Jangan

Jangan bilang jangan

Begitu kira-kira yang belakangan ini sering gw baca di aneka artikel parenting. Katanya, larangan dengan kata jangan ini nggak efektif karena justru akan mendorong anak untuk melakukan apa yang dilarang. Make sense sih, karena logika gw kata “jangan” ibarat negative space di sebuah gambar yang justru menuntun mata kita ke obyek utama.
Selain itu, sebenernya lebih bagus kita ajak anak memahami KENAPA suatu hal dilarang. Harapannya supaya dia paham dan bisa mengendalikan dirinya sendiri meski di saat nggak ada “polisi” yang sibuk melarang.
Prakteknya? Mmm … susah! Waktu anak baru satu sih gw berusaha kerassss menghindari kata jangan. Tapiiiiii sejak Inara lahir, bertepatan dengan kakaknya mendekati umur 2 tahun, bubar semua teorinya. Nggak sempet cyinn merangkai kata dan menjelaskan panjang lebar ke si kakak. Yang ada tanduk gw keburu keluar, sambil teriak “woooy jangan kesana jangan begini jangan begitu”. Pffftttt..

Terrible two. Teori perkembangan pun bilang wajar banget anak sering tantrum di usia sekitar 2 tahun, karena dia sudah mulai ingin menekankan ke”aku”annya tapi kemampuan komunikasinya belum cukup lancar untum menyampaikan apa maunya. Maka sering banget terjadi drama dua babak yang isinya :

Aksara (A) : “itu itu itu aaaaaa” (sambil nada merengek)
Gw si mama (M) : “aksara mau minum?”
A : bukan minum, ituuu
M : aksara mau biskuit?
A : bukan! Itu itu ituuu
M : mau …. (silakan masukkan kata benda/kata kerja apapun di sini)
A : bukaaaaan mau ituuuu…. (happens each time gw menawarkan apapun)
…bolak balik kayak gini bisa berlangsung 15 menit sendiri sebelum akhirnya gw geregetan dan mulai galak
M : ini nggak, itu nggak, jadi maunya apa?
…which kemudian tentunya si anak jadi nangis. Padahal mamanya dalam hati udah nangis duluan sih.

Momen “aha” buat gw baru terjadi tadi siang, sepulang nemenin si hurufkecil olahraga. Skenario di atas terjadi lagi, dan ketika gw hampir mengeluarkan kalimat pamungkas “jadi maunya apa sih” baru gw sadar. Mungkin itu juga yang akan dia bilang ketika gw sering bilang jangan : “ini jangan itu jangan terus aku bolehnya ngapain mamaaaa?”
Baru deh inget lagi gimana dulu gw segitu menghindari bilang jangan. Menyesal kenapa kok sekarang kelepasan lagi, semata-mata karena kurang sabar ngurusin dua anak sekaligus.
Pas banget setelah mikirin soal ini, ada teman yang posting di path tentang beberapa alternatif kata jangan. Sebagian pernah gw pakai dulu waktu masih sabar, dan sebenernya cukup efektif. Sebagian lagi akan coba gw pakai ke depannya. Semoga kali ini stok sabarnya nggak cepet abis hehehe.
Oiya, untuk beberapa hal gw tetap melarang dulu sebelum memberi penjelasan kenapa hal itu dilarang. Biasanya untuk hal yang berbahaya, seperti mainin colokan listrik atau manjat benda yang nggak kokoh. Soalnya darurat ya chuy, jangan sampe keburu kenapa-napa anaknya sembari kita masih sibuk kasih penjelasan. Untuk hal kaya gini mending angkut dulu anaknya, dijauhin dari tempat bahaya. Kalau jarak gw jauh dari dia biasanya gw bilang “stop” atau “tunggu mama datang” buat menghindari kata “jangan”. Setelah posisinya aman baru dikasih penjelasan, meski entah masuk apa nggak karena kadang udah keburu nangis bocahnya. Gimana ya nak, tugas mama yang utama supaya kamu sehat walafiat lahir batin soalnya. You may hate me this second but you will thank me for it some time.
Selamat mencoba!

image

Advertisements

Author: and.i.try

corporate slave by day. poet by night. rock chick by default. eats cupcakes with a sip of nonsense.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s