Things I Learned About Testpacks

Sekitar bulan April kemarin, sebenernya gw sempet telat mens. Telatnya lumayan lah, sekitar semingguan, sedangkan saya itu nggak pernah telat mens sama sekali – makanya hati sedikit GR. Tapi kok berkali-kali testpack hasilnya negatif melulu deh ah. Ke dokter, ternyata memang negatif. Nggak tahu juga penyebabnya kenapa, mungkin kecapekan atau gimana. Tapi kami yang tadinya nggak terlalu ngoyo mengejar kehamilan, jadi sadar bahwa sebenernya sih kepengeeen. Maka, mulailah di rumah sedia stok test pack.

Kemudian berhubung gw suka lebay, muncullah sebuah fase dimana gw setiap hari test pack. Setiap. Hari. Bahkan sehari bisa lebih dari satu kali. Kayaknya segala varian bentuk dan merk yang ada di seantero Jakarta udah pernah gw coba deh.

Pastikan baca & ikuti instruksi dengan baik.

Soalnya kalau nggak ikutin instruksi, bisa aja kita dapat hasil yang nggak akurat. Manusia aja bisa salah, apalagi test pack (iki opo?). Kemarin itu entah berapa kali saya jadi ragu sendiri ini hasilnya bener apa nggak akibat kelamaan nyelupin test pack. Terus pernah juga warna indikatornya sama sekali nggak berubah (mungkin karena ternyata nggak kena air seni pas pipis). Hadyeuh. PR deh.

Gunakan beberapa merk yang berbeda supaya lebih yakin.

Sensitivitas test pack itu ternyata belum tentu sama. Intinya sih baca kemasan test pack baik-baik. Disitu biasanya ditulis kadar sensitivitasnya (kadar minimal hormon HcG per mililiter air seni yang bisa dideteksi oleh si test pack). Ada yang 10 miu/ml, pernah juga nemu yang 25 miu/ml.

Sing sabaaar, ojo kalap.

Namanya ngetes yang kayak gini, pasti deg-degan dan penasaran sama hasilnya. Kayak gw kemaren. Ketika test pake merk A hasilnya dua garis tapi samar-samaaaaaaaaar banget, langsung impulsif pengen coba merk B C D. Masalahnya, hormon yang terkandung di air seni itu kan hasil akumulasi beberapa waktu ya. Jadi kalau baru aja tes, terus langsung mau tes lagi beberapa menit kemudian ya jelas aja gak bisa. Kan hormonnya udah abisss pas pipis sebelumnya.

Ternyata itu sebabnya, dianjurkan untuk test pack di pagi hari, karena kandungan hormonnya paling tinggi. Kalaupun mau tes di hari yang sama, sebaiknya dilakukan paling tidak 4 jam setelah test sebelumnya.

Penampilan (terkadang) penting.

Bentuk test pack yang pernah gw coba ada 3 :

  1. Strip. Air seni ditampung di wadah, lalu celupkan strip selama beberapa saat.
  2. Pen. Yang jenis ini agak tricky dan membutuhkan sedikit akrobat, karena harus memastikan air seninya beneran kena pas di bagian yang tepat, dan nggak boleh sampai membasahi bagian lain (apalagi jendela buat baca hasil). Setelah pipis, langsung pasang tutupnya sambil nunggu hasil.
  3. …yang ketiga ini gw ga tau namanya apa ya. Mungkin semacam board atau papan? Buat gw pribadi ini yang paling meyakinkan. Air seni ditampung di wadah terus diambil pake pipet. Kemudian cukup pencet pipet di window untuk sensor air seni nya, dan tunggu hasil keluar. Jadi nggak berantakan, dan bisa dipastikan bahwa jumlah air seni yang dikucurkan sudah tepat.

Dari ketiga bentuk ini, yang paling user friendly adalah yang nomor 3, dan paling layak buat dikasih lihat ke orang lain adalah yang nomor 2.

Selain itu, namanya hamil pertama kali kan pasti excited ya. Pasti hasilnya akan langsung dikasih lihat ke suami dong. Terus setelah waktu tertentu pasti bakal kasih lihat ke orang tua atau orang terdekat lainnya dong. Tau nggak apa komen sahabat gw pas gw whatsappin hasil test pack pertama ke dia?

I’m so damn happy for you. But I can’t help thinking that you just peed on that stick.

Bwahahaha…. iya juga sih, kalo dibayangin agak geli juga melambai-lambaikan strip yang bekas dicelup air seni. My first positive test pack was the pen kind, so the urine part was closed.

20130828-111641.jpg
sebagian dari percobaan test pack *obsessive much?*
Advertisements

Bahagia itu sederhana

sesederhana makan tomat segar tabur gula,

steak holycow yang sudah lama didamba (setelah harus bersabar dua minggu selagi mereka libur lebaran),

ketawa ketawa sama suami di perjalanan berangkat dan pulang kerja,

kruntelan sama adik semata wayang bagaikan kami masih umur lima,

menyaksikan anak bayi di perut bergerak pertama kalinya.

Selalu mengingatkan diri sendiri jangan lupa bersyukur untuk hal-hal kecil yang berharga di setiap hari.

Lebaran 2013

Mungkin lebaran jadi titik balik,
pemicu untuk kembali fitrah seterusnya,
atau cuma perayaan sesaat sebelum kembali larut dalam hari biasa.
toh hari berganti dan kita tetap sama,
insan biasa yang coba temukan tempatnya di dunia.
Manusia tidak sempurna dan penuh luka,
dan begitupun saya…
Maka coba hapus lukamu, jika ada karenaku.
Kikis perlahan dendam agar lebih sempurna jiwa.
Selamat hari raya.
Selamat kembali fitri.
Meski mungkin cuma untuk satu hari.

Sebelumnya, Minal Aidin Wal Faidzin wahai pembaca. Yang di atas itu postingan lama, repost dari sini.

Lebaran kali ini…bittersweet deh, banyak hal baru dan ritual baru.

Pertama kali :

  • lebaran setelah menikah, jadi shalat ied sama suami ahuhuhuuuy.
  • nggak puasa sama sekali
  • silaturahmi lebaran ke pihak keluarga suami
  • nggak deg-degan sama pertanyaan “kapan?”
  • jadi tuan rumah perayaan keluarga besar untuk hari pertama

Tapi juga pertama kali lebaran tanpa Opa dan Aung. I lost both my grandfathers last year and it was devastating to have to go through Lebaran festivities without them 😦

Entah kenapa lebaran ini kurang kena di hati. Selain dari dulu memang kurang suka sama momen lebaran (karena selalu kebagian jadi seksi repot), tapi mungkin juga karena tahun ini nggak puasa jadi nggak terbangun momen-momen menuju hari kemenangan ya.

Ya sudahlah, semoga Lebaran 2014 akan lebih baik 🙂

Idola Baru : KO!

Tahu Pentatonix kan? Grup acapella ini emang keren banget, dan saya paling suka sama dua karya mereka yang ini :

sama ini

Jenius! Naaah seperti biasa di kelompok musik apapun saya pasti tertariknya selalu sama pemain bass atau pemain drum. Begitu juga Pentatonix, saya merasa kekuatan mereka ada di beatboxernya, yang menambah dimensi pada aransemen mereka. *ejiyeeeh kayak ngerti aja sih lo Ndied*

Browsing lebih lanjut soal mas Kevin Olusola (yang punya nama beken KO), membuat saya berikrar kalau dia akan jadi idola baru saya. Ini orang kayaknya optimal banget lho penggunaan sel-sel otaknya.

Ternyata, Pentatonix menemukan si KO ini akibat video Youtube nya yang viral yaitu pas dia main cellobox. Benda apa itu? Ternyata cellobox artinya adalah

doi

main

cello

sambil

beatbox

..

.

EDYAN!

Apa sih yang doi nggak bisa?

Keren ah pokoknya si KO ini. Saya nge-fans! Hai anak kecil di perut, nanti gedenya semoga multitalenta kayak gini ya… Buat yang pengen tahu cellobox itu apa, monggo ditonton pidionyah.