JRL Flashback : 2009

4 hari lagi menuju JRL dan aku sungguh bersemangat. Padahal sih line up musisi luar nya nggak semenarik acara-acara sebelumnya. Mungkin karena pembatalan tahun lalu bikin berasa nanggung ya, jadi nggak sabar pengen banget ngerasain suasanan festival musik lagi. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk menulis flashback memori masa lalu di JRL.

JRL pertama kali itu tahun 2009 kalau nggak salah, dan waktu itu booming banget karena mendatangkan Mr. Big. UWOOOW! Siapa yang tidak terpesona?

Selain Mr. Big ada juga Vertical Horizon dan Third Eye Blind. Yang asli Indonesia ada Tika & the Dissidents, Flowers, Mike’s Apartment sama Slank. Naaah yang terakhir ini bikin saya semangat, karena nonton Slank itu nggak akan pernah nyesel. Energinya tuh gimana ya, keren banget aja, baik dari energi band nya maupun penontonnya.

Tapi yang jadi tujuan utama buat saya pasti Mr. Big. Alkisah dulu waktu kecil, si papah kan seniman yah jadi nggak punya jam kerja tetap. Maka setiap sore abis mandi, biasanya saya sama papah duduk-duduk di teras. Doi main gitar sambil nyanyi, saya ngemil pisang goreng atau kue putu (tergantung tukang apa yang liwat depan rumah). Dan biasanya lagu yang paling sering beliau nyanyikan adalah lagu “Wild World”. Tentunya dengan diselipkan pesan-pesan sponsor bahwa jangan buru-buru jadi anak gede biar bisa diketekin papah terus. Huahahahaha. Begitu juga waktu pertama kali ngerasain sakitnya cinta (monyet) bertepuk sebelah tangan, si babe suka nyanyiin “To Be With You” buat ngingetin si bocah ingusan jangan gentar kalau nggak ada laki-laki yang naksir, karena ada babeh yang siap nemenin. :’) Nggak heran dong kalau saya semangat nonton Mr. Big?

Sayangnya, saya kena typhus pas hari H sehingga tiket hangus dan saya batal nonton. Hiks… Ini kok postingnya anti klimaks begini ya?

Ya intinya pertama kali JRL saya pengen nonton tapi nggak kejadian. Dan laksana seorang Aries sejati yang selalu harus dapet apa maunya, tentu saya bertekad harus bisa nonton JRL berikutnya.

Berhasilkah? Nantikan di posting berikutnya *ditabokpembaca

The Wedding | Undangan Akad & Resepsi

Detail Undangan

Yang namanya undangan intinya kan informasi ya, bahwa kita sebagai pihak pengundang akan mengadakan acara apaan, hari apa jam berapa, dan yang datang bakal ngapain aja atau harus siapin apa aja. Untungnya kedua keluarga pun sepakat bahwa kita nggak mau masukin terlalu banyak “kata berbunga” yang bisa menyebabkan undangannya jadi berlembar-lembar dan nggak ringkas.

Karena acara dilaksanakan di 2 hari yang berbeda, jadi undangan pun dibagi. Ada tamu yang diundang hanya untuk akad nikah, yaitu untuk keluarga dekat, sahabat sangat dekat dan tamu yang sudah sangat sepuh. Untuk mengakali adanya pihak-pihak yang suka merasa tersinggung kalau nggak diundang (padahal sih nggak dekat-dekat amat), saya undang juga pas akad nikah. Berhubung hari kerja, jadi mungkin orang yang tidak dekat juga mikir-mikir kan mau datang. Lagipula banyak orang (aneh) yang ngomel atau tersinggung kalau nggak diundang, padahal diundang juga nggak datang. Hahah.

Format undangan akad dan resepsi sama. Satu lembar karton, di satu sisi adalah informasi dasar seperti nama CPW CPP dan keluarga, waktu dan tanggal undangan. Di sisi lainnya adalah peta dan informasi tambahan seperti lokasi parkir. Pertimbangannya supaya kita mudah juga untuk distribusinya. Kalau diundang di satu acara ya masukin satu undangan ke amplop, kalau diundang dua acara ya masukin dua-duanya. Tutup amplop, masukin plastik, tempelin stiker alamat, kirim. Beres.

Desain Undangan

Sejalan dengan ditemukannya color scheme yang sudah cucok di hati CPW beserta kain kebayanya, maka berlanjutlah ke PR selanjutnya yaitu undangan. Browsing sana sini banyak nian yang ditaksir, apalagi saya pecinta typography, jadi kalo nemu font lucu rasanya langsung pengen tempelin di undangan. Tapi kok kalau dilihat lagi, undangan yang saya taksir itu memang lebih cocok dengan tema awal yaitu simple vintage garden party. Padahal ini udah jelas jadinya nikah di gedung, bahan kebaya nggak ada simple-simplenya pula. Intricately sequined!

Fingerprint-Modern-Letterpress-Wedding-Invitations-Cordes-Printing-6-550x366

southern-wedding-04

Begitu survey ke gedung, ternyata memang nggak salah selera ibunda. Cantik sih. Klasik, tidak terlalu banyak ornamen, dan pas liat langit-langit eh lho kok keren lampu dan desainnya ala-ala art deco? Pas dilihat font penanda gedungnya, ealaaaaa alaa art deco juga fontnya! Kok ya dia tahu aku suka sekali era-era 1920-1930an? Dan akhirnya jadilah, desain undangan mengarah ke gaya-gaya art deco seadanya. Namapun bikin sendiri ya, mau gimana lagi deh.

Lucky-Luxe-Couture-Correspondence-Gatsby-Letterpress-Wedding-Invitations2
Gorgeous Art Deco Invitations by Lucky Luxe
deco-letterpress-sample-2
Bella Figura‘s amazing art deco invites
deco-letterpress-sample-1
Front view of Bella Figura’s invitations

Soal undangan ini, alhamdulillah dapat bantuan dari teman Mama yang punya percetakan. Let’s say it was his wedding gift for us. Sebagai orang yang tahu diri, saya tanya dulu dong sama si Oom, kira-kira kita bisa pakai kertas yang mana aja Oom, tintanya boleh berapa warna, dll. Apa jawab si Oom? Choose anything you like. Malah kita diajak tur keliling percetakannya dan melihat semua proses kerja mulai dari desain sampai jadi barang cetakan. Masih ditambah bonus pula untuk kartu penukar souvenir dan packaging tanda terima kasih. Yaampun Oom makasih banyak yaaa, semoga dikaruniai sukses kesehatan dan bahagia lahir bathin sepanjang usia *amin.

Ada tapinya? Ada sih. Percetakan ini bukan spesialis undangan, lebih banyak melakukan pengerjaan barang cetakan untuk perusahaan. Flyer, brosur, poster, kalender, dll. Jadi desain bukan salah satu aspek kekuatannya. Mau nggak mau artinya apa sodara-sodari? Yaaa…. desainlah sendiri undanganmu. Hohoho…

Ets jangan panik, untungnya ada teman papa yang desainer grafis. Jadilah saya recokin si Oom desainer di kantornya untuk minta waktu diskusi soal undangan. Tapi jangan salah, mulai dari cari font, cari ornamen desain yang pas, sampai kertasnya, semua CPW dan CPP yang ngerjain. Bahkan peta lokasi pun gambar sendiri di powerpoint, baru abistu minta desainer percetakannya pindahin ke format corel ahohohoho…

Untuk soal undangan ini, pokoknya alhamdulillah deh. Semua jadi tepat waktu, kualitas ciamik, desain pun memuaskan di hati CPW CPP dan segenap keluarga. Terima kasih mama papa dan teman-temannya 🙂

Cetak undangan : Siem n Co.

Jl. Garuda No. 86
Kemayoran Jakarta 10620
Indonesia
T. 62 21 424 5109 (Hunting)
F. 62 21 425 7619
E. info@siemnco.com

Membeli Memori di Almari Deki

Waktu kecil dulu, saya selalu tidur dikelilingi buku. Karena Papa hobi berat membaca dan koleksi buku, jadilah kebiasaannya itu ditularkan dengan paksa ke anak-anaknya. Ya, tepatnya ke saya aja sih, karena adik saya memang dari dulu lebih suka main Lego dan Lasy daripada membaca. Pantes aja gedenya kuliah Teknik Mesin.

Anyway, dulu saya senang sekali karena jadwal jalan-jalan weekend kami selalu rutin : nonton di 21, makan, dan belanja buku di Gramedia. Setiap minggu kami punya jatah membeli 1 buku, dan boleh lebih kalau nilai ulangannya bagus. Kadang-kadang si Papa suka nakal juga, membelikan buku di tengah minggu kalau menurut dia ada yang perlu saya baca. Mungkin dia geregetan juga kalau saya terlalu sering beli komik serial cantik Jepang yang menye-menye.

Sayangnya, meskipun saya cinta buku, tapi saya nggak terlalu rapi menyimpan semua buku saya itu. Dan, karena Mama bukan maniak buku seperti saya, maka semua buku yang ada akan dimasukkan ke kardus tanpa pandang bulu kalau menurut dia kamar saya sudah terlalu berantakan oleh buku. Alhasil banyak buku favorit saya yang sekarang sudah entah dimana.

Salah satu hasil rekomendasi Papa yang saya suka sekali adalah Penyihir Cilik. Ceritanya sekarang saya sudah lupa-lupa ingat, tapi yang berkesan buat saya adalah karakter si Penyihir Cilik yang banyak akal dan pemberani. Sekilas serupa Matilda-nya Roald Dahl, yang juga salah satu buku favorit saya sampai sekarang. Reviewnya juga bisa dilihat disini.

Nah, buku Penyihir Cilik ini termasuk salah satu yang raib entah kemana. Ihiks.

Salah satu teman terdekat saya, juga punya penyesalan yang kurang lebih sama. Bedanya, dia kemudian tidak pantang menyerah untuk berburu buku-buku lama. Kalau saya kan pemalas alergi debu ya, jadi agak sulit kalau mau ke toko buku bekas. Alasaaaan…

Anyway, saya iseng dong menitipkan Penyihir Cilik ini, siapa tahu teman saya bisa menemukan harta karun di timbunan kertas lapuk. Dan betul ajaaaaaaahhhh lohhhh dia nemuuuuuu. Ih ya ampun bahagia bangeeeeet rasanya.

Bayangin ya, pulang malem dari kantor, capek minta ampun pasca hari yang hectic dan jalanan super macet, lalu disambut oleh paket warna coklat berisi secuplik kenangan masa kecil. SURGA.

Kiriman Memori dari Almari Deki

Si Papa yang kebetulan lagi di rumah, jadi ikut excited sendiri menerima paket itu :

Papa : Itu kamu ada kiriman? Kirain buat Papa.

Me : Kan namanya Anditry.

Papa : Kirain salah tulis, sampe Papa telpon yang kirim.

Me : Makanya kasih nama anak jangan mirip-mirip nama sendiri Pa :p

Papa : Itu kan buku yang Papa pernah beliin kamu? Kenapa beli lagi?

Me : Abisnya yang dulu gatau dimana

Papa : Yang sekarang dirawat yah, jangan ilang lagi

Ih terus mau nangis jadinya, mendadak berasa ketampar. Sejak bisa cari uang sendiri, baru berasa kan kalau segala sesuatu itu mahal ya. Beli buku 30 ribu aja, sebenernya udah bisa makan enak 2 kali. Jadi kalau dulu Papa beliin buku-buku, sebenernya itu alokasi yang cukup besar dari jatah pengeluaran bulanan keluarga dong. Dulu waktu kecil sama sekali nggak terpikirkan hal seperti itu, jadi bukunya sama sekali nggak disimpan rapi. Sekarang mentang-mentang beli sendiri, baru deh sibuk rawatnya, disimpan-simpan rapi. Payah. Pffttt 😥

Tapi ya mau gimana lagi, untuk sekarang, mari kita anggap kesempatan kedua untuk memperbaiki kebiasaan. Toh kalaupun nanti bukunya sudah tidak mau dibaca lagi, akan lebih baik kalau kondisinya masih bagus ya supaya masih bisa dibaca oleh orang lain yang mungkin juga rindu memori masa kecilnya, atau disumbangkan kepada teman yang lebih membutuhkan.

Terima kasih Almari Deki, akan kujaga baik-baik si Penyihir Cilik kali ini 🙂

We’re Engaged!

Ah ya, si acara lamaran yang ditegang-tegangkan itu pun selesai. (sounds wrong ya?)

Rasanya kepengen sujud syukur Alhamdulillah. Memang di dunia ini nggak ada yang lebih baik dari berpasrah ketika semua usaha maksimal sudah diupayakan.

Jagoanku :*

Mamahku Jagoan

Sebagaimana CPW pada umumnya, di setiap tahapan acara pastilah ada yang namanya berantem-berantem diskusi mendalam sama orang tua, terutama si Mama. Apalagi mama lumayan perfeksionis dan mau apa-apa diselesaikan right here, right now, right here, right now. Buat doi, nelpon vendor jam 10 malem itu nggak apa-apa, sedangkan saya suka nggak enak karena rasanya seperti “mencuri” waktu si vendor dengan keluarganya. Kalau bicara hasil, ya jelas sih Mama biasanya lebih sakseus dari saya.

Mengenai seserahan, saya dan si abang cenderung santai. Alhasil barang-barang seserahan baru terkumpul seminggu menjelang acara lamaran, bahkan ada yang satu hari menjelang lamaran baru dapat (more on that later). Padahal si mama sudah menyiapkan box-box cantik berbagai ukuran terbuat dari aluminium, dengan motif emboss yang terlihat seperti ukiran. Soal hias-menghias, Mama juga yang mengurus semuanya. And I kid you not, hasilnya cantikkk banget.

Kemarin saya ke toko bunga di salah satu mall terkemuka Jakarta, box seserahan saya yang seukuran kotak cincin dijual dengan harga 40 ribu rupiah. Sedangkan si Mama beli di harga 15 ribu rupiah saja loh. Yang parah, ukuran sedang dijual 160 ribu rupiah di toko itu, sedangkan Mama beli ukuran paling besarnya dengan harga ….eng ing eng… 90 ribu rupiah. Wow, mama jagoan!!

*kecupkecup*

The Engagement Rings – dalam box beli di bawah stasiun Menteng
Box yang sama, dijual di salah satu mall elite Jakarta Raya

Papahku Jagoan

Karena Papa adalah anak tertua, dan kakek saya sudah sangat sepuh, rencananya perwakilan keluarga adalah Angku Tom atau oom-nya Papa yang kebetulan adalah juga sahabat papanya si abang waktu kuliah dulu. Jadi bisa dibilang Papa hampir nggak ada persiapan apapun, untuk acara lamaran ini, selain tampil ganteng (gitu katanya).

H-1, ternyata Angku Tom terpaksa dirawat di rumah sakit, sedangkan Angku-Angku yang lain lebih sepuh lagi dan sepertinya terlalu dadakan untuk meminta bantuan mereka. Alhasil, Papa mulai panas dingin meriang deg-degan tapiiii gengsi mau ngomong. Berhubung saya cukup peka pada gelagat si Papa, saya berniat baik kasih contekan naskah lamaran sepupu si Abang. Yang ada Papa malah makin pusing karena itu balas-balasan pantun panjang berlembar-lembar. Huhuhuhu maaf ya Paaaa…

Meskipun saya sudah titip pesan untuk tidak berpantun karena penyambutan dilakukan oleh Papa dan bukan Angku Tom, tapi mungkin koordinasi yang kurang baik dan informasi yang mendadak mengakibatkan… keluarga si Abang datang berpantun sebanyak tiga lembar. Saya di kamar sudah ikut deg-degan, karena takut ada pihak-pihak yang tersinggung.

Alhamdulillah Papa berhasil mencairkan suasana kembali, tanpa perlu pantun. Sini sini dikecup dulu sama anaknya.

Lalu di detik-detik terakhir kami baru sadar bahwa nggak ada yang nyiapin musik untuk menemani acara makan dan penyambutan keluarga. Percayakanlah pada Papaku si mantan Music Director, doi mengeluarkan album Beatles versi Bossas untuk membuat sejuk di hari nan terik itu.

Saudara-Saudaraku Jagoan

Acara lamaran ini hampir semuanya gratisan atau swadaya. Mulai dari cari kotak seserahan, sampai dekorasi. Kita bela-belain belanja bunga ke Rawa Belong dan memilih bunga yang akan digunakan, untuk dibawa Mas Angga sang Florist (iya namanya sama kayak si abang) semalam sebelum acara. Nggak tanggung-tanggung, demi memastikan bunganya tetap segar, Mas Angga datang jam 11 malam dan langsung nguplek merangkai bunga di rumah saya sampai jam 1 pagi.

Untuk menghemat biaya, saya dan Mama sama sekali nggak pilih bunga mawar atau anggrek, melainkan bunga-bunga murah. Ternyata bunga yang dibawa Mas Angga banyak banget, sampai tiap 10 menit dia minta vas lagi daripada sayang bunganya nggak dipajang. Paling ekstrem, akhirnya segala macam mangkok sama pitcher nganggur di rumah juga kebagian jatah jadi vas dadakan.

Nah, siapa lagi yang bersedia nungguin tukang kembang rangkai-rangkai bunga kalau bukan adik saya yang paling manis sedunia? I need my beauty sleep kaaaan soalnya. Karena jendela ruang tamu dijebol supaya nggak terkesan sempit, adik saya bahkan rela tidur di ruang tamu untuk jaga rumah.

Hari H, lagi-lagi dia dan satu orang adik sepupu saya yang jadi koordinator lapangan. Mulai dari utak atik rundown, koordinasi dengan keluarga Abang, sampai jadi fotografer dadakan. Sepupu saya yang adalah juga teman terlama saya, rela bolos kerja dan pulang dari Singapura demi menjadi MC. Aduuu makasi banget spups saya jadi pengen kecup satu-satu.

My Spups yang sangat berjasa

Pacarku Jagoan

Mana ada sih, pihak pelamar ikutan angkat-angkat kursi H-1 menjelang lamaran sedangkan yang mau dilamar malah kerja di kantor? Ketika sore-sore pulang kantor, pemandangan yang saya jumpai adalah si abang sedang ikut ngurusin rundown dan dekor bersama mama, tante dan sepupu saya, rasanya hati ini adem beneer. Sekece-kecenya cowok, mungkin nggak ada yang lebih bikin jatuh cinta daripada melihat dia bisa membaur dan jadi bagian dari keluarga kita. Alhamdulillah 🙂

Aku (boleh kan ikutan jadi) Jagoan

Berhubung hasrat ingin mewujudkan personalized & small wedding impian sudah di-veto sejak jauh hari oleh Mama, jadi saya punya agenda pribadi untuk bisa memanifestasikan personal touch di acara lamaran saya. Berbekal free printables dari Wedding Chicks,  font gratisan dan Adobe Illustrator, saya membuat placecards untuk masing-masing kursi. Dan karena antara ruang tamu dan ruang utama ada partisi dengan tinggi nanggung, akhirnya saya hias dengan bunga-bunga sisa Mas Angga the Florist. Meskipun sekitar jam 12 malam saya sempat berpikir kayaknya gua gila yak ngerjain kayak gini sendirian, but I have to say I like the results, meskipun bisa jadi saya subyektif berhubung saya yang bikin sendiri hohoho.

Perlengkapan Perang
seating cards
pompom flowers on the banister

Satu-satunya hal yang saya sesalkan adalah dokumentasi. Karena budget minim, akhirnya kami minta tolong teman untuk dokumentasinya. Namun mungkin karena kurang briefing dari kami mengenai susunan acara dan request hal-hal yang diinginkan, sepertinya banyak detail yang nggak ter-capture. Dan sepertinya keluarga saya maupun keluarga si abang memang kurang sadar blocking, jadi beberapa acara inti kurang terlihat “rapi” fotonya. Banyak  yang clingak clinguk di sana sini huahahaha.

*daftar les blocking*

*emang ada lesnya?*

Yah demikianlah, yang penting toh hasil akhirnya. Dan yang lebih penting lagi, saya diingatkan betapa saya punya harta yang paling berharga : keluarga yang sangat-sangat baik *masukkan soundtrack keluarga cemara disini*

My Lovely Family
Proud Grandparents : Aung, Uti, Opa — lamaran perdana cucu-cucu mereka soalnya
Soon To Be Family (Amin)

Dan marilah kita tutup dengan muka saya dan si abang yang lagi super girang karena baru aja tunangan. Semoga lancar hari ini menjadi lancar pula untuk ke depannya dan segala sesuatunya. Saya dengar ada amin di sini? Amin.

Gojira (masih) Cari Kebaya Jilid 3

Contoh Kebaya Longgar

Alternatif Model Kebaya Longgar

Sepertinya mamanda sebelah sana ada request khusus supaya model kebayanya jangan yang sesak-sesak. Artinya jangan pake bustier yah. Mendadak pusing karena bahannya udah dibeli bahan brokat.

Mungkinkah dibuat seperti ini saja?

Contoh Kebaya Longgar. Pic taken from here

Kembali Seputar Kain

Susah emang kalo anak sama emak sama-sama menggila begitu liat gulungan kain. Pulang dari liburan disambut berita si mama udah beli kain buat kebaya akad.

Tapi no, no, no… bukan buat kebaya sayah. Melainken kebaya para ibunda.

Yastralah….

Cantik sih. Saya pun menjadi ingin. Semoga mamanda sebelah sana pun turut jatuh cinta dengan kain ini. AMIN.