Jangan Jumawa

Emang deh, selama hamil ini diingetin terus bahwa nggak boleh jumawa.

Dulu itu sempet jumawa nggak mual, dan tak lama kemudian mulai dihajar gelombang asam lambung naik parah sampai muntah setiap malam. Sampai hati kebat-kebit kalau udah jam pulang kantor, karena akan melalui berbagai hal serba salah : kalau makannya dikit asam lambung naik terus muntahnya periiiih banget di kerongkongan, kalau makannya banyak begah terus ya muntah juga akhirnya. Akhirnya pilih yang makan banyak aja, minimal artinya banyakan yang masuk daripada yang keluar (semoga).

Alhamdulillah fase itu terlewati sudah, dengan berbekal minyak telon, undies khusus hamil yang nutup sampe udel serta kaos kaki tebel setiap tidur. Lalu kebat-kebit lagi karena nimbang kok cuma naik setengah kilo ya, perasaan makan gw banyak banget udah bagaikan babi? Kan jadi takut bayinya kekurangan makanan. Ternyata pas kontrol, kata dokter berat bayi normal, malah cenderung besar.

Akhirnya nggak kapok, dan kembali jumawa karena bodyku tidak bagaikan orang hamil (catatan : kalau dilihat dari belakang lho ini, kalau dari samping sih nggak bisa bohong). Jadi yang tambah besar cuma di perut. Ih pokoknya masih bisa pake atasan dan dress-dress yang biasa kupake deh, yang harus pensiun  cuma celana aja. Dipuja-puji ibu-ibu di kantor karena ih asik ya hamilnya kece. Jumawa….jumawa tiada terkira.

Kemudian kontrol ke dokter dan….

Ibu makannya ditambah ya. Anaknya beratnya kurang. Banyakin makan sayur juga yaa..

APAAAAA? KOK BISA?

Si abang juga bingung karena dia yang paling tahu gimana besarnya nafsu makan gw selama hamil, dan gimana crankynya gw kalau telat makan sedikiiiit aja.

Maafin mamaaaa ya naaaaak. Kalau jumawa yang dulu efeknya ke diri sendiri, tapi kalau jumawa yang ini kan kasihan si anak bayi. Aku ndak tega! Kangsung deh terus-terusan mengingatkan diri sendiri nggak boleh jumawa lagi ah kalau ada hal-hal yang dipermudah selama kehamilan ini, harusnya malah lebih banyak bersyukur kan.

Dulu baca twit2nya Dee Lestari waktu dese hamil, dia sering bilang bahwa kehamilan mengajarkan dia banyak hal. I guess that’s true. In a way, this tiny lifeform in my tummy is reminding me a lot more about the simple things in life to be grateful for, about how miniscule my individual existence is, and most importantly, to be responsible for another being other than myself. *kecup perut sendiri* Terima kasih ya sayangku…

On a ligher note, gue dapet panggilan kesayangan anyar dari suami, yaitu JONI. Kok Joni? Demi menangkal masuk angin dan asam lambung, sekarang lebih pilih pake undies khusus hamil yang membungkus keseluruhan perut sampai udel-udelnya. Kata suami kayak jojon, sehingga dia mulai memanggil gw JON. *sambit kolor* Lama kelamaan Jon berevolusi menjadi Joni, dan di titik paling parah sempat menjadi Joni Iskandar (untungnya Joni Iskandar dipensiunkan  berkat tatapan setajam silet dari mata bumil). Makasih lho ya sayang, panggilan sayangnya flattering bener lho.