Aksara is Here!

Yak lanjoooot…. postingan sebelumnya nanggung kalo kata jeng Tissa. Bener juga sih, maklumlah kalau udah punya anak buat ngapa-ngapain harus curi waktu. Mungkin sebenernya waktu pumping di kantor bisa dimaksimalkan ya buat posting di blog, tapi kan tangannya ribet, bagusnya sih pake double pump yang handsfree biar bisa bebas multitasking *coleksuami *sabuncolek *dicolok

Btw soal pompa memompa ini, suatu hari nanti akan gw bikin posting khusus deh soalnya lumayan makan asam garam di dunia perpompaan. Tapi nanti yaaaa sekarang kelarin cerita melahirkan ajaah dulu.

27 Februari 2014, gw bangun dengan perasaan campur aduk : excited sekaligus senewen. Excited karena hari itu gw akhirnya bisa ketemu makhluk yang selama ini gw tenteng kemana-mana di perut, tapi senewen karena akan dioperasi 😦 Dulu pernah operasi usus buntu waktu kecil, dan gw inget itu udahannya nggak nyaman banget. Mandi ribet, jalan susah, pup apalagi. Terus kepikiran juga bahwa ini kan termasuk operasi besar ya, dan meski dibius lokal, tapi kalau ada komplikasi gimana? Kalau ada hal-hal nggak terduga gimana? Akhirnya modal bismillah deh, yakin Allah pasti akan kasih jalan terbaik.

Hari itu ngapain aja? Pagi-pagi cek ulang koper dan peralatan yang akan dibawa ke rumah sakit, sama ngabarin beberapa teman dan keluarga bahwa akan melahirkan.  Terus proses handover jabatan sebagai menteri keuangan ke suami, berhubung dia yang akan banyak urus ini itu selama gw recovery. Selain itu sih banyakan bengong-bengong aja hahaha dalam rangka senewen itu tadi.

Jam 10 berangkat ke rumah sakit sama suami dan mama, terus nunggu sebentar sampai ada konfirmasi dapet kamar atau belum. Terus terang gw nggak bisa cerita detail apa aja prosesnya, karena banyakan bapak suami yang urus-urus. Gw diminta duduk manis aja sama doi 🙂

Sekitar jam 12, gw dan suami diminta untuk masuk ruang persiapan. Cek tensi, cek detak jantung si hurufkecil, selain itu sih gw cuma goler goler aja sambil ngobrol sama suami. Jam 2an, gw diminta ganti baju operasi dan pindah ke ruang persiapan yang lain untuk diinfus. Ruangan ini masih satu bagian juga dengan ruang recovery pasca melahirkan, dan dekat juga dengan ruang operasi. Susternya sempat bilang akan ada prosedur enema (karena hari itu gw belum BAB), dan gw rasanya maleees banget bayanginnnya.

Kemudian tetiba salah satu suster nyamperin gw dan bilang “Bu, dokter Bowo nya ada jadwal lain, jadi operasinya dicepetin aja ya ke jam setengah lima”…lho, sekarang dong sus? Gw & suami langsung panik dan kontak semua keluarga yang saat itu lagi naruh barang-barang di kamar. Positifnya, jadi nggak perlu enema deh hehehe.

Untuk prosedur sectio ini, gw minta 2 hal :

  1. Suami boleh ada di dalam ruangan
  2. Proses IMD dipastikan berjalan

Alhamdulillah, suami boleh menemani selama prosedur, tapi sama dokter Bowo diminta janji dulu jangan sampai pingsan di dalam mwahahaha… Katanya “Kalo pingsan kita nggak ngurusin lho ya pak, prioritas kita ibu dan bayinya”. Yang disayangkan, ternyata proses IMD tidak dimungkinkan dengan alasan ruang operasi sangat dingin sehingga kasihan bayinya. Gw agak ngotot untuk hal ini, karena pengalaman teman lain yang melahirkan secara sectio masih bisa IMD (teman gw melahirkan di KMC sih, bukan di Bunda). Akhirnya kompromi terakhir, setelah lahir bayi akan diletakkan di dada gw, tapi hanya sebentar saja.

Ini salah gw juga sih, kenapa nggak diskusi dari awal sama dokter mengenai IMD, supaya bisa manage ekspektasi gw juga. Lah ini udah tinggal berapa menit lagi masuk ruang operasi kok ya baru nanya.

Jam 16.30 gw masuk ruang operasi, suami masih di luar dulu. Langsung diminta melungker dan suntik epidural. Nggak lama, ada suster yang shave sambil megang-megang kaki dan nanya apakah masih berasa atau nggak. Mulai kebas. Dokter anestesi ngajak ngobrol apaan gitu lupa. Akhirnya suami boleh masuk, posisinya duduk di samping kepala gw. Para dokter (dsOg, dsa, spesialis anestesi) & suster saling berhalo-halo, terus dokter Bowo permisi-permisi sama gw sebelum memulai operasi.

Nggak lama, tiba-tiba susternya bilang “Sebentar lagi anaknya keluar ya bu”. Saat itu gw merasa perut gw digoncang-goncang agak hebat, sampai akhirnya terdengar suara dokter Bowo “Allahuakbar” dan terdengar juga suara tangisan bayi :’)

Semua proses ini cuma makan waktu 10 menit lho!!! Aksara Safiyya Yudhanegara tercatat lahir pukul 16.40, 27 Februari 2014. Sesuai janji, Aksara sempat ditidurkan di atas dada gw sejenak. Lebih tepatnya ditempelin malah, karena waktu itu Aksara masih dipegang sama susternya. Sebentar bangeeeeeeeet kayaknya cuma 5 menit deh. Lalu Aksara dibersihkan dan dibawa ke ruangan lain untuk cek ini itu, sekaligus akan diadzanin. Tinggallah gw sendirian yang masih dijahit-jahit sambil teler nge-fly.

Ini kapan ya ketemu lagi sama Aksara?

Advertisements

Author: and.i.try

corporate slave by day. poet by night. rock chick by default. eats cupcakes with a sip of nonsense.

3 thoughts on “Aksara is Here!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s