Satu-satunya kekurangan Uma Karan adalah lo ka si. Doi kurang dekat dari pusat keramaian di Jalan Raya Seminyak ataupun Jalan Petitenget, dan sekitarnya masih agak sepi. Bahkan di seberang hotel ini masih berupa padang rumput lho. Ahahaha. Buat yang biasa liburan ala backpacker mungkin nggak masalah, tapi kalau suka manis manja lebih baik sewa vespa atau mobil. Apalagi dalam kasus kami, biasanya kekenyangan abis nyoba-nyoba makanan, jadi kebayang malesnya pulang jalan kaki *pantes timbangan gw nambah.

Where We Ate

Kafe Batan Waru Kuta, Jl. Kartika Plasa Street, Kuta – +62 361 766303

Bukan suami saya kalau nggak balik ke tempat favoritnya. Lagi-lagi pasti yang dipesan adalah sop buntut. Huahahaha gak kreatif. Untuk dessert kami pesan creme brulee yang enaaaaak banget. Aroma vanilla nya segar dan nggak terlalu eneg, rasa pahit manis karamelnya juga pas.

20130522-170856.jpg

Metis, Jl. Petitenget No 6, Seminyak – +62.361.4737.888

Ceritanya kami nih mau romantic dinner gitu deh. Hahaha. Setelah browsing sana-sini, Metis adalah salah satu restoran yang berkali-kali disebutkan dalam daftar fine dining terbaik di Bali (menurut para turis asing).

Jadilah kita bikin reservasi untuk mamam-mamam romantis malam minggu. Dandan sekece mungkin, meskipun tetep laid back ala Bali (baca : nggak bikin gerah). Naik mobil sewaan yang nggak terlalu istimewa. Pas sampai sana…HUWOW! Bagus amat restorannya! Kan tau sendiri ya di Bali suka susah tempat parkir, disini parkirannya gedeeeee dan bisa valet segala. Untuk masuk ke area makan kita harus melewati ruangan semacam galeri.

Menu makanan sih ala perancis banget ya, meskipun dengan menggunakan bahan lokal, seperti misalnya appetizer kami adalah salad kepiting soka. Rasanya? Tergantung selera masing-masing sih. Karena saya suka penasaran sama makanan-makanan baru, jadi saya bisa menikmati keunikan rasa yang ditawarkan. Tapi buat suami saya yang lidahnya Padang banget, tentu buat dia nggak ada enak-enaknya. Hahahaha, kasian diaaaa. Untungnya masih ada menu-menu yang ramah lidah seperti steak. Jadi kalau nggak berani berpetualang ya mending makan steak ajah.

Metis sebenarnya terkenal karena foie gras-nya alias hati bebek. Tadinya antara mau coba sama nggak, tapi akhirnya mengurungkan niat karena saya nggak suka hati ayaaaam hohoho. Saya juga tadinya berharap banyak dari raspberry souffle yang kami pesan untuk dessert, tapi ternyata masih kurang matang sehingga tekstur dalamnya masih basah. Kalah deh sama raspberry souffle di BakerzInn.

Yang jadi highlight malam itu sebenarnya adalah pemandangan. Metis ini konsepnya open air, jadi kita makan dengan disuguhi pemandangan taman teratai, dengan sinar temaram lilin. Ah aku sungguh merasakan aura romansa! Hahaha.

20130522-170407.jpg
From top left : Reservations are written on a leaf, tuna tataki appetizers and butter bar for bread, after meal napkins come in pill forms to be dipped in aromatherapic infused water to make them grow into hand sized

Biku, Jl. Raya Petitenget No 888, Seminyak – +62 361 8570888

Biku ini salah satu tempat yang ingin banget saya coba, karena terkenal untuk High Tea nya (itu lho, minum teh ala bangsawan inghris). Purely because I have a sweet tooth!

Saat kami ke sana, sempet deg-degan karena belum bikin reservasi. Sedangkan saya baru baca beberapa komentar di Trip Advisor bahwa sebaiknya reservasi dulu karena tempat terbatas dan bisa antri sampai 45 menit. Untungnya saat kami datang nggak pakai antri lho, langsung dapat tempat!

Restoran ini berbentuk pendopo ala arsitektur Jawa. Dekor interiornya pun kayu semua dengan nuansa Jawa, bergabung dengan satu pojokan yang berfungsi sebagai toko buku, dan ada juga barang antik yang dipajang di rak-rak sepanjang dinding. Antik-antik ini juga dijual lho, dan para bulay banyak yang belum duduk udah mungut-mungutin benda antik ini untuk nanti dibeli.

Sesuai tujuan awal untuk mencoba aneka kue, saya pesan paket High Tea. Kebetulan hari itu adalah hari ibu versi Australia, jadi ada paket Mother’s Day Special High Tea. Isinya : 1 poci teh pilihan kita, 6 potong sandwich (isi salmon, isi timun dan isi ayam), 2 scone, 3 mini cupcake, 1 biskuit jahe, quiche bayam, dan 1 mangkuk strawberry segar dengan fresh cream. Ternyata meski terlihat mungil, ngabisinnya susah banget lho, sampai rasanya begah. Ya ampun pulangnya diseret aja boleh gak ini? Mobil derek mana mobil derek?

20130522-164544.jpg

20130522-164440.jpg

Saya pilih Rose Tea yang sebenernya sih teh biasa, tapi pakai aroma mawar (yakaliii aroma jeruk?). Poci, cangkir, piring kecil untuk kue semuanya bermotif seragam dan ada bisik-bisik tetangga bahwa itu keramik merk Royal Albert. Huwow aku jadi ingin ganti pakai gaun cocktail, pakai topi-topi fascinator terus telpon Kate Middleton. “Halo, Kate? Gw lagi minum teh nih, would you care to join?” sambil pegang cangkir dengan kelingking ngetril tentunya. *dibedil paspampres inggris

Untuk makanan berat, si abang pesen…apa lagi kalau bukan Sop Buntut. Hahaha. Tapi ternyata enak lho, dan Sop Buntut di Biku ini dapet ponten yang lebih tinggi dari Sop Buntut Kafe Batan Waru.

Dessert di sini sungguh aneka ria safari. Cakes of the day dipajang di depan kasir. Kita bisa beli per potong untuk makan di situ ataupun dibawa pulang. Berhubung si abang lagi doyan apple pie, jadi kami pesanlah itu kue meskipun perut sudah nyaris meledak. ENAK. YA AMPUN RASANYA NGGAK MAU PULANG!

Kesimpulannya, kami pasti akan kembali ke Biku suatu hari nanti kalau ke Bali lagi *Amin! Oya, untuk yang mau ke sini, lebih baik reservasi ya. Mungkin saya cuma hoki gak antri, karena pas saya pulang antrinya udah agak lumayan.

Where We Went

Ku De Ta, Jl. Kayu Aya 9, Seminyak

Ngapain ke Bali kalau nggak ke pantai? Dengan asumsi khalayak turis ibukota akan berbondong-bondong ke Potato Head, akhirnya kami memilih Ku De Ta. Ternyata ramenya sami mawon podo kabeh sama ajah. Hadeh. Sampe ngglosor di rumput, itu aja masih untung saya masih kebagian bantalan buat duduk. Bulay-bulay yang datengnya kesorean aja sampe nyempil-nyempil tanpa alas duduk hahaha.

Kami ke sini cuma buat nonton matahari terbenam aja sih, tapi ya tempatnya terlalu ramai. Mungkin sudah saatnya cari alternatif yang lebih sepi untuk bengang bengong liat sunset.

20130522-170505.jpg 20130522-170722.jpg

Bali, Baby! – ngUbud

Where We Stayed

Bumi Muwa, Jl. Monkey Forest

Silakan klik link di atas ya untuk masuk ke website Bumi Muwa. Kami memilih hotel tersebut dengan pertimbangan lokasi yang strategis (tepat di jalan Monkey Forest), lalu kamarnya bersih dan terkesan homey, dan yang paling penting harganya nggak bikin sakit hati.

Pas sampai sana, kami nyusurin Monkey Forest Road dong dengan PD. Satu kali… dua kali… kok nggak ketemu ya tempatnya? Akhirnya menyerah dan telpon ke hotelnya, katanya mereka akan samperin kita karena parkirnya valet. Barang bawaan kita yang cuma sedikit itu dibawain, sambil kami ngikutin bli concierge-nya dari belakang. Tapi lho, lho, lho kok dia masuk gang?!? Gang ini beneran gang, cuma muat satu motor lah kira-kira, diapit oleh sebuah toko kain (apa penjahit ya?) dan sebuah toko kelontong. Maaaas saya mau dibawa kemana ini?

Ternyata penampilan awal memang menipu, lho. Dibalik gang senggol itu rupanya ada miniatur surga. *halahlebay hahaha. Di Bumi Muwa ini kamarnya nggak banyak, mungkin sekitar 20an. Area reception kecil seperlunya, begitu juga area sarapan yang berupa pendopo kecil di tengah kebun. Tapi meski serba mini, bisa dibilang sebenarnya lengkap karena apa yang kita butuhkan ada di sana. Yang paling penting : bersih dan rapi.

Menurut saya siapapun empunya Bumi Muwa ini cerdas ya. Untuk mengakali space yang seuprit dan sebenarnya diapit banyak gedung, mereka banyak main di landscaping supaya tamu nggak merasa sumpek. Pepohonan dan taman yang ada berfungsi juga untuk menyembunyikan gedung-gedung di sebelah kanan dan kiri. Kamarnya sih cukup besar, mungkin sekitar 5×5 termasuk kamar mandi dalam. Ada balkon, free wifi, free cable TV, sama DVD player (DVD gak termasuk ya, tapi di jalan Monkey Forest ada yang jualan kok). Kamar mandi cukup bersih, dan ada air panas.

Kami dapat free breakfast dengan beberapa pilihan : American Style (ada 2 jenis), Continental Style & Indonesian Style. American style breakfast termasuk 2 butir telur (bisa pilih mau dadar, ceplok, rebus, rebus setengah matang), 2 potong roti, teh/kopi/jus dan sosis ayam. Kita juga bisa pilih, mau makan di area sarapan atau dibawa ke kamar. Kami pilih makan di balkon supaya bisa lebih puas menikmati pemandangan.

Overall, hotel ini recommended banget. Simple, bagus, bersih, lengkap, lokasi strategis dan nggak mahal.

20130517-114822.jpg
The alleyway to Bumi Muwa
20130517-115328.jpg
Stairway to Heaven
20130517-115247.jpg
A charming corner in our room
20130517-115436.jpg
Lotus seeds. This is what’s left after the petals have wilted.
20130517-115507.jpg
Lotus bloom
20130517-115403.jpg
Breakfast corner

Where We Ate

Kafe Batan Waru

Kafe ini letaknya di Jalan Dewi Sita yang tidak jauh dari Monkey Forest. Sepanjang jalan ini banyak sekali toko dan kafe kecil dengan aneka dekor menarik. Pokoknya pasti bikin pengen mampir deh. Kenapa kami ke sini? Karena suami saya sukanya minta ampun sama sop buntut di kafe ini.

apaaaaa? di bali makan sop buntut?!?

Harap maklum ya, urusan perut si abang ini kurang avonturir. Jadi buat dia makanan yang enak cuma Hoka-Hoka Bento, KFC, sama masakan istrinya (halah hahaha). Selain lokasinya yang stratehis, kafe ini pun open air sehingga nggak gerah, sekaligus bisa leye-leye sambil people watching. Jadi kalau capek sehabis jalan kaki menyusuri Ubud, kita bisa istirahat di sini. Sepenglihatan saya yang datang kok jarang orang lokal ya, dan mayoritas memang datang sendirian lalu berlama-lama di sini sambil baca buku, browsing atau ngobrol-ngobrol. The staff is super friendly and the drinks are so nice, so this is a great place to lounge around.

CinTa Grill & Inn

CinTa Grill ini direkomendasikan oleh si calon adik ipar, katanya steak nya enak. Setelah kami browsing, ternyata CinTa ini masih satu grup sama kafe Batan Waru, di bawah bendera Bali Good Food. Berhubung jaraknya cuma beberapa langkah dari hotel maka malam itu langsung kita coba. Kami pesan rib eye steak, tenderloin steak, dan ditutup dengan Dutch Apple Pie. Sumpah ini apple pie juara buanget! Endeus. Dan dimulailah fase si abang jatuh cinta dengan dessert berjudul apple pie. Suasana di CinTa ini mirip banget dengan Batan Waru : staffnya hangat & ramah, makanan enak, open air juga. Yang berbeda cuma jenis makanannya. Meskipun nggak ada live band, tapi kami kebagian denger live band di kafe sebelahnya yang sama-sama open air. Buat yang mau honeymoon di Ubud dan pengen keluar untuk mamam-mamam romantis, tempat ini layak dikunjungi.

Where We Went

KOU & KOU Cuisine

Pertama kali saya lihat Kou waktu dulu bulmad di Ubud, karena letaknya sangat dekat dengan kafe Batan Waru. Tertarik dengan storefront yang simpel dan minimalis, langsung saya masuk. Ternyata Kou ini menjual aneka sabun batang homemade, bath salts, dan beberapa asesoris mandi. Rangkaian aroma yang mereka keluarkan sangat khas Bali dan Indonesia, seperti melati, mawar, kembang sepatu, kamboja, dan semacamnya.

Meski aroma produknya sangat Indonesia, tapi model tokonya justru sangat Jepang. Turis yang datang juga banyak dari Jepang. Hebatnya, para pelayan toko mampu melayani pelanggan asing dengan bahasa Jepang dan Inggris yang cukup fasih. Sejujurnya kalau bahasa Jepang sih saya nggak bisa menilai fasih atau nggak, ya wong saya nggak bisa bahasa Jepang bwahahaha, tapi minimal dari baca raut muka turis Jepangnya, mereka manggut-manggut tanpa mengerut. Bisa disimpulkan mereka lumayan ngerti dong apa yang diomongin sama mbaknya. Usut punya usut yang punya Kou ini ternyata pasangan suami istri. Suaminya orang Bali, istrinya orang Jepang. Keren ya bisa memadukan kedua warisan budaya dengan pas dan unik. Japan simplicity & technology meets Indonesian natural diversity.

Di toko Kou saya juga melihat ada selai homemade, tapi tidak bisa dicoba. Menurut informasi dari penjaga tokonya kalau mau coba harus ke Kou Cuisine yang memang fokusnya menjual produk berupa makanan. Waktu itu saya nggak berhasil menemukan dimana letaknya toko itu. Untungnya ada review Living Loving tentang Kou Cuisine, sehingga akhirnya kemarin berhasil juga nemu.

Langsung deh borong 4 botol selai :

  • Milk & Caramel – rasanya sangat manis, persis seperti susu kental manis dengan sedikit aroma karamel
  • Grape & Buni – yang ini tart & tangy. Tahu buah buni yang merah kecil-kecil itu kan? Nah buah buni ini dicampur dengan rasa anggur sehingga hasilnya agak kecut dan bikin kemecer
  • Passionfruit & Tangerine – untuk yang suka orange marmalade, pasti akan suka juga selai yang ini. Bedanya kalau marmalade sedikit pahit dan “tebal”, sedangkan selai Kou ini lebih ringan dan segar karena dicampur dengan buah markisa
  • Mango – naaah ini favorit saya. Gimana ya cara menggambarkannya, rasanya persis seperti jus mangga harumanis yang sangat kental.

Dari semua selai itu, sepertinya Mango yang memang akan jadi menu sarapan. Milk caramel saya berikan ke sepupu untuk oleh-oleh karena dia memang suka makanan manis. Sedangkan dua lainnya kurang cocok untuk sarapan buat saya yang gampang kena maag ini, tapi sepertinya akan saya coba untuk dipadu dengan cupcakes. Nyam!

Kou – Jalan Dewi Saraswati, Ubud

Kou Cuisine – Jalan Monkey Forest, Ubud

#Trip : Yogyakarta (updated)

Awal bulan Februari lalu sempat impulsif ke Yogya. Judulnya impulsif karena kita datang tanpa itinerary, dan banyak banget perubahan rencana sepanjang perjalanan. Dari yang awalnya berangkat sama teman-teman kuliah si abang, kemudian H-2 pada batal karena sakit, trus mendadak teman-teman di kantor lama yang akhirnya bergabung. Trip yang seharusnya 3 hari 2 malam pun akhirnya harus terpotong jadi 2 hari 1 malam akibat kerjaan dadakan dari kantor.
Inti perjalanan tak lain dan tak bukan adalah kuliner tentunya. Dan ajak teman yang belum pernah ke Yogya buat lihat candi Borobudur dan ke keraton. Sayangnya kita ke sana pas persiapan sekaten, alhasil keratonnya tutuuup gak terima pengunjung. Ihiks.

20130403-113852.jpg
Dari kiri atas : Coklat Monggo, wedang ronde alun-alun, steak di Beukenhof, Bebek Goreng H. Slamet Asli

FOOD!

Bukan liburan kalau nggak selipin wisata kuliner, ya kan ya kan ya kan? Di waktu liburan Yogya yang sempit ini, setidaknya berhasil dapat beberapa makanan untuk dicoba-coba. Begitu landing dan mampir mini mart di bandara untuk beli minum, kemudian menemukan coklat lokal favorit : Coklat Monggo. Meski bikinan lokal, kualitas coklatnya bagus dan banyak varian rasanya. Favorit saya yang Orange Peel, karena terbuat dari dark chocolate (saya paling suka coklat yang agak pahit) dengan kombinasi kulit jeruk. Jadi ada kombinasi manis serta sedikit pahit dan asam. Perfecto! Kalau bingung beli oleh-oleh, bisa beli juga jenis ini. Rasanya sama saja, cuma dibalut bungkus bergambar khas Yogya.

Perhentian berikutnya, Bebek Goreng H. Slamet Asli. Our favorite crisp duck, with delicious sambal korek! Kalau yang benar-benar asli sih lokasinya di Sukoharjo ya, tapi kan Yogya masih dekat sama Sukoharjo jadi semoga rasanya nggak jauh juga bedanya. Dan memang tidak mengecewakan, bebeknya digoreng kering dan bumbunya sangat meresap sampai ke daging. Sambalnya? Jangan tanya gimana enaknya. Personally saya nggak terlalu suka pedas, tapi demi sambal ini saya rela deh menyonyo kepedasan saking gurihnya. The perfect sidekick for this duck! Untuk info lokasi Bebek Goreng H. Slamet (asli) saya peroleh dari website ini.

Sore-sore, saatnya main ke alun-alun. Banyak angkringan di sepanjang sisi alun-alun, dengan view langsung ke lapangan yang ada pohon beringin terkenal itu. Di sana kami menggila jajan jagung bakar, kopi tubruk, indomie rebus dan tentunya wedang ronde! Rasa sih biasa saja, higienis atau tidak juga diragukan, tapi suasananya nggak ada yang ngalahin!

Keesokan harinya kami ke Museum Ullen Sentalu, tapi karena ada kendala waktu akhirnya tidak sempat masuk dan cuma makan di Restoran Beukenhof yang ada di sana. Suasananya sih enak, sangat kolonial dan udaranya sejuk. Presentasi makanan cantik, tapi mungkin terlalu asli citarasa Belanda yang minim bumbu dan rempah. Lidah Indonesia macam saya kurang bisa menikmati jadinya. Jadi kalau ke sini, mungkin lebih baik untuk duduk-duduk ngobrol dan minum sehabis keliling museumnya saja.

20130403-115358.jpg
Dari kiri atas : Pohon beringin di alun-alun, Candi Prambanan, aneka becak hias di alun-alun, Ramayana Ballet

YOGYA @ NIGHT

Berhubung cuma 1 malam di sana, jadi nggak terlalu banyak aktivitas malam yang sempat dilakukan. Sore hari hingga menjelang malam ngangkring di alun-alun. Semakin malam, banyak becak yang dimodifikasi sedemikian rupa dengan aneka lampu warna-warni. Kalau suka, kita bisa minta diantar berkeliling alun-alun. Mungkin kalau punya anak kecil ini bisa jadi alternatif hiburan anak.

Setelah puas ngaso, saya meluncur ke area Candi Prambanan untuk nonton Ramayana Ballet alias Sendratari Ramayana. Idealnya nonton pertunjukan ini di musim kering, karena dipentaskan di pelataran candi. Sedangkan kalau musim hujan seperti saya kemarin, pentasnya indoor. For schedules see here, and here for reviews.

Samar-Samar Menari Saman

Salah satu penyesalan terbesar masa kecil saya adalah bahwa saya nggak pernah belajar tari daerah khas Indonesia. Ya abis gimana, dari jaman hamil saya si mama aja hobinya nonton film Flashdance, dan dari kecil pun dijejelin segala macam VHS BETAMAX & LaserDisc tari-tarian ballet, jazz, modern dance endebray. Ditambah lagi waktu itu nggak trendy kalo nggak  les ballet di sebuah sekolah ballet ternama.

Waktu berlalu, dan tentunya saya TIDAK menjadi seorang penari. Ballet yang butuh teknik tinggi dan latihan disiplin terasa kurang menarik pada akhirnya.

Dan sekarang, di masa dimana tari India sudah masuk salah satu kategori yang dinanti-nanti dalam So You Think You Can Dance, serta ketika berbagai aspek budaya Indonesia terbengkalai di negeri sendiri dan rawan dicaplok negara lain *uhuk* … rasanya menyesal setengah mati nggak pernah sedikit pun mengakrabkan diri pada budaya Indonesia selain sebatas sebagai penikmat.

Jadi ketika ada kesempatan berkontribusi menari Saman di acara ulangtahun ke 99 induk perusahaan, tentu saya sambut baik dongs. Saya tahu ini sih nggak ada apa-apanya dibanding para penari Saman beneran yang super kompak dan kayaknya punya built in metronome didalam jam tubuhnya, tapi ya saya anggap saja ini upaya kami mengapresiasi budaya sendiri.

 

#Trip : Bandung Road Trippin’

Beberapa tahun lalu saya pernah menulis ini

Dan akhir minggu kemarin, saya kembali diingatkan betapa berharganya kesederhanaan interaksi tanpa pretensi.
Road trips, buat saya, selalu menjanjikan. Mungkin karena selama perjalanan kita terputus dari dunia luar, “terperangkap” dalam sebuah kotak kecil beroda. Mungkin karena dalam keterperangkapan itu, yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu hanyalah mendengarkan musik dan/atau mengakrabi teman seperjalanan. Apapun itu, saya selalu bersemangat menyambut setiap road trip.
Nah tapi kembali ke masalah ‘keterperangkapan’ dengan teman seperjalanan, maka sebuah road trip hanya akan menyenangkan apabila teman seperjalanan kita memang menyenangkan. Minimal : kooperatif, enak diajak ngobrol, selera musik yang sama, minat pit stop yang sama. A road trip is only as good as the people you take on it. And I couldn’t say it better than
this post by one of yesterday’s road trip buddies.

Buat saya highlightnya adalah, ketika tersadarkan bahwa liburan kemarin betul-betul menggambarkan post saya diatas.
Perjalanan diawali bersamaan dengan terbit matahari di sebuah sabtu pagi, dan diakhiri seiring terbenam matahari minggu. Saya berangkat dengan 7 orang teman dan 2 orang ‘temannya teman’, lalu pulang dengan 9 orang teman.

ternyata aku tidak merindu teknologi, remah-remah hidup yang berkedok modernisasi
Selama 2 hari, tidak sekalipun televisi dinyalakan. Hiburan kami sederhana : makan bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ada untungnya juga bahwa dalam rombongan kali ini terdapat 1 mantan MD radio kampus, 2 anak band, dan 2 anggota paduan suara. Dimanapun, kapanpun, setiap lagu familiar mendadak memicu singalong session yang terkadang bahkan dilengkapi dengan bagi suara.
Dan perjalanan ini sukses membuat kami tersenyum semanis Yamin dan tertawa selebar pangsit… Mohon maap kalo ga ngerti, memang SamPingPong dengan salah satu fotografer kami yang senantiasa memberikan aba-aba ajaib. *please pardon the inside jokes*

rupanya cukup kopi dan roti, tertawa sambil menghirup udara pagi
Meskipun tidak ada roti (dalam kasus kali ini boleh lah ya digantikan tahu goreng, kerupuk dan sambal kecap), namun momen terbaik untuk saya adalah melewati pagi dengan super duper long brunch, di teras yang dilengkapi dapur dengan pemandangan asri menghijau, diiringi lagu-lagu default generasi 90an. *maap kalo seperti lebay, tapi memang tempatnya sungguh cantik dan nyaman*

rupanya cuma butuh kalian, teman, cerminan serpih jiwa, untuk ajak aku tersenyum hari ini
Terima kasih teman-teman 🙂